LOGINHari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.
Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan. Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi pesta penutup aib. Aluna turun dari tangga besar dengan gaun pastel dan perhiasan berlian di lehernya. Semua mata menatapnya —anggun, sempurna, dan berwibawa. Sementara Arga berdiri di pojok ruangan, memakai kemeja putih sederhana yang bahkan bukan dari butik langganan keluarga Wiratama. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan ia tahu tempatnya, bukan sebagai suami, tapi sebagai hiasan tak diinginkan dalam kisah keluarga kaya. “Arga, bantu pelayan angkat makanan ke meja tamu,” suara dingin Ny. Wiratama memotong kesunyian. Beberapa tamu —yang merupakan para sahabat Aluna, menoleh heran, tapi sang nyonya pura-pura tidak peduli. Tanpa membantah, Arga menunduk sopan. “Baik, Bu.” Ia mengambil nampan berisi gelas-gelas kristal, berjalan di antara para tamu yang menatapnya seperti seorang pekerja, bukan pengantin pria. Dari kejauhan, Aluna melihatnya dan tersenyum tipis —bukan senyum hangat, tapi senyum puas. Ia tahu ibunya sedang “menempatkan” Arga pada posisi yang pantas. Padahal ia tak pernah memiliki masalah dengan Arga, mengenal pun tidak —selain Arga adalah seorang lelaki miskin yang memiliki bengkel kecil di pinggiran kota, yang orang tuanya pernah memiliki sangkutan kepada ayahnya. Namun, entah kenapa, di dalam dirinya ada kepuasan aneh melihat lelaki itu harus menunduk di hadapan dunia yang selama ini memandangnya rendah. Beberapa teman Aluna mendekat, tertawa kecil sambil berbisik. “Luna, suamimu itu ... bekerja di sini, ya? Kupikir dia tamu, ternyata bantu pelayan juga.” Tawa mereka terdengar ringan, tapi menusuk. Aluna meneguk jus jeruknya perlahan, lalu berkata dengan nada setenang angin, “Dia memang suka membantu. Lagipula, dia terbiasa dengan pekerjaan seperti itu. Tidak semua orang lahir dengan tangan bersih, kan?” Tawa kecil meledak lagi di antara mereka. Arga yang kebetulan lewat mendengar semuanya. Ia tak menatap mereka, tapi cengkeramannya di nampan mengeras hingga jemarinya memutih. Saat ia hendak menaruh gelas di meja tamu, salah satu tamu —seorang pria muda rekan bisnis keluarga Wiratama— sengaja menabraknya ringan. Gelas di tangan Arga terjatuh dan pecah di lantai, menimbulkan suara nyaring. Semua mata menoleh. “Ya ampun,” desis salah satu tamu perempuan. Arga langsung berlutut, memunguti pecahan kaca dengan tangan kosong. Beberapa pelayan buru-buru menghampiri, tapi sebelum mereka sempat membantu, suara Aluna terdengar dari arah panggung: “Arga!” Suara itu tegas, keras, dan penuh nada perintah. Arga mendongak. Aluna menatapnya dari atas, dengan senyum dingin di wajahnya. “Kalau tidak bisa membawa nampan tanpa menjatuhkannya, jangan memaksakan diri. Kau mempermalukan keluargaku.” Ruangan hening. Semua orang menatap. Beberapa tamu berbisik-bisik, beberapa menahan tawa. Arga menunduk dalam, menahan napas, menahan amarah yang membara di dadanya. Lalu ia berkata pelan, suaranya serak namun tegas, “Maafkan saya, Nona.” Hanya itu. Ia tak mencoba membela diri, tak menatap siapa pun. Ia membersihkan lantai, menyingkir dari ruangan, dan berjalan ke halaman belakang —ke tempat sepi di mana tak ada yang melihat kesedihan sebab penghinaan yang baru saja ia terima. Beberapa saat Arga berdiri di sana. Mencoba menenangkan dirinya sebelum kembali ke tempat acara. Namun, ketika ia baru berbalik dan hendak melangkah, sosok Aluna tiba-tiba muncul. "Apa maksudmu tadi? Kenapa kau memanggilku 'nona' di depan para tamu undangan? Di depan teman dan sahabatku yang .embuat mereka kemudian menatapku aneh." Arga tampak kaget. Ia bungkam —tak tahu harus berkata apa. Namun, tatapan tajam Aluna membuat Arga akhirnya bicara. "Bukankah Anda yang meminta saya untuk tahu diri, Nona Aluna?" jawab Arga sinis. Setelahnya ia berbalik pergi, meninggalkan Aluna yang menggeram kesal. 