แชร์

Menantu yang Tak Diharapkan
Menantu yang Tak Diharapkan
ผู้แต่ง: Ummu Amay

Bab 1

ผู้เขียน: Ummu Amay
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19 22:06:49

Hujan turun deras malam itu. Butir-butir air menetes dari atap seng rumah reyot, menimbulkan bunyi gemericik yang tak pernah berhenti. Di dalam rumah berdinding papan itu, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun tengah duduk di sisi ranjang besi, menggenggam tangan ayahnya yang kurus kering.

“Pak … obatnya udah diminum? Kalau sudah sekarang Bapak istirahat aja dulu, ya?” Suara Arga bergetar, setengah berusaha tegar, setengah menahan air mata.

Ayahnya, Pak Darsa, hanya mengangguk lemah. Nafasnya tersengal, sesekali batuk kecil terdengar, diikuti darah tipis di ujung tisu.

“Arga, kalau besok ada orang datang nyari Bapak, jangan takut, ya. Mereka cuma nagih uang hutang.”

Arga terdiam. Jemarinya semakin menggenggam tangan ayahnya. “Tenang aja, Pak. Arga bakal beresin semuanya. Arga udah janji, enggak akan biarin siapa pun ganggu Bapak lagi.”

Pak Darsa tersenyum samar, tapi matanya menatap kosong ke langit-langit. “Janji itu berat, Nak. Kadang untuk menepatinya, kita harus jual sesuatu yang enggak bisa dibeli lagi.”

Sebelum Arga sempat bertanya, suara ketukan keras di pintu depan memecah malam.

Dua orang pria berbadan besar berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap seperti niat mereka.

“Arga Darsa?”

“Iya, saya.”

“Bos kami menyuruh panggil kamu. Katanya, ada urusan penting yang enggak bisa ditunda.”

Arga mengernyit. “Bos kalian siapa?”

Salah satu pria itu menyeringai. “Tuan Wiratama. Katanya, kamu tahu kenapa kamu dipanggil.”

Nama itu membuat jantung Arga berhenti sesaat.

Tuan Wiratama — pengusaha besar, pemilik lahan tempat bengkel kecil tempat Arga bekerja berdiri. Orang yang dulu membantu ayahnya saat jatuh miskin, tapi sekaligus yang kini menagih hutang dengan bunga mencekik.

“Ayah saya lagi sakit,” kata Arga pelan.

“Sakit enggak sakit, perintah tetap perintah,” jawab pria itu dingin. “Ayo ikut, sekarang!”

Pak Darsa mencoba bangkit, tapi Arga menahannya.

“Pak, Arga pergi sebentar aja. Nanti balik lagi.”

Pak Darsa menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Hati-hati, Nak. Dunia orang kaya enggak pernah adil buat kita.”

**

Mobil hitam menerjang genangan air di jalanan desa. Arga duduk di kursi belakang, diam menatap jendela. Pikirannya kacau.

Kenapa Tuan Wiratama memanggilnya malam-malam begini? Apa hutang ayahnya akan ditagih paksa? Atau ada hal lain?

Begitu tiba di rumah megah bercat putih, dua penjaga mengantar Arga masuk ke ruang tamu luas berlampu kristal.

Tuan Wiratama duduk di sofa, mengenakan kemeja abu-abu dengan wajah serius. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya tampak menatap Arga dengan tatapan sinis —tak suka.

“Arga Darsa,” ucap Tuan Wiratama tenang tapi tegas. “Aku punya tawaran yang akan mengubah hidupmu.”

Arga menelan ludah. “Tawaran, Pak?”

“Ya. Sebuah penawaran sebagai pembayaran semua hutang ayahmu."

Arga diam sesaat. Hutang ayahnya lumayan banyak —bila dihitung dengan bunga yang diberikan, dan sekarang Tuan Wiratama menawarkan sesuatu demi agar hutangnya lunas.

"Kalau boleh tahu, tawaran apa yang Anda berikan?" Arga menahan napas sebelum mendengar jawaban yang akan dilontarkan.

"Pernikahan.”

