LOGIN"Kamar mama ada di lantai 4." Ucap Tiara setelah Andini baru pulang dari minimarket.
"Kapan pindahnya?" "Sebentar lagi." Oleh karena Lastri yang masih mengalami pusing, ia lalu dibawa pindah ke kamarnya menggunakan brankar. Sebuah kamar VIP di lantai 4. Lastri yang cerewet ingin istirahat dan tidak mau bergabung dengan pasien lain, sebagai anak, Andini dan adiknya memberikan yang terbaik saja. Sesampainya di lantai 4, Andini terkejut karena bertemu dengan teman sekolahnya yang merupakan perawat di lantai ini. "Ra.. kamu jaga mama sebentar. Mbak mau ke depan, rupanya ada temen mbak kerja disini." Tiara mengangguk dan membiarkan Andini ke nurse station. Sementara Andini menemui Risa teman lamanya yang sedang mengerjakan laporan di nurse station. "Ya Allah, Andini. Ini kamu?" Risa tersenyum dan memeluk Andini. "Apa kabar?" "Baik sekali. Kamu apa kabar?" "Baik juga! Udah lama kita nggak ketemu." "Hmm.. terakhir reuni beberapa tahun yang lalu. "Jadi gimana sekarang? Udah dapet pangerannya?" Tanya Risa mengedipkan matanya. "Belum. Do'ain ya, mudah-mudahan di tepatkan sm Tuhan." "Aamiinn.." baru saja do'a terucap, seorang pria keluar dari kamar dengan paniknya. Ia melaju ke nurse station hingga membuat ketiga perawat yang sedang bertugas termasuk Andini terkejut. "Suster tolong! Ibu saya jatuh di kamar mandi!" Seru Andra terengah. Melihat itu, kedua perawat langsung mengikuti Andra ke kamar rawat sementara Risa memilih mengobrol dengan Andini. Risa berdecak. "Rempong banget sih keluarga artis satu itu!" "Rempong gimana?" Tanya Andini. Dia jadi sedikit cemas karena Andra mengatakan ibunya jatuh di kamar mandi. "Banyak banget keluhannya. Belum lagi permintaannya aneh-aneh. Si artis itu juga cerewet banget!" Gerutu Risa jengkel. "Namanya juga pasien. Maklum aja.. memang dirawat di kamar berapa?" "407." Andini langsung menatap nomor-nomor yang tertera di dinding kamar. Tak lama, seorang perawat keluar dari kamar 407. "Mbak Risa, tolong hubungi dokter jaga. Kepala pasien kebentur." Nah, Risa langsung bergerak mengambil telpon dan menghubungi dokter jaga. Andini yang khawatir jadi memberanikan diri untuk masuk ke kamar 407, dia pun melihat Maryam yang sudah terkulai lemah di atas kasur. "Bagaimana keadaan bu Maryam?" Andra menoleh saat terdengar suara itu. "Ibu jatuh di kamar mandi. Padahal, aku cuma tinggal ke bawah sebentar tadi." "Berapa tekanan darahnya, sus?" Tanya Andini pada perawat yang tengah memeriksa Maryam. "Rendah. Sepertinya tadi ibu Maryam muntah di kamar mandi, lalu pingsan." "Astaga.." Andra jadi merasa bersalah. Andai saja dia tidak marah-marah dan meninggalkan ibunya, semua ini pasti tak akan terjadi. Tak lama, seorang pria yang merupakan dokter jaga datang dan memeriksa keadaan Maryam. Begitu juga kepala yang terbentur ikut dilihat. Untunglah tak terjadi sesuatu yang fatal. Dokter pun memberi instruksi untuk memasang oksigen dan memberikan obat-obatan. "An.." Maryam mulai tersadar ketika mendapatkan pasokan oksigen yang terpasang dihidungnya. Ia mengerjap beberapa kali untuk membuka matanya. "Ibu.." Andra menghampiri Maryam dan memegang tangannya. "Apa yang terasa?" "Pusing.." jawab Maryam lemah. "Maaf tadi aku meninggalkan ibu." Ucap Andra menyesal. "Bukan salahmu. Ibu cuma mau muntah tadi terus tiba-tiba pusing." Andra mencium tangan ibunya dengan kasih sayang. Di dunia ini, Andra hanya memiliki ibunya. