LOGINShaynala pulang dengan hati ringan. Semangat hidupnya sudah kembali. Dadanya telah kembali penuh. Berbaikan dengan ayahnya benar-benar memberi dampak luar biasa.Sepanjang perjalanan gadis itu tak henti tersenyum dan bersenandung. Di sisinya, Hamish tak kalah cerianya. Ia mengemudi dengan perasaan sangat lega serta bahagia.“Mami pergi sama ibunya Arsen juga Mama Ginna,” ucap Hamish setelah membaca sebuah pesan di ponselnya.“Berangkat sama-sama dengan Oma Ling Ling dan kawan-kawannya.”“Pergi kemana?” tanya Shaynala. “Kenapa rombongan?”“Ke pemakamannya Gwen,” jawab Hamish.“Gwen? Gwen yang itu?”Hamish mengangguk.“Papi ga ke pemakamannya juga?”“Enggak.”“Kenapa enggak?”“Kamu nyuruh papi pergi kesana?” tanya Hamish dan Shaynala buru-buru menggeleng.“Papi di rumah aja sama aku.”“Baiklah.” Hamish tersenyum.Sesampainya di rumah, Shaynala terkejut karena ternyata masih ada William dan Arsen juga adiknya. Mereka tengah asyik makan camilan di ruang tengah. ShaynaIa kira, mereka sudah
Di sudut restoran Jepang favorit Shaynala, Hamish berbicara dengan penuh kehati-hatian. Beberapa kali ia menjeda kisahnya karena harus memilih diksi dan kalimat-kalimat yang sekiranya aman dan dapat dipahami dengan mudah oleh anak remaja tiga belas tahun.Ia juga harus berpikir untuk merangkai alur agar cerita yang dibawakannya tak terlalu gelap dan berat untuk anak seusia Shaynala. Dan mau tak mau, anggota keluarga lain yang selama ini dianggap sempurna oleh gadis itu harus terseret, tercungkil borok-boroknya.Hamish tak bisa menghilangkan semua fakta itu karena jika membahas kehadiran Gwen, maka tak akan terlepas dari keterkaitan akan kisah kelam antara ia, ayahnya, neneknya, dan tentu saja … ibu dari kakak angkat Shaynala sendiri yakni mendiang Marissa.“Tunggu! Papi? Maksudnya, Papi pernah berpacaran dengan mami kandungnya Kak Eldan?” tanya Shaynala dengan wajah syok.Hamish mengangguk. Memang pahit, tapi pada akhirnya ia ungkapkan dari pada di kemudian hari tiba-tiba Shaynala dap
Hamish keluar dari kamar dalam keadaan segar, bugar, dan tentu saja bahagia. Segala resah, letih, dan amarahanya lenyap tak bersisa.Sementara di dalam kamar, Kalea meringkuk. Tertidur lelap, lelah. Sungguh sebuah keadaan yang kontradiktif.“May,” panggil Hamish. Melihat asisten rumah tangganya yang sedang membersihkan perabot.“Ya, Tuan.”“Anak-anak belum bangun?”“Belum, Tuan. Eh, salah. Maksudnya belum semuanya, Tuan. Teman-temannya Nala belum bangun, EL juga belum. Tapi Nala sudah. Tadi saya lihat lagi di kebun belakang, kasih makan kelincinya.”Hamish mengangguk, lalu bergegas mencari putrinya.Dan benar, Shaynala sedang berjongkok di bawah pohon tanjung yang sedang berbunga banyak. Wangi bunganya semerbak, sudah tercium bahkan dari beberapa meter.Di bawah pohon sana, Shaynala tak sendirian. Gadis itu ditemani dua ekor kelinci abu-abu besar yang sudah dirawat dari dua tahun lalu. Ia terlihat asyik memberikan sayuran pada dua kelincinya itu.Hamish tersenyum. Akhirnya, ia bisa ke
