Share

Bab 5

Author: Ummu Amay
last update publish date: 2025-11-19 22:08:52

Hari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.

Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri.

Aluna berdiri di depan cermin, masih dengan wajah tanpa ekspresi.

Gaun tidur putihnya jatuh lembut di bahu, tapi tak ada kelembutan di dalam dirinya. Ia melihat bayangan Arga di kaca —lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus polos dan celana panjang hitam.

“Kau bahkan tidak tahu cara berpakaian yang pantas,” ucap Aluna tanpa menoleh.

Arga berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Maaf.”

“Dan jangan panggil aku dengan nada seolah kita ini pasangan sungguhan. Kau tahu aturan yang Ibu buat, kan?”

“Aku tahu.”

Aluna berbalik, menatapnya tajam. “Bagus. Jadi kau tahu tempatmu.”

Tatapannya menelusuri Arga dari kepala sampai kaki, seolah menilai barang murah yang tak layak berada di ruangan seindah itu.

Arga hanya berdiri diam. Ia tidak membela diri, tidak marah.

Di matanya, hanya ada kesabaran —bukan kelemahan, tapi keteguhan aneh yang membuat Aluna semakin jengkel.

Aluna tidak pernah tahu, jika lelaki di depannya itu sudah tak lagi memikirkan hidup. Raganya mungkin terlihat, tapi jiwanya seolah telah mati selepas nyawa sang ayah pergi untuk selamanya.

Beberapa hari berlalu. Setiap pagi, Arga bangun lebih dulu. Ia membuatkan sarapan, menyiram tanaman, dan memastikan halaman bersih sebelum keluarga besar Wiratama bangun.

Namun, Aluna —tetap— tak pernah menatapnya, apalagi berterima kasih. Bahkan saat Arga mengulurkan secangkir teh hangat, Aluna hanya melirik sekilas lalu berkata,

“Letakkan saja di meja. Aku tidak suka disentuh tanganmu.”

Pelayan tua yang melihat itu merasa kasihan, tapi Arga hanya tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, Bu Siti. Saya sudah biasa kerja begini.”

Namun, setiap kali ia berpaling, rahangnya mengeras. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan semua itu agar tidak meledak.

**

Suatu sore, Aluna turun ke ruang tamu dan menemukan Arga sedang memperbaiki stopkontak di dinding.

Ia menatap dengan tatapan sinis. “Kau pikir kau teknisi di sini?”

“Stopkontaknya rusak. Takutnya korslet.” Arga menjawab tanpa melirik.

“Kalau rumah ini terbakar pun, aku tidak akan menyalahkanmu,” balas Aluna dingin.

Arga menatapnya sekarang, untuk pertama kalinya agak lama. Nada suaranya tetap tenang, tapi tajam.

“Aku tahu kau benci aku, Aluna. Tapi aku bukan musuhmu. Aku cuma orang yang terjebak dalam situasi yang sama.”

“Jangan berani-berani memanggil namaku!” bentak Aluna, suaranya meninggi.

Arga menatap lurus, tak mundur. “Baik. Nona Aluna.”

Kata “nona” itu seperti ejekan halus. Bukan karena nada sarkas, tapi karena caranya membuat Aluna sadar —lelaki miskin itu masih bisa menjaga kehormatannya sendiri.

Aluna membalikkan badan, tapi sebelum melangkah pergi, ia berkata dengan nada penuh penghinaan,

“Jangan lupa, kau di sini bukan karena aku mau. Kau hanya menebus hutang ayahmu. Jangan pernah merasa seolah-olah kau berhak tinggal di bawah atap yang sama denganku.”

Arga diam. Ia ingin menjawab, tapi memilih memalingkan wajah.

“Saya paham. Tapi saya juga tidak pernah meminta tempat di hidupmu.”

Aluna terdiam sejenak —tidak menyangka jawabannya sekuat itu. Namun ia kembali menegakkan dagu, pura-pura tak terguncang.

“Bagus. Kalau begitu, jangan pernah berharap aku akan berubah pikiran.”

Ia berjalan pergi, meninggalkan aroma parfum yang lembut, tapi justru menusuk.

Malamnya, hujan turun deras. Arga masih di ruang tengah, memperbaiki keran bocor. Air menetes dari pipa ke lantai, membentuk genangan kecil.

Aluna muncul di tangga, mengenakan piyama berbahan satin, wajahnya kesal.

“Suara itu mengganggu! Bisakah kau berhenti bertingkah seperti tukang ledeng?”

“Kalau tidak diperbaiki malam ini, bisa bocor lebih parah, Nona,” jawab Arga pelan.

“Aku tidak peduli! Aku tidak ingin mendengar suara apa pun darimu malam ini!”

Arga menatapnya sebentar.

