Compartilhar

bab 174. Marco Pergi

last update Data de publicação: 2025-04-19 18:38:31

Marianne Wiratama bertemu dengan Rustini, ibunya Sabrina, di acara gathering para pengusaha fashion Bandung. Marianne baru tahu kalau Marco memutus hubungan dengan Sabrina.

“Itu lho Sis, Marco berencana kerja di luar Jawa. Sabrina nggak setuju, karena aneh aja, sudah ada perusahaan milik keluarga, kenapa Marco malah pengin kerja di perusahaan punya orang lain di luar Jawa pula. Nah, karena Sabrina nggak setuju, lantas Marco bilang kalau Sabrina sudah beda prinsip dengan dirinya, jadi mending pu
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mencintai Seorang Climber   bab 373. Hasil Autopsi

    Wanita muda itu berjalan menghampiri Marco, “Maaf, saya yang bikin foto Windy sama Mas. Waktu itu Windy bilang dia butuh difoto bareng cowok ....”“Buat apa?” tanya Marco.“Katanya ada cowok rese yang mengejar-ngejar dia. Windy enggak suka, makanya dia pengin nolak dengan mengaku sudah punya pacar.”“Mestinya dia jangan bawa-bawa saya!” Marco geleng kepala, “Windy tahu saya sudah punya istri. Kalau dia iseng-iseng mengunggah foto bersama saya, itu seperti mau bikin masalah dalam rumah tangga saya.”“Iya Mas, eh Bos, nanti saya omongkan sama si Windy, rumahnya dekat dengan saya.”“Lain kali, kalau ada yang minta kamu bikin foto pria dan wanita, pikir ulang! Siapa tahu foto yang kamu bikin bisa membuat rumah tangga orang rusak!”“Iya Bos, maaf.”Pemilik rumah makan juga menegur pegawainya itu. “Lain kali kalau sedang kerja, jangan nyambi bikin foto!”Pelayan itu menunduk. “Maaf Pak, tapi kalau ada customer yang pengin berfoto di rumah makan ini, dan minta difotoin sama pegawai di sini,

  • Mencintai Seorang Climber   bab 372. Tanah Kuburan

    Marco sedang berbicara dengan seorang dokter senior di sebuah rumah sakit swasta.Dokter itu berucap, “Paham ya, jika nanti hasil autopsi ini sudah ke luar, hasil itu tidak akan bisa menjadi barang bukti untuk proses hukum.”Marco menjawab, “Iya Dokter. Saya kira saya juga butuh tes DNA terhadap jenazah bayi itu, supaya ada kejelasan.”“Tes DNA perlu DNA pembanding. Nah, DNA siapa yang jadi pembanding?”“Saya Dok.”“Anda ingin membuktikan bahwa bayi itu putra Anda, atau sebaliknya?”“Ingin ada kejelasan saja Dok. Saat istri melahirkan, saya tidak bisa mendampinginya. Bayi dinyatakan meninggal, tapi ternyata ada hal-hal janggal pada saat proses pemakaman. Saya meragukan bayi yang dikuburkan itu. Jadi saya putuskan untuk melakukan tes DNA”“Sebenarnya tes DNA belum bisa dilakukan di rumah sakit ini, tapi kami bisa memfasilitasi. Kami akan ambil sampel dari jenazah bayi, dan dari Anda, nanti kedua sampel akan kami kirim ke rumah sakit besar yang punya fasilitas tes DNA. Tapi hasilnya tid

  • Mencintai Seorang Climber   bab 371. Autopsi

    Kuncen menceritakan pada Marco tentang permintaan Zakki untuk penggalian makam bayi, kemudian jenazah bayi dikubur lagi dengan dibungkus kain kafan yang tampak masih baru. Kuncen merasa yakin bahwa sosok yang dikubur pertama kali, bukanlah bayi manusia.“Kalau bukan bayi manusia, lantas apa? Kucing?” tanya Marco.“Kucing juga bukan, karena kucing yang sudah mati dua hari, mestinya juga mengeluarkan bau busuk yang akan menempel pada tanah tempatnya dikubur. Sedangkan yang Mamang rasakan, tidak ada bau mayat sama sekali.”“Jadi sebenarnya apa yang dikubur pertama kali oleh Zakki?”“Kalau ingat gelagat Den Zakki saat itu, sesuatu yang digendongnya tidak boleh dipegang oleh para pelayat, Mamang merasa yang dikubur itu bukan makhluk hidup. Mungkin saja yang digendong oleh Den Zakki saat itu hanya gedebong pisang yang dibungkus kain kafan. Makanya tidak boleh disentuh oleh orang lain, karena bakal ketahuan.”Marco menatap kuncen itu, pikirannya masih diliputi rasa bingung. Apakah benar perk

