LOGINSiang itu Maryam ingin memberi kejutan pada Marco, dengan cara datang ke bengkel tanpa janjian terlebih dahulu. Maryam membawa dimsum ayam buatannya. Biasanya Marco sangat suka makan dimsum ayam itu. Ketika Maryam turun dari taksi di depan bengkel itu, dia melihat seorang wanita muda yang sedang bicara dengan supervisor.“Saya tadi sudah janjian dengan Bang Marco, lewat telepon. Katanya dia ada di kantornya. Saya sudah datang, tolong dong, kasi tahu ke bos kalian. Barusan saya sudah coba hubungi nomornya, tapi lagi enggak aktif.”“Bang Marco lagi enggak ada di sini, Kak.”“Tapi sekitar dua jam lalu saya teleponan dengan dia, katanya dia lagi ada di bengkel ini. Kita sudah janjian ketemu di sini, ada yang mau saya omongkan sama dia, penting banget.”“Iya, memang tadi pagi Bang Marco datang ke bengkel sini, tapi kemudian pergi lagi.”“Ke mana?”“Tidak tahu Kak, mungkin ke bengkel Black Falcon yang lain. Bos kan, memang suka keliling ke bengkel-bengkelnya. Atau mungkin ke showroom, kare
Marco membaca hasil autopsi, dan menemukan kata “Asfiksia” sebagai penyebab kematian bayi. Marco lantas mengambil ponsel, mencari arti kata tersebut di google.“Kondisi gawat darurat akibat tubuh kekurangan oksigen. Asfiksia bisa disebabkan oleh tersedak, tercekik, tenggelam, penyakit asma, overdosis obat tertentu. Asfiksia pada bayi baru lahir terjadi karena bayi tidak bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, ditandai dengan bayi yang tidak menangis ....”Marco termenung, sedang menimbang-nimbang, apakah dia perlu memperlihatkan hasil autopsi itu kepada Maryam? Masalahnya, Marco masih penasaran, apakah bayi yang dilahirkan Maryam, menangis waktu lahir? Atau tidak? Maryam pasti masih bisa mendengar suara di sekitarnya, walau dia menjalani operasi caesar. Jika Maryam tidak mendengar suara tangis bayi, berarti benar bayi itu tiada karena asfiksia.“Terus, kenapa bayi lain bisa menangis, sedangkan bayiku tidak?” pikir Marco lagi, dia melihat salah satu penyebab asfiksia
Wanita muda itu berjalan menghampiri Marco, “Maaf, saya yang bikin foto Windy sama Mas. Waktu itu Windy bilang dia butuh difoto bareng cowok ....”“Buat apa?” tanya Marco.“Katanya ada cowok rese yang mengejar-ngejar dia. Windy enggak suka, makanya dia pengin nolak dengan mengaku sudah punya pacar.”“Mestinya dia jangan bawa-bawa saya!” Marco geleng kepala, “Windy tahu saya sudah punya istri. Kalau dia iseng-iseng mengunggah foto bersama saya, itu seperti mau bikin masalah dalam rumah tangga saya.”“Iya Mas, eh Bos, nanti saya omongkan sama si Windy, rumahnya dekat dengan saya.”“Lain kali, kalau ada yang minta kamu bikin foto pria dan wanita, pikir ulang! Siapa tahu foto yang kamu bikin bisa membuat rumah tangga orang rusak!”“Iya Bos, maaf.”Pemilik rumah makan juga menegur pegawainya itu. “Lain kali kalau sedang kerja, jangan nyambi bikin foto!”Pelayan itu menunduk. “Maaf Pak, tapi kalau ada customer yang pengin berfoto di rumah makan ini, dan minta difotoin sama pegawai di sini,
Marco sedang berbicara dengan seorang dokter senior di sebuah rumah sakit swasta.Dokter itu berucap, “Paham ya, jika nanti hasil autopsi ini sudah ke luar, hasil itu tidak akan bisa menjadi barang bukti untuk proses hukum.”Marco menjawab, “Iya Dokter. Saya kira saya juga butuh tes DNA terhadap jenazah bayi itu, supaya ada kejelasan.”“Tes DNA perlu DNA pembanding. Nah, DNA siapa yang jadi pembanding?”“Saya Dok.”“Anda ingin membuktikan bahwa bayi itu putra Anda, atau sebaliknya?”“Ingin ada kejelasan saja Dok. Saat istri melahirkan, saya tidak bisa mendampinginya. Bayi dinyatakan meninggal, tapi ternyata ada hal-hal janggal pada saat proses pemakaman. Saya meragukan bayi yang dikuburkan itu. Jadi saya putuskan untuk melakukan tes DNA”“Sebenarnya tes DNA belum bisa dilakukan di rumah sakit ini, tapi kami bisa memfasilitasi. Kami akan ambil sampel dari jenazah bayi, dan dari Anda, nanti kedua sampel akan kami kirim ke rumah sakit besar yang punya fasilitas tes DNA. Tapi hasilnya tid
