LOGINMatahari baru saja terbenam di balik deretan pegunungan Bogor yang angker, menyisakan semburat warna merah darah di cakrawala yang tampak dari jendela kecil berjeruji baja di lantai atas markas rahasia Unit Garuda. Namun, di dalam ruang ICU yang telah disulap secara darurat menjadi pusat komando sementara, suasana terasa jauh lebih dingin dan mencekam daripada udara pegunungan di luar.
Reno Dirgantara kini sudah tidak lagi memakai masker oksigen penuh. Ia bersandar pada tumpukan banBAB 101: Fajar Baru di Menara DirgantaraSinar matahari pagi yang cerah dan hangat menembus kaca-kaca kristal raksasa yang mengelilingi lantai teratas Gedung Graha Dirgantara, membiaskan cahaya keemasan yang berkilau di atas permukaan meja kerja Reno yang terbuat dari kayu jati pilihan. Ruangan itu kini tampak jauh lebih luas, lebih terang, dan seolah-olah telah bernapas kembali setelah sekian lama tercekik oleh bayang-bayang gelap dan konspirasi busuk Paman Surya. Suasana di koridor kantor pusat pagi ini pun terasa sangat berbeda secara drastis; tidak ada lagi bisik-bisik penuh kecurigaan di sudut ruangan atau tatapan mata yang saling menghindar. Para staf dan karyawan berjalan dengan langkah yang lebih tegak dan mantap, seolah-olah mereka baru saja menghirup udara segar setelah badai besar berlalu, merasakan aura kepemimpinan baru yang jauh lebih bersih namun tetap memiliki ketegasan yang tak tertandingi.Reno Dirgantara berdiri mematung di depan jendela besar ya
Gedung Graha Dirgantara berdiri angkuh, mencakar langit Jakarta yang masih berselimut kabut tipis sisa fajar yang dingin. Di lantai paling atas, di dalam Ruang Rapat Komisaris yang berdinding kaca antipeluru setebal lima sentimeter dan dilapisi kayu mahoni langka dari pedalaman Afrika, suasana terasa jauh lebih membeku daripada suhu pendingin ruangan yang disetel pada tingkat maksimal. Aroma kopi luwak yang mahal dan parfum maskulin dari para petinggi perusahaan bercampur aduk dengan ketegangan yang begitu padat, seolah-olah nyaris bisa disentuh dengan ujung jari. Di ujung meja oval raksasa yang terbuat dari marmer hitam itu, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang disisir rapi tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Surya Dirgantara menyesap kopinya dengan ketenangan yang dibuat-buat, seolah-olah ia tidak menyadari bahwa sebuah badai kehancuran yang sangat besar sedang melaju kencang menuju ke arahnya."Di mana Reno? Sidang Tahunan Direksi ini seharusnya
Dinding beton tebal yang dilapisi material kedap suara di markas bawah tanah unit Viper tidak membiarkan satu pun kebisingan dari dunia luar masuk ke dalam. Di tempat ini, waktu seolah-olah berhenti berputar secara paksa. Udara terasa sangat dingin, kering, dan membawa aroma tajam antiseptik yang bercampur dengan bau oli mesin dan keringat dingin yang menguap. Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung tunggal yang berayun pelan menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding, Marco Wijaya duduk terikat erat di atas kursi baja yang kaki-kakinya tertanam kuat ke dalam lantai beton. Wajahnya yang semula penuh keangkuhan kini tampak hancur berkeping-keping; rambutnya yang klimis kini berantakan menutupi dahi, dan bekas luka memar akibat gelombang kejut elektromagnetik (EMP) di kulit wajahnya mulai berubah warna menjadi biru keunguan yang mengerikan.Di balik kaca satu arah yang memisahkan ruang interogasi dengan pusat kendali, Reno Dirgantara b