  • Mencintai Seorang Climber   bab 370. Makam yang Digali Lagi

    Marco menatap kuncen di hadapannya, dia belum sepenuhnya paham akan omongan kuncen itu.“Bayi itu sudah dikuburkan, lalu ... dua hari kemudian, makamnya digali lagi?”“Iya Den.”Marco terdiam sejenak, berpikir, lantas bertanya lagi, “Apakah waktu itu ada dokter dan polisi yang mengawasi penggalian makam?”“Tidak ada, Den. Yang ada hanya Den Zakki, yang meminta makam bayi itu digali lagi.”“Jadi penggalian lagi makam bayi itu bukan atas dasar perintah polisi dan dokter?”“Bukan Den, hanya Den Zakki yang menyuruh.”Tadinya Marco mengira, setelah bayi yang dilahirkan Maryam dinyatakan meninggal, lantas dikubur, kemudian ada komplain dari keluarganya. Mungkin Zakki atau Anita yang mempertanyakan prosedur rumah sakit yang dianggap salah, sehingga diduga membuat bayi itu tidak selamat. Komplain kemudian diteruskan ke polisi, sebagai kasus dugaan malpraktik. Setelah itu polisi memerintahkan penggalian lagi makam bayi untuk autopsi. Hal seperti itu mungkin saja terjadi, dan prosedurnya adalah

  • Mencintai Seorang Climber   bab 369. Ziarah Malam

    Sekitar pukul enam pagi, Maryam merasa harus bicara pada seseorang soal Marco yang tidak pulang semalaman. Di ruang makan, Pak Ardi sedang minum obat, ditemani oleh Bu Marianne. Maryam jadi tidak tega kalau membebani pikiran mertua yang sudah sakit-sakitan.“Tapi Marco kan, anak mereka. Aku tidak salah kalau bicara soal kelakuan Marco yang mulai enggak jelas.”Bu Marianne menoleh ke arah Maryam yang berdiri di pojok ruang makan. “Kamu sudah sarapan, Maryam?”“Belum Ma, nanti sebentar lagi.”Pak Ardi bicara, “Kalau sudah lapar, kamu sarapan saja, tidak usah menunggu Marco. Oh ya, Marco sedang mandi ya? Nanti Papa mau tanyain soal perkembangan bengkel.”“Marco ... belum pulang sejak kemarin.”Pak Ardi dan Bu Marianne hanya mengernyit, tidak tampak terlalu kaget.“Sudah ditelepon, dia ada di mana?” tanya Pak Ardi, “saya harap dia ada di bengkel, daripada dia kumat lagi ....”“Kumat apa, Pa?” tanya Maryam.“Kumat naik gunung lagi.” jawab Bu Marianne. “buat Mama sama Papa, kelakuan Marco

  • Mencintai Seorang Climber   bab 368. Tidak Pulang

    Siang itu Windy berada di rumah makan yang letaknya berseberangan dengan bengkel Black Falcon. Bengkel itu berada di jalan raya, dekat dengan kompleks perumahan tempat tinggalnya. Ketika tadi pagi Windy berangkat kerja melewati bengkel itu, dia melihat Marco memarkir motor di depan bengkel itu. Marco masih pakai motor trail yang dulu biasa dibawa ke kampus, sehingga Windy langsung mengenali motor itu.Siang hari, ketika pada jam istirahat Windy melewati bengkel itu, dia melihat motor Marco masih ada di depan bengkel. Tepatnya di tempat parkir motor pegawai bengkel, yang disediakan di satu sisi halaman depan. Sedangkan sisi lain untuk ke luar masuk kendaraan customer.Windy duduk di rumah makan itu, makan es campur pelan-pelan. Dia berharap Marco datang untuk makan siang di situ. Kebetulan hari ini Windy tidak dikejar waktu untuk segera kembali ke kantor setelah jam istirahat.Windy jadi berpikir, jika Marco sering makan siang di luar, berarti Marco tidak disiapkan bekal makan siang ol

  • Mencintai Seorang Climber   bab 361. Diajak Pindah

    Tiba di butiknya, Bu Marianne tidak segera masuk ke ruang kerja, dia menuju sebuah bangunan rumah di belakang butiknya. Rumah itu adalah property miliknya, biasa dijadikan tempat menginap para penjahit jika mereka harus lembur. Sekarang di rumah itu tidak ada penjahit ataupun pegawai butik yang sed

  • Mencintai Seorang Climber   bab 350. Pulih Sama-Sama

    Anita menatap suaminya, senyum tipis mengembang di bibirnya. “Apa iya, Maryam bisa menggeser posisiku sebagai menantu utama? Sedangkan untuk urusan anak saja, Mama bersedia sekongkol dengan kita untuk mengambil bayinya Maryam.”Zakki menjawab, “Ssst, sudahlah. Bayi itu milik kita, secara hukum dia

  • Mencintai Seorang Climber   bab 348. Kepulangan

    Zakki dan Anita merasa khawatir akan kepulangan Marco. Mereka mendiskusikan bagaimana cara menghindarkan bayi mereka supaya tidak dilihat oleh Marco dan Maryam.Zakki bicara, “Kita punya keluarga besar. Kalau setahu mereka kita punya bayi, maka kita mesti perlihatkan bayi itu ke hadapan keluarga, a

  • Mencintai Seorang Climber   bab 09. Gadis Pantura

    Maryam bergidig melihat cara Silvi bicara. Tampaknya Silvi sudah dibutakan oleh dendam yang berkarat dalam hatinya.Maryam berujar, “Aku akan bicara pada Marco, supaya dia berhati-hati terhadap orang yang dia anggap teman, padahal musuh yang mengejarnya.”“Silakan kamu bilang sama Marco, kalau aku mau

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status