MasukIsabella duduk tegak di hadapan cermin peraknya.
Pantulan wajahnya terlihat sempurna—kulit pucat tanpa cela, bibir merah muda yang terlukis rapi, dan mata yang dingin bagai danau beku di musim dingin.Tidak ada siapa pun yang akan mengira bahwa di balik ketenangan itu, pikirannya berputar tanpa henti.Di belakangnya, seorang pelayan perempuan berdiri dengan tangan terampil, menyisir rambut panjang Isabella yang hitam berkilau.Setiap helai jatuh lembut diMalam itu, salju turun dengan amukan yang lebih dahsyat dari biasanya, seolah-olah langit Norvenia dan wilayah kedaulatan Delore sedang bersekongkol untuk membekukan segala bentuk kehidupan yang tersisa. Di dalam Paviliun Permaisuri yang kini sunyi senyap akibat hukuman kurungan dari Alon, Denada berdiri di balik bayangan pilar kayu yang gelap. Hukuman satu minggu yang dijatuhkan Kaisar seharusnya mengunci langkahnya, namun bagi seorang wanita yang telah terbiasa hidup dalam intrik dan ancaman kematian, tembok istana hanyalah rintangan kecil yang bisa ditembus dengan kepingan emas.Ini adalah minggu ketiga di bulan ini. Sebuah jadwal keramat yang selalu ia jaga dengan nyawanya. Jadwal untuk menemui satu-satunya alasan mengapa ia masih bersedia bernapas di tengah neraka ini, ibunya."Yang Mulia, apa Anda benar-benar yakin akan keluar sekarang?" bisik Cucu, suaranya bergetar hebat karena ketakutan. "Penjagaan di luar sedang sangat ketat. Jika Kaisar atau orang-orang Raja Debi tahu An
Malam telah larut menyelimuti Istana Norvenia, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh desau angin musim dingin yang sesekali mengetuk jendela kaca paviliun Permaisuri. Di dalam kamar, cahaya lilin berpijar temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas permadani sutra. Diana bersandar di tumpukan bantal empuk, jemarinya yang pucat mengelus perutnya yang kian membesar. Tubuhnya terasa sangat berat malam ini, dan rasa lelah yang menghimpit paru-parunya membuat setiap tarikan napasnya menjadi perjuangan kecil yang sunyi.Ia baru saja hendak memejamkan mata, mencari sedikit kedamaian dalam lelap, ketika tiba-tiba ketenangan itu hancur berkeping-keping.BRAK!Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan kekuatan yang luar biasa. Suaranya menggelegar di dalam ruangan yang sunyi, membuat jantung Diana melonjak liar karena terkejut. Secara insting, ia langsung terduduk tegak, kedua tangannya mendekap perut besarnya secara protektif sementara matan
Di tengah aula yang kini lengang setelah amukan Alon mereda, Isabella Sinclair berdiri tegak dengan keanggunan yang mengerikan. Ia mengusap punggung tangannya yang baru saja ditepis kasar oleh Denada, memijat jemarinya dengan gerakan tenang, seolah rasa perih itu hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.Matanya yang biru pucat—warna yang selalu mengingatkan Denada pada langit musim dingin yang membeku—menatap sang Permaisuri dengan tatapan yang sangat dingin."Anda hanya akan bisa mati membusuk jika terus-menerus bersikap seperti ini, Yang Mulia Permaisuri," ucap Isabella. Suaranya rendah, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan.Denada, yang masih merasakan panas di pipinya akibat tamparan Alon, tersentak. Ia segera bangkit berdiri, meskipun tubuhnya masih gemetar karena gejolak emosi. Ia merapikan jubahnya yang berantakan dengan gerakan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa martabatnya yang baru saja diinjak-injak."Kau pikir dirimu pantas berbicara sepe
