แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Ummu Amay
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-19 22:09:19

Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.

Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.

Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi pesta penutup aib.

Aluna turun dari tangga besar dengan gaun pastel dan perhiasan berlian di lehernya. Semua mata menatapnya —anggun, sempurna, dan berwibawa.

Sementara Arga berdiri di pojok ruangan, memakai kemeja putih sederhana yang bahkan bukan dari butik langganan keluarga Wiratama.

Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan ia tahu tempatnya, bukan sebagai suami, tapi sebagai hiasan tak diinginkan dalam kisah keluarga kaya.

“Arga, bantu pelayan angkat makanan ke meja tamu,” suara dingin Ny. Wiratama memotong kesunyian.

Beberapa tamu —yang merupakan para sahabat Aluna, menoleh heran, tapi sang nyonya pura-pura tidak peduli.

Tanpa membantah, Arga menunduk sopan.

“Baik, Bu.”

Ia mengambil nampan berisi gelas-gelas kristal, berjalan di antara para tamu yang menatapnya seperti seorang pekerja, bukan pengantin pria.

Dari kejauhan, Aluna melihatnya dan tersenyum tipis —bukan senyum hangat, tapi senyum puas.

Ia tahu ibunya sedang “menempatkan” Arga pada posisi yang pantas.

Padahal ia tak pernah memiliki masalah dengan Arga, mengenal pun tidak —selain Arga adalah seorang lelaki miskin yang memiliki bengkel kecil di pinggiran kota, yang orang tuanya pernah memiliki sangkutan kepada ayahnya. Namun, entah kenapa, di dalam dirinya ada kepuasan aneh melihat lelaki itu harus menunduk di hadapan dunia yang selama ini memandangnya rendah.

Beberapa teman Aluna mendekat, tertawa kecil sambil berbisik.

“Luna, suamimu itu ... bekerja di sini, ya? Kupikir dia tamu, ternyata bantu pelayan juga.”

Tawa mereka terdengar ringan, tapi menusuk.

Aluna meneguk jus jeruknya perlahan, lalu berkata dengan nada setenang angin,

“Dia memang suka membantu. Lagipula, dia terbiasa dengan pekerjaan seperti itu. Tidak semua orang lahir dengan tangan bersih, kan?”

Tawa kecil meledak lagi di antara mereka.

Arga yang kebetulan lewat mendengar semuanya. Ia tak menatap mereka, tapi cengkeramannya di nampan mengeras hingga jemarinya memutih.

Saat ia hendak menaruh gelas di meja tamu, salah satu tamu —seorang pria muda rekan bisnis keluarga Wiratama— sengaja menabraknya ringan.

Gelas di tangan Arga terjatuh dan pecah di lantai, menimbulkan suara nyaring.

Semua mata menoleh.

“Ya ampun,” desis salah satu tamu perempuan.

Arga langsung berlutut, memunguti pecahan kaca dengan tangan kosong.

Beberapa pelayan buru-buru menghampiri, tapi sebelum mereka sempat membantu, suara Aluna terdengar dari arah panggung:

“Arga!”

Suara itu tegas, keras, dan penuh nada perintah.

Arga mendongak.

Aluna menatapnya dari atas, dengan senyum dingin di wajahnya.

“Kalau tidak bisa membawa nampan tanpa menjatuhkannya, jangan memaksakan diri. Kau mempermalukan keluargaku.”

Ruangan hening. Semua orang menatap.

Beberapa tamu berbisik-bisik, beberapa menahan tawa.

Arga menunduk dalam, menahan napas, menahan amarah yang membara di dadanya.

Lalu ia berkata pelan, suaranya serak namun tegas,

“Maafkan saya, Nona.”

Hanya itu. Ia tak mencoba membela diri, tak menatap siapa pun.

Ia membersihkan lantai, menyingkir dari ruangan, dan berjalan ke halaman belakang —ke tempat sepi di mana tak ada yang melihat kesedihan sebab penghinaan yang baru saja ia terima.