Lalu, tanpa berkata apa pun, ia menutup keran sementara, mengelap tangannya, dan menunduk sedikit.

“Baik. Selamat malam.”

Aluna menatapnya lama, tapi kali ini entah kenapa dadanya terasa aneh —seperti ada dorongan marah sekaligus rasa bersalah yang cepat ia tepis.

Ia berbalik ke kamarnya, membanting pintu dengan keras.

Sementara di ruangan yang Arga tinggalkan, dirinya berdiri sendirian, menatap pipa bocor yang kini diam.

Ia tersenyum tipis.

“Mungkin suatu hari, kau akan sadar, aku bukan musuhmu, Aluna.”

Jujur saja Arga kasihan pada putri tunggal keluarga Wiratama itu. Hidupnya yang selama ini tenang, selalu bersenang-senang, tiba-tiba terguncang dengan peristiwa kehamilan yang kekasihnya lakuka, dan kini malah melarikan diri.

Di luar, petir menyambar, menerangi wajah Arga sesaat —wajah seorang pria yang terluka, tapi belum kalah.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 77

    Sore datang tanpa banyak suara. Langit di luar jendela mulai berubah warna, dari terang yang tegas menjadi jingga yang perlahan meredup. Di dalam kamar, Aluna masih berada di posisi yang sama. Tidak banyak bergerak. Namun pikirannya … tidak berhenti.Konferensi pers itu belum lama selesai. Tapi dampaknya terasa seperti sudah berlangsung berhari-hari.Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna tidak langsung menjawab.Ketukan itu terdengar lagi. Lebih pelan. Seolah memberi pilihan —dibuka, atau dibiarkan.“…Masuk.”Pintu terbuka perlahan.Arga.Ia tidak langsung masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di ambang pintu. Seperti biasa. Menjaga jarak yang tidak pernah benar-benar ia lewati.“Ada yang ingin bicara denganmu,” katanya pelan.Aluna mengangkat wajahnya sedikit. “Siapa?”“Bukan dari dalam rumah.”Jawaban itu membuat Aluna mengerutkan kening.Arga melanjutkan, “Salah satu wartawan.”Sunyi.Aluna menegakkan tubuhnya perlahan. “Sudah mulai, ya.”Bukan pertanyaan.Arga mengangguk kecil.“Dia t

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 76

    Sunyi.Kalimat itu jatuh pelan, namun dampaknya terasa jelas di seluruh ruangan.Ny. Wiratama langsung menatap Arga lebih tajam. “Apa maksudmu?”Arga tidak mengalihkan pandangan.“Jika mereka ingin menghancurkan posisi kita…” suaranya tetap tenang, “cara tercepat adalah melalui Nona Aluna.”Tn. Wiratama tidak bergerak. Namun sorot matanya berubah sedikit lebih dalam.“Lanjutkan.”Arga mengangguk kecil.“Konferensi pers tadi memperjelas status. Itu memperkuat posisi kita secara publik.” Ia berhenti sejenak. “Tapi juga membuka perhatian.”Hening.“Dan perhatian itu… bisa diarahkan.”Ny. Wiratama mengerutkan kening. “Diarahkan ke mana?”Arga menjawab tanpa ragu.“Ke masa lalu beliau.”Sunyi kembali turun.Bara bersandar sedikit lebih tegak dari posisinya tadi. Kini ia benar-benar memperhatikan.“Apa yang mereka tahu?” tanya Tn. Wiratama.Pertanyaan itu langsung. Tanpa basa-basi.Arga terdiam beberapa detik.“Belum tentu banyak...”“Tapi?”“Tapi, cukup untuk memancing.”Ny. Wiratama menge

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 75

    Koridor rumah itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya.Langkah Arga terdengar jelas di lantai marmer. Setiap langkahnya terukur. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu.Beberapa pelayan yang berpapasan hanya menundukkan kepala sebentar sebelum menyingkir memberi jalan.Kabar tentang konferensi pers tadi pagi jelas sudah menyebar ke seluruh rumah. Dan sekarang—semua orang tahu satu hal.Arga bukan lagi sekadar pembantu yang selama ini terlihat. Ia adalah suami Nona Aluna.Namun gelar itu juga berarti sesuatu yang lain.Target.Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Tn. Wiratama. Ia mengetuk sekali.“Masuk.”Suara di dalam tetap seperti biasanya. Tenang. Terkontrol.Arga membuka pintu dan masuk.Ruangan itu masih sama seperti yang ia kenal selama tinggal di rumah itu sejak beberapa bulan lalu. Rak buku besar. Meja kerja kayu gelap. Tirai tebal yang menahan cahaya siang agar tidak terlalu masuk.Namun suasana di dalam terasa berbeda. Tn. Wiratama duduk di kursinya. Di sisi lain