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sebab itulah, Andra sangat menjaga Maryam. Tapi, malam ini Andra merasa gagal. Betapa tidak? Karena kemarahannya yang tak beralasan, Maryam sampai jatuh di kamar mandi dengan kepala membentur lantai. Untung saja tidak terjadi sesuatu yang fata, jika tidak Andra pasti akan menyalahkan dirinya seumur hidup. "Ibu.." tegur Andini. Wanita bercadar ini juga ikut prihatin akan kondisi Maryam. "Andini?" Nah, sekarang mata Maryam membulat sempurna. Kesadarannya kembali penuh ketika melihat calon menantu idamannya. "Kamu disini, nak?" "Iya.. gimana keadaan ibu sekarang? Apa sudah merasa lebih baik?" Maryam mengangguk lemah. "Lebih enakan dari sebelumnya. Kamu sedang apa disini?" Ia lalu melirik Andra. "Apa Andra yang mengabarimu jika ibu sakit?" Kalau begitu, Maryam akan senang sekali. "Mama dirawat, bu. Vertigonya kumat." "Ya, ampun. Bu Lastri dirawat juga?" Andini mengangguk. "Di kamar sebelah." "Oh.. ibu ingin lihat!" "Ibu!" Tegur Andra. "Ingat-ingat kondisi ibu yang belum sehat betul. Nanti aja ketemunya ketika sudah pulang." Lalu kalian berdua bisa bergosip dengan ria seperti waktu itu. "Sampaikan salam ibu ke mamamu ya, nak." Ucap Maryam akhirnya. "Nanti aku sampaikan.. ibu juga sehat-sehat, ya.. nanti besok aku kemari lagi." Mengkerut dahi Andra mendengar nada suara Andini. Ternyata wanita ini bisa bernada lembut juga. Setelah itu, Andini ke kamar rawat ibunya yang ada di 406 dan menyuruh Tiara pulang ke rumah karena malam ini ia akan berjaga. "Andra.. nanti kamu belikan parsel buah, terus cake langganan ibu, ya.." "Ibu mau makan itu?" Tanya Andra dengan mata yang memerah. Kantuk sudah datang menghampirinya. "Bukan. Untuk bu Lastri. Nanti kamu besuk dia, ya. Seperti Andini tadi kesini." Andra berdecak. "Pikirkan kesehatan mama dulu. Jangan orang lain." "Iya.. tapi maksud ibu, kita harus memberikan perhatian juga pada bu Lastri, kan?" Maryam jadi tersenyum karena mengingat Andini yang mengkhawatirkannya tadi. "Coba kamu lihat Andini tadi. Ibu sampai terharu karena dia perhatian sekali sama ibu." "Cuma kebetulan aja, bu. Tadi pas aku manggil suster, dia lagi ada di depan juga." "Kenapa sakit sekali hati ibu mendengarnya?" Andra yang tadi mulai merebahkan kepalanya di sofa jadi terkejut. "Maksud ibu sakit hati kenapa nih?" "Kamu seperti kehilangan semangatmu untuk berhubungan dengan perempuan." Jawab Maryam menatap nanar atap kamarnya. "Apa mungkin karena Rena?" "Bukan, bu." Sanggah Andra. "Jelas karena dia. Harusnya kamu sadar kalau sudah ditolak, nak. Tahu diri dan ingat bagaimana waktu itu papanya merendahkanmu." Andra terdiam akan ucapan ibunya. Memang benar waktu itu papa Rena begitu menghinanya karena dianggap tidak selevel dengan mereka yang merupakan seorang konglomerat ternama. "Jangan karena Rena kamu jadi tidak mau menikah. Masih ada perempuan baik diluar sana yang bisa kamu nikahi.." sambung Maryam. "Perempuan baik banyak, bu. Tapi yang menerimaku? Menerima ibu? Semua wanita yang ku kenal hanya mencintai tampang dan popularitasku." Bukan sekali dua kali, Andra didekati lawan mainnya sendiri. Tapi entah kenapa Andra merasa tak ada dorongan untuk menjalin hubungan dengan mereka. Hubungan Andra dengan para gadis-gadis itu hanya sebatas profesional. Mungkin sebab itulah yang membuat Andra mendapat julukan pria kulkas 7 pintu. Karena sikapnya yang dingin pada wanita. "Ibu sudah menyiapkan satu wanita untukmu. Wanita yang ibu rasa bisa menjadi pendamping terbaikmu. Kalaupun nanti ibu pergi dari dunia, ibu akan tenang karena kamu tidak sendirian." "Hari sudah malam." Potong Andra cepat. "Lebih baik kita tidur." Andra mengambil bantal dan menaruhnya di atas kepala. Dia tak mau lagi mendengar nyanyian kesedihan