تسجيل الدخولShaynala berjalan gontai dengan lima buku tebal berisi latihan-latihan soal di tangannya. Kepalanya serasa hendak pecah. Ia sudah lelah berlatih keras untuk kejuaraan boxing internasional yang akan diikutinya pekan depan dan sekarang tengah pusing-pusingnya belajar untuk persiapan ujian masuk universitas.Lorong sekolah tengah ramai. Anak-anak di angkatannya sedang sibuk-sibuknya membahas universitas-universitas yang akan menjadi tujuan mereka. Tak sedikit dari mereka yang bahkan sudah stress gara-gara ujian sekolah juga ujian seleksi perguruan tinggi. Ya, tak jauh beda keadaannya dengan Shaynala saat ini.Shaynala menghela napas. Melirik jam tangan sporty-nya, lalu mempercepat langkahnya. Pulang dari sekolah, ia masih harus mampir ke sasana. Ia hendak mengambil baju-baju kotor bekas latihan tinjunya yang tertinggal di loker kemarin.“Nala! Nala!” Hanny, Seorang gadis berkacamata tebal mengejar Shaynala. Di tangannya, berkibar beberapa lembar flyer universitas negeri. Gadis itu kawan
Shaynala melilit handwraps di tangan sebelum nanti dibungkus sarung tinju. Gadis itu tengah berlatih mati-matian untuk mengikuti kejuaraan boxing internasional U 18. Dan dengan sangat berat hati, kejuaraan kali ini adalah kejuaraan terakhir yang akan diikutinya.Shaynala akan mengakhiri kariernya sebagai atlet boxing setelah menjalaninya dari sejak ia duduk di bangku SD.Gadis itu kemudian mengikat rambutnya yang sudah panjang hingga punggung. Kepalanya menoleh, menatap Hamish yang berdiri bersedekap, mengawasi dari ambang pintu sasana.Hamish balas menatap Shaynala. Pria itu tersenyum, lalu mengacungkan jempol. Memberi semangat berlatih pada putrinya yang kini sudah berusia tujuh belas tahun.Tak terasa, waktu berputar begitu cepat. Gadis itu kini sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik. Wajahnya mirip dengan Hamish, tetapi proporsi badannya menjiplak tubuh Kalea.Dan semakin besar Shaynala, semakin sibuk Hamish mengantar putrinya itu kemana-mana. Sadar bahwa putrinya semakin banyak
“Pa.”Setelah sekian lama bungkam, William akhirnya membuka mulut. Menatap Stephen dengan takut-takut.Remaja dengan jeans gombrong dan atasan hoodie hitam pemberian Shaynala di ulang tahunnya ke tiga belas kemarin itu kemudian memandang suasana di sekitar bandara.Hatinya sangat berharap kalau di antara ramainya orang-orang, ada sosok manusia favoritnya di sana. Namun, sekeras apa pun usahanya mencari, keberadaan Shaynala memang tak pernah ada.“Kenapa?” tanya William seraya mendorong troli berisi barang-barangnya.“Kalau misal aku gak betah di Jepang gimana? Kalau misal aku gagal gimana?” William berbisik begitu pelan. Takut kalau ayahnya akan marah.“Kamu bicara seperti ini karena Shaynala, kan?” Stephen balik bertanya. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap serius pada William.“Kamu menyesali keputusanmu pergi ke Jepang?” tanyanya. Tegas, tetapi tetap lembut.Di belakang, Ginna juga Ling Ling dan adik-adik William yang hendak mengantar langsung memisahkan diri. Ta
“Hari ini Willy berangkat. Apa kamu tak mau ke bandara, Nala?” Hamish mendekati Shaynala. Sejak pulang bersepeda, gadis remaja itu malah duduk melamun di teras. Tatapannya kosong seakan-akan jiwanya sedang tak ada di sana.“Ini perpisahan kalian yang pertama. Dan ini sangat jauh, kan? Juga lama. Apa kamu gak mau say goodbye? Willy pasti pulang, tapi kan gak bakal sesering itu. Kamu gak mau melihatnya? Siapa tahu nanti rindu.” Hamish masih terus berusaha bicara meski putrinya lagi-lagi tetap menutup mulut.“Kalau mau, ayo. Papi anter, yuk. Kalau pergi sekarang kita masih bisa keburu. Willy akan terkejar. Dia baru berangkat beberapa menit lalu.” Hamish masih terus berusaha membujuk. Berharap Shaynala berubah pikiran di detik-detik terakhir.Shaynala menggeleng pelan, lalu bangkit perlahan. Gadis itu seperti kehilangan semangat hidupnya. Berjalan menyeret langkah menuju ke kamarnya.Hamish menghela napas panjang melihat kelakuan putrinya. Buru-buru, ia pun menghubungi Stephen. Mengabarka
