Beranda / Romansa / Menantu Pengganti / BAB 2 :Pengantin Tanpa Suara

Share

BAB 2 :Pengantin Tanpa Suara

Penulis: SolaceReina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 00:50:57

Suara itu datang dari balik pintu. Lirih, gemetar, tapi sangat jelas.

"Revan... aku kembali."

Tubuh membeku di tengah ruang ganti. Jantung berdetak terlalu cepat sampai terdengar di telinga sendiri. Tangan gemetar di sisi tubuh. Gaun pengantin yang kusut di ujungnya terasa semakin berat.

Suara itu...

Kirana.

Kakakku.

---

Revan, yang baru saja menutup pintu dan hendak pergi, tiba-tiba berhenti. Punggungnya menegang. Tangannya masih di gagang pintu, tapi tidak bergerak.

Dia diam lama, terlalu lama, sebelum akhirnya berbisik tanpa menoleh.

"Buka pintunya."

Suaranya datar. Tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang dingin.

Menelan ludah, mencoba menggerakkan kaki, tapi tubuh seperti tertancap di lantai.

"Revan, aku—"

"Sekarang, Aruna."

Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak.

---

Dengan langkah gemetar, mendekati pintu. Tangan kanan menyentuh gagang, dingin seperti logam yang baru dikeluarkan dari kulkas. Menarik napas dalam, lalu membukanya pelan.

Dan di sana...

Kirana berdiri.

Wajahnya sama seperti yang kuingat. Cantik, tenang, dengan senyum lembut yang selalu membuatku merasa aman saat kecil. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Matanya... kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang di sana.

Dia mengenakan jaket tipis berwarna abu-abu, celana jeans lusuh, dan tas selempang kecil di pundak. Rambutnya berantakan, seolah baru saja turun dari bus malam.

Dia menatap lama. Tidak bicara. Hanya menatap—dari ujung kerudang pengantin di kepala, turun ke gaun putih yang kukenakan, lalu berhenti di cincin yang melingkar di jari manis.

Senyumnya meluntur perlahan.

"Jadi..." suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Kamu yang menggantikanku."

Bukan pertanyaan. Bukan tuduhan. Hanya... pernyataan.

Membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Tenggorokan terasa tercekik.

---

Revan berjalan melewati, berdiri di depan Kirana. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Wajahnya tetap datar, tapi rahangnya mengeras.

"Jadi kamu akhirnya muncul," katanya dengan nada dingin tapi terkontrol. "Setelah menghilang tanpa kabar. Setelah membuat semua orang repot."

Kirana menunduk. Tangannya menggenggam tali tas dengan erat.

"Aku... aku minta maaf. Aku nggak bermaksud kabur. Aku cuma butuh waktu untuk—"

"Waktu?" Revan memotong cepat. "Waktu untuk apa? Untuk memastikan aku terlihat bodoh di depan keluargaku? Atau waktu untuk memutuskan apakah aku cukup kaya untukmu?"

Suaranya tajam, tapi tidak keras. Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.

Kirana menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "Bukan begitu, Revan. Aku... aku nggak siap. Aku takut—"

"Takut?" Revan tersenyum tipis, tapi tidak hangat. "Lucu. Kamu takut menikah denganku, tapi kamu nggak takut menghancurkan dua keluarga sekaligus."

Hening.

Kirana tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, gemetar, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.

---

Masih berdiri di ambang pintu. Tidak tahu harus pergi atau tetap di sana. Rasanya seperti menyaksikan dua dunia yang tidak lagi bisa kusatukan.

Lalu Kirana menoleh. Pandangannya tajam sekarang, tidak lagi kosong.

"Kamu yang menggantikanku," katanya lagi, kali ini dengan nada yang berbeda. "Mama yang menyuruhmu, kan?"

Mengangguk pelan. Suara nyaris hilang. "Kakak tahu sendiri... keadaan kita. Kalau pernikahan ini batal—"

"Aku tahu!" potongnya cepat, nadanya naik sedikit. "Aku tahu semuanya, Aruna. Tapi kamu... kamu harusnya nolak. Kamu harusnya—"

"Harusnya apa?" kali ini yang memotong. Suara bergetar, tapi tetap keluar. "Harusnya aku biarkan Ayah masuk penjara? Biarkan rumah kita diambil? Biarkan Ibu sakit karena stres?"