'Berani sekali ia pergi sebelum aku selesai memarahinya?' gumam Aluna dengan sorot mata memerah. ** Dari balik jendela, Aluna melihat punggung Arga yang basah keringat di bawah cahaya sore. Ia masih kesal karena peristiwa tadi. Terlebih ketika teman-temannya menegurnya. “Luna, sabar banget kamu. Kalau aku, sudah kugusur dia keluar rumah.” Mereka membicarakan Arga yang mau membantu pekerjaan para pelayan di depan tamu undangan, yang kebanyakan adalah teman-teman istrinya. “Dia tahu tempatnya,” jawab Aluna datar. “Dan aku akan pastikan dia tidak lupa.” Malam itu, Arga duduk sendirian di gudang belakang, tempat yang kerap ia jadikan kamar. Tangannya masih terluka karena pecahan kaca, tapi ia membiarkan darah menetes sedikit di lantai. Ia menatap langit-langit kosong, lalu berkata pelan, “Kalau ini harga dari menjaga nama baik ayahku … aku akan terima. Tapi suatu hari nanti… aku tidak akan terus jadi babu.” Ia mengepalkan tangan —luka di jarinya perih, tapi rasa sakit itu justru membuatnya lebih sadar akan satu hal, 'Aku mungkin miskin, tapi aku tidak akan selamanya diinjak.' ***Sore datang tanpa banyak suara. Langit di luar jendela mulai berubah warna, dari terang yang tegas menjadi jingga yang perlahan meredup. Di dalam kamar, Aluna masih berada di posisi yang sama. Tidak banyak bergerak. Namun pikirannya … tidak berhenti.Konferensi pers itu belum lama selesai. Tapi dampaknya terasa seperti sudah berlangsung berhari-hari.Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna tidak langsung menjawab.Ketukan itu terdengar lagi. Lebih pelan. Seolah memberi pilihan —dibuka, atau dibiarkan.“…Masuk.”Pintu terbuka perlahan.Arga.Ia tidak langsung masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di ambang pintu. Seperti biasa. Menjaga jarak yang tidak pernah benar-benar ia lewati.“Ada yang ingin bicara denganmu,” katanya pelan.Aluna mengangkat wajahnya sedikit. “Siapa?”“Bukan dari dalam rumah.”Jawaban itu membuat Aluna mengerutkan kening.Arga melanjutkan, “Salah satu wartawan.”Sunyi.Aluna menegakkan tubuhnya perlahan. “Sudah mulai, ya.”Bukan pertanyaan.Arga mengangguk kecil.“Dia t
Sunyi.Kalimat itu jatuh pelan, namun dampaknya terasa jelas di seluruh ruangan.Ny. Wiratama langsung menatap Arga lebih tajam. “Apa maksudmu?”Arga tidak mengalihkan pandangan.“Jika mereka ingin menghancurkan posisi kita…” suaranya tetap tenang, “cara tercepat adalah melalui Nona Aluna.”Tn. Wiratama tidak bergerak. Namun sorot matanya berubah sedikit lebih dalam.“Lanjutkan.”Arga mengangguk kecil.“Konferensi pers tadi memperjelas status. Itu memperkuat posisi kita secara publik.” Ia berhenti sejenak. “Tapi juga membuka perhatian.”Hening.“Dan perhatian itu… bisa diarahkan.”Ny. Wiratama mengerutkan kening. “Diarahkan ke mana?”Arga menjawab tanpa ragu.“Ke masa lalu beliau.”Sunyi kembali turun.Bara bersandar sedikit lebih tegak dari posisinya tadi. Kini ia benar-benar memperhatikan.“Apa yang mereka tahu?” tanya Tn. Wiratama.Pertanyaan itu langsung. Tanpa basa-basi.Arga terdiam beberapa detik.“Belum tentu banyak...”“Tapi?”“Tapi, cukup untuk memancing.”Ny. Wiratama menge
Koridor rumah itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya.Langkah Arga terdengar jelas di lantai marmer. Setiap langkahnya terukur. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu.Beberapa pelayan yang berpapasan hanya menundukkan kepala sebentar sebelum menyingkir memberi jalan.Kabar tentang konferensi pers tadi pagi jelas sudah menyebar ke seluruh rumah. Dan sekarang—semua orang tahu satu hal.Arga bukan lagi sekadar pembantu yang selama ini terlihat. Ia adalah suami Nona Aluna.Namun gelar itu juga berarti sesuatu yang lain.Target.Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Tn. Wiratama. Ia mengetuk sekali.“Masuk.”Suara di dalam tetap seperti biasanya. Tenang. Terkontrol.Arga membuka pintu dan masuk.Ruangan itu masih sama seperti yang ia kenal selama tinggal di rumah itu sejak beberapa bulan lalu. Rak buku besar. Meja kerja kayu gelap. Tirai tebal yang menahan cahaya siang agar tidak terlalu masuk.Namun suasana di dalam terasa berbeda. Tn. Wiratama duduk di kursinya. Di sisi lain
