Share

Bab 3. Penawar Racun

Penulis: nanadvelyns
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-26 16:53:09

“Cara a-apa–”

“Ikut aku.” Arthur berdiri tiba-tiba. 

Menanggapi itu, Diana berusaha bangun, tapi tubuhnya tanpa daya kembali jatuh karena kakinya tidak mampu menopang. Kakinya gemetar hebat setiap kali ia mencoba berdiri.

“Saya… tidak bisa…” Tanpa sadar, Diana merengek. Ia menggigit bibir sekuat tenaga kemudian. “Yang Mulia, tolong….”

Arthur menatapnya dingin, tapi tetap melangkah mendekat.

Tangannya yang kokoh kemudian menarik Diana hingga tubuh kecil Diana membentur dada bidangnya. Lalu, dengan gerakan ringan, pria itu mengangkat Diana dan menggendongnya. 

Sentuhan Arthur membuat Diana melolosan suara memalukan. Meski bukan sengaja dan semata-mata karena refleks dari sensasi yang menusuk tubuhnya, gadis itu makin merasa malu tak karuan.

Arthur mengencangkan rahangnya keras sembari melangkah keluar kamar, tampak tidak suka mendengar suara itu.

“Yang Mulia …” Suara Diana berucap lirih, hampir tidak terdengar. “Anda membawa saya … ke mana?”

Namun, Arthur tidak menjawab.

Diana mendongak perlahan, lalu kembali mengagumi garis rahang tegas pria yang kini telah menjadi suaminya tersebut. Tatapannya turun ke leher Arthur, lalu naik lagi untuk mengagumi sepasang mata biru gelap milik pria itu.

Tiba-tiba, mata mereka kembali beradu. Biru pucat dan biru gelap. Diana hampir tenggelam dalam tatapannya.

Hingga–

–tiba-tiba pria itu melepaskan gendongannya.

“Aah!”

BYUUURR!

Seketika Diana jatuh ke dalam air dingin.

Tubuhnya langsung membeku. Sontak, sensasi panas dan gairah yang meledak-ledak barusan seketika padam seperti api disiram oleh seember air es.

Diana membuka mata lebar, syok.

DASAR PANGERAN GILA!

Dingin dari danau Utara menusuk kulitnya seperti ribuan jarum tipis, membuat otot-ototnya menegang lalu melemah.

Ia berusaha meraih permukaan air, mencoba berenang, namun tubuhnya terseret karena ia memang tidak bisa berenang sama sekali.

Sementara itu, Arthur berdiri di pinggir danau, menatapnya tanpa ekspresi.

Konyol. Ia batal dibunuh oleh mantan kekasihnya dan dibuang ke jurang, tapi kini justru Diana akan mati tenggelam?

Apakah takdir karakter memang tidak bisa diubah?

Namun, ketika kesadarannya sudah berada di ambang batas, mata Diana menangkap sebuah bayangan hitam yang melesat masuk ke dalam air seperti anak panah. Samar-samar, Diana menangkap pantulan cahaya bulan pada permukaan topeng emas Arthur.

Detik berikutnya, sebuah tangan kuat meraih lengannya.

Gerakan Arthur cepat, tegas, dan penuh tenaga, seakan tidak terpengaruh oleh dinginnya air danau.

Tangan kiri pria itu menarik pinggang Diana, sementara tangan satunya meraih permukaan dengan pukulan renang kuat yang mampu memecah gelombang air sekeliling mereka.

Bahkan dalam kondisi ini … Arthur tetap bergerak seperti seseorang yang terbiasa melawan maut.

Diana ingin mengatakan sesuatu—apa pun—tapi seluruh tubuhnya hanya menggigil.

Dan ketika kepala mereka akhirnya berhasil keluar dari air, Diana menghirup udara sebanyak-banyaknya, paru-parunya sakit, tapi rasa sakit itu membuktikan bahwa dia masih hidup.

Arthur menarik tubuhnya ke tepian danau, lalu membiarkannya terbaring di tanah berbatu yang dingin.

Diana terbatuk keras, lalu berguling ke sisi lain dan memuntahkan air sebelum terkapar di atas batu. Terlentang menatap langit malam.

Di sini, langit jauh lebih gelap, namun bintang-bintangnya lebih terang.

Ia perlahan bangkit, masih terbatuk sebelum akhirnya menatap sosok di depannya.

Arthur duduk tak jauh dari posisi Diana. Tubuhnya sama basahnya. Rambut hitamnya menempel di tengkuk dan dahinya.

Diana mengepalkan jemarinya yang gemetar kedinginan dan berteriak dengan suara parau,

"Yang Mulia!"

Arthur menoleh pelan. Wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

Diana gemas setengah mati. “Saya hampir mati!” ujarnya penuh emosi, suaranya pecah, campuran marah dan trauma akan kematian kedua.

Arthur menjawab datar, seolah itu bukan masalah besar, “Sekarang kau tidak mati, bukan?”