Kirana terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.

Menarik napas. "Aku nggak pengen ini, Kak. Tapi aku nggak punya pilihan."

---

Revan berbalik ke arah. Tatapannya dingin, tapi kali ini... ada sesuatu yang berbeda. Seperti sedang menilai, mengukur.

"Aruna," panggilnya pelan. "Naiklah ke kamar. Kita akan bicara nanti."

Bukan permintaan. Itu perintah.

Melirik Kirana sebentar, berharap ada sedikit kehangatan, sedikit pengertian dari kakak yang dulu selalu melindungi. Tapi yang terlihat hanya tatapan kosong.

Tatapan yang seolah berkata: Kamu sudah mengambil tempatku.

Menunduk, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah berat.

---

Kamar pengantin di lantai atas hotel terasa dingin. Bukan karena AC, tapi karena kekosongannya.

Ranjang besar dengan seprai putih bersih. Meja rias dengan bunga segar di vas kaca. Lampu temaram yang seharusnya romantis, tapi hanya membuatku merasa lebih sendiri.

Duduk di tepi ranjang, menatap cincin di jari. Cincin yang seharusnya tidak ada di sana.

Ponsel bergetar. Pesan dari Ibu.

*"Aruna, Ibu tahu ini berat. Tapi terima kasih, Nak. Kamu sudah selamatkan keluarga kita. Ibu sayang kamu."*

Menatap layar itu lama. Lalu air mata mulai turun, pelan, tapi tidak bisa ditahan.

Tidak merasa seperti pahlawan. Merasa seperti pencuri.

Pencuri yang mengambil hidup orang lain.

---

Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Revan masuk, menutup pintu pelan di belakangnya. Jasnya sudah dilepas, dasi dilonggarkan. Tapi wajahnya tetap datar, seperti topeng yang tidak pernah turun.

Dia berdiri di dekat pintu, menatap dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Kenapa kamu menangis?"

Cepat-cepat menghapus air mata. "Aku nggak—"

"Jangan bohong," potongnya. "Aku bisa lihat."

Hening sebentar. Lalu bertanya, suara parau. "Kirana... dia masih di bawah?"

Revan menggeleng. "Dia sudah pergi. Aku suruh dia pulang."

Menatapnya, tidak percaya. "Kenapa?"

"Karena dia bukan bagian dari ini lagi."

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi artinya berat.

Menelan ludah. "Revan... kenapa kamu bilang tadi... kamu tahu aku bukan Kirana dari awal?"

Dia berjalan perlahan, duduk di kursi di seberang ranjang. Jarak yang cukup jauh, tapi cukup dekat untuk membuatku tegang.

"Karena aku kenal Kirana," katanya datar. "Aku tahu cara dia berjalan, cara dia bicara, bahkan cara dia menatap. Dan kamu..." dia menatap tajam. "...kamu nggak seperti dia sama sekali."

Jantung berdegup kencang. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tetap lanjut?"

Revan tersenyum, dingin, tanpa kehangatan.

"Karena aku nggak peduli siapa yang berdiri di sana. Yang kupedulikan adalah... keluargamu sudah menginjak keluargaku enam tahun lalu. Dan sekarang, aku punya kesempatan untuk membalas."

Membeku. "Membalas? Maksudmu—"

"Enam tahun lalu," potongnya pelan, tapi tajam. "Perusahaan ayahmu menutup proyek besar milik keluargaku. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Termasuk adikku."

Dia berhenti sebentar. Napasnya berat.

"Dia bunuh diri."

Kata-kata itu seperti tamparan keras di wajah.

Menggeleng cepat. "Aku... aku nggak tahu soal itu. Ayah nggak pernah cerita—"

"Tentu saja dia nggak cerita," Revan memotong. "Karena dia tahu, kalau orang tahu kebenarannya, nama keluargamu akan hancur."

Menatapnya, tidak tahu harus berkata apa.

Revan berdiri, berjalan ke arah pintu lagi.

"Aku nggak akan menyentuhmu, Aruna. Kamu aman. Tapi ingat satu hal—kamu ada di sini bukan karena kebaikan hati keluargaku. Kamu ada di sini karena aku ingin keluargamu merasakan apa yang kami rasakan."

