Share

Bab 4

Author: Naiynana
last update Last Updated: 2025-10-09 17:33:23

Saat pakaian Kalea disingkap, Hamish melihat sebuah pemandangan mengerikan.

Punggung gadis itu penuh lebam. Sebagian sudah mulai memudar keunguan, sementara sebagian lain masih hijau terang, tanda jelas bahwa memar itu baru saja terbentuk.

“Apa ini perbuatan ayahmu, Kalea?” tanya Diana lirih, yang tentunya tidak mampu mendapatkan jawaban dari gadis yang sedang tidak sadarkan diri itu. Meski baru mengenal Kalea, tapi dia sudah ikut merasakan sakit dan marah.

Hamish menegakkan tubuhnya. Tatapannya sempat terarah pada wajah Kalea yang memerah, merintih lirih dalam tidur. Namun, perhatiannya kemudian bergeser pada ikat rambut yang terikat di karet pinggang piyama kebesaran yang dikenakan gadis itu.

“Kompres juga bagian yang memar,” perintah Hamish datar.

Diana mengangguk patuh.

Beberapa waktu kemudian, Stephen datang. Dokter muda itu bukan hanya dokter pribadi Hamish, tapi juga sahabat baiknya sejak kuliah. Setelah memeriksa Kalea, dia meminta Diana keluar sebentar. dia ingin berbicara empat mata dengan Hamish.

“Dia… bukan wanitamu, kan?” tanya Stephen, memicingkan mata kepada sahabatnya itu.

“Berhenti menanyakan hal konyol.” Hamish berdecak, melempar tatapan tajam.

Stephen menghela napas. “Hamish … dia masih terlalu muda. Kamu—”

“Dia pekerjaku!” tukas Hamish ketus, tidak menyukai arah kesalahpahaman sahabatnya itu.

Mendengar itu, Stephen mengerjapkan mata, sebelum kemudian menaikkan alis kanannya selagi tersenyum penuh arti. “Serius? Kukira dia wanitamu... karena baru kali ini kamu meneleponku di tengah malam hanya untuk memeriksa seorang perempuan.”

Balasan Stephen membuat Hamish mendelik. “Lakukan tugasmu dengan baik sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri kerja sama kita.”

Stephen mengangkat tangan, lalu tertawa tak berdaya. “Oke, oke. Santai sedikit, Bung.”

Saat Stephen memeriksa Kalea, Hamish yang menunggu di sebelah Stephen menautkan alis ketika melihat sahabatnya itu menyentuh tubuh Kalea. “Tidak bisakah kamu berikan obat saja agar dia bisa sembuh?”

“Sabar dulu, Hamish.” Stephen mengangkat alis, lalu menggeleng sebentar sebelum melanjutkan pemeriksaan singkat.

Selesai pemeriksaan, Stephen menghela napas berat. “Kirim saja dia ke rumah sakitku. Sepertinya dia harus menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap. Menurut perkiraanku, dia mengalami malnutrisi dan kelelahan berat. Belum lagi…” Stephen menunjuk punggung Kalea, “…jelas sekali dia korban kekerasan. Dia harus diperiksa menyeluruh.”

Hamish menyilangkan tangan di dada, menyimak dengan wajah dingin.

“Menyusahkan,” gumamnya pendek.

Stephen menyeringai. “Menyusahkan bagaimana? Memangnya kamu yang mau repot-repot mengantarnya ke rumah sakit?”

“Ck! Tentu saja tidak.” Hamish mendengus.

Stephen tertawa kecil, lalu mengeluarkan kantong kecil berisi obat.

“Sementara, berikan saja ini dulu. Supaya dia bisa tidur dengan tenang. Besok, kalau hasil pemeriksaan sudah ada, aku akan buatkan resep lengkap.”

Dokter berkacamata itu menepuk bahu Hamish, lalu bersiap pulang.

“Jangan lupa, bayaranku dobel! Lihat jam berapa sekarang! Kamu memanggilku tengah malam begini, benar-benar tidak tahu waktu!” serunya sambil berlalu.

Hamish hanya mendesah, tak menanggapi. Dia melangkah mendekati Kalea untuk meletakkan obat di nakas. Namun, langkahnya tertahan ketika mendengar gadis itu kembali mengigau.

“Ibu… Ibu…” suara Kalea pelan, namun jelas. Sebulir air mata jatuh dari sudut matanya.

