LOGIN
Hujan turun deras malam itu. Butir-butir air menetes dari atap seng rumah reyot, menimbulkan bunyi gemericik yang tak pernah berhenti. Di dalam rumah berdinding papan itu, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun tengah duduk di sisi ranjang besi, menggenggam tangan ayahnya yang kurus kering.
“Pak … obatnya udah diminum? Kalau sudah sekarang Bapak istirahat aja dulu, ya?” Suara Arga bergetar, setengah berusaha tegar, setengah menahan air mata. Ayahnya, Pak Darsa, hanya mengangguk lemah. Nafasnya tersengal, sesekali batuk kecil terdengar, diikuti darah tipis di ujung tisu. “Arga, kalau besok ada orang datang nyari Bapak, jangan takut, ya. Mereka cuma nagih uang hutang.” Arga terdiam. Jemarinya semakin menggenggam tangan ayahnya. “Tenang aja, Pak. Arga bakal beresin semuanya. Arga udah janji, enggak akan biarin siapa pun ganggu Bapak lagi.” Pak Darsa tersenyum samar, tapi matanya menatap kosong ke langit-langit. “Janji itu berat, Nak. Kadang untuk menepatinya, kita harus jual sesuatu yang enggak bisa dibeli lagi.” Sebelum Arga sempat bertanya, suara ketukan keras di pintu depan memecah malam. Dua orang pria berbadan besar berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap seperti niat mereka. “Arga Darsa?” “Iya, saya.” “Bos kami menyuruh panggil kamu. Katanya, ada urusan penting yang enggak bisa ditunda.” Arga mengernyit. “Bos kalian siapa?” Salah satu pria itu menyeringai. “Tuan Wiratama. Katanya, kamu tahu kenapa kamu dipanggil.” Nama itu membuat jantung Arga berhenti sesaat. Tuan Wiratama — pengusaha besar, pemilik lahan tempat bengkel kecil tempat Arga bekerja berdiri. Orang yang dulu membantu ayahnya saat jatuh miskin, tapi sekaligus yang kini menagih hutang dengan bunga mencekik. “Ayah saya lagi sakit,” kata Arga pelan. “Sakit enggak sakit, perintah tetap perintah,” jawab pria itu dingin. “Ayo ikut, sekarang!” Pak Darsa mencoba bangkit, tapi Arga menahannya. “Pak, Arga pergi sebentar aja. Nanti balik lagi.” Pak Darsa menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Hati-hati, Nak. Dunia orang kaya enggak pernah adil buat kita.” ** Mobil hitam menerjang genangan air di jalanan desa. Arga duduk di kursi belakang, diam menatap jendela. Pikirannya kacau. Kenapa Tuan Wiratama memanggilnya malam-malam begini? Apa hutang ayahnya akan ditagih paksa? Atau ada hal lain? Begitu tiba di rumah megah bercat putih, dua penjaga mengantar Arga masuk ke ruang tamu luas berlampu kristal. Tuan Wiratama duduk di sofa, mengenakan kemeja abu-abu dengan wajah serius. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya tampak menatap Arga dengan tatapan sinis —tak suka. “Arga Darsa,” ucap Tuan Wiratama tenang tapi tegas. “Aku punya tawaran yang akan mengubah hidupmu.” Arga menelan ludah. “Tawaran, Pak?” “Ya. Sebuah penawaran sebagai pembayaran semua hutang ayahmu." Arga diam sesaat. Hutang ayahnya lumayan banyak —bila dihitung dengan bunga yang diberikan, dan sekarang Tuan Wiratama menawarkan sesuatu demi agar hutangnya lunas. "Kalau boleh tahu, tawaran apa yang Anda berikan?" Arga menahan napas sebelum mendengar jawaban yang akan dilontarkan. "Pernikahan.” Arga mengerutkan dahi, tak paham. “Maaf, saya kurang mengerti.” Tuan Wiratama meletakkan map di atas meja. “Kau akan menikah dengan putri saya, Aluna Wiratama. Pernikahan akan dilakukan minggu depan. Semua sudah kami siapkan.” Ruangan itu mendadak terasa hening. Hanya detak jam di dinding yang terdengar. Arga hampir tertawa karena merasa ini lelucon. Tapi, ekspresi mereka tak menunjukkan gurauan. Sesaat kemudian ia menatap map coklat di atas meja. Sebuah map yang isinya ia yakini adalah sebuah kertas berisi perjanjian antara dirinya dengan pria paruh baya di depannya itu. “Kenapa… saya?” “Karena kau satu-satunya yang bisa kami percaya untuk menjaga rahasia keluarga ini,” jawab Ny. Wiratama dingin. “Dan seperti yang suami saya katakan tadi, sebagai gantinya semua hutang ayahmu kami anggap lunas. Bahkan kami akan berikan modal kerja baru.” Arga menatap mereka, bingung, marah, dan takut bercampur jadi satu. “Bagaimana kalau saya menolak?” “Bapakmu akan kehilangan rumahnya besok pagi. Dan mungkin juga nyawanya,” jawab sang Tuan tenang. Arga menunduk, menatap telapak tangannya yang kasar. Ia ingat wajah ayahnya, napas yang berat, dan janji untuk melindungi. Hujan di luar terdengar semakin deras, seolah menertawakan nasibnya. Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Siapa sebenarnya yang ingin kalian lindungi dari aib ini?” Tak ada jawaban. Hanya senyum tipis dari Ny. Wiratama. Dan di balik pintu kaca lantai atas, seseorang berdiri mengintip —seorang gadis muda bergaun hijau lumut, perutnya mulai membesar. Matanya basah oleh air mata dan ketakutan. Itulah pertama kalinya Arga melihat Aluna Wiratama, calon istrinya —dan sekaligus awal dari kehidupan yang akan menghancurkan, sekaligus membentuknya kembali. ***Pagi setelah keputusan itu … rumah Wiratama berubah ritmenya. Bukan lebih tenang. Justru lebih sibuk.Mobil keluar masuk halaman sejak matahari belum tinggi. Beberapa staf perusahaan datang membawa berkas. Panggilan telepon tidak berhenti. Semua orang bergerak dengan satu tujuan yang sama —menyiapkan konferensi pers.Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu orang yang justru bergerak paling tenang. Arga.Ia berdiri di ruang kerja kecil di lantai bawah. Beberapa dokumen terbuka di atas meja. Bukan dokumen perusahaan. Melainkan daftar media.Daftar tamu. Dan satu lagi —daftar keamanan. Seorang pria berdiri di hadapannya. Bara. “Jumlah media sudah dikonfirmasi tiga puluh dua,” lapornya.Arga mengangguk kecil.“Tambahkan lima orang pengamanan di luar gerbang.”Bara menatapnya sedikit heran. “Lima?”“Minimal.” Arga menutup map di depannya.“Kalau keluarga Kusuma benar-benar ingin membuat masalah … mereka tidak akan datang sendirian.”Sunyi sejenak.Bara mengangguk. “Baik.”Ia hampir
Pagi berikutnya datang tanpa suara. Namun rumah itu sudah lebih dulu terjaga.Di ruang makan, suasana kembali tertata rapi. Meja panjang, kursi tersusun simetris, aroma kopi memenuhi udara. Semuanya terlihat normal.Terlalu normal.Aluna turun lebih awal dari biasanya. Wajahnya tenang. Bekas di pipinya hampir hilang —salep yang dikirim Arga bekerja dengan baik. Namun yang berubah bukan hanya itu.Cara ia melangkah berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Arga sudah berdiri di tempatnya. Seperti biasa. Namun pagi itu, jarak di antara mereka terasa … lebih disadari.Tatapan mereka sempat bertemu. Singkat. Namun cukup.Langkah lain terdengar.Tn. Wiratama masuk ke ruang makan dengan ekspresi yang sudah kembali netral. Terlalu netral. Seolah ledakan kemarin tidak pernah terjadi.Ia duduk. Melipat serbetnya dengan rapi. Lalu—“Kita akan mengadakan konferensi pers.”Kalimat itu jatuh begitu saja.Sendok di tangan Ny. Wiratama berhenti sepersekian detik. Sedangkan Aluna tidak langsung b
Pintu ruang tamu tertutup rapat. Namun ketenangan yang tersisa di dalamnya … bukan ketenangan yang sebenarnya. Itu hanya diam sebelum sesuatu meledak.Langkah kaki terdengar berat di koridor. Tn. Wiratama berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Pintu dibuka tanpa banyak suara—namun saat ditutup, bunyinya cukup keras untuk terdengar sampai luar.Di dalam—Sunyi. Beberapa detik. Lalu—Brak!Sebuah map tebal dilempar ke meja. Kertas-kertas di dalamnya berserakan. Angka. Dokumen. Perjanjian. Semua yang sejak awal ia siapkan … kini tidak berarti apa-apa.Napasnya berat. Untuk pertama kalinya, raut wajahnya tidak lagi sepenuhnya terkendali.Gagal. Satu kata yang jarang sekali ia rasakan. Dan hari ini —itu terjadi.Di luar pintu, Ny. Wiratama berdiri. Ia tidak langsung masuk. Ia tahu —suaminya tidak ingin diganggu saat seperti ini. Namun tetap saja —ia membuka pintu.Pelan.Di dalam, Tn. Wiratama berdiri membelakangi. Tangannya bertumpu pada meja. Bahunya tegang.“Kau membiarkan itu terjadi.”
