Share

Bab 222

Author: Skyy
last update publish date: 2026-10-09 21:50:01

Revan menatapnya dingin. “Kau yang seharusnya mati!”

Dia menarik kembali Pedang Bara Emas, lalu mengayunkannya dengan kekuatan penuh. Serangan itu menghantam perut Elang.

BRAKKK!

Tubuh Elang langsung terlempar seperti layang-layang yang talinya putus. Dia menghantam tanah dengan keras, lalu berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Darah kembali keluar dari mulutnya, sedangkan wajahnya berubah pucat.

“Elang!” Gilang yang masih menahan rasa sakit pada lengannya langsung berteriak.

Dia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 230

    Revan akhirnya menyadari betapa berharganya poin kontribusi yang selama ini dia anggap mudah diperoleh. Dia bahkan baru saja menghabiskan dua ratus poin untuk membeli Serat Tumbuhan 1000 Seribu Tahun. Jika dikonversikan berdasarkan harga daging kering, jumlah itu setara dengan seratus ribu kg makanan.Memikirkan hal tersebut membuat sudut mulutnya berkedut. Dua ratus poin kontribusi ternyata bernilai jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.Revan menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan penyesalan yang mulai muncul. Dia tidak menggunakan poin kontribusinya lagi untuk membeli makanan, melainkan membayar dengan Kristal Langit. Setelah membeli beberapa ribu kilogram daging kering sebagai persediaan, dia pun meninggalkan lapak tersebut.Untungnya, dia memiliki cukup banyak Kristal Langit. Seiring bertambahnya kekayaan, pola pikirnya perlahan berubah. Dia tidak lagi terlalu mengkhawatirkan pengeluaran kecil seperti dahulu.Lagi pula, di Perguruan Sangkara, Kristal Langit juga bisa

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 229

    Penjaga toko bahan spiritual dan Pitaloka yang berada di samping Revan sama-sama terdiam. Keduanya masih sulit memahami bagaimana pemuda itu bisa menyetujui harga dua ratus poin kontribusi tanpa menawar sedikit pun.Bukankah dia seharusnya mempertimbangkannya terlebih dahulu?Penjaga toko tidak melontarkan pertanyaan. Dia segera mengeluarkan token giok miliknya, lalu mengaktifkan token tersebut. Token giok Revan memancarkan cahaya biru yang mengalir menuju benda di tangan penjaga toko, menandakan bahwa pemindahan poin kontribusi sedang berlangsung.Angka pada token Revan pun berubah, dari 300 menjadi 100.Penjaga toko memeriksa tokennya sendiri untuk memastikan transaksi berhasil. Setelah mendapati bahwa dua ratus poin kontribusi benar-benar telah masuk, dia kembali menatap Revan dengan sorot mata yang semakin aneh.‘Siapa sebenarnya pemuda ini…?’Kehebohan kecil itu rupanya menarik perhatian orang-orang yang sedang mengantri di belakang Revan. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana pem

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 228

    Kalau melihat Revan yang tampak asing di hadapannya, penjaga toko itu langsung menduga bahwa dia adalah murid baru. Biasanya, murid yang baru bergabung memang belum banyak dikenal di kalangan murid luar.“Aku tidak memiliki Esensi Darah Naga. Namun, aku punya Serat Tumbuhan 1000 Seribu Tahun. Hanya saja, bahan itu membutuhkan banyak poin kontribusi. Aku khawatir kau tidak sanggup menukarkannya.”“Berapa banyak poin yang dibutuhkan?”Penjaga toko itu tersenyum lebar, seakan sudah bisa menebak jawaban Revan. “Dua ratus poin kontribusi untuk sepotong kecil bahan itu.”Serat Tumbuhan 1000 Seribu Tahun merupakan bahan yang sangat berharga. Melihat Revan seperti murid baru, penjaga toko itu yakin bahwa dia belum memiliki cukup poin kontribusi untuk mendapatkannya.“Baiklah.”Penjaga toko di bagian bahan spiritual tertegun mendengar jawaban Revan. Pitaloka yang berdiri di sampingnya juga membelalakkan mata, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Ketika penjaga toko menye

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 227

    “Esensi Darah Naga ... Serat Tumbuhan 1000 Seribu Tahun ...” Perempuan itu bergumam sambil mengingat-ingat nama bahan yang disebutkan Revan.Melihat reaksinya, Revan menduga bahwa dia belum pernah mendengar tentang kedua bahan tersebut. Hal itu cukup masuk akal. Bahan-bahan berharga seperti itu bukan sesuatu yang mudah dijumpai, apalagi dibeli oleh murid biasa.“Kakak senior, ikutlah denganku. Kedua bahan itu sepertinya termasuk bahan spiritual, bukan? Aku akan mengantarmu ke bagian penjualannya.” Perempuan itu tersenyum manis.Revan mengangguk, menerima tawarannya.Melihat kesediaannya, perempuan itu tampak senang. Dia segera berbalik dan mulai menuntun Revan melewati kerumunan yang memenuhi Balai Harta.“Sebenarnya, aku juga baru bergabung dengan perguruan ini. Kau tidak perlu memanggilku Tuan.”Perempuan itu menoleh sebentar, lalu menjelaskan sambil terus berjalan. “Tuan, mungkin Anda belum tahu aturan di Perguruan Sangkara. Di sini, murid berjubah abu-abu harus memanggil murid ber

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 226

    Revan kemudian mengeluarkan tiga token giok identitas milik Gilang, Elang, dan Jovian. Dengan mengerahkan Kesadaran Spiritual, dia memeriksa jumlah poin kontribusi yang tersimpan di dalam masing-masing token.Gilang memiliki 120 poin, Elang hanya memiliki 80 poin, dan Jovian 50 poin.Tanpa membuang waktu, Revan segera melafalkan mantra untuk memindahkan seluruh poin kontribusi tersebut ke token giok miliknya. Proses pemindahan itu tercatat dalam catatan giok yang diterimanya dari Balai Keanggotaan.Token identitas Revan memancarkan cahaya biru samar. Angka yang tertera di permukaannya pun berubah dalam sekejap.[Revan Cakrawala: 300 poin.]“Lumayan. Sepertinya, sekarang aku sudah bisa dianggap sebagai tokoh yang cukup diperhitungkan di antara murid.”Revan tersenyum puas. Dia sama sekali tidak menyangka akan memperoleh keuntungan tambahan dari kejadian tadi. Bukan hanya Kristal Langit dan berbagai barang berharga yang bertambah, poin kontribusinya pun ikut meningkat.Meski belum menge

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 225

    Di jalan setapak yang tak jauh dari sana, Gilang dan Elang masih berusaha menjauh. Ketika jeritan Jovian terdengar dari belakang, langkah keduanya sontak terhenti. Wajah mereka seketika pucat.Mereka mengenali suara itu. Jovianlah yang menjerit.Sejujurnya, keduanya sangat membenci orang yang telah menyeret mereka ke dalam masalah ini. Jika bukan karena hasutan Jovian, mereka tidak akan berakhir dengan luka separah itu. Namun, mendengar jeritan kesakitan yang begitu memilukan, secercah rasa iba tetap muncul di hati mereka.Mereka saling pandang, lalu segera mempercepat langkah. Tak satu pun berani kembali untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.Sementara itu, Revan akhirnya berhenti setelah memastikan anggota tubuh Jovian telah hancur. Pemuda itu tergeletak di tanah, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya dipenuhi ketakutan hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Revan menarik belati yang menancap di kaki Jovian, lalu membungkuk untuk mengambil tas penyimpanannya. Setelah memasuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status