Masuk“Cara a-apa–”
“Ikut aku.” Arthur berdiri tiba-tiba.
Menanggapi itu, Diana berusaha bangun, tapi tubuhnya tanpa daya kembali jatuh karena kakinya tidak mampu menopang. Kakinya gemetar hebat setiap kali ia mencoba berdiri.
“Saya… tidak bisa…” Tanpa sadar, Diana merengek. Ia menggigit bibir sekuat tenaga kemudian. “Yang Mulia, tolong….”
Arthur menatapnya dingin, tapi tetap melangkah mendekat.
Tangannya yang kokoh kemudian menarik Diana hingga tubuh kecil Diana membentur dada bidangnya. Lalu, dengan gerakan ringan, pria itu mengangkat Diana dan menggendongnya.
Sentuhan Arthur membuat Diana melolosan suara memalukan. Meski bukan sengaja dan semata-mata karena refleks dari sensasi yang menusuk tubuhnya, gadis itu makin merasa malu tak karuan.
Arthur mengencangkan rahangnya keras sembari melangkah keluar kamar, tampak tidak suka mendengar suara itu.
“Yang Mulia …” Suara Diana berucap lirih, hampir tidak terdengar. “Anda membawa saya … ke mana?”
Namun, Arthur tidak menjawab.
Diana mendongak perlahan, lalu kembali mengagumi garis rahang tegas pria yang kini telah menjadi suaminya tersebut. Tatapannya turun ke leher Arthur, lalu naik lagi untuk mengagumi sepasang mata biru gelap milik pria itu.
Tiba-tiba, mata mereka kembali beradu. Biru pucat dan biru gelap. Diana hampir tenggelam dalam tatapannya.
Hingga–
–tiba-tiba pria itu melepaskan gendongannya.
“Aah!”
BYUUURR!
Seketika Diana jatuh ke dalam air dingin.
Tubuhnya langsung membeku. Sontak, sensasi panas dan gairah yang meledak-ledak barusan seketika padam seperti api disiram oleh seember air es.
Diana membuka mata lebar, syok.
DASAR PANGERAN GILA!
Dingin dari danau Utara menusuk kulitnya seperti ribuan jarum tipis, membuat otot-ototnya menegang lalu melemah.
Ia berusaha meraih permukaan air, mencoba berenang, namun tubuhnya terseret karena ia memang tidak bisa berenang sama sekali.
Sementara itu, Arthur berdiri di pinggir danau, menatapnya tanpa ekspresi.
Konyol. Ia batal dibunuh oleh mantan kekasihnya dan dibuang ke jurang, tapi kini justru Diana akan mati tenggelam?
Apakah takdir karakter memang tidak bisa diubah?
Namun, ketika kesadarannya sudah berada di ambang batas, mata Diana menangkap sebuah bayangan hitam yang melesat masuk ke dalam air seperti anak panah. Samar-samar, Diana menangkap pantulan cahaya bulan pada permukaan topeng emas Arthur.
Detik berikutnya, sebuah tangan kuat meraih lengannya.
Gerakan Arthur cepat, tegas, dan penuh tenaga, seakan tidak terpengaruh oleh dinginnya air danau.
Tangan kiri pria itu menarik pinggang Diana, sementara tangan satunya meraih permukaan dengan pukulan renang kuat yang mampu memecah gelombang air sekeliling mereka.
Bahkan dalam kondisi ini … Arthur tetap bergerak seperti seseorang yang terbiasa melawan maut.
Diana ingin mengatakan sesuatu—apa pun—tapi seluruh tubuhnya hanya menggigil.
Dan ketika kepala mereka akhirnya berhasil keluar dari air, Diana menghirup udara sebanyak-banyaknya, paru-parunya sakit, tapi rasa sakit itu membuktikan bahwa dia masih hidup.
Arthur menarik tubuhnya ke tepian danau, lalu membiarkannya terbaring di tanah berbatu yang dingin.
Diana terbatuk keras, lalu berguling ke sisi lain dan memuntahkan air sebelum terkapar di atas batu. Terlentang menatap langit malam.