Beberapa saat Arga berdiri di sana. Mencoba menenangkan dirinya sebelum kembali ke tempat acara. Namun, ketika ia baru berbalik dan hendak melangkah, sosok Aluna tiba-tiba muncul.

"Apa maksudmu tadi? Kenapa kau memanggilku 'nona' di depan para tamu undangan? Di depan teman dan sahabatku yang .embuat mereka kemudian menatapku aneh."

Arga tampak kaget. Ia bungkam —tak tahu harus berkata apa.

Namun, tatapan tajam Aluna membuat Arga akhirnya bicara.

"Bukankah Anda yang meminta saya untuk tahu diri, Nona Aluna?" jawab Arga sinis.

Setelahnya ia berbalik pergi, meninggalkan Aluna yang menggeram kesal.

'Berani sekali ia pergi sebelum aku selesai memarahinya?' gumam Aluna dengan sorot mata memerah.

**

Dari balik jendela, Aluna melihat punggung Arga yang basah keringat di bawah cahaya sore.

Ia masih kesal karena peristiwa tadi. Terlebih ketika teman-temannya menegurnya.

“Luna, sabar banget kamu. Kalau aku, sudah kugusur dia keluar rumah.”

Mereka membicarakan Arga yang mau membantu pekerjaan para pelayan di depan tamu undangan, yang kebanyakan adalah teman-teman istrinya.

“Dia tahu tempatnya,” jawab Aluna datar. “Dan aku akan pastikan dia tidak lupa.”

Malam itu, Arga duduk sendirian di gudang belakang, tempat yang kerap ia jadikan kamar.

Tangannya masih terluka karena pecahan kaca, tapi ia membiarkan darah menetes sedikit di lantai.

Ia menatap langit-langit kosong, lalu berkata pelan,

“Kalau ini harga dari menjaga nama baik ayahku … aku akan terima. Tapi suatu hari nanti… aku tidak akan terus jadi babu.”

Ia mengepalkan tangan —luka di jarinya perih, tapi rasa sakit itu justru membuatnya lebih sadar akan satu hal, 'Aku mungkin miskin, tapi aku tidak akan selamanya diinjak.'

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 8

    Musim berganti, ketika musim panas datang, menurunkan terik yang membakar halaman besar yang banyak ditumbuhi pohon dan aneka tanaman. Saat ini tengah berlangsung sebuah pesta. Pesta pertunangan adik sepupu Aluna yang diadakan di kediaman keluarga Wiratama. Dari luar, pesta pertunangan itu masih terdengar ramai, penuh tawa dan tepuk tangan. Tapi, di sisi belakang rumah —di dekat tempat parkir mobil —suasananya berbanding terbalik.Arga berdiri diam di samping ember air yang tadi ia gunakan untuk mencuci ban mobil mewah milik tamu keluarga. Bajunya basah sebagian, tangan kasarnya masih menggenggam lap kain. Suara musik dari pesta di dalam rumah terdengar samar, bercampur dengan gema hinaan yang baru saja ia terima.“Suamimu?”“Astaga, Aluna, kau serius menikah dengan dia? Aku kira dia sopir barumu!”“Hahaha … tampaknya keluarga Wiratama benar-benar dermawan. Menikahkan putrinya dengan orang seperti itu.”“Mungkin mereka butuh seseorang yang bisa mencuci mobil tiap hari.”Dan semua or

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 7

    Pagi itu udara di rumah Wiratama terasa berbeda —seperti ada dinding tak kasat mata yang memisahkan para penghuni, antara yang “terlahir kaya” dan mereka yang “diizinkan bernapas di bawah kaki mereka.”Arga sudah bangun sejak pukul lima. Ia menyapu halaman, mencuci mobil, lalu membantu pelayan dapur menyiapkan sarapan.Tangannya mulai kasar karena air sabun dan pekerjaan berat —setiap harinya, tapi ia tetap melakukannya tanpa suara.Ketika jam menunjukkan pukul tujuh, Aluna turun dari tangga dengan rambut digerai rapi, mengenakan dress mahal warna biru muda.Di meja makan, Tuan dan Ny. Wiratama sudah duduk, menatap layar ponsel masing-masing.“Arga, tuangkan jus untuk tuan!” perintah Ny. Wiratama datar.“Baik, Bu.”Arga mengambil botol kristal dan mengisinya perlahan.Tuan Wiratama mendengus pelan. “Kau ini lamban sekali. Kalau pelayan biasa, sudah kukeluarkan sejak kemarin.”Arga menunduk. “Maaf, Pak.”Aluna menatap adegan itu sambil mengaduk sarapannya. Ia tidak berkata apa pun, tap

