LOGIN"Astaga..." Aurelia hampir memekik saat menemukan dirinya memang menjadikan Caleb bantal hidup.Dengan penuh hati-hati, dia menarik diri dari pria yang kini berstatus sebagai suaminya.Tatapannya terhenti di wajah Caleb saat ia hendak meletakkan batas di antara mereka.Aurelia menelan ludah. Wajah Caleb masih setampan dulu. Tangannya terulur, namun berhenti di udara. Ia tersenyum getir. 'Bagaimana bisa setelah hitungan tahun, jantungku tetapa berdebar seperti ini?'Aurelia menggeleng kuat. 'Kenapa aku sangat konsisten menyukainya.'Aurelia terus menatap wajah tenang Caleb selama beberapa saat. Akhirnya ia tidak tahan, ia menyentuh lembut hidung mancung itu dan buru-buru menarik tangannya."Kau tidak tahu apa yang kurasakan," gumam Aurelia, lalu ia segera berbaring setelah menjauhkan diri seaman mungkin menurut versinya.Keesokan paginya, ia terlambat bangun. Aroma wangi yang manis mengganggunya. Perlahan ia membuka mata dan hal pertama yang dia lihat adalah Caleb yang memandanginya
"Nenek tidak usah sampai merusak kesehatan Nenek hanya demi masalah ini."Maya mengusap lembut jemari kaku Nenek Moren. Raut wajahnya dipasang seanggun mungkin, memancarkan rasa iba dan kepedulian yang dibuat-buat.Nenek Moren menepuk dada dengan telapak tangannya yang gemetar. Napasnya memburu keras. "Hamilton selalu saja berhasil dikelabui oleh dua wanita kakak beradik itu!""Nenek, tenanglah dulu," bisik Maya halus."Bagaimana aku bisa tenang?" potong Moren dengan nada sarat kebencian. "Kenapa dulu orang tua Caleb mengizinkan anak itu bergaul dengan keluarga rendahan seperti mereka? Lihat sekarang, Caleb benar-benar kena sihir mereka!"Moren berpaling, menatap Maya dengan binar mata yang melunak. Tangan tuanya terulur mengusap punggung tangan Maya pelan."Kau wanita yang sangat sabar, Maya," gumam Moren, suaranya melemah. "Wanita terpelajar dan berkelas sepertimu yang sebenarnya dibutuhkan keluarga Hamilton."Maya menundukkan kepala, memamerkan senyum tipis yang sengaja dibu
"Kau jadi murah senyum.""Sejak kapan kau peduli pada siapa aku tersenyum?"Aurelia memutar tubuhnya, melepaskan cengkeraman tangan Caleb begitu pintu mobil mewah itu tertutup rapat. Pria itu baru saja mengunci seluruh sistem pintu dari kursi pengemudi.Tatapan Caleb lurus menembus kaca depan, sebelum perlahan berbalik menatap Aurelia. "Aku peduli ketika pria itu menatap istriku seolah kau masih lajang."Aurelia tertawa hambar. "Astaga, ayolah Caleb, jangan katakan bahwa kau menganggap serius pernikahan ini.""Nathaneil Reid menyimpan rasa padamu sejak lama," potong Caleb dingin. "Jangan pura-pura tidak tahu.""Dia menghargaiku!" balas Aurelia tajam. "Dia tidak mendatangi tempat kerjaku dan mengatakan hal konyol tentang hak asuh di depan wajahku seperti yang dilakukan tunanganmu!"Suasana di dalam mobil mendadak hening. Caleb menoleh penuh. Dahinya berkerut dalam. "Apa maksudmu?"Aurelia memalingkan wajahnya. "Tanyakan saja pada Maya. Dia datang ke kantorku pagi ini. Dia bilan
"Kau di sini?" Aurelia cukup kaget melihat Nathaneil ada di studionya."Wah, kau datang untuk memeriksa pekerjaanku."Aurelia tergelak. Ia bersyukur memutuskan datang ke studionya daripada berdiam diri di rumah merenungi kekacauan yang terjadi. "Aku tidak tahu kau terjun langsung.""Aku ingin memberikan yang terbaik," Nathaneil mengerling jenaka."Kau terlihat sangat lelah." Suara Nathaneil membuat Aurelia menghentikan langkahnya. Ia menoleh sambil memaksakan senyum kecil."Hanya sedang banyak pekerjaan."Nathaneil menatap wajahnya beberapa detik. "Yakin?""Hm.""Kau terlihat seperti belum tidur selama tiga hari."Aurelia terkekeh hambar. "Berlebihan.""Aku serius.""Aku juga."Nathaneil tidak membalas. Tatapannya masih tertuju pada Aurelia, seolah berusaha membaca sesuatu yang sengaja disembunyikan wanita itu.Aurelia memilih menghindari tatapan tersebut. "Bagaimana renovasi studionya?" tanyanya cepat."Sudah hampir selesai. Tinggal beberapa bagian.""Bagus. Aku ingin ruangan pemot
"Jangan berani melepaskan itu, Aureli!" Caleb langsung menahan jemari Aurelia yang hendak melepaskan cincin dari jarinya. "Aku tidak memberimu izin untuk melepasnya."Aurelia tertawa getir. "Apa kalian pernah berpikir betapa melelahkan ini semua?" Caleb tertegun, bukan hanya karena ucapan Aurelia, tapi juga karena melihat mimik yang benar-benar terlihat sudah muak. "Aku tidak pernah meminta berada di situasi ini.""Aku harus mendengar hinaan tentang kakakku yang sudah tiada. Menurutmu, Caleb, apakah aku harus tetap bertahan?""Harus." Caleb menjawab cepat. Ia tidak ingin mengambil resiko apa pun untuk kehilangan Aurelia. Ia sedang berusaha memperjuangan semuanya. Memberikan kehidupan yang sempurna untuk Maxi, juga Aurelia.Aurelia kembali tertawa getir. Tapi dia tidak mengatakan apa pun. Percuma menyerah. Taruhannya hak asuh Maxi. Dia tidak akan mampu hidup tanpa putranya itu.Aurelia segera berdiri, berjalan menuju kamarnya. Caleb hanya menatap punggungnya sampai menghilang.Set
"Aku minta maaf.""Aku tidak butuh permintaan maafmu, Caleb."Caleb yang baru saja menyalakan mesin menoleh pelan. Jemarinya masih menggenggam kemudi. Tatapannya jatuh pada wajah wanita yang duduk di sampingnya."Aureli..."Aurelia mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu sebelum sempat selesai."Tolong antarkan aku pulang."Caleb terdiam. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ingin menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak mengetahui kedatanganNenek Moren. Ingin meminta maaf karena membiarkan Aurelia mendengar semua hinaan itu.Namun semua kalimat terasa tidak berguna."Baik."Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah mereka. Tidak ada lagi percakapan. Aurelia memilih menatap ke luar jendela.Mobil berhenti di depan rumah. Aurelia langsung melompat turun. "Bawa Maxi kemari," ucapnya tanpa menoleh pada Caleb.Ia bersyukur Caleb meninggalkan Maxi di kantornya. Jika tidak, putranya itu akan melihat hinaan yang dilontarkan padanya.Caleb menyusul dan menahan tangan Aurelia."Lepaskan aku, Cale
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi







