Share

4. Meyakinkan

Penulis: Laradin
last update Terakhir Diperbarui: 2024-07-07 11:39:07

Tadi, setibanya Nevan di ruang rawat papanya Ivy dengan wajah babak belur, papanya Ivy segera memanggil seorang suster dan meminta agar luka Nevan segera diobati, namun pria itu segera menolak dengan halus. Ia hanya meminta kontak obat itu ditinggalkan dan lukanya akan dirinya obati sendiri.

Dan alasan itu ia buat agar Ivy lah yang mengobati luka wajahnya. Perempuan yang beberapa menit lalu menyeretnya keluar dan membawanya ke tengah taman dengan sebuah kejengkelan yang terbelenggu di tengah kerongkongan.

"Pak Nevan gila apa?! Papa saya sakit jantung loh, Bapak gak takut kalau tiba-tiba papa saya masuk ICU gara-gara cerita Bapak?!" Ivy berkacak pinggang, menghalangi sinar matahari yang menyembur wajah babak belur Nevan.

Nevan sudah terduduk di atas kursi besi panjang, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang terasa patah-patah. "Buktinya enggak kan?" Santai Nevan sedikit menengadah.

"Ya emang enggak, tapi kalau nanti papa saya kepikiran gimana? Bapak mau tanggung jawab?" Ivy masih mempertahankan nada suaranya yang meninggi. Tidak peduli beberapa orang yang juga ada di sana melihatnya risih.

"Mau." Santai Nevan.

Kejengkelan Ivy sudah pada puncak yang tidak bisa ia utarakan lagi. Pria di hadapannya ini benar-benar menguji kesabarannya. "Pak, maksud Bapak kaya gini tuh, apa sih sebenernya? Saya udah capek loh. Masalah saya banyak, belum Pak Nevan sekarang tambahin. Bapak gak ada rasa kasihan sedikitpun ke saya?" Suara Ivy melemah.

Namun bukannya menjawab, tanpa permisi tangan kekar Nevan menarik tangan Ivy, tidak cukup kuat hanya sentuhan lembut yang berhasil membuat hati Ivy meluluh. "Kamunya menghalangi pencahayaan saya, wajah kamu jadi enggak terlihat. Duduk, kamu bisa lanjutkan marah-marah nya setelah duduk, saya sudah siap," tuturnya.

Entah kemana umpatan-umpatan yang sudah Ivy siapkan sedari tadi, tidak tahu melebur dimana kemarahan yang membara di dalam dadanya, dalam sekejap semuanya lenyap seperti segerombol awan hitam yang menyemburkan air ke bumi yang tandus. Mendadak dingin, mendadak tenang.

"Marah-marahnya sudah selesai?" Nevan bertanya lagi.

Ivy tidak menjawab, hanya sebuah decakan kesal terdengar lalu dengan sengaja wajah masamnya mengindari tatapan lembut Nevan.

"Saya sudah siapkan semuanya, pernikahan kita. Kamu takut kan papa kamu sakit karena memikirkan ini? Karena itu saya berkata jujur dan berbicara kepada beliau agar beliau tidak khawatir. Kamu tenang aja, semuanya akan baik-baik aja. Selain itu, saya tidak akan meninggalkan kamu setelah kejadian semalam. Saya bilang kan dari awal, apel yang sudah saya gigit tidak akan saya tinggalkan sampai mengering."

Ivy menolah dengan tatapan berbeda dari sebelumnya.

"Kamu ngerti kan maksud saya, Iv?" Nevan membawa bahu Ivy untuk menghadapnya. Menatap perempuan itu dengan serius. "Saya akan bertanggung jawab. Apalagi melihat kondisi kamu sekarang. Kamu butuh seseorang agar hidup kamu sedikit ringan."

"Pak Nevan tuh emang jago ya dalam hal begini, pantesan Joshua betah kerja sama Pak Nevan. Klien gak akan nolak kalo cara bicara pak Nevan kaya barusan." Ivy masih ingin marah-marah, tapi wajah teduh Nevan berhasil membujuknya.

