Home / Romansa / Mencuri Calon Suami Adikku / #004 Pertemuan Yang Aku Atur

Share

#004 Pertemuan Yang Aku Atur

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2025-07-28 12:16:04

Seperti yang diperkirakan Lottie, mereka tidak peduli. Percaya saja begitu Suri diperkenalkan sebagai asisten Luna.

Tidak aneh juga kalau Luna bepergian membawa asisten, karena saat bekerja pun, Luna selalu membawa managernya. 

“Kau pasti semakin sibuk saja pasti sampai memerlukan asisten tambahan.” Leah, salah satu teman Luna yang menjadi bridesmaid, menatap Suri dengan pandangan prihatin karena penampilannya.

Suri sudah memakai baju miliknya yang paling bagus, yaitu celana jeans pudar berpadu dengan blouse biru dan cardigan longgar, tapi belum cukup baik untuk disandingkan dengan kemilau tamu lain yang datang ke resort itu.

Mereka semua datang membawa penampilan indah yang tidak mengandung rambut berkuncir memakai karet gelang seadanya dan kacamata minus besar seperti Suri.

Suri sebenarnya bisa memilih gaun lain, tapi Luna hanya mengizinkan pakaian yang tertutup rapat tentu, agar memar di lengan Suri tidak terlihat orang lain.

“Kau akan membawanya ke acara malam ini? Tidak akan cocok untuk dipamerkan.” Leah masih memandangi Suri dengan penuh penghakiman. Ia tentu khawatir kalau foto mereka malam ini tidak akan cocok untuk dipajang di sosial media kalau mengandung Suri di dalamnya.

“Astaga! Tentu tidak. Aku akan meninggalkannya di hotel. Dia akan menyelesaikan pekerjaan yang memang harus dikerjakannya.” Luna mengibaskan tangan, agar perhatian semua temannya tidak lagi menempel pada Suri. “Sudah, abaikan saja.” 

Suri pun akan gembira kalau mereka tidak peduli. Sejak tadi ia berusaha melirik daftar tamu yang ada di meja resepsionis. Kalau terus ditatap, akan ada yang curiga dengan tujuannya.

Mereka setelah itu ribut memekik, menyambut rombongan lain yang baru datang. Petugas resepsionis yang menunggu mereka tampak kembali sibuk karena harus mencari kunci dan mencocokkan nama.

Mereka semua harus diberi kunci yang benar sesuai dengan pesanan, atau akan ada amukan yang berujung gangguan acara.

Suri bergeser pelan ke belakang konter resepsionis yang sibuk, berusaha membaur dengan tembok, sampai akhirnya bisa menatap ke layar laptop yang menyala.

Tentu berisi daftar tamu dan nomor kamar masing-masing. Suri tidak perlu mencari lama, karena nama Duke of York ada di urutan paling atas sebagai tamu VVIP. 

Tidak heran, karena resort mewah yang ada di lereng bukit berpemandangan cantik itu memang milik Leland. Tentu mereka menandainya dengan khusus.

“Kenapa kau di situ?!” 

Suri tersentak mendengar bentakan Luna, dan bergegas mendekatinya sambil menyeret koper.

“Luna, kau membawa makhluk apa?” Teman Luna yang lain berkomentar lebih pedas lagi saat melihat penampilan Suri. Komentar Leah tadi rupanya yang paling lembut. 

“Kau menemukannya di jalan dan memutuskan untuk memungut?”

“Apa kau sekarang memutuskan untuk beramal dengan rutin?”

“Aku rasa dia perlu mandi.”

“Astaga! Aku pikir dia gelandangan yang salah masuk.”

Dan lain sebagainya. Luna ikut tertawa dan menganggap semua itu lelucon. Tidak merasa sakit hati meski yang mereka hina adalah kakaknya.

Tidak ada yang sedap didengar, baik hinaan maupun tawa Luna, tapi Suri tidak sakit hati. Ia sudah pernah mendengar yang lebih buruk, dan fokusnya saat ini tercurah pada pada gambar peta detail letak kamar resort yang ada di belakang Luna. Ia berusaha keras untuk menghapal, mengukur jarak dan memutuskan harus ada di mana.

“Ayo! Jangan lambat.” Luna sudah menerima dua kunci, dan menyuruh Suri mengikutinya.

“Lu.. A..apa boleh… aku meminta kamar…l.llain?” Suri berbisik terbata, sepelan mungkin di dekat telinga Luna.

