LOGIN"Kalian boleh melakukan apa saja pada wanita itu nanti. Rebut, nikmati, dan koyak sisa harga diri Caleb Hamilton sampai tak berbekas!"Tawa melengking Maya menggema kaku di dalam pondok kayu terbengkalai di tengah kerapatan hutan. Wanita itu menatap lima pria berbadan tegap dengan senyum pudar yang sarat akan racun. Pakaian mereka kotor, dengan tatapan liar yang kelaparan.Di kamar belakang yang terkunci rapat, tubuh mungil Maxi terikat di atas kursi tua dengan mulut terbungkam kain tebal. Bocah itu menangis tanpa suara, mendengarkan sorakan brutal para preman bayaran di luar pintu.Para preman itu tertawa tebal, mengasah pisau dan meremas jemari mereka yang kasar. Rencana Maya amat jelas. Ia tidak hanya ingin membunuh, tetapi ingin menghancurkan mental dan martabat Caleb hingga hancur berkeping-keping melalui Aurelia.Sementara itu, di mansion Hamilton, Aurelia menyelinap keluar kamar dengan langkah terburu-buru. Air matanya mengering, digantikan oleh keputusasaan dan nekat yang
Sementara itu, di kediaman Hamilton, suasana terasa teramat pekat oleh duka."Ini semua salahku, Caleb!" jerit Aurelia histeris, meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa. Air mata membasahi wajah pucatnya. "Aku yang memaksamu membiarkan Maxi pergi ke acara konyol itu! Aku yang menjadikan anak kita pancingan untuk orang-orang jahat itu!"Caleb melangkah lebar, merengkuh tubuh Aurelia yang gemetar hebat ke dalam pelukan eratnya. Pria itu menangkup wajah istrinya, memaksa iris mata Aurelia yang basah menatap lurus pada matanya yang tajam dan pekat."Dengar, dengarkan aku, Aureli!" tegas Caleb dengan suara rendah namun sarat ketenangan yang mutlak. "Ini bukan salahmu. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menyalahkanmu atas kejahatan orang lain. Aku yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan keluarga kita.""Aku ingin ikut, Caleb! Aku mohon bawa aku!" tangis Aurelia pecah, mencengkeram erat kerah jas suaminya. "Aku tidak bisa hanya duduk diam di sini menunggu kabarn
Caleb berbalik menatap istrinya, lalu meraih kedua bahu Aurelia dengan usapan lembut yang berusaha menenangkan, meski raut wajahnya sendiri sangat tegang. "Dia pasti baik-baik saja. Percaya padaku."Ponsel di saku jas Caleb mendadak bergetar hebat. Pria itu menyambar gawainya, menempelkannya ke telinga dengan wibawa yang menusuk. "Bicara, Josh.""Tuan, situasi di lapangan kota memburuk," suara Josh terdengar cepat di seberang saluran dengan latar belakang kebisingan riuh. "Akses jalan menuju panggung utama diblokir oleh dua truk pengangkut barang yang mendadak mogok. Kami terpisah sejauh lima puluh meter dari barisan rombongan murid TK.""Singkirkan truk itu sekarang juga!" perintah Caleb dingin dan tak membeku."Kami sedang mengusahakannya, Tuan, tetapi kerumunan saling berdesakan—"Panggilan itu mendadak terputus oleh suara krepitasi sinyal yang bising.Sementara itu, di area lapangan kota yang riuh oleh festival anak-anak, kekacauan buatan yang dirancang rapi mulai bekerja. K
Maya memoles gincu merah darahnya di depan cermin retak apartemen kumuh tempatnya bersembunyi. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sunggingan culas yang dingin."Kau sungguh mengira Caleb Hamilton pria bodoh, Paman?" cetus Maya tanpa menoleh pada Joseph yang sibuk merapikan pisau lipat di sudut ruangan.Joseph mendengus kasar. "Aku sudah melihat sekolah bocah itu. Penjagaannya terlampau ketat.""Bukan cuma ketat," potong Maya cepat, memutar tubuhnya dan menatap Joseph tajam. "Caleb adalah pria posesif yang akan memagari anak dan istrinya dengan barikade besi. Dia pasti memasang pelacak, menyebar pengawal sipil, dan mengunci seluruh area lapangan kota itu tanpa celah.""Lalu untuk apa kita membuang waktu memantau festival konyol itu?!" bentak Joseph, urat lehernya menegang.Maya tertawa renyah, suara tawa yang sarat akan racun. "Justru karena dia terlalu fokus menjaga putranya, dia akan sangat mudah ditipu oleh distraksi di tempat lain. Pria secerdas Caleb selalu berpikir dua lang
"Kau yakin ingin membiarkan Maxi berkeliaran di lapangan terbuka tanpa pengawasan ketat, Aureli?"Suara Caleb mengalun rendah dan tenang di dalam ruang kerja pribadi mereka. Pria itu meletakkan dokumen yang dipegangnya secara perlahan ke atas meja kayu jati, lalu melangkah menghampiri istrinya dengan binar mata sarat kehangatan.Aurelia mendongak, menyambut usapan lembut jemari Caleb di pipinya. Tangannya terlipat rapi di depan dada. "Maxi hanya ingin menjadi anak normal, Caleb. Dia ingin bermain dengan teman-temannya di acara yang sedang diadakan sekolah, bukan terus-menerus dikurung bagai pangeran di dalam sangkar emas ini."Caleb menghela napas halus, menatap istrinya dengan lembut namun tegas. Apa yang dikatakan Aurelia benar, tidak mungkin mereka mengurung Maxi selamanya. "Situasinya sedang tidak aman, Aureli. Joseph masih berkeliaran di luar sana. Orang-orang kepercayaanku mendeteksi keberadaannya di sekitar area sekolah Maxi beberapa hari ini."Aurelia tersentak pelan. Bin
"Masa melumpuhkan satu bocah kencur saja kau tidak bisa?!"Suara melengking Maya dari seberang telepon menghantam gendang telinga Joseph tanpa ampun. Wanita itu mendengus gusar, menyemburkan kemarahannya.Joseph menggeram kesal, meremas ponsel di genggamannya hingga urat-urat di punggung tangannya menegang. "Seolah kau bisa melakukannya dengan mudah, Maya!""Gerakanmu lambat sekali, Paman Joseph!" cerca Maya tajam. "Sepertinya lebih baik aku menyewa pembunuh profesional lain untuk membereskan bocah itu!""Jangan berani-berani kau ingkar janji!" ancam Joseph dengan nada memburu. "Aku sudah memantau pergerakannya beberapa hari ini. Aku melihat bocah itu sekarang!"Tanpa menunggu balasan Maya, Joseph memutuskan panggilan secara sepihak. Pria paruh baya itu menarik topi hitamnya lebih rendah, melangkah mengikis jarak menuju gerbang utama sekolah swasta eksklusif tersebut. Sudah tiga hari ia mengawasi gerak-gerik Maxi. Rencananya kian terdesak, sementara iming-iming uang tunai dan bag
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi







