Mag-log inPak Ardi dan Bu Marianne serentak bergerak menghampiri anak-anaknya, ketika melihat Zakki berteriak kesakitan karena lengannya dipelintir oleh Marco.“Lepaskan Marco! Dia kakakmu!” teriak papanya.Marco melepas pegangannya pada lengan Zakki, dengan cara mendorong. Tentu saja dorongan yang bertenaga, membuat tubuh Zakki jatuh terjengkang ke lantai. Anita menjerit, memegangi tubuh suaminya, lantas dia memarahi Marco.“Kamu itu adik macam apa, Marco? Kang Zakki itu kakak sulungmu, yang selalu melindungi kamu waktu kamu masih kecil! Kang Zakki yang selalu mengalah padamu, bahkan memberikan bengkel dan showroom Black Falcon yang sudah berkembang pesat, untuk tempatmu bekerja. Supaya kamu tidak kelihatan seperti orang yang gagal! Lantas seperti ini cara kamu membalas kebaikan kakakmu? Dengan semena-mena kamu menganiaya kakakmu!”“Kang Zakki yang lebih dulu mau memukul aku. Barusan itu aku hanya membela diri!”Anita masih emosi, “Membela diri itu cukup dengan memghindar saja! Tapi kamu senga
Zakki merasa tidak senang karena istrinya tiba-tiba muncul di ruang makan, dan langsung nimbrung dalam percakapan, itu pun dengan cara membantah ucapan Pak Ardi,“Anita, sebaiknya kamu bersikap sopan pada orang tua!” tegur Zakki.“Maafkan saya Pa, Ma.” Anita menghampiri kedua mertuanya, mencium tangan mereka.Pak Ardi menatap Anita yang tampak pucat dan lelah. Anita baru saja cuci muka, tidak sempat memoles wajah dengan bedak, karena dia khawatir suaminya salah omong soal bayi itu. Anita tidak mau Pak Ardi terus saja mempertanyakan asal-usul Calvin.Namun yang tidak diduga oleh Anita, alasan dari pertanyaan Pak Ardi soal asal-usul Calvin, soal siapa ibu kandung Calvin, ternyata berkaitan dengan pewarisan perusahaan. Pak Ardi kembali bicara, bahwa dia membangun seluruh bisnisnya dari nol, dengan susah payah. Maka dia tidak mau ada seseorang yang “bawa sial” ikut masuk dalam manajemen perusahaan. Menurut Pak Ardi, anak hasil “khilaf sesaat” adalah seseorang yang bakal bawa sial jika kel
Keesokan hari, usai salat subuh, Marco bersiap pergi.“Bang, di luar masih gelap. Mau ke mana?” tanya Maryam.Marco menatap istrinya yang masih pakai mukena, duduk di sajadah, menekuni Alquran. Itulah aktivitas Maryam usai salat subuh. Sering kali Marco melihat mata Maryam yang basah setelah zikir panjang dan membaca Alquran. Mata seorang istri yang merasa dirinya tidak berguna, karena tidak bisa melahirkan bayi yang hidup. Seperti itulah runtuhnya mental Maryam, terpuruk, dan sedang berusaha dibangkitkan lagi semangatnya.Sementara di sana, ada seorang bayi, yang berusaha disembunyikan oleh kakaknya, oleh mamanya. Bayi yang masih dipertanyakan siapa ibu kandungnya. “Aku mau ke vila, kamu mau ikut? Kamu belum pernah diajak ke vila milik keluargaku.” Ingin rasanya Marco mengatakan hal itu, tapi dia berpikir ulang.“Ada keluargaku di vila, mungkin mereka akan membahas tentang bayi itu. Lantas apa yang akan kulakukan ketika aku datang ke hadapan mereka? Aku akan membeberkan semua yang a
Pak Ardi tidak mengerti, kenapa cucunya tidak boleh dibawa ke rumah.Bu Marianne menjelaskan, “Sekarang sudah malam, Pa. Masak mau membawa bayi ini malam-malam? Biarlah Calvin tinggal di vila ini bersama Maisaroh. Biar bagaimana pun, kita ini kan, orang lain buat Maisaroh. Ibu yang lagi menyusui itu mesti dibuat tenang hatinya, supaya lancar ASI. Vila ini cocok untuk tempat tinggal sementara buat Maisaroh. Di sini sepi, Maisaroh bisa lebih bebas tinggal di sini, lebih tenang. Penjaga vila kan, tinggalnya di paviliun bagian belakang, terpisah dari bangunan yang ditempati oleh Maisaroh. Coba kalau Maisaroh tinggal di rumah kita, dia pasti merasa canggung karena banyak orang.”“Di rumah kita juga ada paviliun yang terpisah dari rumah utama, Maisaroh bisa tinggal di paviliun rumah kita, seolah tinggal di rumah pribadi, enggak campur baur dengan yang lain. Kenapa dia mesti tinggal di vila?”“Udara di sini juga lebih segar dan sehat buat bayi.”“Memangnya udara di rumah kita penuh polusi? T