Ini karena Suri tahu Luna akan marah kalau ada yang mendengarnya terbata. Luna menyuruhnya diam sebanyak mungkin agar kesulitan bicara Suri tidak membuatnya malu.

“Kau tidak usah lancang meminta!” desis Luna sambil mendelik. Kamar Suri terpisah dari Luna, tidak mungkin ia mau memakai kamar yang sama, tapi masih agak dekat.

“Aku… aku butuh tenang… agar bbisa menyelesaikan jahitan itu.” Suri berbisik lagi. Luna menganggap gaun itu lebih penting dari nyawa Suri, alasan itu seharusnya kuat.

“Kkkalian akan berpesta… aku ti..tidak bisa berkonsentrasi men…menjahit.” Suri menambahkan alasan kenapa dirinya harus berpindah kamar. 

Luna menempati kamar yang berdekatan dengan rombongan temannya. Mereka akan berpesta semalaman tentu, dan pasti berisik.

“Ck!” Luna masih tidak suka, tapi mulai berpikir. Ia memang ingin Suri berada sejauh mungkin darinya.

“Aku tanya.” Luna akhirnya kembali ke resepsionis. 

Acara pernikahan itu menyewa seluruh resort, tapi tamunya termasuk sedikit, hanya berkisar empat puluh orang karena memang sangat private. Karenanya banyak kamar yang masih kosong. Memindahkan Suri ke kamar lain seharusnya masih bisa.

“Di.. si… sini. Jauh.” Suri menunjuk denah, tempat yang diinginkannya jauh dari kamar Luna, ideal seharusnya. Ada tiga kamar di deretan itu, yang manapun boleh dan sepertinya kosong karena jauh dari tempat pusat pesta..

Luna melirik sekilas lalu mengangguk. Asalkan jauh tidak masalah untuknya.

Suri menggigit bibir, menahan senyum saat melihat kunci kamarnya berganti. Punggungnya sampai berkeringat karena tegang sejak tadi. 

Suri sebenarnya tidak yakin apakah Luna akan mengabulkan permohonannya. Suri tahu Luna tidak akan mencurigai niatnya, tapi belum tentu mau repot-repot bicara untuk mengganti kamar.

Yang membuat Luna bergerak memang alasan gaun itu. Harus diselesaikan tanpa halangan agar bisa dipakai besok.

***

“Kemana? Kenapa tidak ada?!” Luna memekik frustasi, karena tidak menemukan kunci kamar Suri di dalam tasnya. Ia merasa sudah memasukkannya ke dalam tas, tapi begitu dicari, tidak ada. 

Luna merogoh semua kantong, membuka setiap celah tas tangan yang kemarin ditunjukkannya kepada Leland, dan masih nihil.

“Ak.. aku tidak akan keluar…Tidak sempat… ha… harus men…jahit…” Suri meyakinkan. 

Luna memerlukan kunci itu untuk menunjukkan kalau Suri tidak boleh keluar kamar—Luna yang akan membawa kuncinya.

“Hhhh!” Luna masih tidak puas, tapi tidak bisa marah berkepanjangan. Ponselnya tidak berhenti berbunyi sejak tadi, dari pesan masuk yang menyuruhnya bergegas ke lobi dari teman-temannya.

“Ya sudah!” Luna akhirnya membentak. “Awas kalau aku melihat kau berkeliaran di luar. Jangan membuatku malu!” Luna mengancam lagi sebelum menutup pintu.

“Ya.” Suri mengangguk dan mulai membuka koper untuk mengambil gaun yang belum jadi itu, bersama peralatan jahitnya.

Luna melemparkan pandangan puas melihat kepatuhan itu, dan menutup pintu sambil tersenyum.

Suri menghela napas panjang, lalu menarik lengan cardigannya. Mengeluarkan kartu kunci kamar yang sejak tadi tersembunyi di sana. 

Suri mencopet kartu itu saat berpura-pura menabrakkan diri ke tas Luna di lorong  tadi. Masih ada beberapa temannya, jadi Luna tidak bisa terlalu marah dan lupa dengan cepat.

Suri yang lega karena sebenarnya nyaris lupa untuk mengambil. Kalau sampai lupa, sudah pasti ia akan terkunci di kamar itu sampai lusa.