dari mulut ibunya. Esok harinya, Andini kalang kabut mencari ibunya ketika sore itu berkunjung kerumah sakit. Maklum, pagi ini Andini dan Tiara tidak bisa menjaga Lastri karena bekerja. Keduanya baru tiba sore ini di rumah sakit. Namun, baru sampai ke kamar, Lastri tidak ada. "Masa sih nggak ada?" Risa juga heran. Padahal siang tadi, pasiennya masih ada di kamar dan makan siang. Seluruh perawat mencari keberadaan Lastri yang menghilang tiba-tiba, namun rupanya sebuah suara menyentaknya. "Mamamu ada di kamar ibuku." Ucap Andra kesal pada Andini yang berdiri di dekat nurse station. Ia lalu kembali lagi ke kamar rawat. "Ya, Allah.." Andini lalu masuk ke kamar 407 dan menemukan ibunya yang tengah mengobrol dengan Maryam. "Mama!" "Eh, udah pulang kamu?" Tanya Lastri santai. Heran! Katanya vertigo tapi kenapa bisa berjalan sampai kemari. Lalu tertawa bersama dengan Maryam.. Apa ini? "Mama ngapain disini, ma? Nanti mama pusing lagi." Ucap Andini yang terlebih dahulu memberikan salam pada Maryam. "Kamu kok nggak ngasih tahu mama kalo bu Maryam dirawat? Mama jadi cemas tahu nggak!" Lastri pun menjelaskan. "Tadi mama dapat kiriman parsel buah dan kue dari Andra. Itulah mama jadi tahu kalau bu Maryam dirawat." "Ya Tuhan.." Andini menghela nafas panjang. "Sekarang kita kembali ke kamar, yuk. Mama dan bu Maryam harus istirahat." "Betul. Dari tadi kerjaannya cuma bergosip." Seru Andra memandang dari jauh. "Bukan bergosip.. cuma menukar pengalaman." Maryam meralat ucapan anaknya. Akhirnya, Andra tenang karena Lastri berhasil disingkirkan. Tapi di kamar sebelah, Lastri terus mengomel. "Udah, ma jangan marah-marah. Aku mau pulang, Tiara yang akan bertugas berjaga malam ini." Daripada pusing, Andini melarikan diri dulu dari hiruk pikuk rumah sakit. Besok pagi dia akan kembali berjaga karena sudah mengajukan cuti. Hari berganti, Andini kembali menjaga ibunya dan tepat pukul 10 pagi pintu kamarnya di ketuk. Ternyata ada yang datang ingin membesuk. "Bu Maryam?" Andini menatap tak percaya. Sekarang giliran Maryam yang membesuk Lastri. Astaga! Andini sudah tak bisa berpikir. "Selamat pagi, sayang.." Maryam tersenyum manis dan duduk di kursi rodanya. Sementara, yang mendorong di belakang menampilkan wajah masam. Tak bisa ditolak, kedua ibu ini mengobrol lagi dengan intens seolah dunia ini hanya milik mereka berdua. "Sama bu, aku juga sedih karena Andini." Andini menoleh karena namanya disebut-sebut. "Aku juga sama. Ternyata kekhawatiran orang tua itu semuanya sama saja." Sahut Maryam yang membuat Andra menajamkan pendengarannya. "Aku ingin melihat Andini dan Tiara menikah, setidaknya sebelum kita pergi menghadap Sang Pencipta." Air mata jatuh ke pipi Lastri. Begitu juga Maryam yang tiba-tiba melirih. "Sama saja, bu. Semenjak ayah Andra meninggal, satu-satunya sumber kebahagiaanku adalah Andra. Tapi, Andra.." Maryan menatap Andra yang merengut kepadanya. "Seperti tidak mau membahagiakan ibunya.." Oh, Andra terperangah. Ingin sekali ia membantah semua ucapan ibunya. "Andini juga.. dia anak pertamaku, kebanggaan papanya.. tapi dia selalu membantahku, tidak mau menuruti nasehatku.." "Mama.." tegur Andini. Dia sampai beristighfar. "Keinginan mama hanya satu, Dini. Kamu menikah." "Mama, tolonglah.." Andini jadi gerah kalau pernikahan selalu menjadi topik perdebatan mereka. "Andra pun begitu. Dia tidak mau menikah dan terus-terusan menyakiti hati ibunya." Maryam menggeleng sedih. "Kalau begini, aku akan menerima takdirku. Jika aku mati dan Andra belum menikah, maka aku siap mempertanggung jawabkannya di depan Tuhan.." "Aku