ログインMarco membaca hasil autopsi, dan menemukan kata “Asfiksia” sebagai penyebab kematian bayi. Marco lantas mengambil ponsel, mencari arti kata tersebut di google.“Kondisi gawat darurat akibat tubuh kekurangan oksigen. Asfiksia bisa disebabkan oleh tersedak, tercekik, tenggelam, penyakit asma, overdosis obat tertentu. Asfiksia pada bayi baru lahir terjadi karena bayi tidak bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, ditandai dengan bayi yang tidak menangis ....”Marco termenung, sedang menimbang-nimbang, apakah dia perlu memperlihatkan hasil autopsi itu kepada Maryam? Masalahnya, Marco masih penasaran, apakah bayi yang dilahirkan Maryam, menangis waktu lahir? Atau tidak? Maryam pasti masih bisa mendengar suara di sekitarnya, walau dia menjalani operasi caesar. Jika Maryam tidak mendengar suara tangis bayi, berarti benar bayi itu tiada karena asfiksia.“Terus, kenapa bayi lain bisa menangis, sedangkan bayiku tidak?” pikir Marco lagi, dia melihat salah satu penyebab asfiksia
Wanita muda itu berjalan menghampiri Marco, “Maaf, saya yang bikin foto Windy sama Mas. Waktu itu Windy bilang dia butuh difoto bareng cowok ....”“Buat apa?” tanya Marco.“Katanya ada cowok rese yang mengejar-ngejar dia. Windy enggak suka, makanya dia pengin nolak dengan mengaku sudah punya pacar.”“Mestinya dia jangan bawa-bawa saya!” Marco geleng kepala, “Windy tahu saya sudah punya istri. Kalau dia iseng-iseng mengunggah foto bersama saya, itu seperti mau bikin masalah dalam rumah tangga saya.”“Iya Mas, eh Bos, nanti saya omongkan sama si Windy, rumahnya dekat dengan saya.”“Lain kali, kalau ada yang minta kamu bikin foto pria dan wanita, pikir ulang! Siapa tahu foto yang kamu bikin bisa membuat rumah tangga orang rusak!”“Iya Bos, maaf.”Pemilik rumah makan juga menegur pegawainya itu. “Lain kali kalau sedang kerja, jangan nyambi bikin foto!”Pelayan itu menunduk. “Maaf Pak, tapi kalau ada customer yang pengin berfoto di rumah makan ini, dan minta difotoin sama pegawai di sini,
Marco sedang berbicara dengan seorang dokter senior di sebuah rumah sakit swasta.Dokter itu berucap, “Paham ya, jika nanti hasil autopsi ini sudah ke luar, hasil itu tidak akan bisa menjadi barang bukti untuk proses hukum.”Marco menjawab, “Iya Dokter. Saya kira saya juga butuh tes DNA terhadap jenazah bayi itu, supaya ada kejelasan.”“Tes DNA perlu DNA pembanding. Nah, DNA siapa yang jadi pembanding?”“Saya Dok.”“Anda ingin membuktikan bahwa bayi itu putra Anda, atau sebaliknya?”“Ingin ada kejelasan saja Dok. Saat istri melahirkan, saya tidak bisa mendampinginya. Bayi dinyatakan meninggal, tapi ternyata ada hal-hal janggal pada saat proses pemakaman. Saya meragukan bayi yang dikuburkan itu. Jadi saya putuskan untuk melakukan tes DNA”“Sebenarnya tes DNA belum bisa dilakukan di rumah sakit ini, tapi kami bisa memfasilitasi. Kami akan ambil sampel dari jenazah bayi, dan dari Anda, nanti kedua sampel akan kami kirim ke rumah sakit besar yang punya fasilitas tes DNA. Tapi hasilnya tid
Kuncen menceritakan pada Marco tentang permintaan Zakki untuk penggalian makam bayi, kemudian jenazah bayi dikubur lagi dengan dibungkus kain kafan yang tampak masih baru. Kuncen merasa yakin bahwa sosok yang dikubur pertama kali, bukanlah bayi manusia.“Kalau bukan bayi manusia, lantas apa? Kucing?” tanya Marco.“Kucing juga bukan, karena kucing yang sudah mati dua hari, mestinya juga mengeluarkan bau busuk yang akan menempel pada tanah tempatnya dikubur. Sedangkan yang Mamang rasakan, tidak ada bau mayat sama sekali.”“Jadi sebenarnya apa yang dikubur pertama kali oleh Zakki?”“Kalau ingat gelagat Den Zakki saat itu, sesuatu yang digendongnya tidak boleh dipegang oleh para pelayat, Mamang merasa yang dikubur itu bukan makhluk hidup. Mungkin saja yang digendong oleh Den Zakki saat itu hanya gedebong pisang yang dibungkus kain kafan. Makanya tidak boleh disentuh oleh orang lain, karena bakal ketahuan.”Marco menatap kuncen itu, pikirannya masih diliputi rasa bingung. Apakah benar perk
