Home / Romansa / Mencintai Musuh Ayahku / BAB 6 : Hangat di Tengah Badai

Share

BAB 6 : Hangat di Tengah Badai

Author: Neng Wendah
last update Last Updated: 2026-01-24 19:06:52

Hujan badai masih menderu di luar jendela restoran Sky Lounge, seolah-olah langit sedang ikut menumpahkan kemarahan yang selama ini terpendam. Namun bagi Karin, suara petir yang menggelegar di angkasa kalah bising dengan detak jantungnya sendiri yang berdegup tidak beraturan. Dekapan Reno terasa begitu protektif, sebuah pelukan yang tidak hanya merengkuh fisiknya yang mungil, tapi seolah sedang berusaha menyatukan kembali kepingan hatinya yang hancur melalui kehangatan tubuh pria itu.

Karin bisa merasakan kemeja Reno yang basah kuyup menempel di kulitnya, mengirimkan sensasi dingin sekaligus panas yang membingungkan. Hawa dingin malam itu perlahan-lahan terkikis oleh aroma maskulin yang khas campuran antara parfum kayu cendana dan sisa aroma kopi yang selalu melekat pada Reno. Isak tangis Karin perlahan mereda, menyisakan napas yang masih tersengal-sengal di balik dadanya yang sesak.

Reno perlahan melonggarkan pelukannya, namun ia tidak benar-benar melepaskan Karin. Ia memegang kedua bahu Karin dengan mantap, memaksa gadis itu untuk mendongak dan menatap matanya. Di bawah temaram lampu balkon yang mulai basah, mata Reno yang biasanya tajam dan menghakimi kini tampak redup, menyimpan gurat penyesalan yang sangat dalam. Ada luka lama yang terpancar di sana, luka yang mungkin sama besarnya dengan apa yang Karin rasakan selama ini.

"Kita harus segera pergi dari sini sebelum kamu benar-benar menggigil," bisik Reno dengan suara yang serak, hampir menyerupai gumaman yang tulus.

Karin hanya bisa mengangguk pasrah dalam diam. Seluruh kekuatannya seolah menguap bersama air hujan yang membasahi gamis pink-nya. Ia membiarkan Reno membimbingnya menuju lift privat dengan tangan yang masih melingkar protektif di pinggangnya. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, suasana menjadi sangat sunyi. Reno melepaskan jas mahalnya yang sudah basah dan hanya menyisakan kemeja putih yang kini menjadi semi-transparan, memperlihatkan otot-otot dadanya yang tegar. Karin segera membuang muka, merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Ia merasa malu sekaligus bingung; bagaimana bisa musuh bebuyutannya mendadak menjadi pelindung yang begitu perhatian?

“Ya Allah, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hidupku? Kenapa di saat aku seharusnya membencinya, hatiku justru merasa seaman ini di dekatnya?” batin Karin sambil terus meremas ujung hijabnya yang meneteskan sisa air hujan ke lantai lift.

Sesampainya di lobi bawah, mobil Rolls-Royce hitam milik Reno sudah terparkir manis. Reno membukakan pintu untuk Karin dengan gerakan yang sangat sopan, lalu ia sendiri duduk di kursi kemudi, menolak bantuan petugas valet. Ia tidak langsung menjalankan mobilnya. Pria itu justru meraih sebuah selimut wol kecil dari kursi belakang dan menyampirkannya ke bahu Karin yang masih gemetar.

"Pakai ini. Aku tidak mau kamu jatuh sakit dan membuat jadwal kerjaku berantakan," ujar Reno. Meskipun kalimatnya terdengar ketus seperti biasa, namun nada suaranya tidak bisa membohongi kelembutan yang terselip di sana.

"Terima kasih," bisik Karin lirih, hampir tak terdengar di tengah deru mesin mobil yang halus.

Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai kacau akibat genangan air di beberapa titik. Reno tidak mengarahkan kemudinya menuju apartemen sederhana milik Karin. Sebaliknya, ia melesat menuju sebuah kompleks apartemen mewah di kawasan pusat bisnis yang dikenal hanya dihuni oleh kalangan elit.

"Reno, ini bukan jalan ke rumahku. Kamu mau membawaku ke mana?" ujar Karin dengan nada panik yang mulai muncul kembali.

"Apartemenmu terlalu jauh di pinggiran, Karin. Banyak akses jalan yang sudah ditutup karena banjir dan pohon tumbang. Aku tidak mau mengambil risiko kamu terjebak macet berjam-jam dalam kondisi basah kuyup seperti ini. Kamu bisa bersih-bersih di tempatku, ada kamar tamu yang bisa kamu gunakan," jawab Reno dengan nada otoriter yang tidak menerima bantahan sedikit pun.