Di sini, langit jauh lebih gelap, namun bintang-bintangnya lebih terang.
Ia perlahan bangkit, masih terbatuk sebelum akhirnya menatap sosok di depannya.
Arthur duduk tak jauh dari posisi Diana. Tubuhnya sama basahnya. Rambut hitamnya menempel di tengkuk dan dahinya.
Diana mengepalkan jemarinya yang gemetar kedinginan dan berteriak dengan suara parau,
"Yang Mulia!"
Arthur menoleh pelan. Wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Diana gemas setengah mati. “Saya hampir mati!” ujarnya penuh emosi, suaranya pecah, campuran marah dan trauma akan kematian kedua.
Arthur menjawab datar, seolah itu bukan masalah besar, “Sekarang kau tidak mati, bukan?”
Diana melongo. Kemudian rasa kesalnya naik ke puncak.
Suhu dingin berlebihan memang dapat melawan efek tumbuhan Eroli yang menyerang pernapasan dan sistem saraf. Diana paham itu. Secara medis, tindakan Arthur tidak salah.
Tapi tetap saja!
Menjatuhkannya ke danau begitu saja? Tanpa peringatan!?
Diana mendengus keras, lebih karena ingin menutupi rasa malu dibanding marah. Namun, seperti tidak peduli, Arthur malah mengalihkan pandangan seolah bosan melihatnya.
“Kembalilah ke kamar. Penampilan basahmu mengganggu mataku.”
Diana mematung.
Lalu pelan-pelan… Wajahnya memerah. Kali ini karena kesal.
Basah?
Mengganggu?
Salah siapa dia basah kuyup begini?!
Namun, sepertinya energinya tidak cukup untuk marah-marah, apalagi memaki. Jadi Diana hanya menggeram lirih, sebelum akhirnya berdiri dan berjalan mengikuti langkah pria itu.
Arthur, yang berjalan beberapa langkah di depan, diam-diam melirik menggunakan ekor matanya ketika mendengar dengusan kesal dari Diana.
Dan bibirnya mengukir senyum samar.
***
Keesokan paginya, Diana bangun dengan sedikit rasa berat di kepala, efek semalam dipaksa menghadapi suhu dingin ekstrem.
Meski begitu, pikirannya lebih jernih. Kaisar pasti frustasi dengan kondisi putra mahkota dan fakta bahwa para mantan istri meninggalkannya, yang membuat posisi putra mahkota goyah. Kejadian semalam pasti juga menjadi perhatian para pelayan.
Namun, terlepas dari para pelayan yang pasti bergosip, Diana memasang ekspresi tenang ketika para pelayan masuk membawa air hangat, kain lembut, serta pakaian formal berwarna biru muda khas keluarga kerajaan untuknya.
Diana duduk di depan meja rias besar berbingkai perak.
Embun, pelayan pribadinya sejak kecil, memulai pekerjaannya dengan gerakan lembut, seperti biasa. Sementara pelayan senior Erna, wanita separuh baya yang diutus Istana khusus melayani Putri Mahkota, membantu merapikan rambut panjang Diana.
“Putri… Anda baik-baik saja?” tanya Embun pelan, rautnya jelas cemas saat memandangi wajah majikannya melalui pantulan cermin.
Diana mengalihkan pandangan dari cermin untuk menatap Embun. Wajahnya tersenyum lembut.
“Kenapa?" tanyanya. “Apa wajahku terlihat tidak baik-baik saja?”
Embun menghela napas kecil, lalu ikut tersenyum. “Tidak… hanya saja…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Diana tahu. Embun masih menduga bahwa Diana sedang berpura-pura tenang dan bahagia menjadi pengantin pengganti untuk putra mahkota.
Tentu saja Embun tidak salah.
Namun, beberapa hal tidak perlu dijelaskan.
Ia sudah memikirkannya semalaman setelah ia berhasil lolos dari maut. Untuk saat ini, Diana telah menerima bahwa ini adalah kehidupan keduanya dan ia harus sebisa mungkin bertahan hidup.
