FAZER LOGINBeberapa mil dari Paviliun Khusus tempat Revan berkultivasi, dua sosok melayang di udara. Kahfi dan Bayu sedang mengamati tempat itu dengan tatapan tajam.Dengan tingkat kultivasi mereka, jarak sejauh itu bukanlah penghalang. Meskipun tidak dapat melihat secara langsung apa yang terjadi di dalam Paviliun Khusus, mereka mampu memahami banyak hal melalui perubahan aura yang terpancar dari Revan.“Apakah kau sengaja tidak memberitahunya bahwa Esensi Darah Naga tidak boleh diserap sekaligus, hanya untuk menguji keteguhan mental anak itu?” tanya Bayu.Kali ini, tak ada senyum di wajahnya seperti biasanya.Kahfi meliriknya, lalu tersenyum tipis. “Kau juga mengetahui hal itu. Bukankah kau sendiri memilih untuk tidak mengingatkannya?”Ia menggeleng pelan sebelum melanjutkan, “Aku memang ingin melihat bagaimana kondisi mental anak itu sebenarnya, terutama apakah dia mampu menahan godaan. Kau tentu memahami alasannya. Saat ini, dia memiliki Anugerah Dao, dan ada beberapa hal yang sudah jelas ba
Bayu menghela napas. Sebenarnya, persoalannya bukan hanya fenomena alam tersebut. Terlalu banyak orang yang menyaksikan kebangkitan Anugerah Dao Revan pada hari itu.Dari sekitar sepuluh ribu murid yang hadir, mereka tidak bisa memastikan bahwa semuanya benar-benar setia kepada Perguruan Sangkara. Bisa saja ada mata-mata dari kekuatan lain yang menyusup di antara mereka.Meskipun pihak perguruan telah mengeluarkan peringatan keras, ancaman itu hanya cukup untuk menakut-nakuti murid biasa. Mereka tidak bisa menjamin bahwa rahasia tersebut tidak akan bocor.Karena itulah, setelah melalui pembahasan internal, Perguruan Sangkara mengambil langkah yang jauh lebih serius. Mereka mengaktifkan sebuah susunan formasi yang mampu mencegat dan memeriksa informasi yang hendak dikirim keluar.Formasi tersebut biasanya hanya diaktifkan ketika perguruan berada dalam keadaan perang karena pengoperasiannya menghabiskan sumber daya dalam jumlah besar. Namun, kali ini mereka rela menanggung biaya tersebu
“Baik, Guru. Kalian berdua tidak perlu khawatir. Aku akan merahasiakan hal ini.” Revan mengangguk sungguh-sungguh, lalu berdiri dan membungkuk hormat kepada kedua pemimpin perguruan tersebut.“Terima kasih karena telah datang untuk memperingatkanku.”Ia bisa merasakan bahwa keduanya benar-benar berniat baik kepadanya. Sejak memperoleh Cincin Langit, Revan tidak pernah menceritakan keberadaan benda itu kepada siapa pun. Ia sadar, jika rahasia tersebut sampai tersebar, dirinya akan menjadi sasaran banyak orang. Dengan kekuatannya saat ini, ia belum memiliki kemampuan untuk melindungi harta karun luar biasa itu dari tangan para ahli yang jauh lebih kuat.Kedua pemimpin perguruan itu mengangguk. Melihat Revan menanggapi peringatan mereka dengan serius, keduanya akhirnya merasa lega.Sebenarnya, mereka memang khawatir pemuda itu akan bertindak gegabah karena usianya yang masih muda, lalu membanggakan kepemilikan Anugerah Dao di hadapan orang lain. Jika itu terjadi, masalah besar hanya ting
Saat tiba di depan Paviliun Khusus tempatnya berkultivasi, Revan mendapati dua orang telah menunggunya. Salah satunya berwajah tegas dengan aura berwibawa yang menekan siapa pun di sekitarnya, sedangkan pria lainnya memiliki rambut putih lebat dan senyum ramah di wajahnya.“Salam, Guru.”Begitu mengenali kedua tamunya, Revan segera menangkupkan kedua tangan dan membungkuk hormat.Pria berwajah tegas itu adalah Bayu, sang pemimpin perguruan murid baru. Adapun pria berambut putih tersebut merupakan Kahfi, pemimpin perguruan murid lama.Keduanya membalas salamnya dengan anggukan. Senyum puas menghiasi wajah mereka saat menilai pemuda di hadapan mereka. Seorang jenius dengan potensi luar biasa seperti ini jelas layak mendapatkan perhatian dan pembinaan khusus.“Revan, perkenalkan. Beliau adalah pemimpin perguruan murid senior,” ujar Bayu sambil tersenyum.Revan sontak terkejut. Dia memang sudah menduga pria berambut putih itu memiliki kedudukan tinggi, tetapi tak menyangka orang tersebut
Revan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Meskipun percobaan pertamanya dalam memurnikan pil hanya menghasilkan satu butir, pencapaian itu sudah cukup membuatnya puas.Dia mengamati Pil Pemulih Energi tingkat pertama di tangannya, sesekali mengangguk dengan senyum tipis. Kualitas pil tersebut memang tergolong rendah, bagi seseorang yang baru mempelajari alkimia selama beberapa hari, hasil itu sudah terbilang bagus.Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya Revan mencoba memurnikan pil, meski dia telah menghabiskan waktu sepanjang malam untuk berlatih. Bisa berhasil sekali saja sudah merupakan pencapaian yang patut disyukuri.Bagi orang lain, menguasai alkimia bukan perkara mudah. Tanpa fondasi yang kuat, pengetahuan tentang sifat bahan obat, serta kemampuan mengendalikan panas dengan tepat, mereka akan kesulitan menghasilkan pil.Bahkan jika diberi bahan spiritual dalam jumlah melimpah, belum tentu mereka mampu memurnikan satu pil pun.Revan langsung menelan Pil Pemulih Energi itu.
Percobaan alkimia kembali berlanjut. Setiap kali kobaran api terasa kurang kuat, Revan menambahkan Kristal Langit tingkat tinggi beratribut api. Jika ia ingin menjaga api tetap stabil dan membara secara perlahan, ia menggunakan kristal beratribut kayu. Sebaliknya, ketika kobaran api terlalu ganas, ia memasukkan kristal beratribut air untuk meredamnya.Metode alkimia yang mengandalkan Kristal Langit dari berbagai elemen ini mungkin hanya bisa dilakukan oleh Revan. Bukan hanya karena ia memiliki persediaan kristal yang luar biasa banyak, melainkan juga karena ia telah menemukan cara memanfaatkan hubungan antar elemen untuk mengatur suhu tungku.Proses itu menuntutnya terus-menerus mengalirkan Qi ke dalam setiap kristal agar energi elemennya aktif. Tanpa disadarinya, latihan tersebut turut mengasah pengendalian Qi dan meningkatkan kemampuannya mengatur intensitas api. Semakin lama ia bereksperimen, semakin baik pula kendalinya atas kobaran yang sebelumnya sulit dijinakkan.Malam pun berl







