Share

Bab 334

Author: Skyy
last update publish date: 2026-11-05 21:33:02

Namun, Revan tetap tenang. "Sudah kuperingatkan. Siapa pun yang berani melarikan diri, akan mati!"

"Bagus! Bagus sekali!" Arya tertawa karena marah. "Sepertinya kau tidak ingin menunggu sampai besok. Kau justru ingin mati hari ini!"

Sebuah pedang panjang muncul di tangan kanannya. Tanpa membuang waktu, Arya langsung mengayunkannya ke arah Revan yang berada di arena.

Cahaya Pedang bergetar hebat, memancarkan cahaya menyilaukan sekaligus mengerikan. Kekuatan tebasan itu sungguh luar biasa.

Revan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 336

    Tio pun demikian. Meski tubuhnya terlihat kurus dan lemah, bahkan terkesan rapuh, penampilannya sama sekali tidak mencerminkan kemampuan bertarungnya. Begitu pertarungan dimulai, pria itu bisa menjadi lawan yang sangat tangguh.Wangsa menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Pada akhirnya, dia memilih menelan amarahnya.Dia melirik Revan di arena dengan tatapan dingin sebelum kembali memandang Dwiki dan Tio. "Aku bisa menahan diri untuk tidak menyerangnya. Namun, dalam pertarungan hidup dan mati besok, apa pun hasilnya, tak seorang pun boleh ikut campur. Bagaimana menurut kalian?"Tio tidak memberikan jawaban.Dwiki justru mencibir. "Anjing tua, apa kau pikir kami sama tidak tahu malunya denganmu? Cih!"Wangsa mendengus dingin. "Kalau begitu, ayo pergi."Tubuhnya segera berubah menjadi seberkas cahaya dan menghilang dari tempat itu.Arya melirik Revan yang berdiri di arena. Senyum kejam tersungging di wajahnya. "Nikmatilah hari ini selagi masih bisa. Besok, kau akan

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 335

    "Kau..." Wangsa menunjuk Revan. Amarah langsung memenuhi wajahnya.Namun, Revan belum selesai. "Anjing tua! Kau membiarkan muridmu bertindak semena-mena di Kota Jayagiri. Bukannya menghentikannya, kau justru ikut menjadi kaki tangannya dan membantunya menindas kakekku! Orang sepertimu pantas mati!"Revan sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada Wangsa, meskipun pria tua itu merupakan seorang ahli Fase Surga."Dasar bocah kurang ajar!" raung Wangsa benar-benar murka.Sebagai seorang ahli Fase Surga, kapan lagi dia pernah dihina secara terbuka oleh seorang kultivator kecil yang baru mencapai Fase Roh?Sebuah bola api tiba-tiba terbentuk di telapak tangan kanannya. Api itu berasal dari Energi Spiritual miliknya sendiri.Dalam sekejap, suasana di sekitar arena berubah drastis. Angin kencang berhembus dan berputar mengelilingi bola api tersebut, membuat kobarannya semakin mengerikan.Revan mengerutkan kening. Kekuatan Wangsa ternyata jauh melampaui perkiraannya. Bahkan, kekuatannya

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 334

    Namun, Revan tetap tenang. "Sudah kuperingatkan. Siapa pun yang berani melarikan diri, akan mati!""Bagus! Bagus sekali!" Arya tertawa karena marah. "Sepertinya kau tidak ingin menunggu sampai besok. Kau justru ingin mati hari ini!"Sebuah pedang panjang muncul di tangan kanannya. Tanpa membuang waktu, Arya langsung mengayunkannya ke arah Revan yang berada di arena.Cahaya Pedang bergetar hebat, memancarkan cahaya menyilaukan sekaligus mengerikan. Kekuatan tebasan itu sungguh luar biasa.Revan sudah bersiap menghadapi serangan tersebut. Dia mengulurkan tangan kanannya, dan Pedang Bara Emas yang tertancap di dalam kawah besar seketika melesat kembali ke arahnya.Begitu senjata itu berada dalam genggamannya, Revan langsung menerjang ke udara.Pedang Bara Emas memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Saat melesat, bentuknya seolah menyerupai naga hidup yang muncul ke dunia. Raungan naga menggema, cahaya keemasan membumbung tinggi ke langit.DUAR!Kedua serangan bertabrakan dan mengh