Cara pertama adalah dengan tidak berurusan lagi dengan keluarga Sinclair dan Alon. Ini bisa Diana lakukan. Toh, ia sudah menjadi istri pangeran mahkota yang kejam.
Kedua, agar hidupnya damai, Diana harus punya pendukung. Di sini keberadaan Arthur sangat pas untuk posisi itu.
Tapi–kepribadian pria itu sulit.
Oleh karena itu, Diana harus berusaha keras.
“Bibi Erna,” ucap Diana ringan pada wanita paruh baya yang sedang merapikan poni samping Diana dengan hati-hati. “Pukul berapa biasanya Putra Mahkota bangun?”
Dua minggu telah berlalu sejak guntur peperangan di perbatasan Barat berhenti bergemuruh. Sisa-sisa reruntuhan benteng pertahanan Kekaisaran Delore yang hancur perlahan-lahan mulai dimusnahkan oleh pasukan gabungan Norvenia dan faksi klan Rumi. Tanah tandus yang dulunya bersimbah darah kini dibersihkan, mengubur dalam-dalam memori kelam tentang tirani Alon yang telah runtuh berkeping-keping. Kaisar Arthur tiba kembali di Ibu Kota Norvenia tepat di saat musim dingin benar-benar telah angkat kaki dari daratan. Hamparan salju putih yang membeku kini sepenuhnya menghilang, digantikan oleh hamparan rumput hijau dan kuncup-kuncup bunga krisan yang mulai bermekaran. Suhu udara yang hangat dan bersahabat menyambut kepulangan sang Dewa Perang beserta pasukan elitenya. Aroma kemenangan membubung tinggi di sepanjang jalan kota, di mana ribuan rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan namanya. Namun, Arthur tidak memedulikan semua kemegahan itu. Ia bahkan melewati barisan sambutan upacara dari para
Sorakan kemenangan menyerukan nama Kaisar Arthur dan kejayaan Kekaisaran Norvenia menggema dengan sangat lantang di sepanjang lembah perbatasan. Suara gemuruh dari ratusan ribu prajurit memecah keheningan pegunungan salju, mengubur sisa-sisa ketakutan yang sempat mencekam beberapa saat lalu. Begitu tubuh Kaisar Alon tumbang tak bernyawa di atas hamparan salju yang membeku, runtuh pula pilar Kekaisaran Delore. Kemenangan mutlak kini sah menjadi milik Norvenia.Namun, di tengah atmosfer euforia yang membara itu, kedamaian belum sepenuhnya mendarat. Tak lama setelah Alon mengembuskan napas terakhirnya, sepasang mata tajam milik Arthur menangkap pergerakan dari arah celah bukit. Pasukan lain yang mengenakan zirah perang lengkap tiba-tiba muncul dan merangsek masuk ke dalam area pertempuran.Melihat kedatangan rombongan asing tersebut, Arthur, Sai, dan Adipati Deon secara refleks kembali memasang raut wajah waspada. Tangan mereka kembali mencengkeram gagang pedang yang masih bersimbah dara
Diana masih duduk berlutut dengan khusyuk di atas bantalan beludru merah. Jemarinya yang ramping bergerak ritmis, memindahkan sebutir demi sebutir biji tasbih Buddha berukuran besar yang terbuat dari kayu gaharu hitam. Ia telah berada di posisi itu sejak fajar menyingsing, mengabaikan rasa kaku yang mulai menyerang persendiannya. Bibi Erna berdiri tidak jauh di belakangnya, meremas selendangnya dengan gundah. Matanya menatap cemas pada punggung Permaisuri yang tampak tegang. "Yang Mulia, Anda sudah berdoa terlalu lama hari ini. Saya khawatir Anda akan jatuh sakit nanti jika terus memaksakan diri dalam kondisi mengandung seperti ini," ucap Bibi Erna, suaranya sarat akan rasa cemas yang mendalam. Diana tidak beranjak sedikit pun dari posisinya. Tasbih besar di tangannya terus bergerak tanpa henti. Ia melirik Bibi Erna sekilas melalui sudut matanya, lalu menjawab dengan suara rendah yang datar namun bergetar oleh emosi, "Bagaimana mungkin aku bisa makan dan tidur dengan tenang, jika
