MasukPagi ini, Diana berdiri di depan pintu kediaman Arthur, menunggu. Istana mereka tidak jauh, hanya dipisahkan dua halaman kecil dan sebuah lorong panjang.
Kemarin, ia bertanya pada Bibi Erna, pelayan senior istana yang mengenal rutinitas Putra Mahkota lebih baik dari siapa pun, tentang jadwal Arthur. Pria itu selalu bangun sebelum matahari terbit, lalu bersiap menuju majelis pagi bersama Kaisar dan para bangsawan tinggi. Ia terlambat kemarin. Namun, hari ini Diana bertekad mengambil hati sang pangeran. Toh, pria itu suaminya sekarang. Mau tidak mau, pria itu harus menerimanya seperti Diana menerima takdirnya saat ini. Belum saja Diana mengetuk, pintu kediaman Arthur tiba-tiba terbuka keras dari dalam. Kasim yang berjaga sampai terlonjak dan langsung bersujud. “Y-Yang Mulia….” “Selamat pagi.” Diana tersenyum ramah. “Apa Yang Mulia sudah bangun?” Kasim itu mengangguk buru-buru. “S-sudah, Putri. Putra Mahkota baru saja terbangun.” Ia berhenti, menatap Diana dari ujung rambut yang disanggul rapi hingga kain hanfu yang elegan. Fokusnya kemudian jatuh pada seember air hangat di dekat kaki Diana. “Mohon maaf. Kedatangan Putri… apakah untuk….?” “Aku ingin membantu Putra Mahkota bersiap secara pribadi hari ini.” Diana memotong dengan senyum lembut. “Bagaimanapun, aku adalah istrinya sekarang. Kewajibanku adalah melayaninya.” Kasim itu tertegun, mulutnya terkatup namun matanya membesar. Ini jelas baru pertama kali ia mendengar istri Putra Mahkota berkata seperti itu. Ia menunduk dalam. “Silakan masuk.” Diana melangkah masuk, sementara Embun yang ada di sana untuk membantu Diana, mengikuti tapi ragu-ragu sembari memeluk ember erat-erat. Lorong menuju kamar Arthur sunyi, hanya dihiasi aroma kayu cendana dan marmer dingin. Sesampainya di depan pintu kamar pria itu, kasim memberi salam terakhir, lalu pergi dengan langkah cepat. Tinggal Diana dan Embun. Keduanya saling melihat. “Yang Mulia…” Embun berbisik gugup. “Anda yakin?” Diana menarik napas panjang, lalu mengambil ember dari tangan Embun. “Embun,” katanya lembut, “tunggu di sini. Jangan ikut.” Begitu pintu tertutup, keheningan langsung menyergap. Ruangan itu megah—berlantai marmer putih, tiang kayu dengan ukiran dinasti, karpet dinamika motif naga dan awan. Cahaya matahari pagi menerobos lewat jendela tinggi dan terpantul di ornamen emas. Namun sebelum ia bisa mengagumi lebih lama, suara air yang bergolak dari balik tirai merah di sisi ruangan mencuri perhatiannya. Itu pasti ruang pemandian Arthur. Diana menelan ludah. Jantungnya berdetak cepat. Ia melangkah perlahan dan hendak menyingkap tirai merah yang menjadi pembatas. Namun tepat saat jarinya hampir menyentuh kain— SRING! Kilatan metal memotong udara. Sebuah pedang terentang lurus mengarah tepat ke antara kedua matanya. Diana membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Pedang itu tidak bergetar. Ujungnya hanya setipis rambut, namun terasa seperti bisa menusuk kapan saja. Dari balik tirai, suara berat yang sangat familiar terdengar. “Siapa?” Diana sedikit mundur, mencengkeram ember di tangannya sekuat mungkin. “Saya, Yang Mulia,” jawabnya gugup. “Diana. Saya berniat–” “Siapa yang mengizinkanmu masuk?” Arthur memotong cepat dan dingin. “Seorang kasim,” jawab Diana terbata. “Tetapi… saya yang memaksa masuk.” Hening. “Untuk apa kemari?” Pedang itu masih terhunus tepat ke wajahnya. Diana menelan ludah, lalu berucap tegas: “Melayani Yang Mulia.” Keheningan kedua. Arthur tidak menjawab apa pun. Hanya kesunyian berat dari balik tirai. Diana akhirnya melanjutkan, mencoba terdengar percaya diri. “Mengingat… saat ini saya adalah istri Yang Mulia,” katanya pelan. “Saya berpikir membantu persiapan menuju majelis pagi adalah sebuah kewajiban.” Sedetik. Dua detik. Akhirnya, pedang itu diturunkan perlahan, membuat Diana bisa bernapas lebih lega. Namun, sedetik kemudian, suara Arthur kembali terdengar. “Apa kau berguna untuk merawat luka?” Alis Diana berkedut. “Berguna?” “Jawab.” Diana memaksakan sebuah senyum manis. “Tentu saja, Yang Mulia. Saya bisa–” “Masuk.” Diana tertegun. Apa? Ia melangkah masuk lewat celah tirai dan langsung terdiam. Ruang pemandian dipenuhi uap putih. Air panas memenuhi kolam marmer besar. Namun– Airnya berwarna merah. Pekat, seperti kolam darah. Diana membeku. Sementara itu, Arthur duduk bersandar di dalam kolam, mengenakan pakaian tipis yang menempel rapat pada kulitnya. Rambut hitam panjangnya basah, menempel di bahu dan punggung. Topeng emasnya memantulkan cahaya redup. Hanya mata biru dinginnya yang tampak jelas. “Apa kau bisa membantu seseorang dari jarak sejauh itu?” Suara dingin Arthur terdengar, “Mendekat.” Diana langsung tersadar. Ia terbatuk kecil untuk menutupi rasa canggungnya. “Mengapa airnya memerah, Yang Mulia?” tanya Diana kemudian. “Apa yang terjadi?” Arthur tidak menjawab segera. Pria itu mengangkat sedikit bagian belakang pakaian tipisnya, memperlihatkan punggungnya. Diana terbelalak. Punggung itu– –penuh bercak merah. Beberapa bengkak parah, ada yang bernanah, ada garis infeksi memanjang, ada noda alergi yang tampak seperti gigitan serangga namun level peradangannya jauh lebih buruk dari biasa. Kulitnya terlihat seperti terbakar dan digaruk berlebihan. “I-ini–” Suara Diana gemetar kecil. “Apakah Anda memakan sesuatu yang menyebabkan–” “Urus luka itu,” Arthur memotong tajam. “Jangan banyak bicara.” Diana memejamkan mata sesaat. Pria ini benar-benar… karakter antagonis novel dystopia mana pun akan kalah kurang ajar dibanding dia! Tetapi ia tetap tersenyum kaku. “Baiklah… di mana tempat obat-obatan?” “Di atas meja dekat kasur.” Diana tidak menunda. Ia segera bergegas keluar dari area pemandian, langkahnya cepat, dan beberapa saat kemudian kembali dengan kotak obat besar yang terlihat mewah. Saat ia masuk, matanya membesar. Arthur sudah keluar dari kolam. Rambutnya masih basah tetapi pria itu telah mengenakan pakaian yang lebih tebal, duduk di kursi panjang seolah tidak terjadi apa-apa. Diana berjalan cepat menghampirinya dan duduk tepat di samping pria itu. Ia membuka kotak obat. Ia mengambil satu obat, menghirup aromanya untuk mengidentifikasi jenisnya. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Dia memilih yang paling tepat, kemudian meraih kain lap desinfektan dan mulai membersihkan punggung Arthur. Kulit pria itu berkedut kecil ketika obat menyentuh luka yang terlihat sangat menyiksa, namun Arthur tetap duduk tanpa suara. Tanpa desisan. Tanpa keluhan. Bahkan tanpa sedikit pun gerakan menghindar. Diana mendadak merasa hormat—dan kesal di waktu yang bersamaan. Bagaimana mungkin manusia bisa tahan rasa sakit seperti ini? Dia manusia apa batu? Setelah selesai mengoles seluruh bagian luka dan menaburi obat herbal penting, Diana mulai membalut punggung Arthur dengan perban khusus yang tersedia di kotak