Share

MJM 189

Penulis: Lis Susanawati
last update Tanggal publikasi: 2026-07-30 10:44:30

Rangga menarik napas panjang. Sekarang ia makin ditunjukkan dengan kenyataan asli sifat dari seorang Tamara.

"Sayang , tidak perlu dibahas lagi. Itu bukan urusan kita." Rangga kembali merengkuh istrinya. Mengecup kening Maria lekat-lekat.

Maria akhirnya juga diam. Dia memejamkan mata sembari menghirup aroma parfum sang suami yang sudah bercampur dengan keringat akhibat aktivitas mereka baru saja. Namun Maria benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa Tamara menggaet mantan suami sahabatnya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
haaaa aim km kok gitu sich langng mengintrogasi papa km ..papa kn juga pengen SM bunda Lo berdua aja
goodnovel comment avatar
Adfazha
Aim smlm papa & Bunda lg ada project bkin dd princess buat Aim sm Yusuf mky gk ada dikmr tkt projectnya gagal digangguin Aim wkwkkk Maria gk usah bhs ttg mntn susi biar aja toh mrka udh pisah
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
apa Susi tahu y klo TamTam menjalin hubungan sama mantan suaminya? gimana perasaannya? berasa kayak dikhianati mungkin y..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 229

    Tidak lama lagi ia harus meninggalkan trotoar depan kampus selamanya. Setelah operasi penindakan pecah, identitas 'Abang Donat' akan terkubur. Sebab ia harus kembali ke markas pusat di Jakarta untuk tugas rahasia baru yang telah menantinya.Namun hati kecilnya memberontak. Zein sadar, ia tidak ingin kehilangan Zahra. Kali ini ia harus mencari cara agar tetap bisa terhubung dengan gadis itu pasca-operasi selesai. Sebuah rencana baru mulai ia susun di kepala.Zein akan melempar alibi bahwa ia mendapatkan panggilan kerja kantoran di Jakarta. Mau tidak mau, ia harus menampilkan sisi dirinya yang rapi. Zein berpikir secara logis dan realistis, di zaman sekarang mana ada gadis muda berpendidikan yang mau berkomitmen jangka panjang dengan pria berpenampilan miskin seperti tukang donat jalanan seperti dirinya. Itu adalah realitas yang lumrah.Wanita menginginkan pasangan yang mapan adalah hal yang normal. Dan orang tua mana pun pasti mendambakan menantu yang memiliki masa depan setara untuk a

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 228

    Namun Zahra dengan cepat mengulas senyum. "Tapi alhamdulillah, saya beruntung sekali, Bang. Papa sambung saya, papanya Aurel itu orangnya luar biasa baik. Beliau memperlakukan saya persis seperti anak kandungnya sendiri. Nggak pernah membeda-bedakan saya dengan Aurel. Kasih sayangnya tulus."Zein manggut-manggut penuh perhatian. "Alhamdulillah kalau begitu. Mbak, memiliki keluarga yang harmonis.""Iya, Bang. Di Tulungagung dan daerah Papar sana, Bunda saya juga mengelola toko roti. Jualan donat juga, lho," cerita Zahra dengan binar bangga di matanya.Mendengar kata 'donat', jiwa Zein yang menyamar mendadak terusik secara jenaka. Ia menunjuk gerobak putihnya sendiri dengan jempol tangan. "Wah, menarik ini. Kalau boleh jujur, donat di toko Bundanya Mbak Zahra, kalau dibanding dengan donat dagangan saya ini, enak mana?"Zahra tertegun sejenak. Ia menatap Zein, lalu menatap kotak donat di tangannya. Dengan wajah tanpa dosa dan kejujuran yang biasa ia terapkan. Zahra menjawab, "Hmm, kalau

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 227

    Zein- 3 PDKTPagi itu udara Surabaya terasa sedikit lebih ramah. Semburat sinar matahari yang hangat menyentuh pucuk-pucuk pohon Sonokembang yang tumbuh berjajar di sepanjang trotoar.Dari balik topi, sepasang mata Zein memperhatikan sosok yang melangkah sekitar seratus meter di ujung sana.Dada sang intelejen berdesir. Gadis berhijab navy itu berjalan sendirian pagi ini. Tidak ada sosok teman yang biasa berangkat bersamanya. Langkah Zahra tampak lebih santai, dengan sebuah buku tebal yang didekap erat di depan dada.Begitu jarak kian mendekat, sepasang mata jernih itu bertatapan langsung dengan matanya. Ada binar kelegaan yang tidak bisa disembunyikan dari wajah Zahra saat melihat gerobak "Donat Kampung Maknyus" kembali bertengger di posisi seperti biasanya."Assalamu'alaikum, Bang, saya pikir hari ini nggak jualan lagi," sapa Zahra. Suaranya selembut desau angin pagi yang menyegarkan dada Zein."Wa'alaikumsalam, Mbak Zahra," Zein membalas dengan senyuman wajar. Ia menekan rapat-rap

