LOGINHamish sudah menunggu di lobi. Mondar-mandir sambil sesekali mengecek arloji. Pria itu menunggu William yang membawa Shaynala jalan-jalan. Matahari sudah tenggelam dan ia mulai gelisah karena kedua remaja itu tak kunjung kembali.Gara-gara inisden malam-malam itu, Hamish jadi mudah cemas. Takut hal serupa terjadi lagi apalagi saat ini Shaynala dalam kondisi terkilir. Kakinya pincang tak bisa berjalan dengan benar untuk sementara waktu.“Ya Tuhan! Duduk saja! Aku pusing melihatmu bolak-balik seperti itu!” Stephen menegur.Pria berkacamata itu juga ada di sana. Duduk santai di salah satu sofa empuk sambil memeriksa laporan tentang pasien yang dikirim ke nomornya.“Bagaimana aku bisa tenang! Anakmu dua kali membawa Nala! Tak munggu izinku turun! Bagaimana kalau ada apa-apa?” Hamish langsung sewot.“Oh my god! Mereka baru mengabari kita lima menit yang lalu! Lima menit laluuuuu! Mereka bilang sudah di perjalanan pulang! Astaga! Sabar sedikit!” Stephen berdecak.“Lagipula dia sama William.
Waktu terasa lambat sekali berjalan. Hamish dan Arsen tak kunjung kembali, Stephen entah sampai kapan di restoran, begitu juga para nenek yang sepertinya mendadak amnesia kalau di kamar itu ada Nala dan William yang tak bisa kemana-mana.Sementara William dan Shaynala, keduanya malah terjebak dalam suasana canggung yang aneh.Sejak saling setuju untuk ide yang diajukan Ling Ling, dua remaja itu malah berubah menjadi malu-malu. Mendadak bingung harus mengobrol apa seakan-akan semua topik yang ada di dunia tak lagi menarik untuk dibahas. Bahkan untuk mengobrol hal-hal ringan pun lidah mereka teras kelu.“Aku bosan!” keluh Shaynala setelah sekian lama waktu mereka dihabiskan hanya untuk membuka ponsel masing-masing.“Aku juga,” balas William. Pemuda itu melempar ponselnya ke sofa.“Jalan-jalan mau gak?” cetus William, menoleh menatap Shaynala.“Bagaimana caranya jalan-jalan dengan kaki pincangku?” Shaynala menunjuk kakinya yang bengkak dengan dagu.“Dengan kakiku,” jawab William yakin.“
Shaynala dan William melongo kala kerumunan nenek-nenek itu perlahan pergi satu per satu. Ruangan seketika lengang. Bebas dari kebisingan. Mereka berdalih hendak buka kamar lagi, lalu beristirahat sejenak. Merebahkan tubuh-tubuh jompo mereka yang kelelahan akibat perjalanan Pattaya-Bangkok yang ditempuh dengan grasak-grusuk saking cemasnya pada William.Tak berapa lama, Stephen pun bangkit sambil memegangi perutnya. Mukanya meringis-ringis.“Papa mau kemana?” tanya William.“Mau nyari makan. Lapar. Papa abis operasi cito sampai sepuluh jam. Operasi yang rumit dan sampe sekarang papa belum makan. Gara-gara kamu!” jawab Stephen.“Papa mau cari makan kemana?” tanya William lagi.“Ya, sekitaran sini. Mungkin di resto hotel.”“Lalu aku?”“Maksudnya? Kamu lapar juga?”“Bukan, aku … ummm ….” William menengok ke arah Shaynala yang tengah duduk selonjoran di sofa. Meluruskan kakinya yang masih sakit gara-gara terkilir.“Aku sama Nala ….” Ucap William mengambang.“Oh, ya sudah kalian di sini. Ka