Dia membuka pintu, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh.

"Selamat datang di penjara barumu."

Pintu tertutup pelan.

Dan duduk di sana, sendirian, dengan cincin yang terasa seperti belenggu.

---

Ponsel bergetar lagi. Pesan dari nomor tidak dikenal.

"Jangan percaya siapa pun di rumah itu. Bahkan tidak pada kakakmu. Dia bukan yang kamu kira."

Menatap layar dengan tangan gemetar.

Siapa ini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Pengganti   💥 BAB 61: Umpan di Selat Malaka

    Perahu penyelamat kecil itu melaju kencang, membelah ombak Selat Malaka yang mulai bergejolak. Aruna mengarahkan perahu itu menjauh dari rute Night Rider menuju Batam, bergerak ke arah utara, menuju lautan terbuka.Dia sendirian. Hanya dirinya, ombak yang berderu, dan flash drive Kirana yang dipegangnya erat-erat.Aruna menatap arlojinya. Sepuluh menit. Itu adalah waktu yang dibutuhkan sinyal flash drive untuk menarik perhatian Revan dan meyakinkannya bahwa ini adalah target utama.Air laut memercik ke wajahnya, terasa pedih di luka bahunya. Aruna harus tetap fokus. Dia menatap cakrawala di belakangnya, mencari tanda-tanda pengejaran.Lima belas menit berlalu. Tidak ada.Aruna mulai ragu. Apakah rencananya gagal? Apakah Revan tidak lagi tertarik pada data A-17?Tiba-tiba, dia mendengar suara yang dia kenali dan benci—suara mesin kapal cepat yang membelah air, semakin dekat dari kejauhan. Bukan kapal patroli militer.Kapal pemburu cepat milik Ares. Dua titik hitam muncul di cakrawala.

  • Menantu Pengganti   ⏳ BAB 60: Taruhan pada Seorang Jurnalis

    Aruna berhasil menarik dirinya kembali ke dek kapal Night Rider. Bahunya berdarah lagi, dan lututnya sakit luar biasa setelah melompat. Nadira segera memeluknya, wajahnya lega sekaligus panik."Kau berhasil!" desis Nadira. "Kau memberikannya pada Dian?"Aruna mengangguk, terengah-engah. Dia merasakan perahu mulai melaju kencang lagi, meninggalkan Kapal Vigilance di kejauhan."Ya. Hard drive Johan ada di tangannya," kata Aruna. "Sekarang, nasib kita ada di tangan Dian. Dia harus menerbitkannya."Tono, yang berada di ruang kemudi, berteriak melalui intercom. "Kita sudah aman! Mereka sudah melewati perairan batas! Tujuan selanjutnya Singapura!"Aruna berjalan pincang menuju ruang kargo, diikuti Nadira. Johan masih terbaring lemah.Aruna segera menuju Bima. Kondisinya memburuk dengan cepat. Wajahnya semakin cekung, dan napasnya dangkal.Paramedis Kiara tampak putus asa. "Waktunya habis, Nyonya Aruna. Paling lama tiga jam. Kita harus mendarat di fasilitas medis berskala besar, atau dia tid

  • Menantu Pengganti   🌊 BAB 59: Pertukaran di Tengah Laut

    Kapal Vigilance milik Dian melaju mendekat, membelah ombak dengan elegan. Sementara itu, jet tempur militer itu memutar, bersiap untuk penerbangan pengintaian kedua di atas perairan perbatasan.Aruna menatap hard drive Johan. Ini adalah momen kebenaran, hasil dari semua penderitaan dan pelarian."Tono! Bagaimana respons Dian?" tanya Aruna, mencengkeram pegangan dek kapal.Tono memegang ponsel satelit, wajahnya pucat. "Dia setuju. Lima menit, di samping kapal. Tapi dia menuntut agar kita hanya mengirim satu orang untuk melakukan transfer."Aruna mengangguk. "Aku yang akan pergi.""Tidak, Aruna! Kau terluka parah!" seru Nadira. "Biarkan aku yang pergi!""Tidak," potong Aruna. "Dian harus melihat bukti itu di tanganku. Dia harus melihat siapa yang melawannya. Dan hard drive ini sangat sensitif. Hanya aku yang tahu cara kerjanya jika Revan memasang jebakan."Kapal Night Rider dan Vigilance bergerak sejajar di laut terbuka. Jarak mereka hanya beberapa meter, terpisah oleh ombak yang ganas.