Suri beranjak membuka pintu teras yang menghadap ke paviliun VVIP. Alasannya memilih kamar itu tentu saja karena posisi itu. Paviliun VVIP hanya berisi satu kamar, dan hanya Leland saja yang akan memakainya. 

Suri bisa memperkirakan ini semenjak Luna menyebut kalau resort itu milik Leland. Sudah pasti ia akan menempati kamar terbaik meski bukan pengantin. Suri hanya perlu mengkonfirmasi saat mengintip laptop tadi.

“Oke, aku selesaikan dulu.” Suri tersenyum menatap teras kamar paling mewah yang saat ini masih kosong. Menurut keterangan jadwal yang diintipnya tadi, Leland akan datang nanti malam. 

Masih ada waktu bagi Suri untuk bersiap—terutama harus menyelesaikan jahitan itu agar selamat. Selebihnya, Suri akan bersiap untuk ‘menyambut’ Leland.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yanti
cerdas nih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencuri Calon Suami Adikku   #307 Extra 43 - Cincin Yang Dilupakan

    “Rain?” Leland sampai di pantai saat sore, tentu ingin mendapati Suri berbaring di kamar. Tapi kasur kamar itu kosong. Acara Kaiden masih besok malam, Suri tidak perlu bersiap sekarang.“Leila!” Leland memanggil, dan Leila muncul dari arah dapur. Mereka tidak menginap di hotel, tapi salah satu villa milik York yang ada di Amalfi, sedikit jauh dari Roma—tempat premiere film diadakan.Tapi Suri yang memilih tempat itu, jadi Leland akan mengikuti dengan buta.“Sir, Lady Suri sudah menunggu di pantai.” Leila tidak perlu bertanya Leland mencari siapa.“Pantai? Sore begini?” Leland menatap arloji di tangannya. Musim dingin di area itu belum sangat dingin, tapi bukan ide bagus juga untuk bermain air mendekati matahari terbenam.“Ya.” Leila malah tersenyum.“Kau tidak melarangnya?” Leland menegur tentu. Adalah tugas Leila memastikan Suri sehat.“Mmm… Lady Suri menginginkannya.” Senyum Leila langsung bubar.“Menginginkan bukan berarti harus dikabulkan! Apa kau akan menuruti saat Suri meminta k

  • Mencuri Calon Suami Adikku   #306 Extra 42 - Kesepakatan Yang Harus Setuju

    Leland mengangkat alis. “Apa?”“Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggu uang milikmu. Aku hanya memerlukan tempat untuk menampung uang agar tidak mencurigakan. Tidak ada orang yang curiga kalaupun rekening atas nama York bertambah menjadi gendut secara mendadak.”Leland tersenyum, sudah mengerti kenapa permintaan itu ada. “Kau ingin memakai rekeningku untuk mencuci uang.” Val mengangguk, masih dengan senyum. Seolah pembicaraan mereka bukan sesuatu yang ilegal.Melakukan kejahatan yang menghasilkan uang tidak akan bisa berjalan mulus kalau aliran uangnya tidak ditutupi. Karena itu praktik pencucian uang akan menjadi bagian yang sangat esensial kalau ingin melanggengkan usaha ilegal.Rekening York adalah lahan yang cocok sebagai tempat uang bersandar. York dan puluhan usahanya tidak akan mudah dicurigai menerima uang dari sumber ilegal.“Apa aku punya kesempatan menolak?” tanya Leland. Itu pertanyaan bodoh karena tentu menolak akan mengancam nyawa, tapi Leland perlu waktu untuk mence

  • Mencuri Calon Suami Adikku   #305 Extra 42 - Orang Yang Berbahaya

    “Kau akan tahu nanti—untuk…” Ian menatap Suri.“Tidak. Kita berdua saja.” Leland langsung maju—menghalangi Suri dari pandangan. Ia tidak mungkin ingin membawa Suri menemui orang yang tidak jelas identitas maupun keinginannya.“Apa tidak masalah?” Leland menatap Ian, lalu Suri. Pertanyaan itu untuk mereka berdua. “Tidak masalah.” Suri langsung menggeleng, karena memang ia membutuhkan waktu sendiri untuk menyiapkan rencananya. Ian pun mengangguk. “Memang hanya kau yang diinginkannya.” Ia hanya mendapat perintah untuk membawa Leland. “Jangan khawatir. Pertemuan ini tidak akan mengganggu rencana utama kalian menghadiri premier itu.”Ian memberi jaminan yang membuat kering Leland mengerut. Ian bukan hanya bisa mengetahui jadwal liburan mendadak itu—tapi juga detail kegiatannya di Italia. Leland tidak bisa mencegah takjub—tapi juga waspada. Siapapun yang akan ditemuinya, mempunyai akses untuk mencari info itu—pasti bukan orang yang normal.“Silas—”“Tidak. Kau bersama Leland saja.” Suri