“Jangan pergi, Bu… jangan tinggalkan aku…”

Hamish terdiam. Ada rasa asing yang tiba-tiba muncul di dadanya. Perasaan itu begitu familiar, mengingatkannya pada luka lama. Dia tahu betul rasanya kehilangan seorang ibu di usia muda.

“Ibu… aku mohon… bawa aku pergi ke surga bersamamu. Aku tidak kuat lagi, Bu…” Kalea merintih, air mata pun kembali luruh membasahi pipi, menetes, berjatuhan dan menghilang di permukaan bantal.

Tanpa sadar, satu tangan Hamish terulur, hendak mengusap air mata yang kembali turun dalam hening itu. Namun, sebelum sempat menyentuh pipi Kalea, pintu kamar terbuka. Diana masuk membawa kompresan baru.

Hamish buru-buru menarik kembali tangannya, wajahnya kembali datar. Dia berdiri tegak, lalu menyodorkan obat kepada Diana.

“Bangunkan dia, suruh minum ini!”

“Apa harus makan dulu, atau bisa langsung diminum, Tuan?” tanya Diana hati-hati.

“Apa kamu tidak tahu cara membaca? Baca sendiri aturan pakainya!” sahut Hamish ketus seraya langsung berbalik keluar kamar dengan wajah kesal.

Diana mengusap dadanya, bergidik kecil. “Kenapa Tuan tiba-tiba marah begitu?” gumamnya heran, merasa bahwa seakan-akan dia telah mengganggu sesuatu.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Yuly Maelany
iyalah kamu datang d saat dan waktu yang tak tepat............
goodnovel comment avatar
Ummu Kholifah
iya diana salah waktu masuk kamar jadi ganggu tuan
goodnovel comment avatar
suka novel
tuan hamis rada grogi oni
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 223

    Kalea berdiri berhadapan dengan Ginna. Keduanya saling tatap sebelum akhirnya tertawa bersama-sama.Perut keduanya sudah besar, terutama Kalea karena terpaut empat minggu. Dan dengan sadar, mereka saling menempelkan perut satu sama lain.“Bukankah ini ajaib? Mungkin saja sebenarnya, kita saling menunggu agar bisa hamil bersamaan. Agar kita bisa bahagia sama-sama!” Ginna berseru dengan nada cerianya.“Bisa jadi!” Keduanya pun tertawa lagi.“Tapi … ya Tuhan, Lea. Serius kita mau nongkrong sama nenekmu juga?” bisik Ginna. Keduanya memang janjian untuk pergi jalan-jalan ke mall sekadar mencari sedikit kesenangan dan menggerakkan badan.Kalea tersenyum, lalu menoleh pada Sarah yang sedang sibuk menelepon Nina di rumah, menanyakan keadaan Eldan.“Dia tak akan melepaskanku sendirian, Ginna. Aku dipantau dua puluh empat jam oleh orang rumah.”Ginna manggut-manggut, paham kondisi yang tengah dialami Kalea.“Tapi, nenekmu kayaknya lebih proper dari kita. Dia badass abis. Keren sekali gayanya.”

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 222

    “Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“Ya biar saja, kosong. Aku masih bisa bolak balik seminggu atau dua minggu sekali. Aku ingin di sini setidaknya sampai Lea melahirkan. Aku tak ingin kehilangan penerus keluarga kita lagi.”“Iya, Ma. Tapi ….”“Nenek sama Lea itu gak cocok satu atap!” Hamish bicara tanpa basa-basi. Terang saja Sarah langsung memelototi cucunya itu.“Jangan cari penyakit! Nanti istriku stress kalau serumah denganmu, Nek. Sedangkan ibu hamil itu gak boleh stress!”“Kenapa kalian berdua ini? Kenapa menganggapku hanya akan membahayakan Kalea?” Sarah tak terima.“Karena nenek biasanya kan suka jahat pada Kalea. Mulut Nenek itu loh!”“Mulutmu! Dasar kurang ajar! Mana mungkin aku membahayakan Kalea. Aku ingin di sini