Hamish bersandar di bathtub dan ia biarkan Kalea memijit kepala serta pundaknya. Ah, rasanya segala pusing dan kepenatan sirna sudah. Jika telah seperti ini, ia merasa dunia dan seisinya ada dalam genggamannya.Tak ada yang lebih membahagiakannya selain bisa selalu pulang ke rumah yang di dalamnya ada istri dan anak-anak yang dicintainya. Pulang dengan sambutan penuh cinta dan kasih.“Aku pria paling beruntung di dunia,” ucap Hamish dengan mata terpejam. Merasakan nikmatnya sentuhan tangan Kalea.“Beruntung?” tanya Kalea.“Hmm. Aku punya kamu. Punya Nala. Punya ELvano. Hidupku lengkap. Sempurna. Penuh.”Kalea tersenyum, lalu mengecup pucuk kepala Hamish.“Aku masih merasa bahwa ini mimpi karena semuanya terlalu indah. Aku tiga puluh tahun lalu sepertinya tak pernah sedikit pun terbayang akan menjalani hidup sesempurna ini. Punya istri, punya anak-anak. Punya keluarga sendiri. Bagiku, ini kehidupan yang sangat mewah. Apalagi untukku yang seorang pendosa ini.”“Semua orang pernah menjad
Semua orang kini memenuhi kantor polisi setempat. Ling Ling dan kawan-kawan dimintai keterangan perihal kematian Gwen.Baik Ling Ling ataupun yang lain tak ada yang bisa berkata-kata terlalu banyak. Semuanya syok. Tak mengira jika Gwen akan mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara mengerikan pula.Mereka juga tak ada yang nafsu makan karena melihat langsung dengan mata kepala sendiri bagaimana akhir hidup Gwen. Semua terbayang-bayang. Baik ketika Gwen yang berlari-lari sambil meminta tolong tanpa henti seperti dikejar sesuatu, lalu ketika Gwen berteriak-teriak di tengah jalan tol sebelum akhirnya tubuhnya berkeping-keping.Martha bahkan saat ini dilarikan ke rumah sakit gara-gara terus menerus pingsan saking terguncangnya melihat pemandangan semengerikan itu. Apalagi sebelumnya mereka sempat berinteraksi dekat. Semua seperti mimpi buruk.Stephen menjadi yang paling sibuk. Mondar-mandir memeriksa kondisi orang tuanya juga kawan-kawan yang lain. Memastikan agar mereka tetap fit dan kuat
Hamish menemukan Arsen dan Nathan tengah duduk-duduk di bangku di tepi jalan yang sepi. Nathan menangis tersedu-sedu dengan Arsen yang merangkul bahunya.Pria itu langsung turun dan menghampiri keduanya. Menatap kakak beradik itu berganti-gantian.“Ya Tuhan,” ucap Hamish. Berkacak pinggang sambil berdecak. Iba. Melihat anak-anak harus terlantar di tepi jalan malam buta. Padahal keduanya masih punya orang tua lengkap.“Om,” sapa Arsen, lalu menyikut adiknya agar ikut menyapa.“Kalian tak apa?” tanya Hamish.Arsen pun menggeleng. Sementara Nathan masih sesenggukan.Anak itu masih ketakutan. Selain itu, dia sangat sedih karena harus terdampar di jalanan padahal matanya sangat ngantuk.“Masuklah ke mobil. Pulang ke rumahku,” ucap Hamish.Arsen mengangguk, lalu mengajak Nathan untuk mengikuti Hamish.“Sementara, tinggallah di rumahku. Nanti akan kuminta orang tuamu datang menjemput,” sambung Hamish.Arsen mengangguk dan berterima kasih.“Apa orang tuamu masih tak bisa dihubungi sama sekali?
“Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m
Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memot
Hamish belum berhenti tertawa melihat tampang cemberut Stephen. Hari ini pria itu berkunjung ke kantor Stephen untuk berkonsultasi.Malam itu, ia menelepon Stephen tetapi tak diangkat dan berikutnya ia sendiri yang mengabaikan telepon dari Stephen, lalu berakhir lupa untuk berkomunikasi.Sekarang,
“Bukankah kamu masih cuti?” tanya Ginna. Memandangi Stephen yang grasak-grusuk berganti pakaian.“Iya, Sayang. Aku masih cuti. Tapi ada panggilan darurat. Aku harus operasi satu jam lagi. Ini permintaan khusus dari pasien VVIP. Dia pasienku langsung. Tak bisa aku delegasikan. Kondisinya sudah gawat







