LOGINPagi masih gelap saat Willy membuka mata. Jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi, tetapi ia tak mau mengambil risiko terlambat di hari pertama bekerja. Setelah meregangkan tubuh sejenak, Willy segera menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap.
Setelah mengenakan pakaian sederhana dan membawa tas kecil berisi bekal pakaian seadanya, Willy melangkah ke dapur untuk mengambil air minum. Namun, bunyi langkahnya yang tergesa-gesa mengundang teguran dari Metia, ibu tirinya. “Pagi-pagi sudah bikin kegaduhan saja! Orang mau tidur malah ribut!” suara Metia terdengar dari ruang tengah. “Ini hari pertama kerja, Bu. Saya harus berangkat lebih pagi,” jawab Willy dengan nada pelan, mencoba menahan emosinya. Alih-alih ikut senang atau mendukung, Metia justru melanjutkan kemarahannya. “Kerja? Siapa yang mau urus rumah kalau kamu pergi? Dasar anak nggak tahu diri! Pergi saja bikin susah!” Willy hanya bisa diam. Bukankah Metia sendiri yang memaksa Willy untuk mencari kerja? Tapi kenapa sekarang seperti plin-plan? Willy tak terlalu kaget dengan sikap Metia. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan kasar dari ibu tirinya. Namun, kali ini, Metia benar-benar kelewatan. Ia melempar panci stainless ke arah Willy. Biasanya, Willy hanya pasrah meskipun terkena lemparan seperti itu, tetapi kali ini tubuhnya bergerak spontan. Secepat kilat, Willy menghindar, menangkap panci itu di udara dengan satu tangan, lalu, entah mengapa, ia memukul panci itu dengan keras hingga berubah pipih seperti keripik. Suara dentingan logam menggema di dapur. Metia terperangah. “Apa-apaan kamu?!” tanyanya dengan nada ketakutan sebelum akhirnya mundur dan pergi ke kamarnya. Willy juga kaget. Ia menatap panci yang kini tak berbentuk, merasa tubuhnya bertindak di luar kendalinya. Semalam, ia memang merasa ada sesuatu yang aneh. Diantara sadar dan tidak, ia seolah merasakan seperti ada cahaya yang masuk ke tubuhnya saat ia tertidur. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Ia menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan hal itu untuk sementara. Setelah berpamitan dengan Metia, Willy berkata, “Saya mungkin akan menginap beberapa hari di tempat kerja, Bu, supaya bisa menyesuaikan diri.” Metia tidak menjawab, hanya menutup pintu kamar dengan kasar. Willy menghela napas panjang, lalu melangkah keluar menuju halte bus terdekat. --- Langit masih gelap ketika Willy tiba di halte. Ia duduk sambil menggenggam tasnya erat-erat. Namun, tak lama, sekelompok pria bertampang garang mendekatinya. Mereka adalah preman jalanan yang sering merampok di daerah itu. “Pagi-pagi begini sudah nongkrong, anak muda. Lagi apa, nih?” tanya salah satu preman dengan nada mengejek. Willy merasa gugup, tapi ia berusaha tenang. “Saya cuma nunggu bus, Bang.” “Bus? Wah, sebelum bus datang, kasih dulu handphone sama duit mu, buat jajan kami,” ujar pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu. “Saya tidak punya banyak uang, Bang. Handphone saya juga biasa saja,” kata Willy, mencoba menolak dengan sopan. Namun, pemimpin preman itu, yang memperkenalkan diri sebagai Yose, maju mendekat. “Anak muda, jangan coba-coba melawan ya. Aku Yose, penguasa preman di daerah ini. Cepat berikan!” Ketakutan mulai menjalari tubuh Willy. Ia berdiri, mencoba melangkah mundur. Tapi sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, Yose melancarkan pukulan ke arahnya. Tanpa sadar, tubuh Willy bergerak sendiri. Ia meliuk menghindar, menangkap lengan Yose, dan membalasnya dengan pukulan cepat. Pukulan itu mengenai wajah Yose, membuatnya jatuh terduduk dengan darah mengalir dari hidungnya. Anak buah Yose yang melihat itu