เข้าสู่ระบบHari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.
Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri. Aluna berdiri di depan cermin, masih dengan wajah tanpa ekspresi. Gaun tidur putihnya jatuh lembut di bahu, tapi tak ada kelembutan di dalam dirinya. Ia melihat bayangan Arga di kaca —lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus polos dan celana panjang hitam. “Kau bahkan tidak tahu cara berpakaian yang pantas,” ucap Aluna tanpa menoleh. Arga berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Maaf.” “Dan jangan panggil aku dengan nada seolah kita ini pasangan sungguhan. Kau tahu aturan yang Ibu buat, kan?” “Aku tahu.” Aluna berbalik, menatapnya tajam. “Bagus. Jadi kau tahu tempatmu.” Tatapannya menelusuri Arga dari kepala sampai kaki, seolah menilai barang murah yang tak layak berada di ruangan seindah itu. Arga hanya berdiri diam. Ia tidak membela diri, tidak marah. Di matanya, hanya ada kesabaran —bukan kelemahan, tapi keteguhan aneh yang membuat Aluna semakin jengkel. Aluna tidak pernah tahu, jika lelaki di depannya itu sudah tak lagi memikirkan hidup. Raganya mungkin terlihat, tapi jiwanya seolah telah mati selepas nyawa sang ayah pergi untuk selamanya. Beberapa hari berlalu. Setiap pagi, Arga bangun lebih dulu. Ia membuatkan sarapan, menyiram tanaman, dan memastikan halaman bersih sebelum keluarga besar Wiratama bangun. Namun, Aluna —tetap— tak pernah menatapnya, apalagi berterima kasih. Bahkan saat Arga mengulurkan secangkir teh hangat, Aluna hanya melirik sekilas lalu berkata, “Letakkan saja di meja. Aku tidak suka disentuh tanganmu.” Pelayan tua yang melihat itu merasa kasihan, tapi Arga hanya tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Bu Siti. Saya sudah biasa kerja begini.” Namun, setiap kali ia berpaling, rahangnya mengeras. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan semua itu agar tidak meledak. ** Suatu sore, Aluna turun ke ruang tamu dan menemukan Arga sedang memperbaiki stopkontak di dinding. Ia menatap dengan tatapan sinis. “Kau pikir kau teknisi di sini?” “Stopkontaknya rusak. Takutnya korslet.” Arga menjawab tanpa melirik. “Kalau rumah ini terbakar pun, aku tidak akan menyalahkanmu,” balas Aluna dingin. Arga menatapnya sekarang, untuk pertama kalinya agak lama. Nada suaranya tetap tenang, tapi tajam. “Aku tahu kau benci aku, Aluna. Tapi aku bukan musuhmu. Aku cuma orang yang terjebak dalam situasi yang sama.” “Jangan berani-berani memanggil namaku!” bentak Aluna, suaranya meninggi. Arga menatap lurus, tak mundur. “Baik. Nona Aluna.” Kata “nona” itu seperti ejekan halus. Bukan karena nada sarkas, tapi karena caranya membuat Aluna sadar —lelaki miskin itu masih bisa menjaga kehormatannya sendiri. Aluna membalikkan badan, tapi sebelum melangkah pergi, ia berkata dengan nada penuh penghinaan, “Jangan lupa, kau di sini bukan karena aku mau. Kau hanya menebus hutang ayahmu. Jangan pernah merasa seolah-olah kau berhak tinggal di bawah atap yang sama denganku.” Arga diam. Ia ingin menjawab, tapi memilih memalingkan wajah. “Saya paham. Tapi saya juga tidak pernah meminta tempat di hidupmu.” Aluna terdiam sejenak —tidak menyangka jawabannya sekuat itu. Namun ia kembali menegakkan dagu, pura-pura tak terguncang. “Bagus. Kalau begitu, jangan pernah berharap aku akan berubah pikiran.” Ia berjalan pergi, meninggalkan aroma parfum yang lembut, tapi justru menusuk. Malamnya, hujan turun deras. Arga masih di ruang tengah, memperbaiki keran bocor. Air menetes dari pipa ke lantai, membentuk genangan kecil. Aluna muncul di tangga, mengenakan piyama berbahan satin, wajahnya kesal. “Suara itu mengganggu! Bisakah kau berhenti bertingkah seperti tukang ledeng?” “Kalau tidak diperbaiki malam ini, bisa bocor lebih parah, Nona,” jawab Arga pelan. “Aku tidak peduli! Aku tidak ingin mendengar suara apa pun darimu malam ini!” Arga menatapnya sebentar. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia menutup keran sementara, mengelap tangannya, dan menunduk sedikit. “Baik. Selamat malam.” Aluna menatapnya lama, tapi kali ini entah kenapa dadanya terasa aneh —seperti ada dorongan marah sekaligus rasa bersalah yang cepat ia tepis. Ia berbalik ke kamarnya, membanting pintu dengan keras. Sementara di ruangan yang Arga tinggalkan, dirinya berdiri sendirian, menatap pipa bocor yang kini diam. Ia tersenyum tipis. “Mungkin suatu hari, kau akan sadar, aku bukan musuhmu, Aluna.” Jujur saja Arga kasihan pada putri tunggal keluarga Wiratama itu. Hidupnya yang selama ini tenang, selalu bersenang-senang, tiba-tiba terguncang dengan peristiwa kehamilan yang kekasihnya lakuka, dan kini malah melarikan diri. Di luar, petir menyambar, menerangi wajah Arga sesaat —wajah seorang pria yang terluka, tapi belum kalah. ***Ruangan itu langsung terasa lebih sempit. Tn. Wiratama berdiri di ambang pintu dengan ponsel di tangannya. Wajahnya dingin —namun jelas menahan emosi. Tatapannya langsung tertuju pada Aluna.“Apa yang sudah kau lakukan, Aluna?”Suara itu rendah. Namun tekanannya terasa jelas.“Apa yang kau katakan kepada wartawan sehingga berita ini muncul?”Sunyi.Bara langsung mundur setengah langkah. Memberi ruang pada majikannya. Sedangkan Arga berdiri tanpa bergerak sedikit pun.Aluna menatap ayahnya lurus.“Aku tidak mengatakan apa pun selain yang memang perlu dikatakan.”“Perlu?” ulang Tn. Wiratama tajam.Ia mengangkat layar ponselnya.“Sekarang seluruh media mulai menghubungkan kehamilanmu dengan Rendra!” Nada suaranya meninggi untuk pertama kalinya hari itu. “Dan kau bilang itu perlu?”Aluna tidak mundur.“Mereka akan menulis itu. Cepat atau lambat semua orang akan tahu.”Jawaban itu membuat Tn. Wiratama menatapnya semakin tajam.“Jadi kau mempermudah mereka?”“Aku tidak...” Nada suara Aluna
Aluna tidak langsung menjawab.Ponselnya masih berada di tangannya. Layar itu belum mati. Nama itu masih terpampang jelas di sana.Rendra.Beberapa detik berlalu. Lalu ia menekan tombol layar hingga gelap. Menaruhnya pelan di sampingnya.“Bukan sesuatu yang baru,” katanya akhirnya.Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.Arga tidak langsung percaya. Ia tetap berdiri di tempatnya. Nampan di tangannya ia letakkan di meja kecil dekat sofa.“Apa dia menghubungimu?” tanyanya.Aluna tidak menghindar kali ini. “Iya.”Hening di antara mereka. “Dia bilang akan melihat sampai kapan aku bertahan.” Aluna menjawab kemudian. Arga mengangguk kecil. Tidak terlihat terkejut.“Seperti yang kuduga.”Aluna menoleh, lalu menatapnya.“Kau sudah tahu dia akan melakukan ini?”“Ya.” Jawaban itu sederhana.“Orang seperti dia tidak akan berhenti hanya karena satu penolakan.”Sunyi.Aluna bersandar sedikit ke belakang. Tangannya terlipat di pangkuan. Matanya tidak lagi lelah seperti siang tadi. Tapi ada sesuatu
Sore datang tanpa banyak suara. Langit di luar jendela mulai berubah warna, dari terang yang tegas menjadi jingga yang perlahan meredup. Di dalam kamar, Aluna masih berada di posisi yang sama. Tidak banyak bergerak. Namun pikirannya … tidak berhenti.Konferensi pers itu belum lama selesai. Tapi dampaknya terasa seperti sudah berlangsung berhari-hari.Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna tidak langsung menjawab.Ketukan itu terdengar lagi. Lebih pelan. Seolah memberi pilihan —dibuka, atau dibiarkan.“…Masuk.”Pintu terbuka perlahan.Arga.Ia tidak langsung masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di ambang pintu. Seperti biasa. Menjaga jarak yang tidak pernah benar-benar ia lewati.“Ada yang ingin bicara denganmu,” katanya pelan.Aluna mengangkat wajahnya sedikit. “Siapa?”“Bukan dari dalam rumah.”Jawaban itu membuat Aluna mengerutkan kening.Arga melanjutkan, “Salah satu wartawan.”Sunyi.Aluna menegakkan tubuhnya perlahan. “Sudah mulai, ya.”Bukan pertanyaan.Arga mengangguk kecil.“Dia t