itu. Ia berdiri dan tersenyum puas dengan hasil kerjanya. “Selesai!” Arthur berdiri, mengenakan pakaiannya dengan benar, kemudian menatap Diana dingin sebelum melangkah pergi. “Kau boleh pergi,” katanya datar. “Aku tidak pergi ke majelis pagi hari ini.” Diana mematung sejenak. “Yang Mulia, izinkan saya bertanya,” ucapnya. “Dari mana Yang Mulia memperoleh obat-obat tersebut?” Pertanyaan itu membuat Arthur berbalik. Namun, ia tidak mengatakan apa pun Karenanya, Diana melanjutkan, “Dari obat-obatan yang Anda miliki, saya tidak menemukan kandungan herbal yang bersifat menarik nanah atau menekan peradangan. Tanpa itu, luka Anda hanya akan mengering di permukaan, tetapi infeksinya tetap tertahan di dalam jaringan.” Tidak hanya itu. Obat-obatan yang Diana pakai tadi juga tampaknya hanya meringankan rasa gatal sementara. Jika tidak, Arthur tidak mungkin memiliki luka dan bekas luka seperti itu. “Langsung saja.” Arthur akhirnya berkata. “Apa maumu?” Diana menunduk sopan, sebelum kemudian kembali menatap suaminya. “Saya bisa membuat luka Yang Mulia membaik. Bahkan sembuh. Namun, Yang Mulia harus percaya pada saya.”“Salam, Putri Mahkota.”Sai yang pertama kali menyadari kedatangan Diana segera membungkuk hormat seperti biasa. Gerakannya tetap rapi dan terlatih, namun kali ini sepasang matanya tak bisa menyembunyikan kebingungan. Tatapannya sekilas terangkat, mencuri pandang ke wajah Diana—raut yang jelas tidak biasa. Terlalu pucat. Terlalu dingin. Terlalu… menekan.Diana berhenti beberapa langkah dari kereta kuda. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari sosok Arthur dan kereta di belakangnya. Tanpa basa-basi, tanpa intonasi bercanda, ia bertanya lugas, “Itu Selir baru Yang Mulia?”Pertanyaan itu jatuh seperti pedang.Sai terbatuk pelan, refleks. Wajahnya langsung berubah. Terkejut, panik, dan seolah rohnya melayang sesaat meninggalkan raga.“Bu—bukan, Putri,” jawabnya tergagap. “Wanita itu adalah—”Belum sempat Sai menyelesaikan kalimatnya, suara wanita yang asing namun nyaring terdengar dari dalam kereta kuda.“Sai! Apa kau mau aku mati di tangan Putra Mahkota? Cepat bantu aku!”Diana terp
Diana membuka dua surat itu satu per satu dengan tenang, meskipun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang kediamannya, cahaya sore menyusup masuk melalui jendela berukir, membuat kertas di tangannya tampak berkilau lembut.Ia membuka surat pertama.Meskipun tidak ada nama pengirim yang tertulis di sana, Diana tahu betul dari mana asalnya. Aroma tinta dan gaya bahasa yang terlalu berhati-hati itu sangat khas.Istana Selir Shofia.Pandangan Diana menyusuri barisan kalimat pendek yang tertulis rapi.“Saya harap setelah hari bakti berakhir, Putri bersedia memenuhi undangan Selir ini untuk meminum teh bersama di Istana.”Hanya satu kalimat. Tidak lebih. Tidak kurang.Namun Diana justru tersenyum tipis, senyum yang perlahan mengembang di bibirnya. Jari-jarinya mengepal lembut di atas kertas itu.“Begitu rupanya…” gumamnya pelan.Undangan itu bukan sekadar ajakan minum teh biasa. Itu adalah sebuah pernyataan sikap. Artinya Selir Shofia telah mengamb