Arga tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping ranjang, masih memegang gelas jus yang tadi ia bawa. Cahaya siang yang masuk dari jendela membuat ruangan itu terasa terlalu terang untuk suasana seperti ini.“Aku lelah, Arga.”Suara Aluna pelan. Tidak bergetar, namun cukup untuk menunjukkan bahwa semua yang terjadi pagi tadi benar-benar mengurasnya.Perlahan, Arga meletakkan gelas itu di meja kecil di samping ranjang. Ia tidak duduk. Tidak juga menyentuhnya.Batas itu masih ada —dan Arga tidak pernah berniat melanggarnya.“Aku tahu.” Jawabannya sederhana.Aluna menurunkan tangannya dari wajah. Matanya memang sedikit merah. Namun ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu.“Dia sengaja datang,” gumamnya pelan.Arga tidak perlu bertanya siapa.“Ya.”Aluna memejamkan mata lagi sejenak.“Aku sudah menduganya sejak semalam.”Hening.“Rendra tidak pernah suka kalah.”Arga menyandarkan punggungnya sedikit pada lemari
Beberapa detik setelah nama itu disebutkan, suasana langsung berubah.Tangan-tangan wartawan terangkat bersamaan. Mikrofon diarahkan ke depan. Kamera semakin mendekat.“Pak Wiratama, kapan pernikahan itu terjadi?”“Apakah ini pernikahan mendadak?”“Apakah benar ada skandal yang memaksa pernikahan ini?”Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi.Tn. Wiratama tetap berdiri tegak di depan mikrofon. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.“Pernikahan ini adalah keputusan keluarga,” katanya tenang.Namun wartawan tidak berhenti. Salah satu dari mereka berdiri.“Pak, masyarakat belum pernah mendengar nama Arga sebelumnya. Apakah beliau bagian dari keluarga bisnis Anda?”Tatapan beberapa kamera langsung beralih pada Arga. Arga tidak bergerak.Namun sebelum Tn. Wiratama menjawab — sebuah suara lain terdengar dari belakang.“Pertanyaan itu memang menarik.”Semua kepala menoleh. Rendra.Ia melangkah maju melewati barisan kursi wartawan. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Beberapa wartawan
Pagi konferensi pers datang lebih cepat dari biasanya. Langit masih pucat ketika rumah Wiratama sudah penuh pergerakan. Mobil media mulai berdatangan satu per satu. Kamera, tripod, dan mikrofon dibawa masuk dengan tergesa.Di halaman belakang, panggung kecil yang semalam masih setengah jadi kini sudah berdiri sempurna. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap ke satu titik.Panggung itu. Tempat semuanya akan diumumkan.Di sisi lain rumah —Arga sudah berdiri sejak lama. Ia mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak mencolok. Namun rapi. Sama seperti sikapnya selama ini.Bara berdiri di sampingnya.“Semua jalur masuk sudah dijaga,” lapornya.Arga mengangguk.“Media?”“Mulai berdatangan. Beberapa sudah menunggu di luar.”Arga melirik jam tangannya. Masih tiga puluh menit.“Pastikan mereka tidak melewati batas yang sudah kita tentukan.”“Baik.”Bara berhenti sebentar sebelum bertanya, “Kau yakin mereka akan mencoba sesuatu?”Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada gerbang besar di
Sambungan itu terputus.Sunyi.Aluna masih berdiri di tempat yang sama. Ponsel di tangannya terasa lebih berat dari biasanya. Jari-jarinya sedikit gemetar, napasnya belum sepenuhnya stabil.Ia menatap layar yang sudah kembali gelap. Seolah berharap … semuanya ikut berakhir di sana.Namun tidak. Jus
"Saya ingin bertemu Aluna."Langsung. Tanpa berputar.Ucapan itu datang tanpa ragu.“Tidak,” jawab Ny. Wiratama.“Tante—”“Tidak,” ulangnya. Kali ini lebih tegas.Hening menggelayut.Rendra mengatupkan rahangnya. “Dia berhak tahu saya datang.”“Dia tidak butuh itu.”“Saya yang butuh.”Ny. Wiratama
Hening yang tercipta setelah kalimat itu terasa menekan.“Darah tetap darah, Tante.”Suara Rendra tidak lagi setenang sebelumnya. Ada sesuatu di dalamnya —keras kepala yang selama ini tersembunyi di balik sikap santainya.Ny. Wiratama tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lelaki di hadapannya i
Malam turun perlahan, menenggelamkan sisa cahaya yang masih bertahan di halaman belakang. Arga berdiri cukup lama di sana, selang di tangannya masih mengalirkan air yang kini mulai membentuk genangan kecil di lantai.Ia tidak bergerak.Pikirannya berjalan terlalu jauh.“Dua hari,” gumamnya pelan.W







