LOGINLampu sorot arena yang tadinya berputar liar kini mengerucut, menyatu dalam satu berkas cahaya emas yang benderang tepat di tengah ring. Musik kemenangan beritme megah menggema dari pelantang suara raksasa, menggetarkan lantai semen dan dada setiap orang yang hadir. Di atas kanvas, sebuah podium portabel tiga tingkat telah digeser masuk oleh para petugas.Shaynala melangkah naik ke puncak podium tertinggi dengan langkah yang masih agak kaku menahan nyeri. Wajahnya tak baik-baik saja. Penuh dengan sisa-sisa pertempuran brutal.Pelipis kirinya dibalut plaster medis tebal, sudut bibirnya sedikit bengkak, dan hidungnya yang sempat berdarah kini telah dibersihkan, menyisakan rona merah yang kontras dengan senyum lebarnya. Jubah tandingnya yang basah oleh keringat berkilau di bawah siraman lampu teater.Gegap gempita di dalam gedung olahraga itu mencapai puncaknya saat Presiden Federasi Tinju Junior melangkah maju membawa nampan beludru merah. Ketika medali emas bermotif ukiran khas Thailan
William menganga tanpa sadar, lalu buru-buru mengucek matanya. Tak percaya.“Shaynala senyum padaku, kah?” gumamnya. Masih saja sangsi. Sejak tadi, ia yang tak percaya diri itu terus menerus mengira bahwa Shaynala akan ilfil melihatnya yang kuning, botak, buruk rupa itu.Dan itulah salah satu alasannya mengapa tadi ia buru-buru balik badan dan berniat kabur. Ia tak sanggup mendapat tatapan geli dan jijik dari Shaynala. Tak disangka, gadis itu malah memberikannya senyuman.Katakanlah ia kegeeran, kepedean. Tetapi ia yakin seratus persen jika senyum itu memang ditujukan khusus untuknya. Ya, untuknya seorang.Livia tak seramah itu pada sembarang orang. Tak mudah memberi senyum pada orang yang tak dikenalnya dengan baik.William perlahan tersenyum. Bahunya yang terkulai lesu mendadak terangkat kembali. Duduknya tegap, tak lagi gelisah.Senyum Shaynala bagaikan suntikan vitamin dan obat dari segala keresahannya sejak dari salon sialan itu.Pemuda itu kemudian melepas topinya, lalu mulai me
Dulu, William tak pernah absen menemani Shaynala berlatih tinju. Dia pun sering ikut ketika ada turnamen. Dan melihat ekpresi wajah Shaynala yang seperti sekarang, ia tahu. Gadis itu tak baik-baik saja. Shaynala kelelahan. Tak hanya fisik, tetapi juga mentalnya. Gadis itu tengah kewalahan.“Kamu pasti bisa, Nala,” ucap William. Pemuda itu merasa cemas hingga tanpa sadar malah membuka topinya. Tangannya sibuk meremas-remas topi dengan mata tak pernah berpaling dari gadis itu.“Ahh! Sial!” William seketika merunduk saat lampu sorot mengarah ke tribun. Pemuda itu lega karena rupanya ia masih terhalang oleh posisi seorang fotografer yang kini berdiri di depannya.Namun kemudian, baru saja ia menghela napas seraya melonggarkan resleting jaket yang ia tarik sampai dagu, lampu sorot malah menyasar area VIP. Tepat ke deretan kursinya. Kepalanya yang botak terasa mendadak seperti menyala, tersorot cahaya terang benderang.William terkesiap.“Mati aku!”Tak sampai di sana, fotograger yang sejak