  • Menantu Pengganti   🚢 BAB 58: Malam di Atas Night Rider

    Kapal kargo cepat Night Rider membelah ombak Laut Jawa. Kecepatan kapal membuat guncangan terasa di ruang kargo yang sempit dan berisik. Di luar, langit sudah benar-benar gelap.Aruna bersandar di dinding baja, bahunya yang terluka berdenyut nyeri. Dia menyentuh hard drive Johan yang ia sembunyikan di dalam lipatan jaketnya. Bukti itu kini aman, tapi Bima tidak.Tim medis Kiara bekerja di bawah cahaya redup. Mereka memberikan cairan infus dan obat penghilang rasa sakit dosis tinggi untuk Bima."Kami sudah melakukan semua yang kami bisa di laut," kata salah satu paramedis kepada Aruna. "Jika dia tidak dioperasi dalam dua belas jam ke depan, kami harus bersiap untuk yang terburuk."Johan, yang kini sudah diberikan pertolongan pertama oleh Nadira, duduk di sudut ruangan, wajahnya masih memar."Terima kasih, Nyonya Aruna," kata Johan, suaranya lemah. "Saya pikir saya sudah mati di tangan Revan.""Kenapa kau merekamnya, Johan?" tanya Aruna, mendekati Johan. "Kau tahu risikonya."Johan mena

  • Menantu Pengganti   🛳️ BAB 57: Pintu Keluar Kiara

    Perahu nelayan itu mendarat kasar di Pulau Ketapang. Aruna, Nadira, dan Johan yang kesakitan melompat ke dermaga yang sama tempat mereka meninggalkan Bima.Di gudang tua, lampu remang-remang menyala. Tono berdiri di pintu, wajahnya tegang. Dia melihat kondisi Aruna—berlumuran darah kering dan lumpur—dan hard drive di tangannya.Dia tidak perlu bertanya. Hasilnya jelas."Revan lepas," kata Aruna, suaranya serak. "Dan dia tahu kita di sini."Tono mengangguk. Dia mengabaikan Johan, fokus pada Aruna."Aku menerima sinyal satelit. Helikopter militer Revan diperkirakan tiba dalam satu jam," kata Tono. "Tapi itu masalah kecil. Sinyal dari Pulau Naga menunjukkan perahu cepat Sersan Leo akan tiba dalam lima belas menit."Lima belas menit. Aruna tidak punya waktu untuk bernapas."Bima?" tanya Aruna, pincang menuju gudang."Stabil. Tapi dia tetap butuh operasi," jawab Tono. "Lukanya sudah dibersihkan, tapi tim medis tidak bisa melakukan lebih dari ini."Aruna masuk ke gudang. Dia melihat Bima, y

  • Menantu Pengganti   🏃 BAB 56: Bukti Berlumuran Darah

    Aruna memutar kunci darurat pintu baja Koridor Isolasi, mengunci Revan di dalam. Di telinganya, dia mendengar benturan keras dari tinju Revan yang menghantam baja. Teriakan yang teredam, penuh amarah murni.Dia berhasil. Tapi dia tidak aman.Aruna membalikkan badannya. Dia kini harus merangkak kembali melalui lorong pipa yang sempit. Bahunya berdarah, kakinya berdenyut-denyut.Dia harus cepat. Revan adalah ahli teknik. Dia pasti memiliki cara darurat untuk membuka atau meledakkan pintu itu.Aruna mencengkeram hard drive kecil itu dengan tangan kirinya. Setiap kali dia menyentuh lantai beton basah, rasa dinginnya menusuk. Dia mendorong tubuhnya maju, mengabaikan rasa sakit.Lorong pipa itu terasa lebih panjang saat Aruna melarikan diri. Bau uap dan karat semakin menyesakkan. Aruna menggunakan sisa-sisa tenaganya, mendorong siku-sikunya ke depan.Akhirnya, dia mencapai lubang saluran ventilasi yang dia gunakan untuk masuk. Dia harus mendorong tubuhnya ke atas.Dia menghela napas panjang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status