juga, bu.. aku akan meminta maaf kepada papanya karena tidak mampu menemani Andini dan Tiara sampai menikah." Kedua wanita itu lalu menangis tersedu-sedu hingga membuat Andini dan Andra jadi sakit kepala. Andra sudah menegur, tapi Maryam semakin menangis. Begitu juga Andini yang malah mendapat kemarahan Lastri. "Baiklah, cukup! Berhenti menangis!" Andra hampir hilang akal. "Aku akan mengabulkan keinginan kalian." Kedua wanita itu lalu menatap Andra dengan kebingungan. "Aku setuju menikahi Andini." Ucap Andra yang berhasil membuat Andini melotot kesal.Sudah dua bulan berlalu, setelah melalui rangkaian proses yang panjang.. akhirnya pelirisan film Andra yang terbaru dengan judul, "Perisai Bayangan" akan segera naik ke layar lebar.Para cast dan juga punggawa film yang terlibat diundang untuk menghadiri gala premier yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Termasuk Andini yang sudah mendapatkan undangan. Hari nanti, dia akan menampilkan dirinya pertama kali ke media sebagai seorang penulis.Walau dirinya masih merasa tak sebesar penulis yang lain. Tetap saja ini sebuah prestasi.Malam itu, Andra sudah siap dengan gagahnya. Dibantu Andini, Andra memakai kemeja hitam dengan jaket kulit. Sementara Andini memakai gamis berwarna merah muda, sama dengan warna hijab dan cadarnya."Apa aku sudah tampan?" Andra berpose depan istrinya hingga membuat Andini tertawa."Kamu selalu tampan." Bahkan berkali-kali lipat lebih tampan semenjak Andra memutuskan untuk berhijrah. Seperti ada pijaran cahaya yang terpancar dari dahi yang sekarang rajin menyu
Rena hampir terjatuh jika tak pandai menjaga keseimbangan tubuhnya..ia lalu menatap Andra dengan kesal. Pria itu sekarang sudah berani bersikap kasar kepadanya."Andra!" Rena jadi marah."Rupanya aku belum terlalu mengenalmu, Rena. Kemana perginya Rena yang anggun itu? Rena yang bijaksana dan sangat dewasa. Apa mungkin ini adalah sikap asli yang selama ini kamu tahan????""Andra!!" Rena ingin menyela ucapan pria di hadapannya."Memangnya kamu pikir siapa dirimu hingga berani memukul istriku, hah?" Andra jadi meradang hingga membuat Rena terkesiap. "Berani sekali kamu membuatnya menangis!""Dia yang memulainya duluan! Dia menghinaku! Mengatakan jika aku berusaha menggodamu.""Oh.. ternyata kamu bisa juga berbohong, ya?" Andra menatap sengit. "Sekarang pergilah dari sini sebelum aku habis kesabaran!""Aku tidak mau. Aku masih mencintaimu, Andra. Sudah ku katakan sejak dulu kalau cintaku hanya untukmu!"Andra tercengang namun sedetik kemudian tersenyum miring."Karena tidak mendapatkan k
"Rena!" Andra melepas pelukan wanita ini dengan kasar. "Ada apa denganmu?"Rena terkesiap. Ia yang tadi menangis terisak jadi berhenti. Dia terkejut karena Andra yang tiba-tiba menolaknya."Andra.." lirih Rena berkaca-kaca."Maaf aku nggak bermaksud mendorongmu." Pria ini lalu melirik Andini yang berdiri tak jauh darinya. "Kamu disini, Rena? Bukannya kamu pindah keluar negeri?"Rena menggeleng sedih. "Aku tidak tahan, Andra. Suamiku.. maksudku, aku akan bercerai dengannya.""Loh, kenapa?""Dia main tangan padaku. Dia juga ternyata memiliki selingkuhan, Andra.." jelas Rena tersedu-sedu. "Aku menyesal menikahinya.""Lebih baik kita cerita di dalam."Andra meminta wanita ini untuk masuk ke rumah terlebih dahulu. Berbahaya jika sampai ada yang tahu jika Rena mampir ke rumahnya sambil menangis.Sedangkan, Andini tahu diri. Dia menyingkir ke kamarnya sendiri. Memberi ruang pada dua insan yang dulu pernah memadu kasih."Aku menyesal menikah dengan pilihan papaku, Andra. Jika aku tahu begini.