Arga mengerutkan dahi, tak paham. “Maaf, saya kurang mengerti.”

Tuan Wiratama meletakkan map di atas meja. “Kau akan menikah dengan putri saya, Aluna Wiratama. Pernikahan akan dilakukan minggu depan. Semua sudah kami siapkan.”

Ruangan itu mendadak terasa hening. Hanya detak jam di dinding yang terdengar.

Arga hampir tertawa karena merasa ini lelucon. Tapi, ekspresi mereka tak menunjukkan gurauan.

Sesaat kemudian ia menatap map coklat di atas meja. Sebuah map yang isinya ia yakini adalah sebuah kertas berisi perjanjian antara dirinya dengan pria paruh baya di depannya itu.

“Kenapa… saya?”

“Karena kau satu-satunya yang bisa kami percaya untuk menjaga rahasia keluarga ini,” jawab Ny. Wiratama dingin. “Dan seperti yang suami saya katakan tadi, sebagai gantinya semua hutang ayahmu kami anggap lunas. Bahkan kami akan berikan modal kerja baru.”

Arga menatap mereka, bingung, marah, dan takut bercampur jadi satu.

“Bagaimana kalau saya menolak?”

“Bapakmu akan kehilangan rumahnya besok pagi. Dan mungkin juga nyawanya,” jawab sang Tuan tenang.

Arga menunduk, menatap telapak tangannya yang kasar. Ia ingat wajah ayahnya, napas yang berat, dan janji untuk melindungi.

Hujan di luar terdengar semakin deras, seolah menertawakan nasibnya.

Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Siapa sebenarnya yang ingin kalian lindungi dari aib ini?”

Tak ada jawaban. Hanya senyum tipis dari Ny. Wiratama. Dan di balik pintu kaca lantai atas, seseorang berdiri mengintip —seorang gadis muda bergaun hijau lumut, perutnya mulai membesar. Matanya basah oleh air mata dan ketakutan.

Itulah pertama kalinya Arga melihat Aluna Wiratama, calon istrinya —dan sekaligus awal dari kehidupan yang akan menghancurkan, sekaligus membentuknya kembali.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 8

    Musim berganti, ketika musim panas datang, menurunkan terik yang membakar halaman besar yang banyak ditumbuhi pohon dan aneka tanaman. Saat ini tengah berlangsung sebuah pesta. Pesta pertunangan adik sepupu Aluna yang diadakan di kediaman keluarga Wiratama. Dari luar, pesta pertunangan itu masih terdengar ramai, penuh tawa dan tepuk tangan. Tapi, di sisi belakang rumah —di dekat tempat parkir mobil —suasananya berbanding terbalik.Arga berdiri diam di samping ember air yang tadi ia gunakan untuk mencuci ban mobil mewah milik tamu keluarga. Bajunya basah sebagian, tangan kasarnya masih menggenggam lap kain. Suara musik dari pesta di dalam rumah terdengar samar, bercampur dengan gema hinaan yang baru saja ia terima.“Suamimu?”“Astaga, Aluna, kau serius menikah dengan dia? Aku kira dia sopir barumu!”“Hahaha … tampaknya keluarga Wiratama benar-benar dermawan. Menikahkan putrinya dengan orang seperti itu.”“Mungkin mereka butuh seseorang yang bisa mencuci mobil tiap hari.”Dan semua or

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 7

    Pagi itu udara di rumah Wiratama terasa berbeda —seperti ada dinding tak kasat mata yang memisahkan para penghuni, antara yang “terlahir kaya” dan mereka yang “diizinkan bernapas di bawah kaki mereka.”Arga sudah bangun sejak pukul lima. Ia menyapu halaman, mencuci mobil, lalu membantu pelayan dapur menyiapkan sarapan.Tangannya mulai kasar karena air sabun dan pekerjaan berat —setiap harinya, tapi ia tetap melakukannya tanpa suara.Ketika jam menunjukkan pukul tujuh, Aluna turun dari tangga dengan rambut digerai rapi, mengenakan dress mahal warna biru muda.Di meja makan, Tuan dan Ny. Wiratama sudah duduk, menatap layar ponsel masing-masing.“Arga, tuangkan jus untuk tuan!” perintah Ny. Wiratama datar.“Baik, Bu.”Arga mengambil botol kristal dan mengisinya perlahan.Tuan Wiratama mendengus pelan. “Kau ini lamban sekali. Kalau pelayan biasa, sudah kukeluarkan sejak kemarin.”Arga menunduk. “Maaf, Pak.”Aluna menatap adegan itu sambil mengaduk sarapannya. Ia tidak berkata apa pun, tap