Suasana di ruang tamu itu belum benar-benar pulih. Kalimat Aluna masih menggantung di udara. Tidak hilang. Tidak juga mereda. Justru semakin terasa jelas —seolah setiap orang di ruangan itu baru menyadari sesuatu yang selama ini mereka abaikan.Bahwa Aluna … tidak lagi sama.Rendra menatapnya lama. Lebih lama dari sebelumnya. Seolah mencoba mencari celah —satu saja— yang bisa ia gunakan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu.Namun tidak ada. Perempuan di hadapannya bukan lagi Aluna yang mudah didorong, dibujuk, atau ditinggalkan.Ia berdiri. Penuh percaya diri. Dan itu … mengganggu.“Jadi ini keputusan finalmu?” Nada suara Rendra lebih rendah. Lebih dingin.Aluna tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menatapnya. Tegas. Dan itu sudah cukup.Rendra tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.“Baik.”Ia berdiri perlahan. Merapikan jasnya.“Kalau begitu, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa mempertahankan keputusan itu.”Kalimat itu terdengar ringan. Tapi ancamannya jel
Gerbang besi itu terbuka perlahan. Suara mesin mobil yang masuk ke halaman terasa seperti sesuatu yang merayap masuk ke dalam dada —pelan, tapi pasti. Tidak bisa dihindari.Aluna berdiri tegak. Tangannya di samping tubuh, tidak lagi gemetar seperti kemarin. Namun ada ketegangan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya. Seperti biasa. Namun hari ini —posisinya bukan lagi sekadar bayangan.Mobil itu berhenti. Pintu terbuka. Dan seseorang turun. Rendra.Langkahnya santai. Terlalu santai untuk seseorang yang pernah menghilang tanpa jejak. Jasnya rapi. Penampilannya terawat. Seolah hidupnya baik-baik saja. Seolah tidak pernah ada yang ia tinggalkan.Tatapannya langsung mencari satu orang. Aluna.Dan ketika mata mereka bertemu —senyum tipis itu muncul.“Akhirnya kita kembali bertemu.”Sunyi. Tidak ada jawaban.Aluna menatapnya datar. Tidak ada lagi getaran yang dulu pernah ada. Tidak juga kemarahan yang meledak. Hanya … kosong. Dan itu jauh leb
Malam turun perlahan di kediaman Wiratama. Lampu-lampu menyala satu per satu, menyingkirkan gelap yang merambat di setiap sudut rumah. Namun hangatnya cahaya itu tidak mampu mengusir dingin yang tersisa dari kejadia di ruang makan.Semua kembali berjalan seperti biasa. Terlalu biasa. Seolah tidak ada yang terjadi.Di kamar, Aluna duduk di tepi ranjang. Tangannya masih berada di pipinya. Sentuhan itu sudah hilang, namun rasanya belum.Bukan lagi panas karena tamparan. Tapi hangat yang tertinggal. Ia menutup mata perlahan.“Kenapa…” gumamnya lirih. Bukan tentang kejadian tadi. Bukan juga tentang ayahnya. Tapi tentang sesuatu yang jauh lebih mengganggu. Perasaan yang muncul di saat yang tidak seharusnya.Ia mengembuskan napas pelan, lalu merebahkan tubuhnya. Tatapannya kosong ke langit-langit. Untuk ke sekian kalinya, ia tidak memikirkan Rendra. Tidak juga masa lalunya.Yang ia pikirkan … hanya satu orang. Dan itu membuatnya gelisah. Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna membuka mata