Sunyi.Kalimat itu jatuh pelan, namun dampaknya terasa jelas di seluruh ruangan.Ny. Wiratama langsung menatap Arga lebih tajam. “Apa maksudmu?”Arga tidak mengalihkan pandangan.“Jika mereka ingin menghancurkan posisi kita…” suaranya tetap tenang, “cara tercepat adalah melalui Nona Aluna.”Tn. Wiratama tidak bergerak. Namun sorot matanya berubah sedikit lebih dalam.“Lanjutkan.”Arga mengangguk kecil.“Konferensi pers tadi memperjelas status. Itu memperkuat posisi kita secara publik.” Ia berhenti sejenak. “Tapi juga membuka perhatian.”Hening.“Dan perhatian itu… bisa diarahkan.”Ny. Wiratama mengerutkan kening. “Diarahkan ke mana?”Arga menjawab tanpa ragu.“Ke masa lalu beliau.”Sunyi kembali turun.Bara bersandar sedikit lebih tegak dari posisinya tadi. Kini ia benar-benar memperhatikan.“Apa yang mereka tahu?” tanya Tn. Wiratama.Pertanyaan itu langsung. Tanpa basa-basi.Arga terdiam beberapa detik.“Belum tentu banyak...”“Tapi?”“Tapi, cukup untuk memancing.”Ny. Wiratama menge
Koridor rumah itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya.Langkah Arga terdengar jelas di lantai marmer. Setiap langkahnya terukur. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu.Beberapa pelayan yang berpapasan hanya menundukkan kepala sebentar sebelum menyingkir memberi jalan.Kabar tentang konferensi pers tadi pagi jelas sudah menyebar ke seluruh rumah. Dan sekarang—semua orang tahu satu hal.Arga bukan lagi sekadar pembantu yang selama ini terlihat. Ia adalah suami Nona Aluna.Namun gelar itu juga berarti sesuatu yang lain.Target.Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Tn. Wiratama. Ia mengetuk sekali.“Masuk.”Suara di dalam tetap seperti biasanya. Tenang. Terkontrol.Arga membuka pintu dan masuk.Ruangan itu masih sama seperti yang ia kenal selama tinggal di rumah itu sejak beberapa bulan lalu. Rak buku besar. Meja kerja kayu gelap. Tirai tebal yang menahan cahaya siang agar tidak terlalu masuk.Namun suasana di dalam terasa berbeda. Tn. Wiratama duduk di kursinya. Di sisi lain
Arga tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping ranjang, masih memegang gelas jus yang tadi ia bawa. Cahaya siang yang masuk dari jendela membuat ruangan itu terasa terlalu terang untuk suasana seperti ini.“Aku lelah, Arga.”Suara Aluna pelan. Tidak bergetar, namun cukup untuk menunjukkan bahwa semua yang terjadi pagi tadi benar-benar mengurasnya.Perlahan, Arga meletakkan gelas itu di meja kecil di samping ranjang. Ia tidak duduk. Tidak juga menyentuhnya.Batas itu masih ada —dan Arga tidak pernah berniat melanggarnya.“Aku tahu.” Jawabannya sederhana.Aluna menurunkan tangannya dari wajah. Matanya memang sedikit merah. Namun ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu.“Dia sengaja datang,” gumamnya pelan.Arga tidak perlu bertanya siapa.“Ya.”Aluna memejamkan mata lagi sejenak.“Aku sudah menduganya sejak semalam.”Hening.“Rendra tidak pernah suka kalah.”Arga menyandarkan punggungnya sedikit pada lemari
Hujan turun deras malam itu. Butir-butir air menetes dari atap seng rumah reyot, menimbulkan bunyi gemericik yang tak pernah berhenti. Di dalam rumah berdinding papan itu, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun tengah duduk di sisi ranjang besi, menggenggam tangan ayahnya yang kurus kering.“P
Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi
Hujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat.Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas
Matahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya han