Andini menyentuh bibir yang disentuh oleh suaminya. Ya, cerewet. Andra tadi mengatakan seperti itu. Karena Andini yang mengomel jadi Andra membungkamnya dengan sebuah ciuman.Sebentar. Tak sampai 30 detik bibir itu menyatu. Dua bibir yang menempel dengan rasa kaku.Ciuman pertama bagi Andini yang berhasil membuat jantungnya berdebar sampai saat ini. Andini malah berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya untuk menetralisir gemuruh yang ada di hati ini.Tangan Andini bahkan masih gemetaran. Berulang kali dia memegang bibirnya ini. Bibir yang sempat disentuh oleh suaminya. Tak menyangka kalau Andra mengambil tindakan seberani itu.Sedangkan di kamarnya, Andra juga gelisah sendiri. Aduh, gimana ya? Dia sudah sering beradegan mesra dengan lawan mainnya. Bahkan bersentuhan bibir dengan hebatnya.Tapi, kenapa Andra begitu gugup ketika bibir mereka bersentuhan. Bibir istrinya itu begitu lembut dan semanis madu. Astaga.. pasti ini kali pertama Andini mendapatkan ciumannya. Namun
Masuk hari ke empat, Andini pergi menemui direktur setelah ia diperintahkan untuk mutasi ke tempat yang bahkan dia tak tahu kemana. Setidaknya, wanita ini ingin tahu apakah surat keputusan sudah terbit apa belum.Andini ingin bersiap kalau saja sewaktu-waktu dia diperintahkan keluar dari rumah sakit ini.Pukul 10 pagi setelah memberikan terapi rehabilitasi, Andini pergi menemui direktur. Namun sekretaris wanita itu mengatakan jika ibu direktur tengah dinas diluar. Andini pun terpaksa kembali lagi ke ruangannya.Di tengah perjalanannya, ia bertemu dr. Richard. Mereka berdua pun saling menyapa."Udah lama banget aku nggak dapet pasien cewek kayaknya!" Seloroh pria ini."Iya juga.. padahal dokter selalu jadi idola di ruang Kasih." Balas Andini sambil tersenyum.Richard lalu terkekeh. "Apa kabarmu, Andini?""Lebih baik dok.""Kamu dari ruang direktur?""Iya. Nyari beliau.""Ngadep soal apa lagi? Bukannya masalahmu sudah clear?" Tanya Richard."Bu dir bilang aku akan dimutasi, jadi aku mau
"Mari kita berpisah, mas. Aku membebaskanmu dari pernikahan ini."Andra terkesiap ketika melihat air mata yang mengalir di wajah istrinya. Dia tahu jika Andimi sering menangis karena ulahnya secara diam-diam. Namun, sekarang.. dia melihat langsung air mata yang jatuh dari mata indah itu. Oh, hati Andra jadi sakit sekali.. dia ingin membalaskan dendam pada orang yang sudah menyakiti hati istrinya. Tapi, dia lupa jika orang yang sering menyakiti istrinya adalah dia sendiri."Dini.. kamu sadar apa yang kamu katakan barusan?"Andini mengangguk dan menatap pria itu dengan sedih."Aku tahu kita sudah terjebak cukup lama dalam pernikahan ini. Aku yakin kamu sudah sangat tersiksa karena hidup denganku. Maafkan aku, mas.. aku nggak pantas bersanding denganmu sampai aku tidak bisa mengakuimu sebagai suamiku." Ucap Andini menangis lagi."Andini..." kini giliran Andra yang terperangah karena ucapan istrinya."Kamu juga sudah menalakku, mas. Memang lebih baik kita berpisah saja.""Kapan aku member







