تسجيل الدخولBeberapa tahun kemudian …
Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur.Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi."ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu VeroBeberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja
Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa
"Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.
"Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i
Pagi itu, langit Jakarta nampak sedikit mendung, seolah mencerminkan kegelisahan yang menyelimuti hati Wilona. Setelah memastikan Rena masuk ke dalam gerbang sekolah dengan tas stroberinya yang mencolok, Wilona tidak langsung menuju kantor. Ia memutar kemudi mobilnya ke arah pemukiman padat tempat Tika tinggal sebelum menikah.Firasatnya sejak acara tasyakuran kemarin tidak bisa tenang. Keheningan Tika terasa terlalu janggal untuk seorang sahabat yang biasanya paling berisik di grup percakapan.Setibanya di depan rumah lama Tika, Wilona hanya mendapati gerbang besi yang terkunci rapat dengan tumpukan brosur iklan yang terselip di celah pagar, tanda bahwa rumah itu sudah tidak berpenghuni selama beberapa waktu. Tak menyerah, Wilona memacu mobilnya menuju unit usaha rental PS yang selama ini menjadi kebanggaan Tika. "Tika?" panggil Wilona saat ia melongok ke dalam.Bukan Tika yang muncul, melainkan Tyas, adik perempuan Tika, yang sedang sibuk membe
Suasana di kediaman mewah keluarga Putra hari ini tampak begitu berbeda. Halaman rumah yang biasanya hanya diisi deru mesin mobil, kini disulap menjadi area syukuran yang kental dengan nuansa religius namun tetap elegan. Karangan bunga ucapan selamat berjejer rapi di sepanjang pagar, menyambut tamu-tamu yang hadir untuk mendoakan putra pertama Revan dan Vera, Kenzo Arkananta.Di dalam ruang tengah yang luas, aroma harum kayu cendana dan makanan khas tasyakuran menyerbak. Revan, yang hari ini mengenakan baju koko putih bersih dengan bordir sederhana, tampak sangat berwibawa namun wajahnya memancarkan kelembutan seorang ayah yang baru saja mendapatkan mukjizat. Vera duduk di sofa utama, tampak cantik dengan gamis senada, mendekap Kenzo yang sedang tertidur lelap dalam balutan kain sutra lembut.Hampir semua sahabat dan kerabat dekat hadir, menciptakan keramaian yang hangat. Namun, di antara suara doa dan obrolan orang dewasa, ada satu suara cempreng yang sejak tadi mendominasi suas
“Buruan buka, Mas,” desaknya manja, nyaris melompat kecil di tempat duduknya.Yudha terkekeh pelan. Tangannya meraih kotak kecil itu, jemarinya sudah siap membuka penutupnya. Namun belum sempat kotak itu terbuka sempurna—Drrtt …. Drttt … Ponsel Yudha bergetar di atas meja.
“Wilona, kamu ngapain di sini?” tanya Revan dengan nada terkejut. Alisnya bertaut, seolah tak menyangka akan bertemu Wilona di tempat itu.Wilona refleks sedikit menjauh dari Yudha. Gerakan kecil itu nyaris tak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan kegugupan yang tiba-tiba menguasai dirinya
Detik itu juga, Yudha berdehem keras. Suaranya cukup untuk memotong suasana. Ia melirik tajam ke arah Dirga, memberi isyarat yang hanya dipahami oleh mereka berdua. “Ah—iya, Pak,” sahut Dirga cepat-cepat, suaranya terdengar sedikit panik. “Ini memang pernikahan siri.”
“Apa Revan di sini?” tanya Evelyn dengan nada ragu, alisnya saling bertaut.Wilona langsung kaku.Jantungnya berdegup kencang sampai rasanya mau meloncat keluar dari dada. Tangannya mengepal tanpa sadar, kuku-kukunya menekan telapak sendiri.“B—bukan siapa-siapa, Kak,” jawab Wilona te