Karin ingin memprotes, namun tubuhnya benar-benar sudah mencapai batas maksimal. Kepalanya mulai terasa berat, pandangannya sedikit berputar, dan rasa dingin yang menusuk tulang membuatnya hanya bisa meringkuk di balik selimut wol itu. Begitu sampai di penthouse milik Reno yang terletak di lantai teratas, Karin terpaku melihat kemewahan minimalis di dalamnya. Tempat itu sangat luas, didominasi warna abu-abu dan hitam dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota, namun terasa sangat sunyi dan sepi persis seperti gambaran hati pemiliknya selama ini.

"Kamar mandi ada di lorong sebelah kanan. Ada jubah mandi bersih dan handuk baru di dalam lemari jati itu. Mandilah dengan air hangat yang lama, aku akan menyiapkan sesuatu untuk menghangatkan perutmu," perintah Reno sambil berjalan menuju area dapur yang serba modern.

Karin mengikuti instruksi itu tanpa banyak tanya. Di bawah pancuran air hangat yang membasuh tubuhnya, Karin membiarkan pikirannya berkelana jauh. Kata-kata Reno di bawah hujan tadi terus terngiang-ngiang seperti melodi yang menghantui. “Aku mencoba membencimu, tapi setiap kali aku menutup mata, hanya wajahmu yang ada di sana.” Karin menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia menyadari bahwa dinding kebencian yang ia bangun dengan susah payah selama sepuluh tahun terakhir mulai menunjukkan retakan besar.

Setelah selesai mandi dan mengenakan jubah mandi handuk yang tampak sangat kebesaran di tubuh mungilnya, Karin keluar dengan langkah ragu. Ia menemukan Reno sudah berganti pakaian dengan kaos hitam santai dan celana kain panjang. Di atas meja bar dapur, sudah tersedia dua cangkir teh jahe hangat yang aroma pedas manisnya sangat menenangkan saraf.

"Minum ini selagi panas," Reno menyodorkan cangkir keramik itu ke arah Karin.

Karin duduk di kursi bar yang tinggi, menyesap tehnya pelan-pelan, merasakan kehangatan yang menjalar dari tenggorokan hingga ke seluruh perutnya. "Reno... soal yang terjadi di restoran tadi... bagaimana dengan Sheila? Dia pasti akan marah besar karena kamu meninggalkannya begitu saja."

Reno terdiam sejenak, menatap uap yang membubung dari cangkirnya sendiri dengan tatapan kosong. "Aku sudah mengirim pesan singkat agar supirnya menjemputnya. Pertemuan itu memang hanya formalitas bisnis yang dipaksakan oleh Ibuku demi merger perusahaan. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun padanya, Karin. Tidak akan pernah."

"Tapi keluargamu sangat mengharapkan pernikahan itu untuk memperkuat posisi Dirgantara Group," sahut Karin pelan, ada sedikit nada sedih yang terselip dalam suaranya.

Reno mendongak, menatap Karin dengan tatapan yang sangat intens, seolah ingin menembus langsung ke dalam jiwa gadis itu. "Keluargaku sudah mendapatkan semua ambisiku selama sepuluh tahun ini. Tapi untuk urusan dengan siapa aku akan menghabiskan sisa hidupku, aku tidak akan membiarkan siapa pun mendiktenya lagi. Cukup sekali aku kehilangan satu-satunya hal yang benar-benar aku inginkan hanya karena kesalahpahaman dan kebodohanku sendiri."

Karin merasa wajahnya memanas secara tiba-tiba. Ia tahu persis bahwa "hal yang hilang" yang dimaksud Reno adalah hubungan mereka yang hancur di masa SMA dulu.

"Maafkan aku, Reno. Soal kejadian di gerbang sekolah dulu... aku benar-benar remaja yang arogan dan keterlaluan. Aku tidak seharusnya menghancurkan harga dirimu seperti itu," ujar Karin tulus, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata.

Reno berjalan mendekat, ia berhenti tepat di depan kursi Karin. Secara mengejutkan, pria yang dikenal angkuh itu berlutut di lantai agar posisi mata mereka sejajar. Reno mengambil kedua tangan Karin yang mungil dan menggenggamnya dengan sangat lembut, seolah takut Karin akan hancur jika ia menekannya terlalu kuat.