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 6

    Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi pesta penutup aib.Aluna turun dari tangga besar dengan gaun pastel dan perhiasan berlian di lehernya. Semua mata menatapnya —anggun, sempurna, dan berwibawa.Sementara Arga berdiri di pojok ruangan, memakai kemeja putih sederhana yang bahkan bukan dari butik langganan keluarga Wiratama.Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan ia tahu tempatnya, bukan sebagai suami, tapi sebagai hiasan tak diinginkan dalam kisah keluarga kaya.“Arga, bantu pelayan angkat makanan ke meja tamu,” suara dingin Ny. Wiratama memotong kesunyian.Beberapa tamu —yang merupakan para sahabat Aluna, menoleh heran, tapi sang nyonya pura-pura tidak peduli.Tanpa membantah, Arga menunduk sopan.“Baik, Bu.”Ia menga

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 5

    Hari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri.Aluna berdiri di depan cermin, masih dengan wajah tanpa ekspresi.Gaun tidur putihnya jatuh lembut di bahu, tapi tak ada kelembutan di dalam dirinya. Ia melihat bayangan Arga di kaca —lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus polos dan celana panjang hitam.“Kau bahkan tidak tahu cara berpakaian yang pantas,” ucap Aluna tanpa menoleh.Arga berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Maaf.”“Dan jangan panggil aku dengan nada seolah kita ini pasangan sungguhan. Kau tahu aturan yang Ibu buat, kan?”“Aku tahu.”Aluna berbalik, menatapnya tajam. “Bagus. Jadi kau tahu tempatmu.”Tatapannya menelusuri Arga dari kepala sampai kaki, seolah menilai barang murah yang tak layak berada di ruangan seindah itu

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 4

    Hujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat.Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas di tubuhnya. Tangannya dingin, bukan karena cuaca, tapi karena perasaan yang tak bisa dijelaskan, antara campuran gugup, takut, dan getir.Ia menatap kursi para tamu —hanya beberapa wajah keluarga dekat dan rekan bisnis Tuan Wiratama. Semuanya menatapnya seperti ia bukan pengantin, melainkan pelayan yang tersesat di pelaminan.Musik lembut mengalun. Aluna muncul dari pintu kaca, mengenakan gaun putih panjang dengan kain veil tipis menutupi wajahnya.Wajahnya cantik, tapi sorot matanya dingin seperti es. Langkahnya anggun, tapi setiap langkah seolah menegaskan satu hal, aku tidak menginginkan ini.Ketika Aluna berhenti di depan Arga, penghulu memulai pernikahan.Arga menatap Aluna sejenak. I

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 3

    Matahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya hanya untuk keluarga dekat.Namun bagi Aluna, setiap langkah kaki yang terdengar di rumah itu adalah penanda waktu menuju kehancuran.Gaun pengantinnya tergantung di kamar atas —putih, sederhana, tapi mewah. Semua tampak sempurna di luar, tapi di baliknya tersembunyi luka yang belum kering.Tak lama pintu ruang makan terbuka, lalu Ny. Wiratama masuk dengan langkah cepat, ditemani seorang desainer.“Aluna, fitting terakhir jam sepuluh. Pastikan tidak ada drama hari ini,” katanya tanpa menatap putrinya.“Bu, aku belum siap,” ucap Aluna pelan, hampir seperti bisikan.Ny. Wiratama berhenti sejenak, lalu menatap tajam. “Kau pikir siap atau tidak siap itu penting sekarang? Semuanya sudah berjalan ter

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status