"Apa yang kau lakukan, Isabella?" Tanya Alon tajam. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang bisa membuat siapa pun kehilangan nyalinya. "Kau berdiri membela wanita yang baru saja meracuni darah dagingku? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu lama mendekam di paviliun belakang?"Isabella tetap pada posisinya. Ia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Perlahan, ia mendongak, menatap Alon dengan mata biru pucatnya yang jernih—tatapan yang selalu berhasil meluluhkan kekerasan hati Alon karena kemiripannya dengan Diana. Sementara itu, Denada yang berada di sebelahnya hanya bisa menunduk dalam, rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya yang membengkak akibat tamparan tadi.Isabella mengerutkan keningnya tipis, ekspresinya berubah menjadi penuh keprihatinan yang sangat meyakinkan. "Yang Mulia, mohon dengarkan hamba. Hamba tidak sedang membela buta. Hamba hanya ingin memastikan bahwa Anda tidak menjadi korban dari muslihat yang lebih besar. Permaisuri telah dijebak
Suara rintihan Selir Murin yang terbawa angin dari balik tirai sutra tebal di dalam kamar perawatan terdengar seperti melodi kematian yang menyayat hati. Di luar, di aula Paviliun Teratai yang kini berbau anyir darah dan aroma herbal yang tajam, Denada berdiri mematung. Jemarinya yang pucat tersembunyi di balik lengan baju hanfu-nya yang lebar, saling meremas begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Udara di sekitarnya terasa membeku, seolah-olah salju yang turun di luar telah merembas masuk dan membekukan aliran darahnya. Denada menunggu dengan kegelisahan yang nyaris meledakkan dadanya. Pikirannya berkecamuk hebat, berputar-putar dalam pusaran ketakutan yang tak berujung. Apa dia akan ketahuan? Racun yang diberikan Raja Debi—pil penghancur kandungan itu—seharusnya bekerja secara perlahan dan sulit dideteksi. Namun, apa yang terjadi pada Selir Mei dan Murin hari ini sungguh di luar kendalinya. Bagaimana bisa Selir Murin, gadis muda yang selama ini tampak pendiam dan jaran
Denada berdiri diam di depan cermin perunggu yang besar. Cahaya pagi yang redup memantul pada wajahnya yang tampak sepucat pualam. Ia mengenakan hanfu berbahan sutra tebal berwarna biru gelap dengan sulaman benang perak di bagian tepi, memberikan kesan dingin yang semakin mempertegas jarak antara dirinya dan dunia luar. Tangannya yang gemetar semalam kini telah berubah menjadi sedingin es, kaku dan tak bergetar. Ia menatap pantulannya sendiri dengan sorot mata yang hampa. Di balik riasan wajahnya yang sempurna, tersimpan sebuah rahasia yang sanggup menghancurkan sisa-sisa kemanusiaannya. Bayangan ancaman Raja Debi tentang ibunya yang disekap di kandang babi terus terngiang, menjadi cambuk yang memaksanya melangkah ke arah kegelapan. Cucu masuk dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, kepalanya menunduk dalam. Wajah pelayan itu tampak gelisah, dengan gurat kecemasan yang tak bisa disembunyikan di balik matanya yang sembab. "Yang Mulia," bisik Cucu, suaranya sedikit se
Diana melangkah turun dari kereta kuda dengan gerakan anggun namun terukur. Rok panjangnya menyapu anak tangga kayu yang telah dipoles rapi, sementara Embun dan dua pelayan lain segera mengikutinya dari belakang. Hari ini bukan kunjungan biasa. Diana tahu betul, setiap langkahnya ke dalam harem K
Berbanding terbalik dengan Istana Putra Mahkota yang malam itu diselimuti ketenangan rapuh, Istana Kaisar justru bergolak dalam ketegangan yang hampir mencekik napas. Langit di atas Harem Tengah seakan lebih rendah dari biasanya, awan kelabu menggantung berat, seolah ikut menekan setiap
Kereta kuda melaju perlahan meninggalkan Istana, roda-rodanya berderit lembut di atas jalan batu yang mulai memutih. Diana duduk di dekat jendela, tirainya sedikit ia singkap, matanya sibuk mengintip ke luar sepanjang perjalanan. Sejak gerbang istana tertutup di belakang mereka, wanita itu seolah
Malam sebelumnya, udara di Istana Selir Agung terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Lentera-lentera yang tergantung di sepanjang koridor bergoyang pelan, nyalanya bergetar seolah ikut merasakan kegelisahan tuannya. Selir Agung duduk tegang di ruang tengah, jari-jarinya mence