"Aku juga ingin meminta maaf padamu, Karin. Aku terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku masih sangat mencintaimu, jadi aku memilih jalan pintas dengan menyiksamu melalui kontrak kerja dan dendam ini. Aku pikir dengan melihatmu menderita, aku bisa merasa puas dan menang. Ternyata aku salah besar. Melihatmu menangis dan ketakutan tadi adalah hukuman yang jauh lebih berat bagi batinku sendiri."

Karin terisak pelan, bahunya bergetar. "Kita berdua sama-sama orang dewasa yang bodoh karena menyimpan luka sejauh ini, Reno."

Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat langka yang membuat wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. Ia mengusap sisa air mata di pipi Karin dengan ibu jarinya yang kasar namun hangat. "Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan baru. Bukan sebagai musuh yang saling menjatuhkan, bukan sebagai asisten dan atasan yang terikat kontrak hutang piutang... tapi sebagai dua jiwa yang sedang diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk memperbaiki yang rusak."

Tiba-tiba, Karin bersin cukup keras hingga tubuhnya terlonjak. Suasana romantis yang baru saja terbangun itu seketika pecah. Reno segera berdiri dengan wajah penuh kecemasan, ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Karin dengan sigap.

"Badanmu mulai panas, Karin. Suhu tubuhmu naik dengan cepat. Sebaiknya kamu segera istirahat sebelum demamnya semakin parah. Kamu bisa menggunakan kamarku, aku akan tidur di sofa ruang tengah malam ini," ujar Reno dengan nada protektif yang tidak bisa diganggu gugat.

"Tidak perlu sampai begitu, Reno. Aku tidak enak hati. Aku bisa tidur di sofa saja, biarkan aku yang di luar"

"Jangan pernah membantah perintahku jika itu menyangkut kesehatanmu, Karin Anindita," potong Reno dengan gaya CEO-nya yang khas, namun kali ini terdengar sangat manis dan penuh perhatian. "Malam ini saja, biarkan aku yang menjalankan peranku untuk menjagamu."

Reno membimbing Karin menuju kamar utamanya yang sangat luas, yang didominasi oleh aroma kayu cendana yang menenangkan. Ia membantu Karin berbaring di atas tempat tidur dengan sprei sutra yang lembut, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada. Sebelum ia melangkah keluar dari kamar dan mematikan lampu utama, Reno berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah Karin yang tampak sangat kecil di tengah ranjang besar itu.

"Selamat tidur, Karin. Terima kasih karena kamu tidak memilih untuk lari dariku malam ini. Itu artinya sangat banyak bagiku."

Karin menatap punggung tegap Reno yang perlahan menghilang di balik pintu yang tertutup rapat. Ia memeluk guling yang masih menyisakan aroma parfum maskulin Reno, merasa sangat aman dan terlindungi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Di luar sana, badai mungkin masih mengamuk dengan hebatnya, namun di dalam relung hati Karin, matahari seolah-olah baru saja terbit setelah melewati malam yang sangat panjang selama sepuluh tahun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 45: Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Kehidupan di desa Zermatt yang tenang seolah-olah menjadi obat penawar bagi jiwa Karin yang telah lama kerontang. Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Langit Swiss yang biasanya biru cerah kini tertutup mendung tebal, menciptakan suasana melankolis di dalam chalet kayu mereka. Karin terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena suara rintik hujan yang menghantam atap kayu dengan ritme yang monoton. Ia menoleh ke samping, dan seperti biasa, Reno sudah tidak ada di tempat tidur. Karin bangkit, mengenakan jubah mandi sutranya yang hangat, lalu melangkah menuju ruang kerja kecil di sudut chalet. Di sana, ia melihat Reno sedang duduk di depan laptopnya dengan wajah yang sangat serius. Cahaya dari layar monitor memantul di kacamata baca yang jarang Reno gunakan, membuat pria itu tampak lebih dewasa dan tertekan. "Reno? Ada masalah di Jakarta?" tanya Karin pelan sambil meletakkan tangannya di bahu Reno. Reno terkejut, ia segera menu

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 44: Melodi di Kaki Pegunungan Alpen

    Udara yang merasuk ke dalam paru-paru Karin pagi itu terasa sangat berbeda. Bukan lagi aroma polusi dan kecemasan yang biasa ia hirup di Jakarta, melainkan aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju yang mulai mencair di kaki Pegunungan Alpen. Mereka telah berada di Swiss selama tiga hari, menetap di sebuah chalet kayu tradisional yang berdiri angkuh namun hangat di pinggiran desa Zermatt. Di sini, nama besar Dirgantara Group hanyalah deretan huruf tak bermakna bagi penduduk lokal yang lebih peduli pada cuaca dan hasil ternak mereka.Karin berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sweter wol tebal pemberian Reno. Matanya menatap puncak Matterhorn yang tertutup salju abadi, menjulang tinggi menembus awan. Ia masih sering merasa ini semua adalah mimpi. Bagaimana mungkin dalam hitungan minggu, hidupnya yang tadinya berada di ambang maut kini berpindah ke surga kecil ini?"Masih belum percaya kalau ini nyata?" suara berat Reno terdengar dari belakang.

