LOGINJordi berlari. Menyusul Hamish yang sedang berada di tengah lapangan golf bersama kolega-koleganya. Tak peduli meski ia mendapat tatapan mencela dari beberapa orang karena menyela di tengah-tengah obrolan penting.“Ada apa?” Hamish mengerutkan dahi. Perasaannya langsung tak enak hanya dengan melihat ekspresi wajah asisten pribadinya itu.Ia sudah sangat mengenal Jordi. Kabar yang dibawa pastilah berita buruk.“Maaf, Pak. Saya menyela sebentar. Ada hal urgent.” Jordi segera mendekat dan membisiki Hamish.“APAAA?” Hamish berteriak sangat lantang membuat orang-orang di sekelilingnya terlonjak kaget.“Saya sudah melacak ponsel Nala. Lokasi sudah ditemukan,” ucap Jordi lagi.“Siapkan mobil! Lapor polisi. Hubungi Stephen!” Hamish langsung memberikan stick golfnya pada seorang caddy.Ia hendak pergi begitu saja, lalu berputar lagi untuk menyampaikan permintaan maaf. Ia terangkan secara singkat keadaan putrinya pada para kolega.Setelahnya, ia berlari-lari menuju golf cart dengan jantung yang
Shaynala gemetaran dan meletakkan kepala pria itu ke lantai van agar tak menimbulkan suara gedebuk keras.Ia semprot lagi sapu tangan itu, lalu berjongkok, mengendap mendekati bangku sopir. Jantungnya serasa hendak meledak saking berdebarnya. Takut jika si pengemudi van yang sedang asyik bertelepon ria dengan kekasihnya itu menengok atau pun melirik spion tengah.Andai sopir itu melakukannya, maka barang tentu dalam sedetik aksinya akan diketahui.Shaynala mulai mengangkat tubuhnya persis di belakang bangku pengemudi. Tangannya bergetar saat pelan-pelan tanpa suara mulai mengangkat.Gadis itu tengah berkuda-kuda sambil menghitung momentum. Ia tak boleh meleset. Tangannya harus tepat membekap ke bagian hidung dan mulut.“Arrhh! Siaaal!” Shaynala menggeram dalam hati. Ia langsung merunduk. Kepala si sopir tak bisa diam. Pria itu tengah tertawa senang mendengar ocehan lawan bicaranya.Shaynala kembali mengumpat kala melihat dua orang di luar sana yang sedang memeriksa sekitar sudah mulai
“Aaargghhh!” Arsen berteriak, tetapi teriakannya dengan cepat teredam oleh bekapan tangan pria bermasker. Dan tak sampai beberapa detik, kepala Arsen terkulai begitu saja.“Hah! Arsen? Hey! Siapa kamu? Lepasin dia!” William yang berjalan di depan Arsen yang pertama tersadar. Ia menoleh dan terkejut bukan main.Shaynala yang sedang terburu-buru ikut menoleh dan langsung berteriak. Namun, tak disangka, teriakan mereka malah membuat dua orang lain di dalam mobil berlompatan. Dua orang pria yang tak kalah tinggi besar, sama-sama bermasker, dan mereka langsung membekuk William juga.Shaynala sempat melawan, tetapi karena konsentrasinya terpecah gara-gara melihat William yang juga ikut terkulai seperti Arsen, dengan mudah gadis itu pun diseret ke dalam mobil van tersebut.“Lepasss!” Shaynala mencoba berontak, tetapi salah seorang dari mereka membekapnya dengan sebuah kain kecil yang rupanya terselip di telapak tangan.Shaynala merasa pusing dan dalam sekejap semuanya menjadi gelap. Meski be
“Arsen.” Kalea memanggil Arsen. Anak itu telah kembali dari ruang olahraga. Menjadi yang pertama, baru setelahnya William dan Shaynala menyusul.“Tadi, mama tirimu menelepon. Maaf tante lancang mengangkatnya karena tante kira bisa membuat mama tirimu tenang.”Arsen tertegun. Dia menatap ponsel yang disodorkan oleh Kalea.“Tak apa, Tante. Tak diangkat pun sebenarnya tak apa-apa. Tak akan ada bedanya. Kalau suasana hatinya buruk, dia tetap akan mengadu pada papaku. Mau aku berbuat baik atau buruk. Kecuali kalau dia sedang senang. Dia tak akan peduli. Dia hanya peduli padaku kalau sedang menjalankan perintah dari papaku untuk mengurusku. Adikku bahkan tak pernah diurusnya. Sehari-hari hanya sama pangasuh.” Arsen terlihat tak begitu peduli. Remaja jangkung dengan kaus penuh keringat itu kemudian asyik minum dan makan. Dia kelaparan setelah ditempa latihan fisik oleh Hamish.“Apa mama tirimu sebegitu mengerikannya?” tanya William seraya melepas kausnya yang tak kalah basah oleh keringat. S
