LOGIN“Apa? Tuan Hamish?” Kalea yang sudah merasa lebih bugar di pagi hari terkejut mendengar cerita Diana.
“Mbak Di… apa aku akan disuruh pulang?” tanyanya cemas. Hari pertama di rumah itu saja ia sudah membuat kegaduhan. Dari cerita Diana, ia menangkap kesan bahwa Hamish marah karena dirinya merepotkan banyak orang.
“Sudah, jangan dipikirkan dulu. Sekarang lebih baik kamu makan yang banyak lalu minum obat. Siang nanti kamu akan dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan. Sopir akan mengantarmu, dan kamu tinggal mencari Dokter Stephen di sana.” Diana menepuk bahu Kalea sebelum kembali bekerja.
Kalea pun makan dengan lahap meski kepalanya masih pusing, tubuh lemas, dan lidah terasa pahit. Ia berjanji akan segera sehat agar dapat bekerja dengan baik. Jangan sampai ia dipulangkan kepada ayahnya hanya karena sakit.
Selesai makan dan minum obat, Kalea menuju ruang makan utama. Sesuai arahan Diana, ia mulai mengerjakan tugasnya: menata meja makan untuk sarapan Tuan Hamish. Jus, air mineral, dan sumber protein harus sudah tersedia saat jam delapan.
“Kamu kuat, Kal?” tanya Diana ketika Kalea datang ke dapur mengambil jus dan makanan.
“Kuat, Mbak. Jangan cemas,” jawab Kalea sambil tersenyum.
Diana yang sibuk karena May tidak masuk akhirnya membiarkan Kalea melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu pun kembali ke ruang makan, menata hidangan dengan hati-hati.
Baru saja ia selesai meletakkan teko jus di meja, Hamish datang. Tubuh bagian atasnya telanjang, dan dia hanya mengenakan celana pendek, memamerkan otot-otot dada dan perut berkilau penuh keringat setelah berolahraga.
Kalea sontak melotot dengan mulut menganga. Buru-buru ia membalikkan badan dengan mata memejam. Ia malu sendiri.
Gadis itu memutuskan untuk pergi tanpa suara, tetapi tiba-tiba Hamish memanggilnya.
“Lea.”
Kalea seketika mematung. Dengan pelan-pelan ia memutar tubuhnya kembali menghadap Hamish dengan kepala menunduk.
“I-iya, Tuan?”
Hamish tidak segera bicara, tapi langkah kakinya yang mendekat terdengar jelas. Kalea menggigit bibir panik saat melihat ujung sepatu olahraga itu kini tepat di depan kakinya yang telanjang.
Dengan jantung berdegup kencang, Kalea memberanikan diri mengangkat wajah. Napasnya sesak saat menatap dada bidang dan perut berotot yang begitu dekat terpampang di depan mata. Ia juga mau tak mau harus melihat bagaimana tetes-tetes keringat mengalir berkelok-kelok di setiap lekuk otot-otot tersebut.
Gadis itu mengerjap tanpa henti. Hatinya pun bertanya-tanya mengapa bisa tubuh tuannya itu terlihat sekeras batu. Tanpa sadar ia menelan ludah, rikuh, sebelum akhirnya matanya beradu tatap dengan Hamish.
“Kenapa kamu masih di sini?” suara Hamish datar, menekan, dan tanpa ekspresi. “Bukankah kamu seharusnya sudah pergi?”
Kalea terperangah. Jantungnya serasa jatuh ke perut. Apakah Hamish benar-benar akan mengusirnya?
Ketakutan menelannya bulat-bulat. Ia pun langsung bersujud di lantai.
“J-jangan, Tuan! Maafkan saya. Saya tahu saya salah karena semalam sakit dan merepotkan banyak orang. Tapi saya mohon, jangan kirim saya kembali ke rumah. Jangan kembalikan saya pada ayah saya. Saya akan melakukan apa saja, Tuan. Tolong biarkan saya di sini.”
Hamish mengerutkan alis, lalu meminta Kalea berdiri.
“Siapa bilang aku mau menyuruhmu pulang? Aku tanya karena seharusnya kamu sudah pergi ke rumah sakit menemui Dokter Stephen. Apa Diana tidak memberitahumu?”
Kalea tersentak. Mulutnya terbuka lebar, mata sembabnya mendadak berbinar. Perlahan, senyum merekah di wajahnya yang pucat.
“J-jadi Tuan tidak mengusir saya? Tuan tidak menyuruh saya pulang?” Gadis itu memekik tak percaya.
Hamish hendak menjawab, namun tiba-tiba Kalea meraih tangan kanannya dan mencium punggung tangannya penuh hormat, layaknya seorang anak pada orang tua.
“T-terima kasih, Tuan Hamish!”
“Hei!” Hamish buru-buru menarik tangannya. Diperlakukan begitu, ia merasa seolah-olah seorang pria tua.
“Dasar bocah,” gerutunya.
Tapi Kalea tidak peduli. Ia terus membungkuk berulang kali.