Sejak hari itu, hubungan William dan Shaynala benar-benar merenggang. Kebersamaan yang terjalin sejak bayi pupus begitu saja.Keduanya tak pernah berjalan bersama-sama lagi, tak pernah saling memberi kabar lagi, tak pernah saling bicara, bahkan saling sapa pun tidak. Di sekolah, keduanya benar-benar seperti orang yang tak saling kenal satu sama lain.Jika berpapasan, maka keduanya lebih memilih saling menghindar. Dan jika sudah terlanjur, maka keheningan saja yang akan menjadi ruang untuk mereka.Keretakkan persahabatan yang dulu begitu lengket tak terpisahkan itu pun mau tak mau mengundang tanda tanya besar semua orang. Keduanya menjadi bahan pembicaraan seisi sekolah bahkan di kalangan para guru. Beberapa bahkan begitu mencemaskan kondisi keduanya.Hari-hari William yang sudah semakin dekat dengan hari keberangkatannya ke Jepang terus diisi dengan belajar, belajar, dan belajar. Setiap waktunya hanya tentang buku, pelajaran, dan perpustakaan.William mengerahkan seluruh energinya unt
BUG!Satu tinju keras mendarat di samsak hingga samsak itu berayun dan bergetar. Keringat mengucur di pelipis Shaynala. Napasnya sudah pendek-pendek dengan kulit wajah yang memerah.“Nala! Istirahat dulu!” seru Johan, pelatih klub tinju Shaynala, dari luar pinggir arena. Pria itu melirik jam tangan, anak didiknya itu sudah berlatih melewati batas waktu normal.Akan tetapi, Shaynala seperti tak mendengar. Gadis itu masih melanjutkan latihannya. Memukul dan memukul lagi samsak hingga melesak.Teman-teman satu klub Shaynala mulai menoleh. Memperhatikan gadis itu yang masih begitu penuh tenaga. Padahal, semua orang dari tadi sudah selonjoran beristirahat.BUGG!BUGG!Pukulan Shaynala semakin kuat. Pikirannya kembali terpusat pada William. Ia masih saja kesal dan belum mau memaafkan kawannya itu.BUGG!“Kamu mau tanganmu remuk, Nala? Mau pingsan, hah?” Johan berteriak keras setengah membentak. Dan barulah Shaynala menurunkan dua tinjunya.“Ada apa?” Johan mendekat, lalu melempar handuk pad
Pernikahan Ginna dan Stephen berlangsung begitu meriah. Sebuah ballroom hotel bintang lima yang disulap tema glamorous. Semua tentang kemewahan, keanggunan, dan eksklusif dengan dominasi warna-warna bold.Ling Ling tak henti menangis karena tak menyangka jika putranya akhirnya bisa kembali menikah.
Kalea mengantar Ginna untuk fitting baju pengantin ke Lunare dan setelahnya, mereka pergi untuk berjalan-jalan keliling mall.Hamish senang mendengarnya karena ini adalah kali pertama sang istri mau pergi bersosialisasi ke dunia luar sejak dari rumah sakit. Berharap, Kalea semakin membaik setiap ha
“Dokter sudah meresepkan bermacam-macam buat booster berat badan Eldan. Susu juga yang sekaleng kecilnya hampir setengah gaji saya. Tapi tubuh Eldan tetep saja kecil. Tetep rewel.” Suster bernama Nina itu menjelaskan.“Ini kalau di kampung saya pasti sudah dibully,” sahut Diana. “Pasti ibunya disan
Ginna berdiri di depan pintu rumah Kalea. Gadis itu ingin menjenguk sekaligus memberikan kabar bahagia. Ia datang diantar oleh Ling Ling.Dan saat bertemu, Kalea serta Ginna langsung berpelukan. Keduanya menangis. Lama.“Maaf aku baru datang, Lea. Aku kemarin ingin datang menjengukmu. Tapi Stephen







