Mag-log inDiana melangkah keluar dari lingkaran tirai peraduan Arthur. Aroma obat-obatan yang tajam masih menempel di ujung hidungnya, bercampur dengan aroma dupa krisan yang menenangkan. Namun, belum sempat ia melintasi ambang pintu untuk menuju selasar istana, sebuah tarikan lembut namun erat menahan pergelangan tangannya.Diana berhenti dan menoleh perlahan. Di atas ranjang, Sang Kaisar yang baru saja bersandiwara menderita luka parah meskipun keningnya memang benar-benar terluka itu kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang penuh dengan tuntutan perhatian yang kekanakan di balik topeng wibawanya."Kau juga ingin pergi?" tanya Arthur. Suaranya rendah, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus merajuk lebih jauh atau tetap pada skenario "sakit parah"-nya.Diana menatap tangan Arthur yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap wajah suaminya itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Bukankah sakit Yang Mulia cukup parah? Menurut diagnosa tabib tadi, Anda butuh
Diana melangkah dengan martabat seorang Permaisuri yang tak tergoyahkan. Meskipun perutnya yang besar membuatnya harus berjalan lebih lambat dan hati-hati, aura otoritas yang dipancarkannya justru semakin tajam. Di halaman depan istana, pemandangan yang tidak biasa tersaji. Belasan selir dari berbagai tingkatan sudah berlutut gemetar di atas lantai marmer yang keras. Wajah mereka tertunduk dalam, tangan-tangan mereka saling bertaut erat, dan isak tangis kecil terdengar samar di antara desau angin.Diana mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya menyapu barisan wanita-wanita cantik yang kini tampak seperti pesakitan itu. Perasaan jengkel mulai merayap di dadanya. Drama apa lagi yang diciptakan pria itu hari ini? batinnya ketus. Tanpa memberikan sepatah kata pun pada para selir yang ketakutan itu, Diana melanjutkan langkahnya masuk ke dalam istana, diikuti oleh Embun yang selalu sigap di belakangnya.Begitu memasuki ruang peraduan Kaisar, aroma obat-obatan herbal yang sangat menyen
Keheningan yang mencekam segera menyelimuti ruang kerja Alon begitu derap langkah sang Kaisar menghilang di balik pintu mahoni yang berat. Denada masih terduduk di atas meja jati yang berantakan, napasnya perlahan mulai teratur, namun tatapannya kosong menatap dinding pualam yang dingin. Dengan gerakan pelan, Denada turun dari meja. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil ke seluruh tubuhnya. Ia mulai memunguti helai demi helai pakaiannya yang berserakan—sutra hitam yang koyak di beberapa bagian, ikat pinggang yang terlempar jauh, dan jubah luar yang tergeletak malang. Ia memakainya kembali dengan tangan yang stabil, mengancingkan setiap simpul dengan ketelitian yang menakutkan. Tidak ada pelayan yang membantu, dan ia memang tidak menginginkan siapa pun melihat sisa-sisa "pertempuran" yang baru saja ia lalui.Setelah pakaiannya rapi kembali, Denada tidak segera beranjak pergi. Ia menunduk, menatap dokumen-dokumen yang tadi menjadi
Langkah kaki Denada bergema lirih saat ia memasuki ruang kerja utama Alon. Ruangan itu adalah jantung dari Kekaisaran Delore, tempat di mana setiap perintah berdarah bermula dan setiap nasib ditentukan. Udara di dalamnya terasa berat, dipenuhi aroma tajam tinta hitam, kayu jati tua, dan wangi lilin lebah yang menyala temaram. Alon duduk di balik meja besarnya yang megah, bayangannya tampak memanjang di dinding pualam, menciptakan kesan sosok predator yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya. Pria itu tampak sedingin es, wajahnya yang tampan namun keras tidak menunjukkan emosi sedikit pun saat matanya bertemu dengan tatapan Denada."Kemari," perintah Alon singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.Denada melangkah mendekat dengan kepala tertunduk patuh. Mantelnya yang berbulu lebat telah ia lepaskan di luar, menyisakan gaun sutra tipis yang melekat pada tubuhnya yang ramping. Di balik ketenangan wajahnya, jantung Denada berdegup kencang, namun buka
Di dalam paviliunnya yang kini terasa jauh lebih lapang setelah hukuman dicabut, Denada duduk di dekat jendela, menyesap teh melati yang sudah mendingin. Matanya menatap kosong ke arah taman, namun pikirannya mengembara pada bait-bait strategi yang ia susun bersama Isabella. Suasana hening itu pecah ketika Cucu masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan—antara cemas dan sesuatu yang menyerupai rasa kagum yang tertahan."Yang Mulia," bisik Cucu, membungkuk dalam. "Ksatria Althaf Rumi ada di depan. Beliau membawa pesan dari Yang Mulia Kaisar."Denada meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus. Nama itu, entah mengapa, memicu getaran kecil di ulu hatinya yang ia pikir sudah mati rasa. Ia merapikan jubah mantel berbulu rubah peraknya, lalu berdiri dengan anggun. "Persilakan dia masuk."Pintu terbuka, dan sosok Althaf muncul. Pria itu tampak seperti bagian dari musim dingin itu sendiri—dingin, kokoh, dan tak tergoyahkan. Zirah ke
Di tengah ruangan yang tenang itu, Diana duduk dengan punggung tegak, meskipun berat kandungannya membuat setiap posisinya terasa sedikit melelahkan. Matanya yang tenang menatap ke depan, menanti sosok yang paling ia percayai dalam urusan birokrasi negara.Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan jubah resmi yang menunjukkan martabat tinggi. Perdana Menteri Mahen melangkah masuk dengan langkah kaki yang terukur, kepalanya tertunduk penuh rasa hormat. Begitu ia tiba di hadapan Diana, ia segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam."Anda memanggil saya, Yang Mulia?" ucap Perdana Menteri Mahen dengan suara yang berat namun penuh pengabdian.Diana menyunggingkan senyum tipis yang tulus. Ia memberikan isyarat dengan tangannya yang halus agar pria itu bangkit dari bungkukkannya. "Bangkitlah, Perdana Menteri. Dan silakan duduk. Maaf jika panggilan saya pagi ini terasa terlalu mendadak dan mungkin mengganggu jadwal majelis Anda bersama Kaisar."Perdana Menteri Mahen me
Diana menikmati jalannya peresmian Klinik Kecantikan Ruyi dari sudut ruangan yang tidak mencolok. Ia berdiri santai di balik pilar kayu merah, bahunya diselimuti mantel musim dingin sederhana dengan tudung yang sedikit menutupi wajahnya. Di tangannya, sebuah tusuk kecil berisi
Seluruh persiapan peresmian Klinik Kecantikan Ruyi akhirnya rampung. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Diana bisa menarik napas tanpa beban daftar tugas yang berputar-putar di kepalanya. Tidak ada lagi formula krim yang harus disempurnakan, tidak ada lagi c
Diana melangkah turun dari kereta kuda dengan gerakan anggun namun terukur. Rok panjangnya menyapu anak tangga kayu yang telah dipoles rapi, sementara Embun dan dua pelayan lain segera mengikutinya dari belakang. Hari ini bukan kunjungan biasa. Diana tahu betul, setiap langkahnya ke dalam harem K
Berbanding terbalik dengan Istana Putra Mahkota yang malam itu diselimuti ketenangan rapuh, Istana Kaisar justru bergolak dalam ketegangan yang hampir mencekik napas. Langit di atas Harem Tengah seakan lebih rendah dari biasanya, awan kelabu menggantung berat, seolah ikut menekan setiap