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 6

    Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi pesta penutup aib.Aluna turun dari tangga besar dengan gaun pastel dan perhiasan berlian di lehernya. Semua mata menatapnya —anggun, sempurna, dan berwibawa.Sementara Arga berdiri di pojok ruangan, memakai kemeja putih sederhana yang bahkan bukan dari butik langganan keluarga Wiratama.Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan ia tahu tempatnya, bukan sebagai suami, tapi sebagai hiasan tak diinginkan dalam kisah keluarga kaya.“Arga, bantu pelayan angkat makanan ke meja tamu,” suara dingin Ny. Wiratama memotong kesunyian.Beberapa tamu —yang merupakan para sahabat Aluna, menoleh heran, tapi sang nyonya pura-pura tidak peduli.Tanpa membantah, Arga menunduk sopan.“Baik, Bu.”Ia menga

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 5

    Hari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri.Aluna berdiri di depan cermin, masih dengan wajah tanpa ekspresi.Gaun tidur putihnya jatuh lembut di bahu, tapi tak ada kelembutan di dalam dirinya. Ia melihat bayangan Arga di kaca —lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus polos dan celana panjang hitam.“Kau bahkan tidak tahu cara berpakaian yang pantas,” ucap Aluna tanpa menoleh.Arga berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Maaf.”“Dan jangan panggil aku dengan nada seolah kita ini pasangan sungguhan. Kau tahu aturan yang Ibu buat, kan?”“Aku tahu.”Aluna berbalik, menatapnya tajam. “Bagus. Jadi kau tahu tempatmu.”Tatapannya menelusuri Arga dari kepala sampai kaki, seolah menilai barang murah yang tak layak berada di ruangan seindah itu

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 4

    Hujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat.Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas di tubuhnya. Tangannya dingin, bukan karena cuaca, tapi karena perasaan yang tak bisa dijelaskan, antara campuran gugup, takut, dan getir.Ia menatap kursi para tamu —hanya beberapa wajah keluarga dekat dan rekan bisnis Tuan Wiratama. Semuanya menatapnya seperti ia bukan pengantin, melainkan pelayan yang tersesat di pelaminan.Musik lembut mengalun. Aluna muncul dari pintu kaca, mengenakan gaun putih panjang dengan kain veil tipis menutupi wajahnya.Wajahnya cantik, tapi sorot matanya dingin seperti es. Langkahnya anggun, tapi setiap langkah seolah menegaskan satu hal, aku tidak menginginkan ini.Ketika Aluna berhenti di depan Arga, penghulu memulai pernikahan.Arga menatap Aluna sejenak. I

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 3

    Matahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya hanya untuk keluarga dekat.Namun bagi Aluna, setiap langkah kaki yang terdengar di rumah itu adalah penanda waktu menuju kehancuran.Gaun pengantinnya tergantung di kamar atas —putih, sederhana, tapi mewah. Semua tampak sempurna di luar, tapi di baliknya tersembunyi luka yang belum kering.Tak lama pintu ruang makan terbuka, lalu Ny. Wiratama masuk dengan langkah cepat, ditemani seorang desainer.“Aluna, fitting terakhir jam sepuluh. Pastikan tidak ada drama hari ini,” katanya tanpa menatap putrinya.“Bu, aku belum siap,” ucap Aluna pelan, hampir seperti bisikan.Ny. Wiratama berhenti sejenak, lalu menatap tajam. “Kau pikir siap atau tidak siap itu penting sekarang? Semuanya sudah berjalan ter

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status