“Apa yang kau lakukan di sini?”Suara Arthur terdengar datar, dingin, dengan kening yang terlipat sedikit. Nada itu cukup untuk membuat para pelayan yang berada di sekitar halaman menunduk lebih dalam, sementara udara pagi yang semula terasa ringan mendadak menegang tanpa alasan yang jelas.Diana yang baru saja menata ekspresi manisnya seketika menoleh ke arah Arthur. Tatapan matanya sempat melirik sekilas ke arah rombongan peti-peti besar yang masih terus diangkut masuk ke dalam istana, lalu kembali menatap pria di hadapannya dengan senyum sopan yang dipaksakan.“Ah… ini…” Diana menunjuk samar ke arah peti-peti itu. “Aku sedang mengawasi bahan herbal serta alat pembuatan obat baru.”Nada suaranya terdengar santai, seolah ia hanya sedang mengawasi pengiriman kain atau perhiasan biasa. Namun sebelum Arthur sempat bereaksi atau melontarkan komentar pedas seperti biasanya, Diana dengan sigap menambahkan kalimat lanjutan,
Pagi itu, halaman depan Istana Putra Mahkota tampak jauh lebih ramai dibanding hari-hari biasanya. Sejak matahari baru saja naik dan sinarnya menimpa atap-atap bangunan istana, para pelayan sudah lalu-lalang dengan langkah cepat dan wajah penuh konsentrasi. Beberapa di antara mereka memanggul peti-peti besar dari kayu tebal, sementara yang lain membantu membuka jalan atau memberi aba-aba agar barang-barang itu tidak saling berbenturan.Deretan peti besar itu disusun rapi, satu per satu diangkat melewati gerbang utama menuju bagian dalam istana. Dari luar saja sudah terlihat bahwa isinya bukan barang biasa. Kayunya kokoh, diikat kuat dengan tali tebal, dan beberapa peti bahkan diberi tanda khusus berupa kain merah kecil di sudutnya—penanda barang penting yang harus diperlakukan ekstra hati-hati.Diana duduk santai di kursi yang sudah disiapkan pelayan di sisi halaman. Kakinya menyilang anggun, tangannya menopang dagu
PRANG!!Suara nyaring gelas yang terjatuh memecah keheningan malam, menggema keras di dalam kamar istirahat Pangeran Keempat. Bunyi itu begitu mendadak, begitu kasar, hingga membangunkan Selir Shofia yang semula terlelap dengan tubuh setengah bersandar di tepi ranjang putranya.Selir Shofia tersentak bangun. Matanya langsung membelalak kaget, napasnya tertahan ketika melihat pemandangan di hadapannya.Deon—putranya—meringis kesakitan. Tubuh pemuda itu menegang, jemarinya gemetar hebat. Air dari cangkir yang terjatuh barusan membasahi lengan dan bagian kulit di sisi tubuhnya. Kulit yang sudah rusak karena penyakit panas beracun itu langsung memerah lebih parah, bahkan terlihat mengilap seolah terbakar.“A—ah… ibu…” Deon mengerang lemah.“Deon!” Selir Shofia bangkit seketika. Jantungnya terasa seolah diremas. “Pelayan! Pelayan!!”Teriakannya menggema panik.Pintu kamar segera terbuka lebar. Be
Kereta kuda baru saja berhenti sempurna di halaman Istana Putra Mahkota ketika seorang pelayan berlari tergesa dari arah dalam istana. Napasnya tampak sedikit terengah, namun ia tetap menjaga sikapnya dengan membungkuk dalam di hadapan kereta.“Yang Mulia Putri Mahkota,” ucapnya cepat namun jelas, “tanaman Anda sudah bertunas pagi ini!”Kalimat itu membuat Diana yang tengah bersandar malas di dalam kereta seketika membelalakkan mata. Wajahnya yang sejak tadi tampak lelah langsung berubah cerah.“Sungguh?” balas Diana spontan, bahkan sebelum Embun sempat membantunya turun.Arthur yang duduk berhadapan dengannya ikut terangkat alisnya.“Tanaman apa?” tanyanya datar, meski jelas terdengar sedikit heran.Namun Diana tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum lebar, lalu tanpa menunggu bantuan siapa pun, ia turun dari kereta dan berlari kecil menuju arah kediaman pribadinya. Hanfunya berkibar tertiup angin sore, la