“Terima kasih, Tuan! Terima kasih banyak!”
“Ck! Sudahlah! Simpan tenagamu untuk pergi ke rumah sakit. Aku melakukan ini karena tidak mau pekerjaan di rumah ini terganggu hanya karena ada yang sakit. Menyusahkan!”
Kalea mengangguk penuh semangat.
“Siap, Tuan! Saya akan cepat sehat!” serunya dengan senyum lebar. Ia pun undur diri dengan langkah riang.
Hamish mendengkus, geleng kepala.
“Sudah bisa tersenyum rupanya.”
Namun sebelum Kalea benar-benar keluar ruangan, ia memanggil lagi.
“Lea!”
Kalea berbalik.
“Kemari.” Hamish menjentikkan jarinya.
Kalea menurut. “Ya, Tuan?”
Hamish maju selangkah hingga keduanya hampir tak berjarak.
Kalea mengkerut dan mundur selangkah dengan takut-takut, gugup melihat tatapan pria itu yang begitu lekat menelanjangi. Sorot matanya turun ke arah leher, lalu dada, membuat Kalea cepat-cepat menyilangkan tangan di depan tubuhnya.
“T-tuan… ada apa?” tanyanya terbata.
Hamish tidak menjawab. Ia hanya memberi perintah singkat, “Berputar.”
Kalea menelan ludah. Namun, ia menurut, memutar tubuh hingga membelakanginya. Jantungnya hampir copot ketika tangan besar itu mendarat di pundaknya, lalu bergeser perlahan ke punggung, turun sampai ke pinggang.
Tubuh Kalea tegang. Kedua kakinya bergetar lemas. Apa yang sedang Tuan lakukan? pikirnya panik. Namun kepalanya juga berdebat, Bukankah aku ingin memikatnya? Tapi baru disentuh begini saja sudah gemetar…
“Pergi!”
“Hah?” Kalea menoleh terkejut.
Hamish mendorong punggungnya pelan, lalu berjalan tenang ke meja makan. Ia duduk santai, menyeruput jus seolah tak ada apa pun yang terjadi.
Kalea masih ingin bertanya, tapi nyalinya langsung ciut saat Hamish melirik galak.
“S-saya pergi, Tuan,” katanya tergesa.
Tanpa bersuara pun, Kalea merasa mendengar perintah dari pria itu.
Ia pun berlari kecil kelaur ruangan sambil bersungut-sungut.
“Tadi menyuruh datang, terus pegang-pegang, sekarang malah disuruh pergi. Dasar aneh!”
Celestine Marvella bersedekap dengan ditemani lima orang desainer Lunare lainnya. Mereka berdiri mengelilingi sebuah gaun pengantin yang dipasang di manekin di tengah-tengah ruangan khusus.Semua orang terlihat tegang dan fokus. Mata mereka begitu jeli mengamati setiap detail gaun tersebut. Takut jika ada elemen terkecil sekalipun dari gaun tersebut yang tak sesuai rencana.“Pengantin akan kesini setengah jam lagi untuk fitting. Pastikan lagi bahwa tak ada sehelai benang pun yang tidak pada tempatnya. Paham?” Celestine berucap tegas. Matanya menyipit di balik kacamata lensa kucing bermotif kulit leopard itu.Semua orang langsung mengangguk.“Ah, satu lagi!” ucap Celestine Marvella sambil mengangkat satu tangannya.“Jangan buat keributan seperti sebelumnya. Kudengar ada sedikit saja keributan, aku tak akan segan meng-cut off siapa pun itu!” ujar wanita berambut super pendek itu tegas.“Baik, Marvella,” ucap para desainer itu serempak.Celestine Marvella menghela napas. Ia kemudian perg
“Biar aku fotokan.” Hamish mengambil inisiatif untuk mengambil gambar Kalea, Ginna, juga Braddy.Ketiganya langsung bersorak dan berpose. Pamer baju toga dan piagam di tangan mereka.Hamish tersenyum. Ikut berbahagia. Melihat senyum gembira ketiganya, membuatnya teringat ketika seumur mereka.“Nanti malam akan ada pesta perpisahan, apa Kalea bisa ikut?” Braddy bertanya pada Hamish dengan penuh harap.“Hmmm.” Hamish tak segera menjawab. Pria itu menatap Kalea yang tengah tersenyum padanya. Sebenarnya, jiwa protektif dan cemburuannya ditambah trust issue pernah diselingkuhi tak pernah ingin memberi celah untuk Kalea bersenang-senang tanpa dirinya.Apalagi di pesta itu pasti bercampur baur dengan banyak pria. Tetapi, ia pun ingin memberi ruang untuk istrinya. Ia tak ingin jadi suami pengekang. Apalagi Kalea masihlah sangat muda. Dan ia percaya istrinya tak akan bertingkah macam-macam.“Aku tak bisa, Brad. Malam ini aku sudah harus mengepak barang. Besok sudah harus flight ke Indonesia.”
