แชร์

Bab 139

ผู้เขียน: Naiynana
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-13 15:14:51

“Kamu yakin mau jodohin teman kamu sama Stephen?” tanya Hamish pada Kalea yang baru selesai menelepon Ginna.

Keduanya baru saja pulang dari makan bersama dengan Stephen.

“Kenapa tidak? Siapa tahu cocok. Dua-duanya orang yang saya sayangi. Dokter Stephen orang baik yang selama ini selalu telaten merawat saya saat saya sakit. Dan Ginna teman saya yang membuat masa-masa kuliah saya tak sepi. Dia selalu berada di sisi saya tak peduli seperti apa keadaan saya. Dan kebetulan dua orang ini sedang menc
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (10)
goodnovel comment avatar
Mira Kurnia
waduuuhhh semua orang kayanya setuju nich ko bisa pas sich yang seminar sama yang mau d jodohin sama lea dan padahal udah ketemu di perpus.........
goodnovel comment avatar
Asell asella
fix jodohnya ginna udah di depan mata hihihi
goodnovel comment avatar
Asmarani Noor
wah ada lampu hijau nih dari camer... makasih ka Naiy
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 307

    Lampu sorot arena yang tadinya berputar liar kini mengerucut, menyatu dalam satu berkas cahaya emas yang benderang tepat di tengah ring. Musik kemenangan beritme megah menggema dari pelantang suara raksasa, menggetarkan lantai semen dan dada setiap orang yang hadir. Di atas kanvas, sebuah podium portabel tiga tingkat telah digeser masuk oleh para petugas.Shaynala melangkah naik ke puncak podium tertinggi dengan langkah yang masih agak kaku menahan nyeri. Wajahnya tak baik-baik saja. Penuh dengan sisa-sisa pertempuran brutal.Pelipis kirinya dibalut plaster medis tebal, sudut bibirnya sedikit bengkak, dan hidungnya yang sempat berdarah kini telah dibersihkan, menyisakan rona merah yang kontras dengan senyum lebarnya. Jubah tandingnya yang basah oleh keringat berkilau di bawah siraman lampu teater.Gegap gempita di dalam gedung olahraga itu mencapai puncaknya saat Presiden Federasi Tinju Junior melangkah maju membawa nampan beludru merah. Ketika medali emas bermotif ukiran khas Thailan

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 306

    William menganga tanpa sadar, lalu buru-buru mengucek matanya. Tak percaya.“Shaynala senyum padaku, kah?” gumamnya. Masih saja sangsi. Sejak tadi, ia yang tak percaya diri itu terus menerus mengira bahwa Shaynala akan ilfil melihatnya yang kuning, botak, buruk rupa itu.Dan itulah salah satu alasannya mengapa tadi ia buru-buru balik badan dan berniat kabur. Ia tak sanggup mendapat tatapan geli dan jijik dari Shaynala. Tak disangka, gadis itu malah memberikannya senyuman.Katakanlah ia kegeeran, kepedean. Tetapi ia yakin seratus persen jika senyum itu memang ditujukan khusus untuknya. Ya, untuknya seorang.Livia tak seramah itu pada sembarang orang. Tak mudah memberi senyum pada orang yang tak dikenalnya dengan baik.William perlahan tersenyum. Bahunya yang terkulai lesu mendadak terangkat kembali. Duduknya tegap, tak lagi gelisah.Senyum Shaynala bagaikan suntikan vitamin dan obat dari segala keresahannya sejak dari salon sialan itu.Pemuda itu kemudian melepas topinya, lalu mulai me

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 305

    Dulu, William tak pernah absen menemani Shaynala berlatih tinju. Dia pun sering ikut ketika ada turnamen. Dan melihat ekpresi wajah Shaynala yang seperti sekarang, ia tahu. Gadis itu tak baik-baik saja. Shaynala kelelahan. Tak hanya fisik, tetapi juga mentalnya. Gadis itu tengah kewalahan.“Kamu pasti bisa, Nala,” ucap William. Pemuda itu merasa cemas hingga tanpa sadar malah membuka topinya. Tangannya sibuk meremas-remas topi dengan mata tak pernah berpaling dari gadis itu.“Ahh! Sial!” William seketika merunduk saat lampu sorot mengarah ke tribun. Pemuda itu lega karena rupanya ia masih terhalang oleh posisi seorang fotografer yang kini berdiri di depannya.Namun kemudian, baru saja ia menghela napas seraya melonggarkan resleting jaket yang ia tarik sampai dagu, lampu sorot malah menyasar area VIP. Tepat ke deretan kursinya. Kepalanya yang botak terasa mendadak seperti menyala, tersorot cahaya terang benderang.William terkesiap.“Mati aku!”Tak sampai di sana, fotograger yang sejak