"Tunangan apa! Tidak ada tunangan-tunangan! Mereka ini masih kecil, masih harus kuliah, berkarier, masa depan masih panjang!" Hamish langsung memotong heboh dengan suara baritonnya yang menggelegar, tangannya bergerak cepat menyilangkan dada membentuk tanda silang besar.Ling Ling berdecak, melambaikan tangan sutranya dengan malas. "Aiyaa, Hamish, zaman sekarang apa-apa harus cepat diikat. Toh, cuma tunangan dulu, kawinnya bisa nanti kalau Willy sudah lulus jadi dokter!""Tetap tidak bisa, Tante! Nala masih harus menghadapi ujian masuk universitas dan banyak lagi. Urusan cinta-cintaan begini bisa bikin fokusnya buyar," omel Hamish lagi, bersikeras menegakkan wibawanya sebagai kepala keluarga yang protektif.Di tengah perdebatan sengit dan penuh tawa antara Stephen, Ling Ling, dan Hamish yang berusaha mempertahankan bentengnya, suasana kamar hotel itu menjadi begitu ramai. William dan Shaynala sesekali bertukar pandang di sela-sela obrolan, saling melempar senyum canggung namun sarat
Hamish kembali ke kamar untuk beristirahat dengan dua pemuda bersamanya. Dan dua pemuda itu kini menampilkan raut wajah yang bertolak belakang. Arsen yang murung sendu sedang William yang bercahaya berseri-seri. Luka-luka di wajahnya yang kuning tak mampu menutupi aura bahagia pemuda berkacamata itu.Dan perbedaan air muka keduanya tentu saja disadari Hamish. Meski pria itu terlihat cuek dan menyebalkan, tetapi diam-diam mengamati. Ia memperhatikan semuanya. “Kalian tidurlah. Jangan bicara apa pun lagi. Langsung tidur!” Hamish langsung memberi perintah untuk meminimalisir segala gesekan yang bisa saja terjadi antara kedua pemuda tersebut.“Kalian tidur di ranjang. Biar aku yang tidur di ekstra bed,” ujar Hamish.William dan Arsen menurut. Keduanya segera mencuci kaki dan tangan, lalu naik ke tempat tidur. Tanpa dikomando, dua-duanya spontan saling memunggungi.Hamish pura-pura bermain ponsel, padahal matanya masih sibuk mengawasi keduanya. Tampak bahwa dua pemuda itu mengalami hal y
Shaynala terdiam. Jawaban William membuat tubuhnya terasa membeku. Ia pun tak tahu harus memberi respon apa. Senangkah? Bingungkah? Yang pasti, ia tak bisa untuk tak biasa-biasa saja.Gadis itu menyadari, ada yang meletup perlahan dalam dadanya. Ada yang bersorai pelan di sudut hatinya. Ia … bahagia.“Seharusnya, pertanyaan tadi itu untukmu, Nala,” ucap William kemudian.“Maksudnya?” tanya Shaynala.“Empat tahun ini … selama ini. Apa kamu masih marah padaku? Apa kamu masih kecewa padaku, Nala?” William bertanya dengan perasaan was-was. Sepanjang empat tahun ini, ia selalu ingin tahu. Selalu bertanya-tanya apakah gadis itu masih menyimpan amarah dan kekecewaan padanya? Sebab selama ini, Shaynala benar-benar menutup segala akses bahkan sampai ke celah terkecil pun.William benar-benar tak diberi kesempatan untuk menyambung komunikasi. Ia selalu mencari tahu dari ayah dan ibunya tentang segala hal yang terjadi pada Shaynala.“Aku tak pernah membencimu, Will,” ucap Shaynala. “Aku memang m
“Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“
“Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m
Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memot
Hamish belum berhenti tertawa melihat tampang cemberut Stephen. Hari ini pria itu berkunjung ke kantor Stephen untuk berkonsultasi.Malam itu, ia menelepon Stephen tetapi tak diangkat dan berikutnya ia sendiri yang mengabaikan telepon dari Stephen, lalu berakhir lupa untuk berkomunikasi.Sekarang,







