LOGINAnita, istri Zakki, memilih untuk kembali ke rumahnya. Tiba di ruang tengah rumahnya, dia duduk bersandar di sofa, mengambil ponsel, mau menelepon suaminya, tapi ternyata nomor Zakki sedang tidak aktif. Anita mengira ponsel Zakki sedang diisi daya.Anita membuka galeri ponselnya, melihat beberapa foto terbaru Zakki yang dikirim lewat chat, foto-foto berlatar belakang pemandangan di pedalaman wilayah timur. Anita menggulirkan gambar-gambar dan foto-foto lama, hingga tiba di foto-foto seorang gadis kecil. Tak seharipun Anita kehilangan memorinya tentang gadis kecil usia 4 tahun itu, putri kandungnya, Valentina.“Anak Bunda yang paling cantik ....” Air mata Anita meluncur ke pipi.Valentina meninggal dua tahun lalu, dengan tidak wajar akibat keracunan yang disengaja. Pelaku sudah dihukum, tapi anak yang pergi tidak akan pernah kembali. Ketika putrinya itu meninggal, Anita dalam kondisi sedang hamil muda anak kedua. Janin itu tidak bisa bertahan.Beberapa bulan setelah kepergian Valentina
Sopir itu menyanggupi untuk menemui seorang pria yang bekerja di kantor distrik. Sore hari sopir itu datang lagi ke hotel, bersama seorang pria usia awal 40 tahunan, yang memperkenalkan dirinya sebagai Alom. Pak Ardi mempersilakan sopir itu menunggu di kafe hotel, sambil minum kopi dan makan kudapan sore. Sementara Pak Ardi berbincang dengan pria bernama Alom itu.Pak Ardi menceritakan tentang putranya yang disandera oleh kelompok separatis. Alom teringat pada rekaman video yang dikirim padanya, untuk disampaikan kepada aparat.“Begini, saya minta tolong sampaikan kepada kelompok itu, bahwa saya mau anak saya dibebaskan secara damai. Akan ada uang damai yang bisa disepakati berapa jumlahnya, bagaimana cara pengirimannya. Yang penting anak saya bisa kembali pada keluarganya, dalam kondisi selamat. Saya takut sekali kalau sampai ada kontak senjata antara kelompok itu dengan aparat, dan malah mengancam keselamatan para sandera.”Alom manggut-manggut. “Iya Pak, nanti saya sampaikan. Tapi
Aparat menyarankan agar Pak Ardi sekeluarga segera kembali ke Bandung, dan menunggu kabar dari tempat tinggalnya saja.“Segala urusan pembebasan sandera, adalah tanggung jawab aparat negara. Keluarga para sandera tidak perlu melakukan negosiasi apapun dengan kelompok separatis, cukup menunggu di rumah saja.”Pak Ardi manggut-manggut. Sore hari Pak Ardi sudah tidak dirawat lagi di rumah sakit, dia dan keluarganya serta para pengacaranya menginap di sebuah hotel.Pak Ardi bicara pada istrinya, “Mama bisa pulang ke Bandung dengan para pengacara. Biar Zakki di sini temani papa.”Zakki menatap papanya, “Memangnya Papa mau ngapain lagi?”“Papa mau ke pedalaman, mencari peluang untuk membebasakan Marco. Kamu antar papa naik pesawat kecil ke pedalaman.”Zakki menghela napas berat. “Pa, bukankah urusan pembebasan sandera itu adalah urusan aparat? Waktu kemarin Pak Komandan sudah bilang begitu, artinya bahwa kita sebagai warga sipil nggak bisa ikut campur sama urusan itu, walau yang disandera a
Kabar yang dibawa oleh aparat ke hadapan keluarga Wiratama, sungguh meruntuhkan harapan mereka.“Komplotan penculik Marco sudah berhasil ditangkap oleh aparat di pedalaman. Memang benar seperti dugaan keluarga Anda, bahwa penculikan Marco didalangi oleh rekan kerjanya sendiri, yaitu Vino, dia juga sudah ditangkap.”Lebih lanjut aparat mengatakan bahwa Vino tidak bisa mengelak, karena terpantau dia yang bertransaksi dengan para penculik. Vino menyebut nama Wandi sebagai orang yang pertama kali punya ide untuk menculik Marco, membuat skenario penculikan seolah dilakukan oleh kelompok separatis. Kemudian meminta tebusan kepada keluarganya. Alasannya, karena sedari awal Wandi sudah tahu jika Marco adalah anak orang kaya. Vino tahu dari Wandi tentang fakta itu.Aparat sudah mengamankan Wandi di Makassar, tapi dia mengelak, berlagak tidak tahu apa-apa soal rencana penculikan itu. Wandi mengatakan bahwa dia sendiri yang melapor ke aparat, saat awal kantor hilang kontak dengan Marco. Jadi man
Sejak awal ketika dirinya disergap, dilumpuhkan, dan dibawa ke tempat yang bukan tujuannya, Marco mengira jika orang-orang yang menculik dan menyanderanya adalah kelompok separatis. Dia pernah melihat berita tentang seorang pilot yang diculik dan disandera oleh kelompok separatis itu. Sang pilot memang tidak mengalami tindak kekerasan dari kelompok itu, tapi pilot tersebut baru bisa bebas setelah 19 bulan disandera di pedalaman. Marco tidak bisa membayangkan jika dirinya disandera dalam jangka waktu yang lama, sementara Maryam istrinya sedang hamil. Maryam ada di Makassar, jauh dari keluarganya.“Siapa yang akan mengurus Maryam? Jika Maryam memutuskan pulang ke Cirebon, berarti dia akan pulang sendiri dalam keadaan perut besar.” Demikian pikiran Marco yang risau.Marco tidak pernah membayangkan jika keluarganya bersedia mengurus Maryam. Sedari awal tidak ada yang setuju dirinya menikah dengan Maryam. Papanya mungkin setuju, atau terpaksa setuju. Tetapi papanya dalam kondisi sakit, dan
Vino menyewa sebuah motor trail untuk menuju tepi hutan, tempat dia merencanakan pertemuan dengan Don. Perjalanan ke lokasi cukup sulit, ada di lereng gunung, di mana warga lokal terkadang mendatangi hutan itu untuk berburu hewan liar, mencari buah ataupun bagian tumbuhan yang bernilai ekonomis. Di bagian tepi hutan ada juga beberapa warga lokal yang membuka lahan untuk bertanam ubi dan sayur.Tidak ada jalan aspal ke lokasi itu, yang ada jalan setapak dengan kiri kanannya semak belukar dan pepohonan tinggi. Vino berhenti di sebuah lokasi, dia celingukan. Tak lama Don muncul dari dalam hutan, bersama seorang rekannya.“Kamu sendirian? Mana bapaknya Marco?” tanya Don, karena dia tahu yang punya uang itu keluarga Marco. Dia khawatir melihat Vino hanya sendiri, jangan-jangan tidak bawa uang, malah nanti bikin curiga beberapa petani atau pemburu seandainya ada yang lewat situ.“Bapaknya Marco sedang sakit, dia ada di kota.”Don mengajak Vino pindah tempat, sedikit menjauh dari rekannya ya