William berdecak. Tiket yang dibeli olek neneknya rupanya tiket kelas VIP. Itu artinya, ia akan cukup dekat dengan ring. Itu artinya pula bahwa ia akan sangat mudah terlihat oleh Shaynala seandainya gadis itu cukup jeli memperhatikan sekitar.“Kalau tak botak dan tak sekuning kartun The Simpson mungkin aku akan senang. Tapi sekarang … arrghhh!” William menggeram kesal. Jengkel luar biasa. Hanya saja, mau marah pun percuma. Tak akan bisa mengubah apa pun.Dengan dada berdebar, William melangkah turun menyusuri tangga tribun, mendekati area ringside. “Mati aku!” gumamnya. Posisinya ternyata hanya berjarak beberapa meter dari tali ring, tepat di barisan kursi empuk terdepan. Di satu sisi, ia bisa melihat arena dengan sangat jelas. Di sisi lain, posisinya ini sangat rawan tersorot lampu.Dengan panik, William merapatkan topi beanie-nya hingga sebatas alis dan menaikkan kerah jaketnya setinggi mungkin, berdoa agar tidak ada satu pun kamera yang menyorot wajah "ayam ungkep kuning berjalan"-
Ling Ling dan kawan-kawannya benar-benar merasa bersalah pada William. Apalagi saat melihat pemuda itu akhirnya meminta dihabiskan semua sisa rambut yang ada di kepalanya.William memilih plontos dibanding harus menanggung rambut dengan model aneh. Paling tidak, rambutnya nanti akan tumbuh kembali.“Aiyaa, Willy. Seumur hidup nenek berdosa padamu.” Ling Ling meraih tangan William yang kuning sesaat setelah rambut cucunya itu dicukur habis.“Iya. Oma juga berdosa padamu. Oma kurang teliti.” Martha ikut mendekat dan meminta maaf.William menatap neneknya juga Martha dan teman-teman mereka yang turut mendekat dari pantulan cermin salon. Jujur, ia masih sangat jengkel. Hatinya sedih sekali dengan kondisinya sekarang, tetapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.Nasi telah jadi bubur. Semua telah terjadi. Tak ada yang bisa merubah apa pun. Tak peduli sekeras apa penyesalan atau menangis darah sekalipun.William menghela napas panjang dan berat, lalu mengangguk pelan.“Sudahlah. Ini bukan salah
“Aaaargghh!” “Aarrggghh!” “Wait! Wait! Arrgghhhh!” “Noooo! Aaarrgggh!”Ling Ling menengok ke arah ruang perawatan tubuh, begitu juga kawan-kawannya yang lain. Di luar jendela salon, suara klakson tuk-tuk dan hiruk-pikuk Jalan Sukhumvit terdengar bersahut-sahutan, tapi suara teriakan William dari dalam ruangan masih kalah nyaring. Pemuda itu berteriak seolah-olah sedang diinterogasi agen rahasia.“Itu si Willy gak apa-apa, kah?” tanya Donna, cemas.“Lagi diapain dia di dalam? Mana terapisnya dari tadi ngomong Khab-khab terus, jangan-jangan Willy di-SmackDown?” Ling Ling ikut bertanya-tanya, lehernya memanjang berusaha mengintip dari balik tirai sutra khas Thai.“Tenang saja, paling dia lagi dipijat dan dilulur,” jawab Martha menenangkan. “Ini salon tradisional paling populer di Bangkok. Semua lulur, spa, semua racikan sendiri dengan resep-resep kecantikan khas Kerajaan Thailand kuno. Lihat saja review di internet. Ratingnya bagus-bagus.”Para wanita menuju lansia yang sedang menikmati
“Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“
“Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m
Kalea menoleh pada Hamish. Tepat seperti yang diperkirakan pria itu, Kalea menatapnya dengan mata berkaca-kaca—hampir menangis.Hamish merundukkan kepala dan wajahnya hingga sejajar dengan gadis itu. Menunjuk ke tiga orang desainer yang sedang sibuk dengan komputernya masing-masing.“Kurang lebih,
Kalea mau tak mau datang mendekat. Kepalanya menunduk dengan jari jemari saling bertaut.“Angkat wajahmu!” perintah Hamish.Kalea mendongak, tetapi tak berani menatap mata pria itu. Apalagi dalam jarak sedekat itu.“Apa kamu selalu seperti itu jika sedang marah?” tanya Hamish.“Seperti apa?” tanya