Mobil Marco tiba di jalan menuju vila. Dari kejauhan Marco sudah melihat mobil milik mamanya yang terparkir di halaman depan vila. Marco tidak lanjut melajukan mobilnya memasuki jalan kecil menuju vila milik keluarganya itu, dia malah mengendarai mobilnya menjauhi area tersebut. Marco tiba di jalan desa, lantas dia memilih parkir mobil itu di depan sebuah bengkel kecil yang sudah tutup. Ada orang yang tinggal di bangunan kecil yang jadi tempat menyimpan peralatan bengkel. Marco kenal dengan orang itu. Dia mengetuk pintu.“Eh, ada Den Marco. Ada apa, malam-malam ke sini?”“Kang, mau titip mobil ya.” bisik Marco, “saya mau ke vila, di sana lagi ada keluarga saya. Mereka enggak tahu saya mau datang. Saya mau bikin kejutan, surprise gitu lah.”“Oh, begitu. Ya sudah, taruh saja mobilnya di belakang bengkel ini. Di sini masih lahan punya saya.”Setelah memarkir mobilnya di belakang bengkel itu, Marco kembali menemui pemilik bengkel. “Nuhun atuh Kang, ini ada sedikit buat ngopi malam-malam.”
Zakki yang sedang berada di rumah barunya, di Serang, Banten, menerima chat dari mamanya.Mama: (Papa sudah tahu soal Humaira yang bukan istri sirimu.)Zakki: (Bagaimana Papa bisa tahu?)Mama: (Mungkin Papa menyuruh orang untuk menyelidiki.)Zakki: (Sebatas apa yang diketahui Papa?)Mama: (Sebatas Humaira bukan istri sirimu. Papa marah sekali, mengira bayi itu hanya fiktif. Sekarang Mama sedang dalam perjalanan ke vila Cihideung, karena Papa mau melihat cucunya.)Zakki: (Kalau Papa tahunya sebatas itu, gak apa-apa, aman Ma.)Mama: (Papa tanya siapa ibu dari bayi itu? Mama mesti jawab apa?)Zakki: (Bilang aja gak kenal. Biar nanti aku yang jelaskan sama Papa.)Mama: (Kamu mau datang ke Bandung?)Zakki: (Ya Ma, biar Papa mendengar penjelasan dari mulutku.)Mama: (Mau kamu jawab apa, kalau Papa tanya siapa ibu bayi itu?)Zakki: (Nanti aku pikirkan lagi.)Mama: (Zakki, kalau kamu membuat kebohongan baru, lama-lama bakal ketahuan juga. Papa bisa makin marah.)Zakki termenung setelah menjaw
Pak Ardi berniat melakukan transfer sejumlah uang ke rekening Vino, melalui M-Banking. Beberapa saat Pak Ardi terdiam, lantas coba membuka akunnya. Dia terdiam lagi.“Saya lupa PIN-nya.” gumam Pak Ardi.“Bukankah Bapak punya rekening di empat bank? Mestinya ada akun lain lagi.”Pak Ardi memijat-mij
Erna dan pengacara Darwis Nasution berdiskusi tentang kondisi Pak Ardi, Erna sangat khawatir pada keselamatan kakaknya. Sampai dia lupa mengantar Maryam pulang. Baru teringat tatkala Ibu Marianne meneleponnya.“Maryam masih di situ ya? Sekarang sudah sore, biar saya jemput.” ujar Bu Marianne.“Iya
Seorang pria sebaya Renita, datang ke rumah Erna. Renita memperkenalkannya sebagai teman masa SMA, dan sekarang sekampus di program S-2. Pria itu disapa dengan nama Beno, dia kuliah di Fakultas Keguruan jurusan bahasa.Saat itu Erna juga sudah diberi tahu tentang ponsel temuan dari pujasera Makassa
Maryam diajak mertuanya ke rumah Erna. Ada berita tentang Marco dan Pak Ardi yang masuk ke ponsel Erna. Bu Marianne agak jengkel, karena suaminya malah menghubungi Erna, bukan dirinya. Erna memang adik kandung Pak Ardi.“Silakan minum Nyonya.” Mbok Iroh muncul dengan baki berisi tiga gelas jus jeru