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 333

    Nayara yang berada di samping Revan ikut merasakan tekanan aura tersebut. Wajahnya memerah dan dia terpaksa mundur beberapa langkah.Menyadari perubahan pada orang-orang di sekitarnya, Revan segera menarik napas dalam-dalam. Dia menekan amarahnya dan mengendalikan kembali aura yang sempat meledak.Setelah itu, dia mengangkat kepala dan menatap Arya dengan dingin. Niat membunuh terpancar jelas dari kedua matanya."Fase Roh tingkat kesembilan. Kekuatannya memang lumayan, tapi masih terlalu lemah." Arya mencibir. "Sampah, aku ingin bertarung sampai mati denganmu di arena besok. Bagaimana? Apa kau berani menerima tantanganku?"Wajah Arya tampak santai, seolah pertarungan itu sudah dipastikan akan menjadi kemenangannya. Sebagai seorang jenius yang telah mencapai Fase Inti Langit, dia tentu tidak menganggap kultivator Fase Roh tingkat kesembilan sebagai ancaman.Apa artinya tingkat kesembilan Fase Roh di hadapannya?"Besok adalah hari kematianmu." Revan menjawab tanpa ragu. Kobaran amarah d

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 332

    Sementara itu, anggota Keluarga Draksa lainnya menatap Evan dengan penuh kebencian. Mereka semua berharap bisa mencabik-cabik pengkhianat itu dengan tangan sendiri.Revan hanya diam menyaksikan kejadian tersebut. Tanpa perlu bertanya, dia sudah bisa menebak bahwa Evan pasti telah melakukan sesuatu yang membuat seluruh keluarga membencinya."Aku... aku anak buah Tuan Arya! Kau berani menyentuhku?!" Evan terus berteriak di tengah pukulan Mandra.Namun, mendengar nama Arya justru membuat Mandra semakin murka. “Tuan Arya?”Bukankah itu orang yang selama ini menjadi penyebab kehancuran Keluarga Draksa?!"Dasar bajingan! Sialan! Lihat saja, akan kuhajar kau sampai mati!" raung Mandra, pukulannya semakin keras."Ayah! Ayah, aku salah! Tolong hentikan!" Evan terus memohon sambil berusaha melindungi tubuhnya.Tetua Kedua dan Tetua Ketiga merasa pemandangan itu agak sulit disaksikan. Keduanya hendak maju untuk menghentikan Mandra, tetapi Tetua Keempat dan Tetua Kelima segera menghalangi mereka.

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 331

    Revan membentuk jari pedang dengan tangan kanannya, lalu mengerahkan kekuatannya untuk mengendalikan artefak tersebut.Whoossshh!Pedang Bara Emas melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa. Hembusan angin dahsyat tercipta di sepanjang lintasannya, sebelum akhirnya menghantam tanah sekitar sepuluh meter di depan Evan dan rombongannya.DUAAAR!Ledakan keras mengguncang seluruh arena. Tanah di hadapan mereka langsung retak dan terbelah. Pedang Bara Emas menancap dalam, meninggalkan lubang besar yang menghalangi jalan pelarian mereka."Berani melangkah satu kali lagi, dan kau akan mati!"Suara dingin Revan terdengar dari belakang.Evan seketika pucat pasi. Ancaman itu membuat seluruh tubuhnya gemetar ketakutan."Ini... bukankah itu Pedang Bara Emas?" Mandra langsung mengenali artefak tersebut.Beberapa tetua di sekitarnya juga mengalihkan perhatian ke senjata yang tertancap di lubang besar itu, kemudian menatap Revan dengan ekspresi terkejut.Dugaan mereka sebelumnya ternyata benar. Hi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status