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 221

    Hamish bertambah kesal pada Sarah. Wanita tua itu sangat ikut campur sekali. Seharusnya dia saja seorang yang masuk menemani Kalea untuk periksa. Tetapi, neneknya itu sangat pemaksa. INgin ikut masuk dengan alasan ingin menjadi salah satu yang pertama mendengar kabar tentang Kalea.“Kenapa Nenek tak di luar saja jaga Eldan?”“Eldan ada Nina. Lagipula memang selama apa sih periksa kehamilan? Tak akan sampai setengah jam!” Sarah mendelik galak. Aura judesnya memang tak pernah hilang.Sarah sendiri memang ingin menemani Kalea. Dulu, ketika Saraswati masih hidup, ia tak pernah turut ikut menemani masa-masa hamil menantunya itu karena memang keduanya tak pernah akrab.Ia pikir, ia akan memiliki momen itu saat Elias menikahi Marissa. Nyatanya, Marissa malah berkhianat. Dan kini … tak ada salahnya. Ia pun ingin memberikan curahan perhatian pada calon penerus keluarganya yang berharga.“Pokoknya aku akan masuk!” tegas Sarah memelototi Hamish.Tak hanya itu, Elias pun sama ngototnya. Tak mau m

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 220

    Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memotong ucapan Kalea.“Kita hanya ingin tahu saja. Penasaran. Aku memang berharap banyak. Kamu pun pasti begitu. Tapi, aku juga tahu, ruang besar dalam hati untuk rasa kecewa harus disiapkan.”Kalea menghela napas. Menunduk di tepi tempat tidur dengan perasaan campur aduk.Hamish langsung melompat dan berlari ke pintu kala terdengar ketukan dari sana.Seorang satpam rumah yang ia suruh sudah berdiri di depan pintu seraya menyodorkan satu kantung plastik kecil.“Kamu tak kasih tahu siapa pun soal ini, kan?” tanya Hamish. Tak ingin siapa pun tahu apa yang ia dan Kalea lakukan saat ini karena semua belum pasti.“Tidak, Tuan.”Hamish mengangguk. Berterima kasih seraya mengganti dan melebihkan uang s

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 219

    “Hah? Sudah enam minggu? J-J-Jadi … selama ini … Ginna?” Stephen membekap mulutnya.“Jadi … sudah enam minggu,” ucapnya masih saja tak percaya jika Ginna ternyata tengah mengandung. Berkali-kali ia menampar pipinya sendiri agar yakin kalau yang terjadi bukanlah mimpi.Ginna sendiri sejak tahu hamil diam saja. Ia terlalu kaget sampai tak bisa berkata apa-apa. Sementara Ling Ling, wanita itu tak henti-henti menangis. Rasa bahagianya terlalu megah untuk dilukiskan.Dokter Jessica senyum-senyum melihat berbagai ekspresi keluarga tersebut.“Sepertinya, promil yang sudah kita rencanakan sudah tak perlu lagi. Selamat, Dok. Kamu akan jadi ayah. Aku turut berbahagia. Akhirnya, ya, Dok,” ucap Dokter Jessica.Stephen menoleh menatap Dokter Jessica. Matanya tiba-tiba memanas. Berkaca-kaca.“Aku beneran akan jadi ayah?” ucapnya serak menahan tangis.Dokter Jessica mengangguk.“Tolong dijaga baik-baik, ya. So far, janinnya cukup baik. Tapi, sebaiknya jaga kesehatan, jangan dulu capek-capek. Mama ja

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 218

    “Aiyaaa! Kamu pergilah bekerja. Biar Ginna mama yang urus.” Ling Ling berusaha bersikap seceria mungkin saat menemui anak menantunya.“Iya. Kamu kerja saja. Kemarin kamu tak masuk demi menemani aku. Hari ini ada Mama. Kamu pergi saja. Aku juga sudah lebih baik.” Ginna meyakinkan Stephen yang tampak berat meninggalkannya.“Baiklah,” ucap Stephen. Pria itu akhirnya menuruti keinginan ibu dan istrinya.“Titip Ginna, Ma,” lanjutnya.“Aiyaaa! Memangnya kamu pikir mama akan apakan Ginna. Pake titip-titip segala!” Ling Ling protes.“Ya siapa tahu Mama tiba-tiba jadi mertua jahat.”“Mulutmuuu! Kapan aku pernah jadi mertua jahat!” Ling Ling langsung berseru dengan mata sipitnya yang melotot.Stephen nyengir, lalu kabur ke kamar mandi. Ia hendak bersiap untuk pergi ke rumah sakit. “Apa jangan-jangan kamu menganggapku jahat, Honey?” Ling Ling menatap Ginna yang sedang tersenyum melihat perdebatannya dengan Stephen.“Hah? Apa, Ma? Jahat?”Ling Ling mengangguk. “Siapa tahu ternyata sikap mama sel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status