Kuncen menceritakan pada Marco tentang permintaan Zakki untuk penggalian makam bayi, kemudian jenazah bayi dikubur lagi dengan dibungkus kain kafan yang tampak masih baru. Kuncen merasa yakin bahwa sosok yang dikubur pertama kali, bukanlah bayi manusia.“Kalau bukan bayi manusia, lantas apa? Kucing?” tanya Marco.“Kucing juga bukan, karena kucing yang sudah mati dua hari, mestinya juga mengeluarkan bau busuk yang akan menempel pada tanah tempatnya dikubur. Sedangkan yang Mamang rasakan, tidak ada bau mayat sama sekali.”“Jadi sebenarnya apa yang dikubur pertama kali oleh Zakki?”“Kalau ingat gelagat Den Zakki saat itu, sesuatu yang digendongnya tidak boleh dipegang oleh para pelayat, Mamang merasa yang dikubur itu bukan makhluk hidup. Mungkin saja yang digendong oleh Den Zakki saat itu hanya gedebong pisang yang dibungkus kain kafan. Makanya tidak boleh disentuh oleh orang lain, karena bakal ketahuan.”Marco menatap kuncen itu, pikirannya masih diliputi rasa bingung. Apakah benar perk
Marco menatap kuncen di hadapannya, dia belum sepenuhnya paham akan omongan kuncen itu.“Bayi itu sudah dikuburkan, lalu ... dua hari kemudian, makamnya digali lagi?”“Iya Den.”Marco terdiam sejenak, berpikir, lantas bertanya lagi, “Apakah waktu itu ada dokter dan polisi yang mengawasi penggalian makam?”“Tidak ada, Den. Yang ada hanya Den Zakki, yang meminta makam bayi itu digali lagi.”“Jadi penggalian lagi makam bayi itu bukan atas dasar perintah polisi dan dokter?”“Bukan Den, hanya Den Zakki yang menyuruh.”Tadinya Marco mengira, setelah bayi yang dilahirkan Maryam dinyatakan meninggal, lantas dikubur, kemudian ada komplain dari keluarganya. Mungkin Zakki atau Anita yang mempertanyakan prosedur rumah sakit yang dianggap salah, sehingga diduga membuat bayi itu tidak selamat. Komplain kemudian diteruskan ke polisi, sebagai kasus dugaan malpraktik. Setelah itu polisi memerintahkan penggalian lagi makam bayi untuk autopsi. Hal seperti itu mungkin saja terjadi, dan prosedurnya adalah
Sementara itu, di kamarnya, Sabrina sedang menelepon seorang teman dekatnya. Temannya itu bernama Cynthia, adalah adik tingkat Marco di kampus Universitas Taruma Bandung. Sebagai adik tingkat, tentu saja Cynthia tahu siapa Marco dan Maryam, walau tidak saling mengenal. Sabrina bicara, “Maryam itu
Marco tiba di rumah Sabrina, disambut dengan senyum merekah keluarga itu.“Kirain Abang mau lama naik gunungnya, ternyata sudah balik ke Bandung.” ucap Sabrina, “Memangnya Abang ke gunung mana, untuk merayakan wisuda?”“Yang dekat aja.”Sabrina mengira, gunung yang dimaksud Marco itu Gunung Gede, y
Bab 164. Prioritas HidupMarco masih berada di Gunung Tangkuban Parahu. Dia sedang duduk di bangku sebuah warung, sembari minum bandrek. Dia menatap keramaian di sekitarnya; orang-orang yang sedang berfoto dengan latar kawah, beberapa ekor kuda yang berjalan dengan penumpang di punggungnya, para pe
Marco berpikir, "Kayaknya enak kalau siang ini datang ke restoran Sunda, yang ada kolam ikan, lalu ada pondok di tengah kolam itu."Di pondok itulah Marco ingin makan siang, nasi merah hangat plus lauk pauk dicocol ke sambel pedas. Berdua saja, supaya romantis. Marco tahu ada restoran Sunda seperti