“Kamu sudah meminta maaf, kan?” bisik Linda pada Ginna.Baru saja Stephen berpamitan. Hendak kembali pulang ke Indonesia.Ginna hanya mengangguk untuk menghindari perdebatan dengan ibunya. Meski sejujurnya, ia malah lupa meminta maaf pada Stephen.“Dia sepertinya orang baik. Kamu … suka tidak?”“Tidak,” jawab Ginna singkat.“Mama suka, loh.” Linda senyum-senyum.Ginna memutar mata, lalu pergi. Ayahnya sudah datang dan dia ingin pulang terlebih dahulu. Badannya sudah lengket ingin mandi. Ia juga sudah rindu dengan Kasur. Matanya sudah sangat sepat. Ingin segera dipejamkan.Sesampainya di rumah, Kalea sudah pulang dan di meja makan sudah tersedia makanan hangat. Sahabatnya itu sudah memasakkan untuknya juga untuk Darren, adiknya.Ginna tersenyum penuh rasa terima kasih, lalu pergi ke kamar. Ia ingin segera bergelung di sana.Akan tetapi, saat hendak mengganti pakaian, ia malah teringat Stephen. Melepas sweater pink terang bermotif Minnie mouse itu membuatnya kembali mengenang semua hal
Ginna ingin menangis. Pundaknya pegal. Lehernya sudah kaku.Sudah satu jam kepala Stephen menempel di bahunya. Tidur dengan begitu nyenyak.Andai tak ingat semua jasa dan kebaikan Stephen juga rasa bersalahnya, pasti sudah dari tadi ia dorong kepala itu sampai terantuk ke lantai.“Addduuhh.” Ginna meringis. Duduk di lantai yang dingin terlalu lama membuat bokongnya kebas dan kaki kesemutan. Ia juga mulai ingin buang air kecil. Namun, ia tak berani bergerak. Tak sampai hati membangunkan Stephen yang tampak begitu lelah.Anggap saja semua ini adalah sebagai salah satu bentuk penebusan segala kesalahannya pada pria itu.Kesunyian di antara keduanya terdistraksi saat ponsel di pangkuan Stephen berdering dan bergetar-getar. Ginna menatapnya, lalu melirik pucuk kepala Stephen di bahunya. Ia ingin mengabaikan ponsel yang berdering itu sampai mati sendiri, tetapi nyatanya ponsel itu tak mau henti memanggil.“Apa aku angkat saja? Siapa tahu penting, bukan? Apalagi Stephen seorang dokter. Bagai
Tirai pembatas ranjang pasien tersibak. Ginna dan Stephen masuk untuk menemui Linda.Wanita paruh baya itu menoleh dan seketika sekujur tubuhnya menegang. Matanya membelalak dengan mulut menganga.Linda mengucek matanya untuk meyakinkan siapa pria yang datang bersama putrinya itu.“D-D-D-Dokter S-S-Stephen?” ucap Linda terbata-bata. Jantungnya terasa mencelos.Ginna yang hendak memperkenalkan Stephen langsung terperangah. Menatap ibunya dengan keheranan.“Mama kenal Stephen?” tanya Ginna. Gadis itu kemudian menoleh menatap Stephen yang tersenyum ramah pada Linda.Sementara Linda sendiri seperti orang yang terkena mantra beku. Diam tak bergerak dengan raut muka syok.“Oh, ya. Kamu juga kenal ibuku, kan? Kamu memanggil nama Mama saat hendak menolongnya di parkiran.” Ginna baru teringat. Ia sempat penasaran dan ingin bertanya perihal itu. Namun, karena panik, ia sampai tak ingat apa pun lagi.Stephen kembali tersenyum, lalu menyapa Linda. “Halo Nyonya Linda? Bagaimana keadaan Anda sekaran
Linda dinyatakan harus rawat inap. Wanita itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan.Selain untuk pemulihan juga untuk kebutuhan observasi lanjutan. Hasil pemeriksaan awal menyatakan bahwa terdapat tanda-tanda stroke di diri Linda.Bahu Ginna terkulai saat mendengar itu belum lagi kabar bahwa penerbangan ayahnya kena delay. Itu artinya, ia akan tetap sendirian di rumah sakit.“Ma.” Ginna mendekat. Ibunya yang sudah siuman menoleh lemah.Gadis itu menangis lagi. Tak sanggup membayangkan jika ibunya yang energik, Tangguh, dan ceria itu kena stroke.“Mama harus sehat,” ucapnya terisak.“Heeei. Sudah. Jangan menangis. Nanti cantiknya hilang.” Linda berusaha tersenyum meski seluruh ototnya terasa lemas.“Oh, lihatlah matamu. Bengkak, merah. Apa kamu tak berhenti menangis?” Linda menatap wajah sembab Ginna dengan terenyuh.“Maaf, mama pasti merepotkanmu. Kamu pasti sedih. Kamu pasti bingung, panik. Kamu ngurus apa-apa sendirian. Papa masih di Malaysia.” Linda mengusap tangan Ginna.“Enggak,