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 74

    Arga tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping ranjang, masih memegang gelas jus yang tadi ia bawa. Cahaya siang yang masuk dari jendela membuat ruangan itu terasa terlalu terang untuk suasana seperti ini.“Aku lelah, Arga.”Suara Aluna pelan. Tidak bergetar, namun cukup untuk menunjukkan bahwa semua yang terjadi pagi tadi benar-benar mengurasnya.Perlahan, Arga meletakkan gelas itu di meja kecil di samping ranjang. Ia tidak duduk. Tidak juga menyentuhnya.Batas itu masih ada —dan Arga tidak pernah berniat melanggarnya.“Aku tahu.” Jawabannya sederhana.Aluna menurunkan tangannya dari wajah. Matanya memang sedikit merah. Namun ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu.“Dia sengaja datang,” gumamnya pelan.Arga tidak perlu bertanya siapa.“Ya.”Aluna memejamkan mata lagi sejenak.“Aku sudah menduganya sejak semalam.”Hening.“Rendra tidak pernah suka kalah.”Arga menyandarkan punggungnya sedikit pada lemari

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 73

    Beberapa detik setelah nama itu disebutkan, suasana langsung berubah.Tangan-tangan wartawan terangkat bersamaan. Mikrofon diarahkan ke depan. Kamera semakin mendekat.“Pak Wiratama, kapan pernikahan itu terjadi?”“Apakah ini pernikahan mendadak?”“Apakah benar ada skandal yang memaksa pernikahan ini?”Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi.Tn. Wiratama tetap berdiri tegak di depan mikrofon. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.“Pernikahan ini adalah keputusan keluarga,” katanya tenang.Namun wartawan tidak berhenti. Salah satu dari mereka berdiri.“Pak, masyarakat belum pernah mendengar nama Arga sebelumnya. Apakah beliau bagian dari keluarga bisnis Anda?”Tatapan beberapa kamera langsung beralih pada Arga. Arga tidak bergerak.Namun sebelum Tn. Wiratama menjawab — sebuah suara lain terdengar dari belakang.“Pertanyaan itu memang menarik.”Semua kepala menoleh. Rendra.Ia melangkah maju melewati barisan kursi wartawan. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Beberapa wartawan

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 72

    Pagi konferensi pers datang lebih cepat dari biasanya. Langit masih pucat ketika rumah Wiratama sudah penuh pergerakan. Mobil media mulai berdatangan satu per satu. Kamera, tripod, dan mikrofon dibawa masuk dengan tergesa.Di halaman belakang, panggung kecil yang semalam masih setengah jadi kini sudah berdiri sempurna. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap ke satu titik.Panggung itu. Tempat semuanya akan diumumkan.Di sisi lain rumah —Arga sudah berdiri sejak lama. Ia mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak mencolok. Namun rapi. Sama seperti sikapnya selama ini.Bara berdiri di sampingnya.“Semua jalur masuk sudah dijaga,” lapornya.Arga mengangguk.“Media?”“Mulai berdatangan. Beberapa sudah menunggu di luar.”Arga melirik jam tangannya. Masih tiga puluh menit.“Pastikan mereka tidak melewati batas yang sudah kita tentukan.”“Baik.”Bara berhenti sebentar sebelum bertanya, “Kau yakin mereka akan mencoba sesuatu?”Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada gerbang besar di

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 60

    Sambungan itu terputus.Sunyi.Aluna masih berdiri di tempat yang sama. Ponsel di tangannya terasa lebih berat dari biasanya. Jari-jarinya sedikit gemetar, napasnya belum sepenuhnya stabil.Ia menatap layar yang sudah kembali gelap. Seolah berharap … semuanya ikut berakhir di sana.Namun tidak. Jus

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 59

    "Saya ingin bertemu Aluna."Langsung. Tanpa berputar.Ucapan itu datang tanpa ragu.“Tidak,” jawab Ny. Wiratama.“Tante—”“Tidak,” ulangnya. Kali ini lebih tegas.Hening menggelayut.Rendra mengatupkan rahangnya. “Dia berhak tahu saya datang.”“Dia tidak butuh itu.”“Saya yang butuh.”Ny. Wiratama

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 58

    Hening yang tercipta setelah kalimat itu terasa menekan.“Darah tetap darah, Tante.”Suara Rendra tidak lagi setenang sebelumnya. Ada sesuatu di dalamnya —keras kepala yang selama ini tersembunyi di balik sikap santainya.Ny. Wiratama tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lelaki di hadapannya i

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 53

    Malam turun perlahan, menenggelamkan sisa cahaya yang masih bertahan di halaman belakang. Arga berdiri cukup lama di sana, selang di tangannya masih mengalirkan air yang kini mulai membentuk genangan kecil di lantai.Ia tidak bergerak.Pikirannya berjalan terlalu jauh.“Dua hari,” gumamnya pelan.W

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status