LOGIN"Ibu, jangan tinggalkan aku!"Jeritan kecil Maxi memecah keheningan lantai dua mansion Hamilton. Bocah itu tersentak bangun dari tidurnya, meremas sprei dengan jemari mungil yang gemetar hebat saat mendengar suara pintu terhempas angin.Aurelia bergerak cepat, berlari menghampiri ranjang putranya. "Ibu di sini, Sayang! Ibu tidak akan pergi ke mana-mana."Aurelia merengkuh tubuh Maxi, mengusap punggung bocah itu yang masih ketakutan. Trauma pascapenculikan itu belum sepenuhnya hilang. Maxi kini menjadi jauh lebih penakut, mudah terkejut oleh suara keras, dan menolak tidur tanpa memegang erat tangan ibunya.Caleb melangkah masuk ke dalam kamar, mengamati interaksi ibu dan anak itu dari ambang pintu. Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba mengusap dahi istrinya yang tampak sangat lelah."Caleb, ini sudah tiga kali dia mengalami hal yang sama. Kemarin dokter bilang dia baik-baik saja."Caleb juga mencemaskan hal yang sama. "Sepertinya kita perlh membawanya ke dokter lagi. Tidurlah, a
"Maafkan Ibu, Sayang... Maafkan Ibu!"Jeritan pilu dari bibir Aurelia pecah di dalam pelukan erat putranya. Wanita itu berlutut di atas tanah becek di tengah rimbunnya hutan, merengkuh tubuh mungil Maxi yang terikat dan gemetar hebat. Air mata Aurelia menetes deras membasahi pipi pucat bocah itu.Maxi melingkarkan lengan mungilnya di leher sang ibu, mencengkeram kain baju Aurelia dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Ibu... aku takut..."Bisikan halus itu menjadi kalimat terakhir sebelum mata bulat Maxi perlahan terpejam rapat. Jemari mungilnya terlepas, tubuhnya terkulai lemas. Maxi pingsan di dalam dekapan Aurelia."Maxi! Bangun, Sayang! Caleb, tolong dia!" jerit Aurelia histeris, mendongak menatap suaminya.Caleb melangkah sergap, merengkuh tubuh Maxi dari tangan Aurelia lalu menggendongnya rapat di dada bidangnya. "Panggil ambulans taktis sekarang, Josh! Buka jalur menuju hospital utama!"Sirine mobil polisi dan kendaraan taktis meraung nyaring membelah kegelapan malam. Di are
"Kalian boleh melakukan apa saja pada wanita itu nanti. Rebut, nikmati, dan koyak sisa harga diri Caleb Hamilton sampai tak berbekas!"Tawa melengking Maya menggema kaku di dalam pondok kayu terbengkalai di tengah kerapatan hutan. Wanita itu menatap lima pria berbadan tegap dengan senyum pudar yang sarat akan racun. Pakaian mereka kotor, dengan tatapan liar yang kelaparan.Di kamar belakang yang terkunci rapat, tubuh mungil Maxi terikat di atas kursi tua dengan mulut terbungkam kain tebal. Bocah itu menangis tanpa suara, mendengarkan sorakan brutal para preman bayaran di luar pintu.Para preman itu tertawa tebal, mengasah pisau dan meremas jemari mereka yang kasar. Rencana Maya amat jelas. Ia tidak hanya ingin membunuh, tetapi ingin menghancurkan mental dan martabat Caleb hingga hancur berkeping-keping melalui Aurelia.Sementara itu, di mansion Hamilton, Aurelia menyelinap keluar kamar dengan langkah terburu-buru. Air matanya mengering, digantikan oleh keputusasaan dan nekat yang
Sementara itu, di kediaman Hamilton, suasana terasa teramat pekat oleh duka."Ini semua salahku, Caleb!" jerit Aurelia histeris, meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa. Air mata membasahi wajah pucatnya. "Aku yang memaksamu membiarkan Maxi pergi ke acara konyol itu! Aku yang menjadikan anak kita pancingan untuk orang-orang jahat itu!"Caleb melangkah lebar, merengkuh tubuh Aurelia yang gemetar hebat ke dalam pelukan eratnya. Pria itu menangkup wajah istrinya, memaksa iris mata Aurelia yang basah menatap lurus pada matanya yang tajam dan pekat."Dengar, dengarkan aku, Aureli!" tegas Caleb dengan suara rendah namun sarat ketenangan yang mutlak. "Ini bukan salahmu. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menyalahkanmu atas kejahatan orang lain. Aku yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan keluarga kita.""Aku ingin ikut, Caleb! Aku mohon bawa aku!" tangis Aurelia pecah, mencengkeram erat kerah jas suaminya. "Aku tidak bisa hanya duduk diam di sini menunggu kabarn
Caleb berbalik menatap istrinya, lalu meraih kedua bahu Aurelia dengan usapan lembut yang berusaha menenangkan, meski raut wajahnya sendiri sangat tegang. "Dia pasti baik-baik saja. Percaya padaku."Ponsel di saku jas Caleb mendadak bergetar hebat. Pria itu menyambar gawainya, menempelkannya ke telinga dengan wibawa yang menusuk. "Bicara, Josh.""Tuan, situasi di lapangan kota memburuk," suara Josh terdengar cepat di seberang saluran dengan latar belakang kebisingan riuh. "Akses jalan menuju panggung utama diblokir oleh dua truk pengangkut barang yang mendadak mogok. Kami terpisah sejauh lima puluh meter dari barisan rombongan murid TK.""Singkirkan truk itu sekarang juga!" perintah Caleb dingin dan tak membeku."Kami sedang mengusahakannya, Tuan, tetapi kerumunan saling berdesakan—"Panggilan itu mendadak terputus oleh suara krepitasi sinyal yang bising.Sementara itu, di area lapangan kota yang riuh oleh festival anak-anak, kekacauan buatan yang dirancang rapi mulai bekerja. K
Maya memoles gincu merah darahnya di depan cermin retak apartemen kumuh tempatnya bersembunyi. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sunggingan culas yang dingin."Kau sungguh mengira Caleb Hamilton pria bodoh, Paman?" cetus Maya tanpa menoleh pada Joseph yang sibuk merapikan pisau lipat di sudut ruangan.Joseph mendengus kasar. "Aku sudah melihat sekolah bocah itu. Penjagaannya terlampau ketat.""Bukan cuma ketat," potong Maya cepat, memutar tubuhnya dan menatap Joseph tajam. "Caleb adalah pria posesif yang akan memagari anak dan istrinya dengan barikade besi. Dia pasti memasang pelacak, menyebar pengawal sipil, dan mengunci seluruh area lapangan kota itu tanpa celah.""Lalu untuk apa kita membuang waktu memantau festival konyol itu?!" bentak Joseph, urat lehernya menegang.Maya tertawa renyah, suara tawa yang sarat akan racun. "Justru karena dia terlalu fokus menjaga putranya, dia akan sangat mudah ditipu oleh distraksi di tempat lain. Pria secerdas Caleb selalu berpikir dua lang
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga







