Share

Bab 99

Author: Skyy
last update publish date: 2026-09-07 22:17:56

Setelah suasana kembali sepi, Revan menyerahkan Pedang Tiga Bayangan kepada Mandra. “Berikan ini kepada Tuan Tama.”

Mandra menerima pedang tersebut dan mengangguk.

Revan kemudian bersandar sambil mengingat kembali pertarungan sebelumnya. “Para murid Perguruan Nirakasa memang tidak sederhana. Sedikit lagi aku benar-benar celaka.”

Kekuatan yang dilepaskan Bagas setelah menggunakan Pil Pelepas Batas masih membuatnya teringat. Jika tingkat kultivasi Bagas sedikit lebih tinggi atau efek pil tersebut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 205

    Swoosh!Tanpa peringatan, sebuah belati panjang melesat dari samping dengan kecepatan luar biasa, langsung menyelinap menuju Livia.“Apa?!” Livia terkejut.Langkahnya terhenti seketika. Dia buru-buru mengangkat Pedang Azura dan memutarnya ke depan tubuh untuk menghadang serangan yang datang secara tiba-tiba.Tiga belati melesat pada saat yang hampir bersamaan, kali ini langsung mengarah kepada Livia Varenza.Tidak seorang pun di luar arena menduga Revan akan menggunakan cara seperti ini. Lebih mengejutkan lagi, setelah diperhatikan dengan seksama, ketiga belati tersebut ternyata merupakan senjata sihir tingkat Dasar.“Brengsek—! Kau memang pantas mati!” Livia mengumpat kesal.Baginya, tindakan Revan benar-benar keterlaluan. Dia tidak menyangka pemuda itu akan menyergapnya dengan cara seperti ini. Namun, Livia juga tidak menganggap beberapa belati sederhana itu mampu mengalahkannya.Tubuhnya segera melompat ke udara. Tiga belati yang meluncur dari belakang melewati tubuhnya tanpa menge

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 204

    Seluruh arena mendadak dipenuhi tatapan tak percaya. Para murid, tetua, bahkan Livia sendiri seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka lihat.Potongan daging yang masih diselimuti Api Biru jatuh ke lantai arena. Setengah dari lengan kiri Revan terputus.Darah langsung menyembur deras dari luka tersebut. Bersamaan dengan itu, Api Biru yang sebelumnya terus membakar dagingnya ikut menghilang, begitu pula rasa dingin menusuk yang sejak tadi mengikuti aliran darah ke seluruh tubuhnya.Namun, rasa sakit yang jauh lebih nyata segera menyusul.Revan menarik napas tajam. Tebasan tadi memang berhasil memutus bagian tubuh yang terkena Api Biru, tetapi sebelum seluruh daging yang terkontaminasi terpotong, pedangnya sudah lebih dahulu mengiris sebagian besar lengan tersebut.Suara orang-orang menelan ludah terdengar hampir bersamaan dari berbagai penjuru arena.“Apakah dia sudah gila?!”“Dia gila! Benar-benar gila!”Pandangan semua orang terhadap Revan berubah pada saat itu. Mereka baru

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 203

    Dalam pertarungan antara dua orang dengan kekuatan yang tidak terlalu jauh berbeda, luka hampir mustahil dihindari. Menghadapi seseorang yang menguasai Api Biru berarti satu luka saja bisa menjadi awal dari kehancuran. Begitu tubuh terkena nyala tersebut, rasa dingin akan menyebar seperti racun, membekukan tubuh sedikit demi sedikit dan memangkas kekuatan tempur korban.Memikirkan hal itu saja sudah cukup membuat siapa pun bergidik.Para tetua yang hadir semuanya telah mencapai tingkat di atas Fase Inti Roh. Bagi mereka, kehancuran tubuh bukanlah akhir selama inti roh masih bertahan, karena mereka masih memiliki kesempatan untuk terlahir kembali dengan mengambil tubuh lain.Namun, bagaimana jika mereka bertemu lawan yang kekuatannya setara?Jika tubuh mereka terkena serangan aneh seperti Api Biru dan luka tersebut terus menyebar hingga akhirnya menghancurkan inti roh, apakah mereka masih bisa menyelamatkan diri?Tidak ada satu pun dari mereka yang berani memberikan jawabannya.Di aren

