INICIAR SESIÓN“Alon… kau tidak percaya padaku?”Suara Isabella terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh keheningan ruangan yang kini hanya mereka tempati berdua. Harsa telah pergi sejak beberapa saat lalu, meninggalkan udara yang terasa lebih pengap, seolah emosi yang tertahan tadi belum benar-benar sirna.Alon berdiri mematung sesaat, seakan baru tersadar dari pusaran pikirannya sendiri. Tatapan pria itu sempat kosong, lalu perlahan beralih ke arah Isabella yang menatapnya dengan mata sedikit memerah, campuran antara marah, takut, dan kecewa.Tanpa berkata apa pun, Alon melangkah mendekat dan memeluk Isabella. Lengannya melingkar di bahu wanita itu, satu tangannya mengusap lembut kepala Isabella dengan gerakan menenangkan, seperti yang biasa ia lakukan setiap kali Isabella merasa tidak aman.“Aku…” Alon menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “bukan tidak mempercayaimu. Hanya saja bentuk kejadiannya terlihat jelas oleh Putra Mahkota dan Pangeran Kedua.”Isabella menggertakkan giginya kesal. Tan
Isabella menatap Diana tanpa sedikit pun usaha menyembunyikan ekspresinya. Tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia gunakan di hadapan orang lain. Wajahnya kini dingin, keras, dan dipenuhi emosi yang bergejolak.Lorong itu sepi. Lampu-lampu minyak di dinding memantulkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang di lantai batu. Udara terasa berat, seolah menyadari bahwa percakapan di antara dua wanita ini tidak akan berakhir baik.Diana mengerutkan keningnya sekilas. Ia memiringkan kepala sedikit, mempertahankan senyum tipis yang nyaris sopan.“Ada apa, kak?” tanyanya lembut, seolah benar-benar tidak memahami suasana tegang yang menggantung di antara mereka.Isabella mengepalkan kedua tangannya diam-diam. Kukunya menekan telapak tangannya sendiri, menahan emosi yang sejak tadi mendidih. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka mulut.“Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?” tanyanya tiba-tiba.Pertanyaan itu datang tanpa peri
“Yang Mulia?”Suara Diana terdengar ragu ketika semua orang di restoran itu tengah membungkuk dalam-dalam, menyambut kedatangan Putra Mahkota. Ia berdiri kaku di tempatnya, menatap sosok Arthur yang berdiri tegap di hadapan meja makan, seolah kehadirannya bukan sesuatu yang mengusik suasana sama sekali.Arthur berdiri dengan sikap acuh, raut wajahnya nyaris tak terbaca di balik topeng emas yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak ada senyum, tidak pula ekspresi tidak nyaman. Seakan-akan ia memang seharusnya berada di sana sejak awal.“Anda datang?” tanya Diana lagi, kali ini dengan suara setengah berbisik, hampir tenggelam oleh bunyi kursi yang bergeser dan desah napas para tamu yang masih menahan gugup.Arthur menoleh sedikit ke arahnya. “Aku mengganggumu di sini?” balasnya singkat.Diana tersenyum kaku seketika dan segera menggeleng cepat. “Tentu saja tidak…”Namun di dalam hatinya, ia hampir mengerang putus asa. Astaga… setelah Alon dan Pangeran Kedua, sekarang Arthur juga datang.
Di ruang kerja Putra Mahkota, suasana pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk dari jendela tinggi hanya mampu menerangi setengah ruangan, sisanya tenggelam dalam bayangan rak buku dan tumpukan dokumen negara yang belum selesai ditandatangani.Sai berlutut di tengah ruangan dengan satu lutut menyentuh lantai, punggungnya lurus, kepala sedikit tertunduk penuh hormat. Ia baru saja kembali dari apa yang disebut Arthur sebagai penyelidikan khusus—tugas yang tidak tertulis, namun selalu berhubungan dengan satu nama yang sama.Di sisi Arthur, Rany berdiri sambil menggiling tinta. Gerakan tangannya kasar dan tidak beraturan, jelas menunjukkan suasana hatinya yang sedang buruk. Wanita itu mendadak dipanggil pagi-pagi hanya untuk tugas sepele seperti ini, dan yang membuatnya semakin kesal, ia tidak diperbolehkan duduk di kursi yang biasanya Diana duduki. Kursi itu kini kosong, tetapi entah kenapa terasa seperti wilayah terlarang.Rany mendengus pelan, menggerutu
Hari peresmian cabang baru restoran Alon akhirnya tiba, membawa serta hiruk-pikuk yang sejak awal sudah membuat kepala Diana berdenyut. Sejujurnya, sejak pagi Putri Mahkota itu sama sekali tidak memiliki niat untuk datang. Bahkan, jika boleh jujur, ia lebih memilih menghabiskan waktu seharian penuh menggiling tinta di ruangan Arthur daripada harus melihat wajah Alon lagi.Namun niat hanyalah niat.Kenyataan datang dengan cara yang selalu menjengkelkan.“Putri,” lapor Embun dengan napas sedikit tergesa saat memasuki ruangan Diana, “tuan muda Alon sudah lebih dulu berbicara dengan banyak tamu undangan. Katanya… Anda pasti akan datang ke acara peresmian teman kecil Anda.”Diana yang tengah duduk di depan meja rias seketika menghentikan gerakan tangannya. Alisnya berkedut, lalu keningnya berkerut dalam.“Apa yang barusan kau katakan?” suaranya terdengar datar, tetapi Embun sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa itu adala
Di tempat yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk istana Putra Mahkota dan pertikaian sunyi yang dipenuhi sindiran tajam, Harsa duduk dengan tenang di dalam kediaman pribadinya. Ruangan itu berada di sayap timur istana, cukup terpencil, seolah sengaja dipilih agar jauh dari lalu-lalang pejabat dan pengawasan berlebihan. Cahaya sore masuk dari jendela besar yang terbuka setengah, menerpa lantai kayu dan kanvas besar yang berdiri di tengah ruangan.Di hadapan kanvas itu, Harsa memoles lukisan terbarunya dengan penuh konsentrasi. Jemarinya yang ramping memegang kuas dengan mantap, menyapukan warna biru keabu-abuan di sudut langit lukisan. Goresannya halus, penuh perasaan, seolah setiap sapuan kuas adalah napas yang ia hembuskan perlahan untuk menjaga kewarasannya.Lukisan itu menggambarkan hamparan padang rumput luas dengan seorang figur kecil berdiri di tengahnya, membelakangi dunia. Tidak ada mahkota. Tidak ada istana. H