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 304

    William berdecak. Tiket yang dibeli olek neneknya rupanya tiket kelas VIP. Itu artinya, ia akan cukup dekat dengan ring. Itu artinya pula bahwa ia akan sangat mudah terlihat oleh Shaynala seandainya gadis itu cukup jeli memperhatikan sekitar.“Kalau tak botak dan tak sekuning kartun The Simpson mungkin aku akan senang. Tapi sekarang … arrghhh!” William menggeram kesal. Jengkel luar biasa. Hanya saja, mau marah pun percuma. Tak akan bisa mengubah apa pun.Dengan dada berdebar, William melangkah turun menyusuri tangga tribun, mendekati area ringside. “Mati aku!” gumamnya. Posisinya ternyata hanya berjarak beberapa meter dari tali ring, tepat di barisan kursi empuk terdepan. Di satu sisi, ia bisa melihat arena dengan sangat jelas. Di sisi lain, posisinya ini sangat rawan tersorot lampu.Dengan panik, William merapatkan topi beanie-nya hingga sebatas alis dan menaikkan kerah jaketnya setinggi mungkin, berdoa agar tidak ada satu pun kamera yang menyorot wajah "ayam ungkep kuning berjalan"-

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 303

    Ling Ling dan kawan-kawannya benar-benar merasa bersalah pada William. Apalagi saat melihat pemuda itu akhirnya meminta dihabiskan semua sisa rambut yang ada di kepalanya.William memilih plontos dibanding harus menanggung rambut dengan model aneh. Paling tidak, rambutnya nanti akan tumbuh kembali.“Aiyaa, Willy. Seumur hidup nenek berdosa padamu.” Ling Ling meraih tangan William yang kuning sesaat setelah rambut cucunya itu dicukur habis.“Iya. Oma juga berdosa padamu. Oma kurang teliti.” Martha ikut mendekat dan meminta maaf.William menatap neneknya juga Martha dan teman-teman mereka yang turut mendekat dari pantulan cermin salon. Jujur, ia masih sangat jengkel. Hatinya sedih sekali dengan kondisinya sekarang, tetapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.Nasi telah jadi bubur. Semua telah terjadi. Tak ada yang bisa merubah apa pun. Tak peduli sekeras apa penyesalan atau menangis darah sekalipun.William menghela napas panjang dan berat, lalu mengangguk pelan.“Sudahlah. Ini bukan salah

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 302

    “Aaaargghh!” “Aarrggghh!” “Wait! Wait! Arrgghhhh!” “Noooo! Aaarrgggh!”Ling Ling menengok ke arah ruang perawatan tubuh, begitu juga kawan-kawannya yang lain. Di luar jendela salon, suara klakson tuk-tuk dan hiruk-pikuk Jalan Sukhumvit terdengar bersahut-sahutan, tapi suara teriakan William dari dalam ruangan masih kalah nyaring. Pemuda itu berteriak seolah-olah sedang diinterogasi agen rahasia.“Itu si Willy gak apa-apa, kah?” tanya Donna, cemas.“Lagi diapain dia di dalam? Mana terapisnya dari tadi ngomong Khab-khab terus, jangan-jangan Willy di-SmackDown?” Ling Ling ikut bertanya-tanya, lehernya memanjang berusaha mengintip dari balik tirai sutra khas Thai.“Tenang saja, paling dia lagi dipijat dan dilulur,” jawab Martha menenangkan. “Ini salon tradisional paling populer di Bangkok. Semua lulur, spa, semua racikan sendiri dengan resep-resep kecantikan khas Kerajaan Thailand kuno. Lihat saja review di internet. Ratingnya bagus-bagus.”Para wanita menuju lansia yang sedang menikmati

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 230

    “Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-05
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 220

    Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memot

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 210

    Hamish belum berhenti tertawa melihat tampang cemberut Stephen. Hari ini pria itu berkunjung ke kantor Stephen untuk berkonsultasi.Malam itu, ia menelepon Stephen tetapi tak diangkat dan berikutnya ia sendiri yang mengabaikan telepon dari Stephen, lalu berakhir lupa untuk berkomunikasi.Sekarang,

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 211

    “Bukankah kamu masih cuti?” tanya Ginna. Memandangi Stephen yang grasak-grusuk berganti pakaian.“Iya, Sayang. Aku masih cuti. Tapi ada panggilan darurat. Aku harus operasi satu jam lagi. Ini permintaan khusus dari pasien VVIP. Dia pasienku langsung. Tak bisa aku delegasikan. Kondisinya sudah gawat

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status