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 43: Takhta yang Ditinggalkan

    Gedung Dirgantara Group berdiri angkuh di tengah hutan beton Jakarta, puncaknya seolah menusuk langit kelabu yang menggantung rendah pagi ini. Di dalam menara kaca itu, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada hari-hari sebelumnya. Kabar mengenai rencana pengunduran diri Reno Dirgantara sebagai CEO telah bocor ke telinga para pemegang saham sejak semalam, menciptakan gelombang panik yang membuat nilai saham perusahaan fluktuatif di lantai bursa. Namun, bagi Reno, kegaduhan di dunia luar itu tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang tidak lagi memiliki arti bagi jiwanya.Reno berdiri diam di depan cermin besar di ruang ganti pribadinya yang mewah. Ia merapikan dasi sutra berwarna biru gelap untuk yang terakhir kali sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Di belakangnya, Siska berdiri dengan postur tegap, memegang setumpuk dokumen akhir yang perlu ditandatangani. Wajah Siska tampak datar seperti biasanya, namun ada kilatan kekhawatiran yang tulus di matanya."Tuan, dewa

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 42: Janji di Balik Cahaya Senja

    Pagi kedua di penthouse mewah Jakarta tidak dilewati Reno Dirgantara dengan ketergesaan yang biasanya menjadi ciri khasnya. Jika selama sepuluh tahun terakhir ia adalah sosok yang sudah mengenakan setelan jas lengkap dan memelototi monitor saham bahkan sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala, kini ia lebih memilih untuk menikmati momen yang jauh lebih berharga. Reno berdiri di dapur bersihnya, mendengarkan desis mesin kopi dan aroma robusta yang memenuhi ruangan, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama yang masih tertutup rapat.Reno menyadari sebuah kebenaran baru dalam hidupnya: bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada angka-angka triliunan di bursa efek atau kemenangan telak atas rival bisnisnya. Kebahagiaan itu kini sesederhana mendengar nafas teratur Karin di balik pintu itu nafas seorang wanita yang akhirnya bisa tidur tanpa harus menggenggam pisau atau bersiap melompat dari jendela karena ketakutan.Namun, kedamaian di dalam p

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 41: Cahaya di Balik Jendela

    Pagi pertama di Jakarta setelah badai besar itu benar-benar berakhir terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara deru helikopter yang memekakkan telinga, tidak ada lagi bau amis mesiu yang menyesakkan paru-paru, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa takut yang menghimpit dada setiap kali pintu terbuka. Reno Dirgantara sengaja memilih penthouse pribadinya yang baru sebagai tempat mereka menetap sementara, sebuah bangunan dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang dikelilingi oleh kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta.Reno terbangun lebih awal, saat semburat cahaya fajar masih malu-malu menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis. Namun, ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa bursa saham seperti yang biasa ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Ia hanya berbaring miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wajah Karin yang masih terlelap dengan sangat tenang di sampingnya.Karin tampak

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 40: Akhir dari Sebuah Dendam

    Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah kota ini sedang menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah dinasti yang penuh dengan intrik. Meskipun Ibu Rosalinda dan Gunawan sudah mendekam di sel tahanan Kejaksaan, Reno Dirgantara tidak merasakan kemenangan yang utuh. Di kepalanya masih terngiang laporan Siska bahwa Hendrawan Wijaya menghilang dari radar setelah aset-asetnya dibekukan. Pria itu seperti ular yang masuk ke dalam lubang saat badai datang, namun Reno tahu ular itu sedang menyiapkan bisa terakhirnya sebelum mati.Reno berdiri di balkon apartemen pribadinya yang baru, menatap kerlap-kerlip lampu kota. Karin mendekat, menyelimuti pundak Reno dengan kain hangat. "Reno, istirahatlah. Kamu sudah tidak tidur selama tiga hari. Semuanya sudah berakhir, kan?"Reno berbalik, menggenggam tangan Karin dan mengecupnya pelan. "Hampir, Sayang. Hanya tinggal satu duri lagi yang harus aku cabut. Selama Hendrawan masih bebas, aku tidak akan pernah bisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status