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 202

    Revan belum pernah menemukan sesuatu yang seaneh ini. Bahkan ketika ujung pedangnya bersentuhan dengan nyala biru tersebut, rasa dingin yang menusuk langsung menjalar melalui bilah hingga ke telapak tangannya.Sensasinya begitu nyata. Pergelangan tangan yang menggenggam pedang terasa seperti berada di tengah tanah tandus yang membeku, dinginnya meresap perlahan hingga ke tulang dan membuat jemarinya mulai kehilangan kelincahan.“Nyala biru ini…”Revan mengerutkan kening. Pengalaman bertarungnya melawan Elian saat memperebutkan tambang Kristal Langit tiba-tiba terlintas di benaknya.Saat itu, Elian memiliki teknik yang mampu memperlambat pergerakan tubuh dengan cara mempengaruhi jiwa. Efeknya memang aneh, tetapi tidak menyebabkan kerusakan berarti pada tubuh.Berbeda dengan nyala biru milik Livia. Hawa dingin yang berasal dari pedangnya bukan sekadar sensasi yang mempengaruhi kesadaran.Revan benar-benar bisa merasakan dinginnya pada tubuhnya sendiri, bahkan nyala tersebut hampir teras

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 201

    Selama ini, Livia dikenal sebagai sosok yang sangat angkuh. Wajahnya yang cantik, sifatnya yang dingin, serta aura penekan yang muncul tanpa perlu dia tunjukkan dengan sengaja membuat orang-orang di sekitarnya secara naluriah menjaga jarak.Banyak orang bahkan tidak berani menatap matanya terlalu lama. Namun, pria di hadapannya justru berani membantahnya secara langsung. Dan yang lebih membuat Livia kesal, dia tidak tahu harus membalas perkataan itu dengan apa.Sosok seperti peri yang selalu menjadi pusat perhatian tentu terbiasa menerima pujian dari banyak orang. Sejak kecil, Livia sudah terbiasa diperlakukan istimewa dan dikagumi oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, dia belum pernah dipermalukan seperti ini oleh seorang pria.Tatapan Livia berubah semakin dingin. Wajah cantiknya hampir sepenuhnya tertutup amarah saat dia mengangkat pedang panjang di tangannya, kemudian melafalkan sebuah mantra dengan suara lantang.“Pedang Azura, bangkitlah!”Begitu suara itu jatuh, perubahan luar

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 200

    Di tengah semua perhatian tersebut, Revan tetap tenang. Dia memasukkan Pedang Bara Emas ke dalam cincin penyimpanannya, lalu berdiri tegak sambil menatap Livia.Beberapa saat kemudian, tangan kanannya kembali bergerak. Kali ini, yang muncul dalam genggamannya bukan Pedang Bara Emas.Melainkan sebuah pedang panjang.“Bukankah itu artefak tingkat Luhur?”“Serius? Dia ternyata memiliki dua artefak tingkat Luhur?”Kerumunan kembali riuh. Tidak ada yang menyangka Revan ternyata juga mampu menggunakan pedang. Yang lebih sulit dipercaya, dia bukan hanya memiliki satu artefak tingkat Luhur, melainkan dua.Sejak kapan artefak tingkat Luhur menjadi barang yang bisa dimiliki sembarang orang?Bukankah Revan hanyalah seorang menantu yang selama ini dianggap tidak berguna?Dari mana dia mendapatkan begitu banyak artefak berharga?Di bawah arena, Tio tiba-tiba mengernyitkan kening. Tatapannya langsung tertuju pada pedang panjang yang kini berada di tangan Revan. Dia mengamati bilah tersebut dengan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status