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 226

    Biasanya abang itu libur hanya sehari. Tapi ini sudah beberapa hari. Apa dia mencari pekerjaan lain? Hasil jualan donat mana bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Terlebih kalau sudah punya anak. Zahra tahu sendiri, sampai ia pulang kuliah, dagangan abang itu masih banyak. Mendadak ia merasa iba. Zahra selalu salut pada lelaki-lelaki yang bekerja keras demi menafkahi keluarga. "Ayolah, Ra. Nanti kugendong kamu," seru Aurel lagi sembari menggandeng paksa pergelangan tangan Zahra untuk diajak menyeberang jalan."Rel, kamu ini kalau lapar dah kayak mau makan orang saja," balas Zahra.🖤LS🖤Asap mengudara dari embusan napas Zein, lalu memudar ditelan angin yang menerobos masuk di warung kopi pinggir jalan. Tatapannya jatuh ke jalanan. Sudah tiga hari ini ia menghilang dari trotoar kampus. Alasan klasik pulang kampung menjenguk ibu, telah sukses meyakinkan si ibu pemilik dagangan donat. Padahal ia tidak bergeser dari kota Surabaya.Hari ini penyamaran lusuhnya ditanggalkan sejenak. Zein bar

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 225

    Di seberang jalan, di balik gerobak Donat Kampung Maknyus, Zein kembali duduk di kursi plastik. Tangan kanannya memegang ponsel pintar, jemarinya bergerak-gerak di atas layar seolah sedang asyik bermain game seperti orang kebanyakan. Padahal dia sedang membagikan informasi pada atasannya.Dan disamping itu, sepasang mata Zein bekerja dengan tingkat fokus yang mengerikan. Lensa matanya bergerak berirama, membidik setiap pergerakan yang menuju ke rumah mewah lantai dua seberang jalan. Merekam plat nomor sebuah sedan hitam yang baru saja meluncur cepat keluar pintu pagar.Di sela-sela ketegangan analisis taktisnya, ia teringat tentang interaksi beberapa menit yang lalu, menyelinap masuk ke dalam benaknya. Sebuah nama terucap pelan di dalam hatinya. Zahra.Tanpa sadar Zein tersenyum."Bang, ngapain senyum-senyum sendiri, gitu," teriak penjual siomay yang mangkal tak jauh darinya.Spontan Zein menoleh. Kemudian menunjukkan ponselnya pada lelaki setengah baya itu. Seakan bilang dia sedang t

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 224

    Zein- 2 Gelisah"Panggil saja Zahra, Bang."Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Zein. Sepasang mata sang intelejen merekam binar jernih dari mata gadis di hadapannya. Ada rasa hangat yang aneh menyergap dadanya. Gadis itu sama sekali tidak ragu menyebutkan namanya kepada seorang lelaki yang beraroma minyak goreng seperti dirinya."Oke. Mbak Zahra. Saya panggil Mbak saja ya," ujar Zein.Zahra membetulkan letak tali tas ranselnya di pundak. Hari ini gadis itu mengenakan jilbab bermotif bunga-bunga kecil dengan warna dasar pastel yang lembut, senada dengan blus longgar yang dikenakannya. "Abang sendiri asli Surabaya?" ganti Zahra yang melempar tanya, suaranya terdengar santai di antara deru mesin kendaraan yang lalu lalang."Bukan, Mbak. Saya cuma perantau di sini, cari sesuap nasi," jawab Zein dengan senyum terbit di bibirnya. Tangannya bergerak lincah menata kotak putih berisi donat. "Kalau Mbak Zahra sendiri, aslinya dari mana?""Tulungagung, Bang." "Oh, kota marmer." "Iya.""Kul

  • Mencari Jejak Maria   MJM 6

    MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send

  • Mencari Jejak Maria   MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la

  • Mencari Jejak Maria   MJM 4

    MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg

  • Mencari Jejak Maria   MJM 3

    MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status