tidak tinggal diam. Mereka beramai-ramai mengeroyok Willy. Namun, hal yang tak pernah Willy duga terjadi. Tubuhnya bergerak seperti seorang ahli bela diri. Ia melompat, menangkis, dan melancarkan serangan balasan dengan gerakan yang begitu cepat dan berbahaya. Dalam hitungan menit, seluruh kelompok preman itu telah terkapar di tanah. Yose, yang masih bisa berdiri, segera mengangkat kedua tangannya. “Maaf, kawan! Aku salah. Kamu keren sekali! Kita damai, ya?” katanya sambil tersenyum kaku. Willy bingung, tetapi ia mengangguk pelan. Yose, yang menyadari potensi Willy, segera mengusulkan untuk bertukar nomor telepon. “Siapa tahu nanti kita bisa saling bantu,” katanya sambil tersenyum kecil. Setelah itu, Willy melanjutkan perjalanan dengan bus. Ia masih merasa bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. "Dari mana aku bisa bela diri seperti itu?" pikirnya. Tapi ia memutuskan untuk fokus pada pekerjaan yang menunggunya. Sebenarnya, cahaya itu adalah kemampuan beladiri Prily, ibu Willy, yang berpindah pada Willy. Semasa hidupnya, Prily dikenal sebagai praktisi beladiri yang disegani. Ia banyak menjuarai berbagai kompetisi di masa mudanya. Belakangan, ia mendedikasikan sisa hidupnya untuk mencari cara agar bisa memindahkan kemampuan itu pada Willy, anak semata wayang kesayangannya. Saat cahaya itu masuk ke dalam tubuh Willy, tentu Prily tak tahu, ia sudah meninggal. Betapa bahagianya Prily jika ia tahu bahwa kekuatan itu telah sampai dengan selamat pada anaknya. Dan tak juga Prily tahu, kekuatan yang masuk ke tubuh Willy bukan hanya kemampuan beladirinya, tapi 10 kali lipat dari kemampuannya. Ini adalah anugerah. Kemampuan khusus yang tak akan dimiliki oleh siapapun. Willy tak hanya menjadi ahli beladiri, ia juga mahir menggunakan senjata. Bahkaan Willy belum menyadari bahwa kemampuan itu juga memiki kelebihan lain. Energi di dalam tubuhnya membuatnya bisa menyembuhkan beberapa penyakit melalui pijatan tangan. Sepaket teknik pijatan tradisional dan refleksi turut masuk ke dalam ingatannya secara instan. --- Setibanya di rumah Haldi, Willy disambut oleh seorang wanita yang berdiri di dekat pintu masuk. Wanita itu tampak berusia sekitar 40 tahun, dengan penampilan cantik dan elegan. Namun, wajahnya langsung berubah sinis begitu melihat Willy. “Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya dengan nada tajam. “Saya Willy, Bu. Karyawan baru di sini. Pak Haldi yang menerima saya,” jawab Willy dengan sopan. Namun, wanita itu tidak mempercayainya. “Karyawan baru? Tidak mungkin. Kamu pasti pemulung yang menyelinap masuk!” bentaknya, menatap Willy dari atas ke bawah dengan penuh penghinaan. Willy merasa kesal, tetapi ia tetap mencoba menjelaskan. “Ibu bisa tanya langsung ke Pak Haldi. Saya benar-benar diterima bekerja di sini.” Wanita itu akhirnya pergi tanpa sepatah kata pun. Tapi Willy bisa merasakan kebencian yang jelas terpancar dari matanya. Willy hanya bisa menghela napas panjang. "Hari pertama saja sudah begini. Bagaimana dengan nanti, besok, lusa, bulan depan?" pikirnya. Ia berjanji dalam hati untuk tetap sabar dan membuktikan bahwa dirinya pantas mendapatkan pekerjaan ini. Dengan langkah mantap, ia melangkah masuk ke rumah, bersiap menghadapi apa pun yang menantinya di sana. Willy masih terbayang betaoa arogannya wanita itu. Willy tak tahu wanita itu siapa. "Apa semua anggota keluarga di sini segalak dia?" ###Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c
Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri
Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya
MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam
Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s