Debu kristal dari pecahan pintu kaca balkon yang hancur berantakan masih melayang-layang halus di udara yang terasa pengap, panas, dan berbau sirkuit terbakar di dalam penthouse mewah lantai 42 Hotel Saint Regis. Suara bot militer unit Viper yang berat, beradu dengan ribuan serpihan kaca di atas lantai marmer, menciptakan bunyi gemeletuk yang mengerikan dan memecah kesunyian malam yang mencekam. Kapten Arga berdiri paling depan dengan posisi siaga tempur, moncong senapan serbunya terkokang sempurna dan mengunci titik vital pada sosok Marco Wijaya yang masih tergeletak lemas tak berdaya di lantai balkon akibat gelombang kejut elektromagnetik (EMP) yang baru saja menghanguskan sistem pelariannya. "Target utama diamankan! Cek semua saku jas dan pergelangan tangannya, jangan biarkan dia menyentuh perangkat apa pun!" teriak Arga dengan suara menggelegar, memerintah dua anggotanya untuk segera menyerbu maju. Dengan gerakan taktis yang kasar namun efisien, mereka memba
Malam di Jakarta merangkak semakin larut menuju dini hari, namun suasana di dalam bunker komando bawah tanah kediaman Dirgantara justru semakin membara oleh radiasi panas dari puluhan monitor server yang bekerja ekstra keras. Karin Dirgantara duduk dengan punggung tegak lurus di kursi utama, di depan sebuah workstation raksasa dengan delapan layar melengkung yang biasanya hanya disentuh oleh Reno atau Siska. Jemari Karin yang lentik, meskipun telapak tangan kanannya masih terasa kaku dan perih akibat luka bakar korsleting sebelumnya, kini menari di atas keyboard mekanik dengan irama yang konstan, cepat, dan mematikan. Wajahnya yang cantik disinari cahaya biru neon dari monitor, memantulkan sorot mata yang sedingin es dan tak kenal ampun sedikit pun."Siska, alihkan seluruh protokol enkripsi satelit kita ke jalur privat 'Viper-Alpha' sekarang juga. Aku ingin seluruh jangkauan komunikasi seluler dan sinyal radio dalam radius satu kilometer dari Hotel Saint Regis diblokir tota
Suasana di dalam kabin mobil cadangan unit Viper 6 yang membawa Reno Dirgantara menjauh dari neraka di jalan tol terasa sangat mencekam dan menyesakkan. Suara sirine polisi dan ambulans mulai meraung-raung di kejauhan, mencoba menembus blokade asap, namun mobil hitam antipeluru itu justru melesat masuk ke dalam jalur-jalur tikus perkotaan yang sudah dipetakan secara rahasia sebelumnya. Reno duduk bersandar dengan napas yang berat, tersengal, dan tidak beraturan. Kemeja hitam mahalnya kini compang-camping, tercabik-cabik memperlihatkan luka goresan panjang yang mengerikan di lengan dan bahu kirinya akibat hantaman serpihan kaca kristal dan gesekan aspal panas saat ia melompat tadi. Darah segar berwarna merah pekat mulai merembes cepat, membasahi jok kulit mobil yang biasanya sangat bersih dan rapi."Tuan, kita akan sampai di markas medis darurat bawah tanah dalam waktu kurang dari tiga menit. Bertahanlah, tekanan darah Anda mulai menurun," ujar salah satu anggota elit Viper
Pagi di Surabaya seharusnya menjadi awal dari sebuah ketenangan setelah badai mengerikan yang menghantam malam sebelumnya. Namun, bagi Reno Dirgantara, udara di dalam mansion megah itu tidak terasa segar sama sekali. Sebaliknya, oksigen di sekitarnya terasa semakin berat, seolah dinding-dinding k
Udara di dalam hanggar rahasia yang tersembunyi jauh di dalam perut perbukitan Bogor itu terasa kering, dingin, dan dipenuhi aroma avtur yang menusuk hidung. Di bawah temaram lampu neon yang berkedip-kedip, sebuah jet pribadi Gulfstream G650ER tanpa logo maupun nomor registrasi resmi tampak sedan
Minggu-minggu pertama di Surabaya terasa seperti sebuah oase di tengah padang pasir yang luas bagi Karin. Jika dulu hidupnya dipenuhi dengan langkah kaki yang terburu-buru karena ketakutan, kini ia bangun setiap pagi dengan suara kicauan burung dan deru ombak yang menenangkan dari balik jendela b
Udara di Surabaya terasa semakin gerah, seolah-olah awan hitam sedang berkumpul tepat di atas atap mansion Reno Dirgantara. Kabar tentang percepatan pernikahan Reno dan Karin telah menyebar di kalangan internal seperti api yang melalap jerami kering. Di dalam ruang kerja yang kini berubah menjadi