Marco menatap kuncen di hadapannya, dia belum sepenuhnya paham akan omongan kuncen itu.“Bayi itu sudah dikuburkan, lalu ... dua hari kemudian, makamnya digali lagi?”“Iya Den.”Marco terdiam sejenak, berpikir, lantas bertanya lagi, “Apakah waktu itu ada dokter dan polisi yang mengawasi penggalian makam?”“Tidak ada, Den. Yang ada hanya Den Zakki, yang meminta makam bayi itu digali lagi.”“Jadi penggalian lagi makam bayi itu bukan atas dasar perintah polisi dan dokter?”“Bukan Den, hanya Den Zakki yang menyuruh.”Tadinya Marco mengira, setelah bayi yang dilahirkan Maryam dinyatakan meninggal, lantas dikubur, kemudian ada komplain dari keluarganya. Mungkin Zakki atau Anita yang mempertanyakan prosedur rumah sakit yang dianggap salah, sehingga diduga membuat bayi itu tidak selamat. Komplain kemudian diteruskan ke polisi, sebagai kasus dugaan malpraktik. Setelah itu polisi memerintahkan penggalian lagi makam bayi untuk autopsi. Hal seperti itu mungkin saja terjadi, dan prosedurnya adalah
Sekitar pukul enam pagi, Maryam merasa harus bicara pada seseorang soal Marco yang tidak pulang semalaman. Di ruang makan, Pak Ardi sedang minum obat, ditemani oleh Bu Marianne. Maryam jadi tidak tega kalau membebani pikiran mertua yang sudah sakit-sakitan.“Tapi Marco kan, anak mereka. Aku tidak salah kalau bicara soal kelakuan Marco yang mulai enggak jelas.”Bu Marianne menoleh ke arah Maryam yang berdiri di pojok ruang makan. “Kamu sudah sarapan, Maryam?”“Belum Ma, nanti sebentar lagi.”Pak Ardi bicara, “Kalau sudah lapar, kamu sarapan saja, tidak usah menunggu Marco. Oh ya, Marco sedang mandi ya? Nanti Papa mau tanyain soal perkembangan bengkel.”“Marco ... belum pulang sejak kemarin.”Pak Ardi dan Bu Marianne hanya mengernyit, tidak tampak terlalu kaget.“Sudah ditelepon, dia ada di mana?” tanya Pak Ardi, “saya harap dia ada di bengkel, daripada dia kumat lagi ....”“Kumat apa, Pa?” tanya Maryam.“Kumat naik gunung lagi.” jawab Bu Marianne. “buat Mama sama Papa, kelakuan Marco
“Boleh saya cerita awal mulanya, Pak?” Kemudian Theo menuturkan beberapa hal yang sudah dialaminya. “Waktu saya ke kamar Pak Ardi, saya sudah berusaha menceritakan hal yang terjadi pada Marco, bagaimana Marco tiba-tiba bisa menghilang, semua sesuai yang saya lihat. Waktu saya lagi bicara, ternyata
Theo sang resepsionis hotel bagian shift malam, menatap Pak Ardi yang kelihatannya seperti tercengang mendengar omongannya tentang Marco.“Begini Pak, saya melihat dengan mata saya sendiri waktu Marco naik mobil, lantas dia tidak muncul di bandara untuk naik pesawat kembali ke kota.”Pak Ardi masih
“Bapak sakit?” Vino menatap Pak Ardi yang tampak pucat dan berkeringat.“Rasanya dingin, padahal saya sudah pakai jaket.”“Di sini memang dataran tinggi, Pak, suhunya dingin.”Pak Ardi berbaring, lantas menyelubungi tubuhnya dengan selimut, tapi dia masih menggigil.“Pak, waktu kita mau berangkat k
Kedua orang tua Marco sedang saling bicara lewat telepon. Bu Marianne berada di balkon ruko miliknya, sedangkan Pak Ardi berada di tempat yang jauh, di kawasan timur. Mereka membahas tentang uang untuk menebus Marco dari tangan kelompok yang telah menyanderanya selama hampir 20 hari.Pak Ardi bicar







