LOGINRevan hanya bisa terdiam. Baru kali ini dia menghadiri kelas alkimia, tetapi belum sempat mempelajari apa pun, dirinya sudah menjadi pusat perhatian ribuan orang.“Revan, apa kau tidak mendengar perkataanku? Kemarilah!” Suara Dwiki kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih tegas.Revan menghela napas pendek sebelum akhirnya melangkah maju. Dia masih tidak habis pikir bagaimana Dwiki bisa menemukannya di tengah lautan manusia, apalagi sampai memintanya berdiri di depan.Revan tidak mengetahui bahwa tindakan tetua itu sebenarnya didasari niat baik. Dwiki hanya khawatir dia tidak bisa mendengar materi pelajaran dengan jelas jika terus berdiri di bagian belakang.Adapun apakah Revan mampu memahami ilmu alkimia, atau bahkan memiliki bakat di bidang tersebut, semuanya bergantung pada dirinya sendiri.Dwiki cukup puas dengan kepribadian Revan. Pemuda itu tegas dan tidak mengenal belas kasihan ketika menghadapi musuh, meskipun terkadang tindakannya terasa terlalu kejam.Begitu Revan
Perguruan Sangkara memiliki banyak murid luar, dan jumlah peserta kelas umum biasanya sangat besar. Terlebih hari ini, ketika para tetua alkimia mengadakan pelajaran untuk membagikan pengetahuan serta pengalaman mereka kepada para murid.Di sebuah aula megah yang mampu menampung puluhan ribu orang, para murid sudah memadati hampir seluruh tempat yang tersedia. Jubah biru milik para murid luar bercampur dengan jubah abu-abu para murid baru, membentuk lautan manusia yang ramai.Jumlah murid baru bahkan jauh melampaui murid luar. Mereka datang dengan harapan bisa mempelajari sesuatu yang berguna dari para tetua.Aula tersebut memang menjadi tempat para tetua mengadakan pelajaran terbuka bagi seluruh murid, tanpa memungut biaya. Sebagai imbalannya, perguruan memberikan poin kontribusi kepada tetua pengajar untuk setiap kelas yang mereka adakan. Sistem ini juga menjadi salah satu cara bagi para tetua untuk memperoleh poin kontribusi.Berbekal peta pada gulungan giok, Revan akhirnya tiba di
“Ghak!”Dia memuntahkan darah. Wajahnya seketika memerah, sedangkan sorot matanya dipenuhi keterkejutan yang sulit disembunyikan.“Rahasia Langit... ternyata tidak bisa diungkap begitu saja. Aku justru terkena serangan balik?”Ketakutan samar muncul di wajah sang leluhur. Pemandangan itu sangat langka, mengingat dirinya merupakan sosok tertinggi di Perguruan Sangkara dan telah hidup melewati zaman yang tak terhitung jumlahnya.Kejadian yang baru berlangsung di luar sana jelas bukan sesuatu yang biasa. Bahkan dengan kemampuannya, dia tidak mampu mengetahui penyebab sebenarnya tanpa menanggung risiko yang mengerikan.“Perubahan macam apa yang bisa menimbulkan kekacauan sebesar ini?” Dia menggeleng perlahan, lalu menghela napas panjang. “Sudahlah, cukup sampai di sini.”Sebuah botol giok muncul di tangannya. Dia mengambil dua pil emas dari dalamnya dan langsung menelannya. Setelah beberapa saat, rona wajahnya berangsur membaik, lalu dia memejamkan mata untuk mengatur napas dan memulihkan
Revan membuka halaman-halamannya dengan tergesa-gesa. Semakin jauh dia membaca, semakin terang sorot matanya. Napasnya bahkan sempat tertahan ketika menyadari apa yang sedang dipegangnya.“Ini... versi lengkapnya!”Kitab yang selama ini dia pelajari dalam keadaan tidak utuh ternyata memiliki versi sempurna di dalam Cincin Langit. Keterangan pada naskah itu menunjukkan bahwa teknik tersebut berada di tingkat Ilahi rendah.Revan nyaris tidak mampu menahan kegembiraannya. Dia tidak pernah menyangka bahwa kehancuran bintang merah tadi akan memberinya dua hadiah luar biasa sekaligus. Sebuah teknik kultivasi lengkap dan Kristal Langit tingkat tinggi.Meski untuk sementara belum bisa mengakses dunia luar, semua ini sudah lebih dari cukup baginya.Sebelumnya, laju kultivasinya mulai melambat karena energi dari Kristal Langit biasa tidak lagi mampu memenuhi kebutuhannya secara optimal. Kini, dengan sumber daya berkualitas tinggi dan teknik gerak yang jauh lebih hebat daripada versi sebelumnya,
Mereka tahu betul siapa pemilik suara tersebut.Leluhur Perguruan Sangkara!Sosok yang berdiri di puncak kekuasaan perguruan itu telah memberikan perintah, sehingga tak seorang pun berani mempertanyakannya. Satu demi satu, mereka kembali ke tempat masing-masing, meski rasa penasaran masih memenuhi benak mereka.Sementara itu, Revan sama sekali tidak mengetahui kegemparan yang baru saja ditimbulkannya di dunia luar.Di dalam Cincin Langit, dia masih terbaring lemah, berusaha mengumpulkan tenaga. Meski nyaris kehabisan seluruh kekuatannya, pikirannya terus tertuju pada satu hal.Apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam bintang merah itu?Revan berusaha keras untuk bangkit. Untungnya, tubuhnya hanya terkuras habis dan tidak mengalami luka serius, sehingga dia bisa pulih dengan beristirahat. Meski begitu, tenaga yang telah dihabiskannya kali ini benar-benar di luar perkiraan.Dengan langkah tertatih, dia berjalan mendekati tempat bintang merah itu sebelumnya berada. Bintang tersebut telah
Raungan Revan mengguncang ruang berbintang. Tebasan Terpadu meledak dengan kekuatan yang belum pernah dia kenali sebelumnya, seakan pada saat itu dia benar-benar memiliki kemampuan untuk menghancurkan segala sesuatu di hadapannya.Serangan Revan menghantam bintang merah raksasa itu dengan kekuatan penuh. Jejak emas Tebasan Terpadu menerjang permukaannya, tetapi bintang tersebut nyaris tidak bergeming. Hanya beberapa retakan tipis yang muncul, kerusakan yang tampak terlalu kecil untuk membawa perubahan berarti.Namun, tepat ketika Revan mengira serangannya sia-sia, sesuatu di dalam bintang itu mendadak bergerak.Kekuatan misterius meledak dari pusatnya, begitu dahsyat hingga langsung beresonansi dengan cahaya keemasan di tangan Revan. Kedua kekuatan itu saling menyambut, lalu berpadu menjadi gelombang energi yang jauh melampaui serangan sebelumnya.Revan merasakan perubahan tersebut. Matanya memerah, sementara seluruh otot tubuhnya menegang saat dia mengerahkan sisa tenaga tanpa menaha







