Home / Urban / Menantu Kuli / III. Golden, 21

Share

III. Golden, 21

Author: Leva Lorich
last update Last Updated: 2024-12-02 14:23:11

Jalan Golden, 21. Alamat ini sudah tertulis rapi di kertas kecil yang diberikan oleh Wastin. Setelah menyelesaikan sarapan sederhana di warung dekat rumah, Willy menaiki bus umum menuju lokasi itu. Perjalanan terasa panjang karena pikiran Willy dipenuhi berbagai kemungkinan. "Bagaimana kalau aku tidak cocok?" pikirnya, sementara ia mencoba menenangkan diri.

Sesampainya di halte terdekat, Willy turun dan mulai berjalan kaki. Ia bertanya kepada beberapa orang yang ditemui di jalan untuk memastikan arah. Setelah berjalan sekitar 300 meter, ia akhirnya sampai di depan sebuah rumah yang sangat megah.

Rumah itu berdiri menjulang dengan desain modern dan gagah. Temboknya berwarna putih bersih dengan ornamen kayu di beberapa sudut. Di depan rumah, ada taman yang luas dengan pohon-pohon menjulang tinggi. Sebuah pagar tinggi dengan gerbang besi hitam melindungi area rumah itu, memberikan kesan anggun sekaligus tegas.

Saat Willy mendekati gerbang, seorang pria berseragam sekuriti menghentikannya. “Selamat pagi. Ada keperluan apa?” tanya sekuriti itu dengan sopan.

Willy menunjukkan kertas dari Wastin dan menjelaskan maksud kedatangannya. Pria itu mengangguk, mempersilakan Willy duduk di kursi di samping pos jaga. “Tunggu sebentar. Saya akan menghubungi pemilik rumah,” ujarnya sebelum masuk ke dalam pos kecil yang dilengkapi telepon.

Beberapa menit kemudian, sekuriti itu kembali dan mempersilakan Willy masuk. Ia diantar melewati taman menuju sebuah paviliun kecil yang berada di sisi rumah utama. Paviliun itu memiliki ruangan sederhana, seluas kamar tidur biasa, tetapi dilengkapi dengan meja dan kursi seperti ruangan kantor. Di sanalah Willy diminta duduk menunggu.

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, dan seorang pria masuk. Usianya sekitar 45 tahun, sedikit lebih tua daripada Wastin. Wajah mereka memiliki kemiripan, tetapi kesan yang ditinggalkan pria ini jauh berbeda. Wastin ramah dan hangat, sementara pria ini tampak dingin dan pendiam.

“Saya Haldi,” katanya memperkenalkan diri singkat sambil duduk di kursi seberang meja. Suaranya tegas, dan ia menatap Willy dengan tajam, seperti sedang menilai.

Willy berdiri dan membungkuk sopan. “Saya Willy, Pak. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.”

Haldi tidak menanggapi basa-basi itu. Ia membuka map berisi berkas lamaran Willy, membacanya dalam diam. Setelah beberapa saat, ia mulai mengajukan pertanyaan.

“Willy Wanbilien, usia 20 tahun, belum menikah. Jelaskan tentang keluargamu!”

“Saya tinggal dengan ibu tiri, Pak. Ayah saya sudah meninggal. Kami memiliki sebuah toko bakery.” jawab Willy dengan nada tenang, meski hati kecilnya merasa sedih setiap kali membahas hal itu.

“Pernah bekerja di mana sebelumnya?”

“Saya belum pernah bekerja resmi, Pak.” Jawab Willy jujur.

"Toko itu?" Haldi mengerutkan kening, merasa sedikit ada kejanggalan.

"Dikelola ibu tiri saya. Saya tidak dilibatkan di dalamnya," Willy memilih kata-kata yang lebih enak didengar, meski begitu Haldi yang cerdas tentu bisa menangkap sebuah ketidakadilan yang tersirat.

Haldi mengangguk tipis. Ia lalu menanyakan hobi Willy, yang dijawabnya dengan jelas, “Saya suka membaca dan mencoba memperbaiki barang-barang yang rusak di rumah.”

Setelah sesi wawancara singkat itu, Haldi mulai menjelaskan pekerjaan yang dibutuhkan rumahnya.

“Kami butuh seorang kuli tetap untuk menangani berbagai masalah di rumah. Mulai dari pipa air yang mampet, genteng bocor, lampu rusak, cat dinding yang mengelupas, sampai memperbaiki pintu atau perabot lain. Semua hal itu akan menjadi tanggung jawabmu.”

Haldi menatap Willy tajam, mencoba menilai reaksi pemuda itu. “Punya pengalaman dalam pertukangan?”

Willy menjawab dengan jujur, “Saya belum pernah jadi tukang secara resmi, Pak. Tapi sejak kecil, saya sering membantu ayah memperbaiki rumah serta beberapa peralatan, baik yang menggunakan listrik ataupun tidak. Jadi, saya cukup mengerti cara kerja dasar dalam perbaikan beberapa hal tersebut.”

Haldi mengangguk pelan, meski jelas ada keraguan di wajahnya. Namun, kesantunan Willy dan cara bicaranya yang tenang membuat Haldi cukup terkesan.