Diana melongo. Kemudian rasa kesalnya naik ke puncak.

Suhu dingin berlebihan memang dapat melawan efek tumbuhan Eroli yang menyerang pernapasan dan sistem saraf. Diana paham itu. Secara medis, tindakan Arthur tidak salah.

Tapi tetap saja!

Menjatuhkannya ke danau begitu saja? Tanpa peringatan!?

Diana mendengus keras, lebih karena ingin menutupi rasa malu dibanding marah. Namun, seperti tidak peduli, Arthur malah mengalihkan pandangan seolah bosan melihatnya.

“Kembalilah ke kamar. Penampilan basahmu mengganggu mataku.”

Diana mematung.

Lalu pelan-pelan… Wajahnya memerah. Kali ini karena kesal.

Basah?

Mengganggu?

Salah siapa dia basah kuyup begini?!

Namun, sepertinya energinya tidak cukup untuk marah-marah, apalagi memaki. Jadi Diana hanya menggeram lirih, sebelum akhirnya berdiri dan berjalan mengikuti langkah pria itu.

Arthur, yang berjalan beberapa langkah di depan, diam-diam melirik menggunakan ekor matanya ketika mendengar dengusan kesal dari Diana.

Dan bibirnya mengukir senyum samar.

***

Keesokan paginya, Diana bangun dengan sedikit rasa berat di kepala, efek semalam dipaksa menghadapi suhu dingin ekstrem.

Meski begitu, pikirannya lebih jernih. Kaisar pasti frustasi dengan kondisi putra mahkota dan fakta bahwa para mantan istri meninggalkannya, yang membuat posisi putra mahkota goyah. Kejadian semalam pasti juga menjadi perhatian para pelayan.

Namun, terlepas dari para pelayan yang pasti bergosip, Diana memasang ekspresi tenang ketika para pelayan masuk membawa air hangat, kain lembut, serta pakaian formal berwarna biru muda khas keluarga kerajaan untuknya.

Diana duduk di depan meja rias besar berbingkai perak.

Embun, pelayan pribadinya sejak kecil, memulai pekerjaannya dengan gerakan lembut, seperti biasa. Sementara pelayan senior Erna, wanita separuh baya yang diutus Istana khusus melayani Putri Mahkota, membantu merapikan rambut panjang Diana.

“Putri… Anda baik-baik saja?” tanya Embun pelan, rautnya jelas cemas saat memandangi wajah majikannya melalui pantulan cermin.

Diana mengalihkan pandangan dari cermin untuk menatap Embun. Wajahnya tersenyum lembut. 

“Kenapa?" tanyanya. “Apa wajahku terlihat tidak baik-baik saja?”

Embun menghela napas kecil, lalu ikut tersenyum. “Tidak… hanya saja…” 

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Diana tahu. Embun masih menduga bahwa Diana sedang berpura-pura tenang dan bahagia menjadi pengantin pengganti untuk putra mahkota.

Tentu saja Embun tidak salah.

Namun, beberapa hal tidak perlu dijelaskan.

Ia sudah memikirkannya semalaman setelah ia berhasil lolos dari maut. Untuk saat ini, Diana telah menerima bahwa ini adalah kehidupan keduanya dan ia harus sebisa mungkin bertahan hidup.

Cara pertama adalah dengan tidak berurusan lagi dengan keluarga Sinclair dan Alon. Ini bisa Diana lakukan. Toh, ia sudah menjadi istri pangeran mahkota yang kejam.

Kedua, agar hidupnya damai, Diana harus punya pendukung. Di sini keberadaan Arthur sangat pas untuk posisi itu.

Tapi–kepribadian pria itu sulit.

Oleh karena itu, Diana harus berusaha keras.

“Bibi Erna,” ucap Diana ringan pada wanita paruh baya yang sedang merapikan poni samping Diana dengan hati-hati. “Pukul berapa biasanya Putra Mahkota bangun?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 156. Dua Zat yang Tak Seharusnya Bersatu

    “Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena difitnah telah lancang pada Putri.”Nada suaranya terdengar tulus, namun juga penuh penyesalan.Diana tertawa di dalam hati.Inilah ‘pukulan’ yang ia maksud kepada Embun di dalam kereta kuda tadi.Bukan pukulan dengan kemarahan.Bukan dengan teriakan.Melainkan dengan membiarkan kebenaran berdiri di tengah keramaian dan berbicara sendiri.Ia tidak menjawab permohonan maaf Tuan Damar. Tidak perlu.Sebaliknya, ia menoleh pada tangan yang masih mencengkeram lengannya.“Menepi.”Suaranya datar.Tiara membatu di tempatnya. Jari-jarinya perlahan terlepas dari lengan Diana, seolah baru menyadari apa yang telah ia lakukan.Semua orang melihatnya.Untuk sesaat, Tiara berdiri tanpa suara, lalu lututnya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 155. Wajah dan Kebenaran yang Terkelupas

    Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat. Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam mengamati setiap detail.Wanita itu masih terduduk di tanah, kedua tangannya mencengkeram pipinya sendiri.“Panas… sakit… ahh!”Jeritannya membuat beberapa tamu mundur ngeri.Diana membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas—“Ah!”Ia mendadak mundur satu langkah, menutup setengah wajahnya dengan lengan hanfu, seolah terkejut oleh pemandangan di depannya.Reaksi itu membuat Tiara ikut terdorong rasa penasaran dan ketakutan. Ia menerobos kerumunan, jantungnya berdegup kencang.Begitu melihat kondisi wanita itu, napasnya tercekat.Wajah wanita tersebut kini memerah seluruhnya, bukan sekadar ruam biasa. Kulitnya tampak mengilap aneh, beberapa bagi

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 154. Pukulan Telak di Bawah Matahari Siang

    Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk rambut phoenix yang menjadi lambang kedudukannya sebagai Putri Mahkota.Kereta kuda telah menunggu di depan.Embun berdiri di sampingnya, memegang ujung rok sang Putri agar tidak terseret tanah.Diana menaiki kereta tanpa banyak kata. Tirai ditutup, roda mulai berputar, dan kereta bergerak meninggalkan halaman istana menuju Kediaman keluarga Mahen.Di dalam kereta, suasana hening beberapa saat. Cahaya matahari siang menembus celah tirai, membentuk garis-garis tipis di wajah Diana yang tetap tenang.Embun menatap majikannya dengan raut heran yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya ia tidak sanggup lagi.“Putri,” ujarnya pelan namun penuh rasa ingi

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 153. Peniru

    Isabella duduk tegak di hadapan cermin peraknya.Pantulan wajahnya terlihat sempurna—kulit pucat tanpa cela, bibir merah muda yang terlukis rapi, dan mata yang dingin bagai danau beku di musim dingin. Tidak ada siapa pun yang akan mengira bahwa di balik ketenangan itu, pikirannya berputar tanpa henti.Di belakangnya, seorang pelayan perempuan berdiri dengan tangan terampil, menyisir rambut panjang Isabella yang hitam berkilau. Setiap helai jatuh lembut di punggung gaunnya, menciptakan kontras indah dengan kain sutra berwarna gading yang ia kenakan.Hari ini ia harus menghadiri undangan Tiara Mahen.Undangan yang tampaknya sederhana—jamuan teh dan perbincangan ringan—tetapi Isabella tahu, tidak ada pertemuan di lingkungan bangsawan yang benar-benar tanpa maksud.Apalagi jika Diana juga akan hadir.Isabella menatap pantulannya tanpa berkedip.Ia tidak boleh kalah.Tidak dalam hal sikap.

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 152. Pagi yang Berbeda

    Diana terbangun perlahan saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya.Sentuhan itu lembut, bergerak perlahan dari pelipis ke pipinya, seolah seseorang sedang memastikan ia benar-benar nyata. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata biru gelap yang begitu dekat.Arthur.Pria itu berbaring miring menghadapnya, satu tangan terangkat, jemarinya masih berada di sisi wajah Diana. Tatapannya dalam, tidak berkedip, seolah sedang mengamati sesuatu yang sangat berharga.Jantung Diana berdebar tanpa aba-aba.Pagi itu cahaya matahari yang menyelinap melalui tirai tipis jatuh tepat di wajah Arthur, membuat warna matanya terlihat lebih tajam, lebih hidup.Ia tampak… sangat menawan.Tanpa sadar, sudut bibir Diana terangkat.“Tampan sekali…” gumamnya pelan, suara seraknya masih bercampur sisa kantuk.Hening sejenak.Arthur mengangkat alisnya tipis.“Benarkah?” tanyanya ringan.Biasanya, jika Diana menggoda seper

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 151. Duka Seorang Putra

    “Yang Mulia, Anda yakin akan menemui Pangeran Keempat? Saya ragu beliau akan menyambut Anda dengan baik meskipun memang ibunya yang bersalah.”Suara itu datang dari Mila, pelayan pribadi Karin yang baru. Gadis itu berjalan setengah langkah di belakang tuannya, menjaga jarak yang sopan, tetapi nada khawatirnya terdengar jelas.Karin tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap tenang menyusuri koridor panjang menuju kediaman Deon. Hanfu kebesarannya yang bersulam phoenix emas bergeser lembut mengikuti gerakan tubuhnya. Stempel Harem yang kini menjadi simbol kekuasaannya terselip rapi di lengan dalamnya.“Aku yakin,” jawab Karin akhirnya, suaranya datar namun mantap.Mila masih tampak ragu. “Pangeran Keempat baru saja kehilangan ibunya. Istana pun tidak memberinya ruang untuk berduka. Jika Yang Mulia datang sekarang… saya takut beliau salah paham.”Karin berhenti sejenak.Ia menoleh tipis, tatapannya lembut tetapi tegas.“Justru karena itu aku harus datang.”Mila terdiam.Karin memang ti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status