"Termasuk kamu?" Satu alis tebal Nevan naik. Bibirnya ikut tertarik tersenyum samar. Dan Ivy baru menyadarinya, Nevan memiliki senyum berbeda dari orang yang pernah ia temui. Senyumnya menyejukkan sekaligus menghangatkan perasaannya.

Ivy buru-buru memalingkan wajahnya, ia takut Nevan melihat area tulang pipinya yang tiba-tiba terasa memanas. Hal tersebut mengundang kekehan ringan Nevan.

"Pantesan Joshua sampai semangat banget pukulin saya tadi, orang kamunya ternyata selucu ini, ya?" celetuk Nevan.

Ivy sudah berbalik menatap Nevan dengan dahi berkerut dan alis menukik. Wajah selidiknya terpasang, lantas kemudian ia melayangkan sebuah pertanyaan, "Pak Nevan udah naksir saya dari dulu ya? Saat saya masih pacaran sama Joshua?"

Tanpa dugaannya, pria itu tanpa ragu mengangguk. Lagi, Ivy dibuat geming. Menyesal berkali-kali melayangkan pertanyaan yang belum siap ia dengarkan jawabannya. Pria ini benar-benar tidak bisa ditebak.

"Iya, itu sebabnya saya tidak pernah menyapa kamu atau mengobrol sama kamu. Saya tidak bisa mengontrol diri jika sudah di dekat kamu. Saya menghargai Joshua sebagai pacar kamu. Kamu tahu? Saat saya tahu Joshua beberapa kali mengkhianati kamu, tangan saya sudah gatal ingin menghajarnya. Tapi beberapa kali juga saya harus menahan nya, sebab kamu ternyata memaafkan kan dia."

"Emang tolol aja. Kayaknya memang saya kecintaan banget sama dia." Tatapan Ivy berlari pada daun bunga mawar yang bergoyang-goyang diterpa angin.

"Tapi sekarang masa itu sudah selesai. Saya akan bantu kamu menyembuhkannya. Tapi sebelum saya bantu kamu menyembuhkan luka di hati kamu, boleh saya minta tolong kamu dulu?" tanya Nevan hati-hati.

Tidak mau merelakan waktunya hanya untuk menikmati keheningan, suara halus Nevan kembali mengudara. Bersamaan dengan angin yang menyambar-nyambar rambut legam Ivy.

"Apa?" Ivy menoleh memberi perhatian.

"Bibir saya masih sakit, kamu bisa obati? Saya kesulitan untuk mengoleskan salepnya."

Ivy melihat seluruh permukaan wajah Nevan, sudut bibirnya memang paling parah diantara luka yang lainnya. Mungkin itu yang membuat Nevan sesekali meringis saat ia menggerakkan bibirnya ketika berbicara. Ivy mengambil alih kotak obat yang sedari tadi ada dipangkuan Nevan. Ia mulai mengolesi satu persatu luka di wajah Nevan yang sudah tertutup dengan darah kering itu dengan salep.

"Tadi Pak Nevan di bawa kemana sama Joshua? Gak diapa-apain kan?"

"Saya cuman dipecat—"

"HAH?"

"Aw!"

"Eh, maaf-maaf." Ivy segera menyingkirkan tangannya saat tidak sengaja menekan jarinya ke luka Nevan.

"Terus gimana?"

"Apanya?"

"Pak Nevan lah!"

"Gak gimana-gimana. Memangnya kenapa?"

Ivy berdecak. Menutup salep itu dan memasukannya kembali ke dalam kotak obat. "Karir Bapak terancam kalau sudah berurusan dengan Joshua. Bisa-bisa Bapak gak bisa kerja di mana pun."

"Ancamannya si begitu. Tapi gak apa-apa, saya yakin kamu gak akan ninggalin saya hanya karena saya tidak bekerja di perusahaan besar."

Santai sekali mulutnya, Nevan pikir Ivy ini perempuan yang hanya akan pasrah dan menerima apa adanya jika pasangannya tidak memiliki pekerjaan? Itu terlalu naif, hidup ini butuh uang. Modal cinta tidak akan bisa membantunya membiayai biaya pengobatan ayahnya dan membayar semeteran adiknya.

