Se connecter"Bang, Donat cokelatnya masih ada?" Suara dari seorang mahasiswa berjaket almamater memutus pergolakan batin Zein. Laki-laki itu tersentak kecil, lalu dengan cepat mengubah raut wajahnya kembali menjadi si Abang Donat yang ramah. "Masih ada, Mas. Mau berapa?" "Tiga saja. Lapar saya, Bang. Tapi malas mau makan nasi," jawab pemuda itu. Dan mereka berbasa-basi ramah layaknya penjual dan pembeli. Setelah itu sepasang matanya kembali melirik sekilas ke arah gerbang kampus. Berharap siluet gadis hijab warna navy itu muncul di antara kerumunan mahasiswa yang hendak pulang. 🖤LS🖤 "Bang Zein, besok libur dulu, ya. Saya lagi ada kerepotan di rumah saudara. Lusa baru jualan lagi." Suara parau seorang wanita paruh baya memecah keheningan dari ponsel milik Zein malam itu. Beliau adalah pemilik dari jenama 'Donat Kampung Maknyus'. Sosok yang setiap subuh menyuplai berkotak-kotak donat untuk dijajakan Zein di trotoar depan kampus. "Oh, iya, Bu. Tidak apa-apa," jawab Zein datar, berusaha m
Mengingatkannya pada sosok Maria. Wanita masa lalunya yang kini telah hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Ironisnya, setelah hampir tiga bulan gadis itu menjadi pelanggan setianya, Zein bahkan belum mengetahui siapa nama gadis itu. Ia terlalu menutup diri karena penyamarannya menuntut untuk tidak terlalu banyak meninggalkan jejak pribadi. Zein mengembuskan napas panjang, mengalihkan fokusnya kembali ke dunia nyata. Surabaya siang ini sedang tidak baik-baik saja di bawah permukaan yang tampak tenang. Tugas utamanya di kota ini teramat berat dan berbahaya. Menyelidiki jaringan gembong narkoba skala internasional sekaligus jalur penyelundupan senjata api terlarang yang diduga memanfaatkan area sekitar kampus sebagai zona transit mereka. Demi melancarkan misi rahasia negara tersebut, gerobak donat ini adalah tameng terbaiknya. Setiap hari, dari pukul 06.00 hingga 09.00 adalah waktu krusial di mana ia harus tampil se-normal mungkin sebagai pedagang kaki lima. Di jam-jam itulah
Zein - 1 Gadis Berjilbab Navy Di atas trotoar yang retak-retak oleh akar pohon peneduh, sebuah gerobak kayu sederhana bercat putih dengan tulisan "Donat Kampung Maknyus" sudah standby di sana sejak pagi. Riuh klakson motor, asap knalpot, dan derap langkah kaki para mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas jam tujuh pagi menjadi musik latar yang akrab di telinga. Di balik etalase kaca yang sedikit berembun, seorang pria yang memakai topi warna abu-abu kumal tengah duduk di atas kursi plastik tanpa sandaran. Ia mengenakan kaos oblong hitam dan celana jin pudar yang ujungnya sengaja digulung kasar di atas sepatu hitamnya. Handuk kecil berwarna biru pudar melingkar di leher, sesekali digunakannya untuk menyeka peluh yang menetes di pelipis. Penampilannya adalah definisi sempurna dari seorang abang penjual donat jalanan yang bertarung mengais rezeki di dekat area kampus ternama Kota Pahlawan tersebut. Namun jika ada yang jeli memperhatikan di balik bayangan topi yang sengaja di
Kurang terpelajar apa coba, seorang lulusan universitas dan seorang General Manager, tapi bisa-bisanya mereka terjebak dalam praduga dan asumsi konyol yang tidak berdasar ilmiah sama sekali. Hanya karena anak pertama dan kedua mereka laki-laki, maka secara otomatis anak ketiga pasti perempuan.Dan puncaknya saat hari persalinan itu. Begitu suara tangis bayi memecah ketegangan di ruang bersalin, dokter kandungan dengan senyum lebar mengangkat sang bayi ke arah mereka. "Selamat ya, Pak Rangga, Ibu Maria. Bayinya laki-laki, tampan dan sangat sehat."Mendengar kata 'laki-laki', Maria dan Rangga seketika saling pandang di atas ranjang bersalin. Detik itu juga ketegangan berubah menjadi momen paling kocak. Rangga terdiam, sementara Maria langsung tersenyum di tengah rasa haru dan sisa-sisa letihnya. Bisa-bisanya ia memercayai 'ramalan' suaminya yang sok tahu itu.Namun begitu tubuh mungil itu diletakkan di atas dada Maria untuk proses inisiasi menyusu dini, air mata kebahagiaan tak lagi bis
Setelah hampir setahun lamanya terpisah oleh jarak, gengsi, dan badai kehidupan, pertemuan siang itu menjadi sebuah penanda bahwa badai telah benar-benar reda. Meninggalkan pelangi baru yang damai bagi masa depan mereka semua.🖤LS🖤Setahun kemudian ....Karpet tebal di ruang tengah rumah kediaman General Manager itu layaknya sebuah medan perang mini yang riuh. Potongan-potongan lego, mobil-mobilan, robot, dan bola berbagai warna menjadi saksi bisu betapa energi anak laki-laki seolah tidak memiliki batas akhir. Di tengah-tengah kekacauan yang menyenangkan itu, seorang bayi laki-laki berusia sembilan bulan tengah bertumpu pada kedua lututnya dan merangkak mengejar kedua kakaknya.Ilyas Rayan Alfarezel. Nama seorang bayi yang memiliki lipatan-lipatan menggemaskan di lengan dan pahanya. Mirip sekali dengan Ibrahim dan Yusuf saat masih seumurannya. Montok, berkulit bersih, dan beraroma khas bedak bayi yang bercampur minyak telon.Baby Ray, begitu ia dipanggil. Menjadi pelengkap di hidup
MARIA- 80 Ending Seminggu kemudian ....Gemercik air dari kolam buatan yang membelah area outdoor rumah makan di tengah Kota Malang berpadu dengan riuh rendah obrolan pengunjung siang itu. Aroma gurami bakar berlumur bumbu rempah dan sambal terasi menguar di udara, membangkitkan selera. "Hai, anak ganteng. Lucunya kamu." Susi yang siang itu tampil anggun dalam balutan gamis pastel dan hijab senada, mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil Nathan dari pangkuan Tamara. Bayi berusia tiga bulan itu memandang sosok yang baru dikenalnya, ia memberikan senyuman saat Susi memangkunya.Tamara tersenyum, meski ada sedikit rasa canggung yang masih tersisa di sudut hatinya. Namun melihat bagaimana hangatnya sambutan Susi dan Rudi, perlahan-lahan ia bisa mulai santai.Pasangan di hadapannya ini begitu luar biasa. Mereka seolah telah mengubur dalam-dalam seluruh memori kelam masa lalu yang pernah menorehkan luka. Susi kini memancarkan aura wanita yang sepenuhnya bahagia, kedamaian hidup baru
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan







