Se connecter“Yang Mulia?”Suara Diana terdengar ragu ketika semua orang di restoran itu tengah membungkuk dalam-dalam, menyambut kedatangan Putra Mahkota. Ia berdiri kaku di tempatnya, menatap sosok Arthur yang berdiri tegap di hadapan meja makan, seolah kehadirannya bukan sesuatu yang mengusik suasana sama sekali.Arthur berdiri dengan sikap acuh, raut wajahnya nyaris tak terbaca di balik topeng emas yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak ada senyum, tidak pula ekspresi tidak nyaman. Seakan-akan ia memang seharusnya berada di sana sejak awal.“Anda datang?” tanya Diana lagi, kali ini dengan suara setengah berbisik, hampir tenggelam oleh bunyi kursi yang bergeser dan desah napas para tamu yang masih menahan gugup.Arthur menoleh sedikit ke arahnya. “Aku mengganggumu di sini?” balasnya singkat.Diana tersenyum kaku seketika dan segera menggeleng cepat. “Tentu saja tidak…”Namun di dalam hatinya, ia hampir mengerang putus asa. Astaga… setelah Alon dan Pangeran Kedua, sekarang Arthur juga datang.
Di ruang kerja Putra Mahkota, suasana pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk dari jendela tinggi hanya mampu menerangi setengah ruangan, sisanya tenggelam dalam bayangan rak buku dan tumpukan dokumen negara yang belum selesai ditandatangani.Sai berlutut di tengah ruangan dengan satu lutut menyentuh lantai, punggungnya lurus, kepala sedikit tertunduk penuh hormat. Ia baru saja kembali dari apa yang disebut Arthur sebagai penyelidikan khusus—tugas yang tidak tertulis, namun selalu berhubungan dengan satu nama yang sama.Di sisi Arthur, Rany berdiri sambil menggiling tinta. Gerakan tangannya kasar dan tidak beraturan, jelas menunjukkan suasana hatinya yang sedang buruk. Wanita itu mendadak dipanggil pagi-pagi hanya untuk tugas sepele seperti ini, dan yang membuatnya semakin kesal, ia tidak diperbolehkan duduk di kursi yang biasanya Diana duduki. Kursi itu kini kosong, tetapi entah kenapa terasa seperti wilayah terlarang.Rany mendengus pelan, menggerutu
Hari peresmian cabang baru restoran Alon akhirnya tiba, membawa serta hiruk-pikuk yang sejak awal sudah membuat kepala Diana berdenyut. Sejujurnya, sejak pagi Putri Mahkota itu sama sekali tidak memiliki niat untuk datang. Bahkan, jika boleh jujur, ia lebih memilih menghabiskan waktu seharian penuh menggiling tinta di ruangan Arthur daripada harus melihat wajah Alon lagi.Namun niat hanyalah niat.Kenyataan datang dengan cara yang selalu menjengkelkan.“Putri,” lapor Embun dengan napas sedikit tergesa saat memasuki ruangan Diana, “tuan muda Alon sudah lebih dulu berbicara dengan banyak tamu undangan. Katanya… Anda pasti akan datang ke acara peresmian teman kecil Anda.”Diana yang tengah duduk di depan meja rias seketika menghentikan gerakan tangannya. Alisnya berkedut, lalu keningnya berkerut dalam.“Apa yang barusan kau katakan?” suaranya terdengar datar, tetapi Embun sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa itu adala
Di tempat yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk istana Putra Mahkota dan pertikaian sunyi yang dipenuhi sindiran tajam, Harsa duduk dengan tenang di dalam kediaman pribadinya. Ruangan itu berada di sayap timur istana, cukup terpencil, seolah sengaja dipilih agar jauh dari lalu-lalang pejabat dan pengawasan berlebihan. Cahaya sore masuk dari jendela besar yang terbuka setengah, menerpa lantai kayu dan kanvas besar yang berdiri di tengah ruangan.Di hadapan kanvas itu, Harsa memoles lukisan terbarunya dengan penuh konsentrasi. Jemarinya yang ramping memegang kuas dengan mantap, menyapukan warna biru keabu-abuan di sudut langit lukisan. Goresannya halus, penuh perasaan, seolah setiap sapuan kuas adalah napas yang ia hembuskan perlahan untuk menjaga kewarasannya.Lukisan itu menggambarkan hamparan padang rumput luas dengan seorang figur kecil berdiri di tengahnya, membelakangi dunia. Tidak ada mahkota. Tidak ada istana. H
Kereta kuda berhenti perlahan di halaman Istana Putra Mahkota. Roda kayunya mengeluarkan suara lirih saat gesekan terakhir dengan batu marmer halaman yang luas dan bersih. Para penjaga istana segera berdiri tegak, menundukkan kepala dengan penuh hormat ketika pintu kereta dibuka.Arthur turun lebih dahulu, langkahnya mantap dan terukur seperti biasa. Topeng emas di wajahnya memantulkan cahaya matahari siang dengan dingin. Diana menyusul beberapa detik kemudian, turun dengan gerakan anggun namun jelas tanpa antusiasme. Begitu kakinya menginjak tanah, ia menghela napas kecil, seolah menyadari satu kenyataan yang tak bisa dihindari.Kepulangannya kali ini terlalu cepat. Terlalu… siang.Belum sempat Diana melangkah jauh, seorang pelayan laki-laki mendekat dan membungkuk hormat. “Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia Putri Mahkota. Makan siang telah disiapkan.”Arthur mengangguk singkat. “Baik.”Diana ikut mengangguk, tetapi matanya bergeser malas ke arah Arthur. Tidak ada alasan untuk
“Sa—salam, Pangeran dan Putri Mahkota….”Pelayan pribadi Selir Shofia membungkuk dengan canggung, suaranya sedikit bergetar. Jelas sekali ia merasa muncul di waktu yang tidak tepat, terlebih setelah merasakan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap di udara sekitar kereta.Diana terbatuk pelan. Ia dengan cepat merapikan ekspresinya, menarik kembali semua emosi yang barusan hampir tumpah. Dalam sekejap, wajahnya kembali menjadi Putri Mahkota yang anggun dan tenang. Ia menoleh, menatap pelayan itu dengan senyum ramah yang terukur.“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lembut.Pelayan itu tampak lega. Ia tersenyum kecil, lalu kembali membungkuk. “Yang Mulia Selir menitipkan ucapan terima kasih kepada Anda karena telah menolong Pangeran Keempat hari ini. Serta… permintaan maaf karena tidak mengucapkan terima kasih secara langsung, karena masih harus mendampingi beliau.”Diana mengangguk pelan, gesturnya penuh pengertian.“Beliau juga berpesan,” lanjut pelayan itu hati-hati, “






