LOGINLangkah kaki kecil Rena menghentak lantai marmer rumah dengan penuh emosi. Wajahnya yang biasanya cerah kini ditekuk sedalam mungkin, memberikan kesan mendung yang nyata bagi siapa pun yang melihatnya. Yudha menyusul di belakang, berjalan dengan langkah gontai dan bahu yang sedikit merosot, membawa tas sekolah mungil bermotif karakter kartun milik putrinya.Wilona yang sedang menyesap teh hangat di ruang tengah langsung bangkit saat mendengar suara pintu terbuka. Ia sudah menunggu kabar sejak Yudha menelepon bahwa ada "insiden" di sekolah."Kenapa hem? Kok mukanya sampai ditekuk begitu?" tanya Wilona lembut saat Rena melintas di depannya dengan napas yang masih memburu."Gapapa! Sebel sama Reno nakal! Pokoknya Rena nggak mau main sama Reno lagi!" jawab Rena tanpa menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua, lalu terdengar suara pintu yang ditutup dengan cukup keras meski tidak sampai membanting.Wilona beralih menata
Reno menghentakkan kakinya ke tanah, menunjukkan rasa tidak sukanya yang mendalam. Rena tertegun sejenak. Kata "hamil" yang baru saja diucapkan Reno terdengar seperti petir di siang bolong bagi telinganya. "Mama kamu... hamil?" pekik Rena dengan suara yang cukup nyaring. Reno mengangguk dengan lesu. "Iya. Kata Mama di perutnya ada adik bayi. Nanti katanya aku harus sayang sama adik bayi! Aku gak mau!’’ Mendengar konfirmasi itu, ekspresi wajah Rena berubah drastis. Alih-alih merasa senang untuk temannya, Rena justru merasa dunianya runtuh. Wajahnya semakin cemberut, matanya mulai memerah karena rasa iri yang membakar hati kecilnya. "Kenapa nggak adil sih! Kenapa bukan Bunda saja yang hamil, kenapa malah Mama kamu!" teriak Rena frustrasi. Reno yang kaget dibentak seperti itu langsung membalas, "Ya mana aku tahu! Bukan aku yang bikin perut Mama jadi hamil!’’ "Ahh sebelll! Rena sebel sama Reno!
Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah gorden kamar, menciptakan garis-garis emas di atas sprei sutra yang tampak berantakan. Wilona menggeliat pelan, merasakan tubuhnya sedikit pegal namun ada sensasi hangat yang menjalar di dadanya. Tangan kokoh Yudha masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah tidak membiarkan satu inci pun jarak tercipta di antara mereka. Memori tentang gairah semalam, tentang janji-janji yang dibisikkan di tengah desahan, kembali terlintas dengan jelas. Pipinya seketika merona merah, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Yudha yang masih terlelap.Namun, ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.BRAK! BRAK! BRAK!Suara gedoran pintu yang brutal dan tidak sabaran itu membuat keduanya tersentak. Yudha langsung terduduk tegak, matanya mengerjap berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer."Bunda! Ayah! Buka pintunya!" suara cempreng Rena terdengar menggelegar dari balik pintu.‘’Astaga Mas, anak kam
Wilona kembali menatap Rena yang kini sudah melipat kedua tangannya di depan dada, benar-benar menunjukkan aksi protes karena permintaannya belum dikabulkan. "Rena, punya dede bayi itu bukan kayak beli mainan di toko. Harus nunggu lama, harus dijaga di perut Bunda dulu.""Nggak apa-apa! Rena bakal tungguin! Rena janji nggak bakal nakal, Rena janji bakal bantuBunda jagain dedenya!" Rena terus merayu, kali ini dengan nada yang lebih melas.Wilona menghela napas berat, ia kembali menatap Yudha dengan pandangan serius. "Kamu... kamu gimana? Kamu juga mau?" tanya Wilona pelan, kali ini benar-benar ingin mengetahui pendapat suaminya.Yudha mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia meraih tangan Wilona di atas meja dan menggenggamnya erat. Sorot matanya yang tadi jenaka kini berubah menjadi hangat dan tulus."Kalau aku sih, sejujurnya terserah kamu, Sayang. Aku tahu yang hamil itu kamu, yang merasakan sakitnya melahirkan itu kamu, dan yang paling banyak ber