“Baiklah,” kata Haldi akhirnya. “Kita coba selama satu bulan dulu. Kalau hasil kerjamu mengecewakan, jangan harap bisa bertahan di sini.”

“Saya akan melakukan yang terbaik, Pak,” jawab Willy tegas.

Haldi melanjutkan penjelasannya. “Selain memperbaiki rumah, kalau tidak ada yang rusak, waktumu bisa digunakan untuk merawat taman, menguras kolam renang, atau membersihkan halaman. Jadi, tidak ada waktu menganggur di sini. Cari kesibukan di dalam jam kerja.”

Willy mengangguk, menerima segala tanggung jawab itu tanpa keberatan.

“Bisa menyetir mobil?” tanya Haldi tiba-tiba.

“Bisa, Pak. Saya biasa mengemudikan mobil almarhum ayah saya dulu. Tapi sekarang sudah dijual ibu tiri saya,” jawab Willy, lagi-lagi menyiratkan kepedihan hidupnya bersama Metia.

“Bagus. Nanti, kalau kamu cukup mahir, kamu bisa juga mengantar atau menjemput anggota keluarga kalau dibutuhkan. Tapi itu akan saya uji besok-besok.”

Haldi menjelaskan aturan kerja di rumahnya dengan singkat namun tegas. “Hari kerjanya setiap hari. Jam kerja dari pukul enam pagi sampai enam sore. Kalau takut terlambat, kami menyediakan kamar untuk karyawan yang ingin menginap. Tapi ingat, tidak ada toleransi untuk keterlambatan atau kecerobohan. Dan ada tambahan uang lembur di luar jam itu. Untuk libur, kau bebas menentukannya, 3 hari dalam satu bulan dan boleh digabung.”

Willy mengangguk paham.

“Dan yang paling penting,” lanjut Haldi, menatap Willy dengan serius, “aturan utama di sini adalah jujur, patuh, dan giat. Kalau melanggar salah satu saja, kamu akan langsung menerima teguran keras, bisa jadi akan dipecat jika fatal.”

Willy menjawab dengan yakin, “Saya mengerti, Pak. Saya akan mematuhi semua aturan.”

"Untuk gaji masa percobaan satu bulan ini adalah 1,5 juta. Jika kau lolos, maka gaji reguler di bulan-bulan berikutnya adalah 3 juta di luar ongkos lembur. Lembur akan dihitung pro-rata dikalikan jumlah jam lemburmu selama satu bulan." Haldi mengakhiri penjelasannya.

Willy mengangguk. "Baik, Pak. Saya bersedia bekerja disini."

"Jika demikian, mulai besok pagi kau boleh mulai aktif kerja. Kau diterima." Haldi berdiri, menjabat tangan Willy.

---

Setelah pembicaraan selesai, Haldi memberikan arahan kepada salah satu staf rumah tangganya untuk mengantar Willy melihat-lihat rumah dan area kerja yang akan menjadi tanggung jawabnya. Willy merasa kagum sekaligus sedikit gugup melihat betapa besar dan mewahnya rumah itu. Setiap sudutnya tampak terawat sempurna, tetapi tanggung jawab untuk mempertahankannya jelas bukan hal yang mudah.

Saat Willy meninggalkan rumah itu siang harinya, ia merasa campur aduk. Ada rasa lega karena akhirnya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga rasa cemas apakah ia mampu memenuhi ekspektasi Haldi. Namun, ia tahu satu hal bahwa ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.

Malam itu, Willy mempersiapkan dirinya dengan matang. Ia mencari tahu cara memperbaiki berbagai kerusakan rumah dari internet dan membaca beberapa artikel sederhana tentang perawatan taman. Meski tubuhnya lelah, pikirannya dipenuhi tekad.

“Ini adalah awal baru,” pikir Willy. “Aku harus membuktikan bahwa aku layak mendapatkan pekerjaan ini.”

Willy masih meraba-raba, bagaimana suasana kerja perdananya besok. "Pak Haldi cukup bijaksana, tapi bagaimana dengan anggota keluarga yang lain, apa mereka galak? Atau bahkan kejam?

Willy langsung beranjak tidur. Saat ia sudah terlelap, Willy tak menyadari bahwa sesuatu terjadi pada tubuhnya. Sebuah cahaya terang menerobos dari luar rumah, memasuki jendela kamar Willy yang sedikit terbuka.

Cahaya itu berwarna putih menyilaukan, yang kemudian membentur tubuh Willy.

Bamm!!

Begitu mengenai tubuh Willy, cahaya itu seperti terserap dan masuk ke dalam tubuhnya. Sesaat kemudian cahaya itu sudah hilang, ditelan tubuh Willy.

Cahaya apa itu?

###

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jenian
mau nanya ka, apakah sudah tanda tangan kontrak, kalo sudah berapa lama datang kontrak nya? makasih.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantu Kuli   L. Berdiri Di Puncak

    Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c

  • Menantu Kuli   XLIX. Lonjakan Drastis

    Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan

  • Menantu Kuli   XLVIII. Sarapan Harmonis

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri

  • Menantu Kuli   XLVII. Solusi Delia

    Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya

  • Menantu Kuli   XLVI. Pembicaraan Serius

    MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam

  • Menantu Kuli   XLV. Harta Karun

    Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status