LOGINMalam harinya, suasana ruang makan di kediaman Yudha dan Wilona malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang pecah pagi tadi.
Aroma semur daging dan sup ayam yang mengepul dari atas meja seolah menjadi penawar lelah setelah seharian beraktivitas. Wilona sedang menata piring-piring, sementara Rena duduk dengan wajah yang masih sedikit ditekuk, sibuk memainkan ponselnya tanpa minat. Si kembar, Vero dan Varo, duduk di kursi mereka dengan kaki yang bMalam itu, pelataran sebuah *resort* mewah di kawasan perbukitan Bandung disulap menjadi taman surgawi. Lampu-lampu *warm white* menggantung cantik di antara pepohonan, menciptakan pendar keemasan yang memantul di permukaan kolam renang. Aroma bunga sedap malam dan melati menyerbak, menyambut para tamu yang hadir untuk merayakan satu dekade perjalanan cinta yang tak biasa. Di tengah panggung kecil yang dekorasinya didominasi warna putih dan emas, berdiri Yudha dan Wilona. Sepuluh tahun telah berlalu, namun tatapan Yudha pada istrinya tidak pernah berubah tetap penuh perlindungan dan kekaguman. Wilona tampil anggun dengan gaun satin yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, sementara Yudha tetap terlihat gagah meski guratan kedewasaan semakin tegas di wajahnya. Perbedaan usia sepuluh tahun lebih di antara mereka kini tak lagi terasa sebagai jurang, melainkan sebagai penyeimbang yang kokoh. "Terima kasih sudah ber
Malam harinya, suasana ruang makan di kediaman Yudha dan Wilona malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang pecah pagi tadi. Aroma semur daging dan sup ayam yang mengepul dari atas meja seolah menjadi penawar lelah setelah seharian beraktivitas. Wilona sedang menata piring-piring, sementara Rena duduk dengan wajah yang masih sedikit ditekuk, sibuk memainkan ponselnya tanpa minat. Si kembar, Vero dan Varo, duduk di kursi mereka dengan kaki yang berayun-ayun, sesekali saling sikut namun tetap berusaha tenang karena tahu "otoritas tertinggi" rumah akan segera tiba. Terdengar suara deru mobil memasuki garasi, disusul suara pintu yang tertutup. Detik berikutnya, langkah kaki mantap terdengar menuju ruang makan. "Ayahhhh!" Vero dan Varo serempak melompat dari kursi mereka. Seperti anak panah yang meluncur, keduanya berlari menghambur ke arah pintu, memeluk kaki pria yang masih mengenakan kemeja kerja
Beberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja
Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa
"Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.
"Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i
Ruang keluarga itu berubah menjadi medan perang tanpa suara.Udara terasa berat. Bahkan jam dinding yang biasanya berdetak pelan kini seperti menghitung detik kehancuran hubungan ibu dan anak itu.Dengan suara parau yang tertahan, Yudha akhirnya bicara, “Yudha kecewa sama Mama!”Kalimat itu tidak d
“Kabur? Kabur ke mana?” tanya Dirga.Suaranya rendah, tapi jelas menekan. Salah satu pria menelan ludah keras sampai terdengar.“K—kami tidak tahu Pak… kami juga sedang mencari… karena kami juga sudah kena amukan bos kami!”Dirga menyipitkan mata. Ia melangkah satu langkah lebih dekat
Beberapa tahun kemudian …. Sinar matahari sore jatuh lembut di halaman rumah sederhana itu. Angin desa berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di samping pagar bambu. Suasana biasanya ramai oleh suara anak-anak, tawa, dan langkah kaki kecil yang berlarian. Tapi sore ini, hanya ada satu sos
Mobil hitam itu akhirnya berhenti di halaman kantor pusat. Gedung tinggi dengan dinding kaca menjulang, terlihat begitu gagah tetapi bagi Yudha, semua itu masih terasa seperti tempat asing yang kebetulan memakai namanya.Begitu mobil berhenti, supir segera turun membuka pintu.Yudha