"Saya telah membunuh Raja Debi," ucap Althaf sekali lagi, suaranya terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati dalam keheningan kamar. Denada menatap ksatria di hadapannya dengan sepasang mata yang membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rongga dadanya hingga ia merasa sedikit pening. Segala skenario yang telah ia susun rapi bersama Isabella seolah koyak di bagian tepi oleh tindakan impulsif ksatria ini. "Apa... apa yang sebenarnya terjadi, Althaf? Kenapa kau bertindak sendiri tanpa perintah?" tanya Denada, mencoba menekan getaran dalam suaranya agar tetap terdengar seperti seorang permaisuri yang berwibawa, meski kedok rapuhnya semalam masih membekas. Althaf tetap berlutut dengan tegak, zirah peraknya yang ternoda darah memantulkan cahaya lilin yang temaram. "Yang Mulia Selir Isabella telah menceritakan semua fakta tentang Kaisar Alon kepada saya sore tadi, sebelum jamuan dimulai. Hamba telah mengetahui semuanya, Yang Mulia. Pengkhianat besar
BRAK! Pintu peraduan yang berat itu tiba-tiba terbuka dengan sentakan yang tidak sabaran. Sesosok gadis dengan jubah pelayan yang sedikit berantakan berlari masuk menembus tirai-tirai kelambu sutra dengan napas yang terengah-engah. "Yang Mulia! Yang Mulia Permaisuri!" panggil Embun dengan suara setengah berteriak, matanya berbinar-binar penuh dengan luapan emosi yang tak tertahankan. Bibi Erna yang sedang memegang handuk kering seketika mendongak. Wajahnya yang tegas berkerut dalam, memancarkan ketidaksetujuan yang nyata atas kelancangan pelayan muda tersebut. Ia berdiri dan langsung menghadang jalan Embun. "Perhatikan sikap dan suaramu, Embun! Kita saat ini berada di Istana Kediaman Kaisar, bukan di paviliun pribadi kita!" tegur Bibi Erna dengan nada berbisik namun tajam. "Kelancanganmu bisa dihukum cambuk jika terdengar oleh pengawal pribadi Yang Mulia!" Embun seketika menghentikan langkahnya, menyengir bersalah sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk memoh
Aula utama Istana Norvenia seketika berubah menjadi medan kekacauan yang tak terkendali. Pekikan histeris dari para selir bergema, bersahutan dengan deru derap langkah kaki para prajurit pengawal yang langsung menghunus pedang, membentuk barikade melingkar untuk melindungi podium kerajaan. Di tengah kegaduhan yang memekakkan telinga itu, seorang tabib istana dengan jubah yang sedikit berantakan tampak berlari terbirit-birit menaiki tangga podium, wajahnya pucat pasi seolah maut sendiri yang sedang mengejarnya.Sebelum tabib itu sempat menyentuh Diana, Embun bergerak cepat dari arah belakang kursi permaisuri. Dengan napas yang memburu namun tangan yang luar biasa stabil, ia menyodorkan sebuah kotak kayu cendana berukir rumit ke hadapan sang tabib."Tuan Tabib, gunakan ini saja! Ini adalah alat medis pribadi milik Yang Mulia Permaisuri!" seru Embun dengan suara yang lantang, memotong kepanikan pria tua itu.Tabib istana itu tidak memiliki waktu untuk berpikir panjang atau mempertanyakan
“Bagaimana bisa Putra Mahkota diculik?!”Suara Kaisar menggema keras di aula dalam istana kekaisaran.BRAK!Telapak tangannya menghantam meja kayu ukir hingga tinta di atasnya bergetar. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan panik. Garis-garis usia di dahinya semakin dalam, me
“Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena di
Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk ram
Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat.