"Tapi saya akan selalu berusaha sekuat yang saya bisa. Konon katanya, perempuan yang baik itu bisa menerima keadaan lelakinya dalam keadaan sulit dan bahagia. Tapi lelaki baik, akan selalu mengusahakan agar perempuan yang ia cintai tidak merasa kesulitan. Saya mau, kita diantara perempuan dan lelaki baik itu ya sebagai pasangan nanti."

Namun mendengar ucapan Nevan, tekadnya untuk menolak Nevan secara tiba-tiba melebur menjadi sebuah kemakluman yang seharusnya Ivy terima. Ketulusan yang Nevan berikan untuknya memang pantas dibayar dengan sebuah kepercayaan. Uang memang bisa memberi Ivy kebahagiaan dan kepuasan, tapi Ivy tidak akan menemukan laki-laki seperti Nevan untuk kedua kalinya.

"Kamu mau kan menikah dengan saya?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   38. Kecelakaan

    “Nevan?”Kerumunan orang-orang itu menatap Ivy iba. Sementara Ivy merasa hidupnya terasa runtuh seketika. Air matanya terurai, kerongkongannya terasa tercekat. Kakinya terasa berat hanya untuk menggapai pintu mobil Nevan.Sore itu hujan semakin deras, sama derasnya dengan tangis Ivy. Perempuan berkemeja putih sudah yang basah kuyup itu mengetuk-ngetuk kaca mobil berharap Nevan masih dalam keadaan sadar dan segera membukakan pintunya. Orang-orang yang menyaksikan seolah tidak memiliki empati, hanya meluangkan waktu untuk menonton “adegan” dramatis di tengah hujan.Ivy memanggil-manggil nama Nevan. Berulang kali, hingga rasanya suaranya akan habis. Di sela kepanikannya ia menelepon ambulan.“Nevan? Kamu di dalem? Buka pintunya sayang. Ini aku.” Isak tangis Ivy akhirnya membuah kan hasil. Pintu mobil mendadak bisa di buka. Ia yakin ini bukan suatu keajaiban seperti di dongeng-dongeng, Nevan pasti baik-baik saja sehingga ia masih bisa membuka kan pintu mobil untuknya.Ivy segera masuk. Wa

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   37. Hal yang tidak diduga

    “Selamat pagi Bu Ivy.”“Selamat pagi.”Sial, pagi pagi begini Ivy sudah harus bertemu dengan Manda. Apakah ini kualat dari Nevan karena ia tidak menuruti perintah suaminya untuk tidak bekerja? Kedua wanita itu di dalam lift yang sama. Hening, tidak ada yang mulai bicara lagi. Lagi pula mereka tidak begitu akrab untuk sekedar basa-basi. Pun dengan Ivy yang berdoa agar Manda tetap diam dan jangan mengajaknya bicara.Lift terbuka, Ivy keluar lebih dulu. Tapi baru satu langkah ia keluar dari lift ia kembali berbalik, berkata,”Nevan hari ini gak masuk.”Manda tidak bereaksi, tapi setelahnya ia membalas,”Pak Nevan punya nomor saya. Kenapa lewat kamu?”Ivy mengangkat bahunya. “Menurut kamu saya tau jawabannya?”Mereka saling tatap beberapa saat. Seolah saling mengintimidasi satu sama lain. Ivy kembali berbalik, meninggalkan Manda yang dalam bersamaan pintu liftnya tertutup.**Baru pukul sepuluh pagi, ponsel Ivy sudah mendapatkan panggilan teror dari Nevan. Ivy sengaja tidak mengangkat telep

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   36. Demam

    “Menurut lo gue harus gimana sekarang?” Unmesh menoleh. Laju mobilnya praktis melambat ketika Manda menanyakan pertanyaan itu. Tangannya yang terbebas menopang pelipisnya dengan telunjuk, bersandar pada jendela mobil.“Lo mau tau kenapa selama ini gue gak ngasih tau kalau Nevan ada hubungan sama Ivy?”Tidak ada jababan tapi mata Ivy tidak berpaling dari Unmesh, hanya dengan begitu pria itu paham. Dan melanjutkan perkataannya, “mereka udah nikah.” Ia menoleh hanya ingin melihat reaksi Manda akan seperti apa. Tapi sepertinya dugaanya salah, Manda seolah sudah tahu dan hanya tersenyum simetris.“Gue juga gak sebodoh itu. Gue yakin Nevan sama Ivy punya hubungan. Tapi gue masih belum nemu jawaban kenapa mereka rahasiain hubungan mereka?”Mobil mengkilap Unmesh berbelok, jalanan sore ini tidak terlalu padat. Mungkin karena sebentar lagi akan hujan sehingga orang-orang berantisipasi untuk tetep tinggal di rumah daripada harus bergelut dengan dinginnya udara saat hujan.“Mereka gak pernah sal