  • Mencuri Calon Suami Adikku   #304 Extra 40 - Jadwal Yang di Luar Rencana

    “Katakan lagi—kenapa kita harus ke Italia.” Suri meminta penjelasan, karena kepergian itu sangat mendadak.Suri tidak keberatan berlibur—karena membutuhkannya setelah kesibukan mengerikan selama beberapa bulan ke belakang akibat pembukaan butik. Lili juga mengerti dan langsung menyetujui permintaan libur seminggu itu—tapi tentu Suri tetap perlu penjelasan lebih dari sekadar liburan.Tapi pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, saat Suri berpaling untuk melihat, ternyata Leland sedang menerima panggilan lewat ponselnya. Urusan yang sangat penting tentu—karena Leland sampai mau menerimanya saat sedang dalam perjalanan.Mereka sedang ada di udara—di dalam pesawat yang akan membawa mereka ke Italia. Leland tidak lagi duduk di samping Suri begitu tanda sabuk pengaman mati. Ia duduk di sofa panjang di belakang dan memenuhi meja dengan kertas sekarang—dan terus mendengar laporan.Kemungkinan dari Taylor—karena sekarang Taylor yang menjadi tangan kanan Leland mengurusi semua aset York. Perub

  • Mencuri Calon Suami Adikku   #303 Extra 39 - Alasan Yang Membuat Tidak Bisa Membenci

    “Grandad sudah dalam taraf meminta ayahku—ayah tiriku berpisah dari ibuku. Menawarkan wanita lain bahkan—sayangnya ayahku sangat tergila-gila pada ibuku. Yah… dia cantik. Kau sudah melihatnya.”Suri mengangguk dengan mudah. Meski hanya lukisan, Suri bisa melihat kecantikannya. “Aku yakin bukan hanya karena wajah saja.”Suri tidak ingin mendangkalkan perasaan mereka—rasanya seperti berbicara buruk tentang orang yang sudah meninggal.“Apapun itu… pada akhirnya tidak ada yang menang. Pilihan yang diambil ibuku buruk—aku tidak tahu…”Leland menyudahi, karena memang tidak tahu harus mencerna yang mana, ia terus mendongak, menatap langit musim gugur yang sama sekali tidak indah—abu-abu gelap.Suri hanya bisa menggenggam tangannya, karena tidak tahu juga harus menyelesaikan sakit hati Leland dengan cara apa. Ingin menyebut kalau semua itu sudah berlalu pun rasanya salah—karena dalamnya luka hati mereka berbeda.“Kau pasti menganggapku lemah—karena masih meributkan hal seperti ini.” Leland men

  • Mencuri Calon Suami Adikku   #302 Extra 38 - Tempat Yang Aku Tahu

    “Dimana?” Taylor menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya dengan pertanyaan—Silas yang menghubunginya.“Apa maksudmu dibuang?!” Suara Taylor meninggi, tentu menarik perhatian Suri yang sejak tadi menatap ke depan—berusaha mencari mobil Leland di antara ramainya lalu lintas.Suri ada di kursi depan, sedang Kaiden yang mengemudi. Kaiden mengambil alih tugas Taylor, karena merasa keadaan Taylor tidak amat stabil—Suri sangat setuju tentang ini.Diantara mereka semua—sekali lagi—hanya Kaiden yang sangat amat waras. Terkejut dalam batas wajar.“Apa yang dibuang?” tanya Suri, setelah Taylor menutup panggilan diiringi desahan berat.“Ponsel. Sir Leland tahu ponsel itu terhubung pada Silas.”“Leland!” Kaiden mengeluh dari balik kemudi, sedikit menginjak rem, karena tidak tahu akan kemana. Mereka sejak tadi mengikuti arahan Silas—yang sudah pasti tahu dimana Leland, tapi kini tidak ada yang tahu.“Dia baik-baik saja!” Suri terdengar seperti mengumpat, tapi itu harapannya. Berharap dengan tegas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status