Sari berdiri di sisi ranjang, matanya menatap Kenzo dengan binar kagum, namun ada gurat rasa bersalah yang masih dalam di sana. "Bagaimana keadaan kamu? Maaf... Mama baru sempat datang lagi hari ini. Kemarin Jenny tiba-tiba pendarahan hebat dan harus opname juga di rumah sakit seberang. Mama harus menjaganya karena dia terus-terusan memanggil Mama."Deg!Seketika itu juga, senyum di wajah Vera luntur sepenuhnya. Rasanya seperti disiram air es di tengah kehangatan. Di saat ia baru saja melewati maut karena kecelakaan yang dipicu oleh pertemuan dengan Sari, ibunya masih saja menjadikan Jenny sebagai alasan utama atas ketidakhadirannya.Revan yang berdiri di belakang Vera merasakan perubahan suhu emosi istrinya. Ia hanya diam, namun rahangnya mengeras dan ekspresi wajahnya berubah menjadi datar nan dingin. Ia tidak ingin membuat keributan di depan Kenzo, tapi sorot matanya sudah cukup untuk memberi tahu Sari bahwa kehadirannya tidak benar-benar diinginka
"Om Revan, ayolah... cuma lihat sebentar saja. Rena janji nggak bakal berisik. Rena mau kenalan sama dede Ken," rengek Rena untuk kesekian kalinya.Langkah kaki kecil Rena terus mengekor di samping Revan. Gadis kecil itu tidak berhenti menarik-narik ujung kemeja Revan, sesekali mengeluarkan jurus andalannya, wajah memelas dengan mata bulat yang berkedip-kedip. Sejak tiba di rumah sakit, fokusnya bukan lagi pada kue atau balon, melainkan pada sosok mahluk kecil yang disebut "Dede Bayi".Revan, yang sebenarnya masih merasa lelah luar biasa, akhirnya luluh juga. Ia tidak tega melihat antusiasme murni dari putri Wilona itu. Lagi pula, melihat Kenzo melalui kaca ruang NICU mungkin bisa memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya sendiri sebelum ia kembali menjaga Vera."Ya sudah, ayo. Tapi janji ya, jangan teriak-teriak. Di sana banyak bayi lain yang lagi bobo," pesan Revan serius."Siap, Om Bos!" seru Rena sambil melakukan gerakan hormat yang lucu.Mereka berjalan menyusuri koridor ruma
Ruang keluarga itu berubah menjadi medan perang tanpa suara.Udara terasa berat. Bahkan jam dinding yang biasanya berdetak pelan kini seperti menghitung detik kehancuran hubungan ibu dan anak itu.Dengan suara parau yang tertahan, Yudha akhirnya bicara, “Yudha kecewa sama Mama!”Kalimat itu tidak d
“Kabur? Kabur ke mana?” tanya Dirga.Suaranya rendah, tapi jelas menekan. Salah satu pria menelan ludah keras sampai terdengar.“K—kami tidak tahu Pak… kami juga sedang mencari… karena kami juga sudah kena amukan bos kami!”Dirga menyipitkan mata. Ia melangkah satu langkah lebih dekat
Beberapa tahun kemudian …. Sinar matahari sore jatuh lembut di halaman rumah sederhana itu. Angin desa berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di samping pagar bambu. Suasana biasanya ramai oleh suara anak-anak, tawa, dan langkah kaki kecil yang berlarian. Tapi sore ini, hanya ada satu sos
Mobil hitam itu akhirnya berhenti di halaman kantor pusat. Gedung tinggi dengan dinding kaca menjulang, terlihat begitu gagah tetapi bagi Yudha, semua itu masih terasa seperti tempat asing yang kebetulan memakai namanya.Begitu mobil berhenti, supir segera turun membuka pintu.Yudha