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   35. Orang jahat

    Wajah Nevan berseri-seri, ia tidak ragu menggenggam tangan Ivy setelah mereka turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam. Namun, Ivy bukan orang yang seperti Nevan, mudah terbiasa dengan suatu perubahan. Ia akan memikirkan banyak kemungkinan dalam kepalanya. Lain kali Ivy harus belajar kepada Nevan soal jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain selama kita nyaman menjalaninya.Nanti malam, mungkin.“Pagi-pagi udah senyum-senyum gitu, abis ngapain lo.” Unmesh menyamakan langkah Nevan dan Ivy, seolah paham Ivy memberi ruang untuk dua pria yang sudah sahabatan bertahun-tahun itu. Perempuan itu melambatkan langkahnya agar berada di belakang Nevan dan Unmesh. Tapi Nevan tidak membiarkannya, tangannya menelusup ke pinggang Ivy supaya istrinya itu tetap berada di sampingnya.“Kalo gue cemberut, berarti kerja lo gak becus,” seloroh Nevan. Unmesh tertawa.“Gila, gue shok waktu lo tiba-tiba marah sama gue. Gue nyadar si kerja gue agak kurang di proyek ini. Tapi denger lo

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   34. Tidak mau hari esok

    “Ivy!”“Apa?”Nevan menyusul istrinya dengan amarah yang sudah memuncak. Tapi melihat wajah Ivy yang lelah dan matanya yang sudah sembab amarahnya langsung redam berganti dengan rasa kasihan. Nevan menghela napas panjang. Ia mengelus puncak kepala Ivy.“Kamu bersih-bersih dulu, terus kita makan, setelah itu kita lanjutin ngobrol lagi,” kata Nevan.Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ivy masuk ke dalam kamar dan langsung membersihkan diri. Sembari menunggu Ivy selesai mandi, Nevan merebahkan tubuhnya di sofa. Menyugar rambutnya frustrasi.Pukul satu malam Ivy keluar dari kamar membawa selimut dan satu bantal. Nevan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk mendadak menghentikan aktivitasnya itu. Mereka tidak jadi makan, sebab Ivy mengatakan jika dirinya sudah makan. Pun Nevan yang sudah tidak bisa lama-lama perang dingin dengan istrinya.Ivy duduk di sofa single, mengabaikan Nevan seolah pria itu tidak ada di sana. Rambutnya bahkan belum dia keringkan. Nevan jadi heran, kenapa Iv

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   33. Pertengkaran hebat

    Sudah pukul 11 malam Ivy baru keluar dari kantor. Lagi-lagi ia harus beralasan lembur untuk menghindari Nevan. Sepertinya kali ini Nevan sudah pulang. Tadi Ivy sempat pura-pura menemui Unmesh yang kebetulan ruangannya dekat dengan ruangan Nevan. Unmesh juga menyinggung soal Nevan yang pulang lebih dulu dan membahas mengenai suasana hatinya yang kurang baik hari ini.Sepertinya Nevan betulan marah. Malam ini Ivy berencana akan tidur di sofa saja. Tidak mungkin kan setelah perang dingin tadi, Ivy tiba-tiba tidur di sampinya. Ia turun menuju lobi. Ia sengaja belum memesan taksi online, agar ia bisa terus mengulur waktu. Kantor sudah sepi, Ivy hanya melihat beberapa sekuriti yang sedang jaga. Ia keluar dari lobi sembari memesan taksi online.Ivy terhenyak saat sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti tepat di depannya. Ia mematung cukup lama hingga kaca mobil itu diturunkan dan memperlihatkan wajah dingin Nevan yang sialannya terlihat lebih menawan terkena lampu kemuning dari luar. Ivy

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status