“APAAAAA?” William langsung melompat dari duduknya.“Nala? Serius? Kamu mau bawa si biang kerok itu ke rumahmu? Kamu mau ngajarin dia tinju?”“Bukan aku yang ajarin. Tapi Papi,” jawab Shaynala.Wiliiam memegangi kepalanya dengan dua tangan. Tak sudi, tak rela, musuh bebuyutannya ujug-ujug masuk ke circle kehidupannya.“Anggap aja kita lagi berbuat amal, Will.”“Tapi … arrrghhh!”Dan tak hanya William yang syok, Kalea pun memberi respon serupa saat Hamish memberitahu perihal Arsen.“Aku tahu rasanya. Aku pernah jadi korban kekerasan ayahku. Dan kamu pasti yang lebih paham, Lea,” ucap Hamish lembut.Kalea terdiam dan tanpa sadar memeluk perutnya. Ada luka abadi yang ditinggalkan ayahnya di sana.“Kita memang tak seharusnya ikut campur. Tapi dia datang pada anak kita. Meminta tolong,” sambung Hamish.“Tapi bagaimana kalau misal dia sudah menguasai bela diri dia malah memanfaatkannya untuk kejahatan?” tanya Kalea. Jujur saja, dia meragukan Arsen.“Itu di luar wewenang kita, Sayang. Tapi s
Sudah dua hari ini Arsen selalu diam. Menyendiri.Jika biasanya ia selalu cari perhatian pada shaynala atau juga selalu heboh dengan Kawan-kawan barunya, kali ini remaja itu seperti Tengah membuat dirinya sendiri tak terlihat.Hari-hari hanya dihabiskan seperti orang linglung. Kepalanya pun tak pernah lepas dari topi.Beberapa teman sudah berusaha mendekati, tetapi Arsen selalu menghindar. Seakan-akan tak ingin diganggu siapa pun.Hingga kemudian di suatu sore di klub tinju, di saat Shaynala sedang membalut tangannya dengan handwrap untuk melindungi buku-buku jarinya, Arsen datang dengan dua sarung tinju tersampir di lehernya.“Nala!” panggilnya.Shaynala mendongak dengan dahi mengernyit.“Apa?”“Kamu tahu kan, aku sudah pindah klub. Aku pindah kesini.”Shaynala menatap Arsen, lalu mengedarkan pandangan ke seisi ruangan latihan yang masih sepi. Hanya ada dirinya dan Arsen di sana.“Aku juniormu di sini.”Shaynala menatap Arsen sejenak, lalu melanjutkan memasang hadwrap di tangannya. T
“Bobby?” Kalea terkejut melihat kemunculan Bobby. Dan ia senang karena melihat pemuda itu tersenyum ramah padanya. Tandanya, insiden pesan balasan Hamish sudah benar-benar termaafkan.Di sisi Kalea, Hamish berdecak. Menatap malas Bobby yang hari ini diakuinya tampil lebih rapi. Pemuda itu memakai s
Kalea menangis saking leganya. Ia berhasil mengirimkan karyanya di detik-detik terakhir.Setelah ketiduran semalam di gudang, ia melanjutkan menggambar di pagi buta dan baru rampung pada pukul sembilan.Masalah berikutnya muncul: pengiriman karya. Kalea tak punya gawai, sedangkan ponsel May dan Dia
“Pergi bersenang-senang saja sendiri! Aku tak mau! Tak perlu menjemputku! Aku akan pergi dengan Tuan Hamish. Dan jangan pernah menghubungiku lagi!”Kalea membaca pesan yang dikirim Hamish dari ponselnya dengan ngeri. “Apa Tuan sudah tak waras?” desisnya.Pesan balasan dari Bobby yang penuh kebingun
Kalea menoleh pada Hamish. Tepat seperti yang diperkirakan pria itu, Kalea menatapnya dengan mata berkaca-kaca—hampir menangis.Hamish merundukkan kepala dan wajahnya hingga sejajar dengan gadis itu. Menunjuk ke tiga orang desainer yang sedang sibuk dengan komputernya masing-masing.“Kurang lebih,







