Home / Romansa / Mendadak Miskin / Cleaning Service

Share

Cleaning Service

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2022-04-16 12:07:32

Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.

Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

Ketika dia memanasi sepeda motornya, terdengar dari kejauhan suara yang menghantui tidurnya semalam, "Mas ganteng! Aku tunggu kedatanganmu dari subuh, kenapa belum dateng-dateng?" Terlihat Lina datang setengah berlari mendekat ke arah rumah Rafa.

Sontak Rafa langsung menaiki motor dan melajukan motornya seraya berteriak, "Nanti malam bu, saya kasih fotokopinya!"

Rafa tertawa puas setelah melihat tingkah Lina yang menghentak-hentakkan kaki sambil memonyongkan bibir tebalnya. Sungguh dia merasa sial mendapat tetangga genderuwo seperti Lina.

"Mungkin nanti aku harus telepon Liam buat cari kawasan rumah yang lebih aman."

Di pukul 7 pagi tepat, Rafa harus sampai di perusahaan sebelum para staf dan karyawan datang. Tugasnya seperti cleaning servis lainnya, bersih-bersih di ruangan yang ditentukan sampai waktu pulangnya tiba. Itupun kalau Liam tidak membuat drama dahulu agar dirinya semakin dipermalukan di depan umum.

Saat dirinya berhenti di perempatan lampu merah, sayup-sayup dia mendengar namanya disebut oleh seseorang.

"Eh, sayang. Bukankah itu suamimu Rafa? Apa dia benar-benar jatuh miskin sekarang?"

Rafa menoleh ke kiri, dia terkejut mendapati Pevita duduk di samping Xavier sedang terkekeh mengejek dirinya. Mereka mengendarai mobil dengan atap yang terbuka, membuat Rafa dapat melihat dengan jelas ekspresi mereka yang tengah menertawakannya.

"Sayang, jangan panggil dia suamiku lagi! Karena dia adalah sampah yang sudah aku buang. Aku bahkan tak sudi memiliki mantan suami sepertinya. Ah, betapa sialnya hidupku," ujar Pevita dengan drama.

Tangan Rafa semakin memegang erat stang motornya. Wajahnya menggelap. Kini daftar hitamnya bertambah nama.

Aku pasti akan membuat banyak perhitungan denganmu, Xavier!

"Wow, kenapa mukamu terlihat mengerikan, Bro? Apakah kau baru tahu kalau kami sudah berpacaran lama dibelakangmu?" tanya Xavier dengan santai.

Ya. Rafa benar-benar terkejut akan hal itu. Xavier adalah direktur di perusahaannya, bahkan status pria bernetra hazel itu sudah berkeluarga dan memiliki satu anak. Sedari awal, dia tak pernah menyangka Xavier yang menurutnya baik nyatanya menikung dari belakang. Tapi kali ini dia tidak akan memperlihatkan rasa keterkejutannya karena mulai sekarang, dia akan membalas permainan mereka berdua. "Oh ya? Kalau begitu, silahkan nikmati barang bekas milikku, Xavier." Rafa segera melajukan motornya setelah lampu berubah hijau.

Masih terdengar suara Xavier meneriakinya dengan keras. "Dasar bajingan! Udah miskin aja masih belagu!"

Pikirannya berkecamuk, banyak hal yang ternyata terjadi di luar dugaannya. Hingga ia tak sadar bahwa motornya sudah sampai di tempat parkir perusahaan.

Para staf dan karyawan yang belum mengetahui kalau Rafa turun jabatan hanya terheran melihatnya mengenakan seragam cleaning servis. Seharusnya para staf dan karyawan akan masuk pukul 8 tepat kecuali bagi mereka yang diharuskan berangkat lebih pagi.

Ini pasti kerjaan Liam!

Meskipun dalam hatinya menggerutu, tapi sebenarnya dia menantikan drama yang dibuat Liam selanjutnya. Dia sudah tak sabar ingin melihat wajah asli di balik topeng yang selama ini para staf dan karyawan gunakan di depan Rafa.

Dugaan Rafa tak meleset. Liam sudah berada di lobi, tempat para staf dan karyawan berkumpul sesuai dengan perintahnya. Setelah Liam sudah memastikan semua karyawan berada di lobi, dia memulai dramanya. "Aku mohon perhatian semuanya! Aku hanya akan memberi info ini sekali, jadi jangan tanyakan hal ini lagi untuk kedepannya. Mulai hari ini, Rafa Hamish Saguna akan turun jabatan dari CEO menjadi cleaning servis karena suatu kesalahan yang tak bisa di ungkapkan oleh para pemegang saham. Dan mulai hari ini, saya Liam Bari Sinaga akan menggantikan posisinya sebagai CEO. Lalu, saya tidak menginginkan suatu perayaan apapun karena saya hanya tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain." Liam menatap pemandangan yang terlihat ramai. Tentu para staf dan karyawan mulai berkasak-kusuk membicarakan hal yang baru saja mereka dengar. Dia tersenyum samar sebelum pergi meninggalkan para karyawan.

"Kesalahan apa tuh yang dia perbuat?" bisik salah satu karyawan.

"Gak tahu. Tapi ngeri juga sih, hanya dalam sekejap kehidupannya langsung berputar ke bawah."

"Tapi kenapa dia kayak biasa aja ya? Itu kalau aku, udah kena mental. Stres!"

"Benar. Dia kayak gak ada ekspresi. Bikin aku ngerasa kasihan lihatnya."

"Alah, ngapain kasihan? Kan itu udah kesalahannya sendiri karena udah ngelakuin kesalahan sampai di turunin jabatan. Kita sendiri sebagai karyawan kecil kalau ngelakuin kesalahan gak ada tuh belas kasihan dari dia."

Beberapa karyawan mengangguk setuju atas pernyataan temannya. Lalu tiba-tiba ada yang menanggapi ucapan mereka dari arah belakang.

"Benar tuh, jadi gak usah nunjukin rasa kasihan di depannya. Justru ini tuh udah saatnya untuk kita balas dendam."

Rafa mendengar semua ucapan mereka. Yang paling membuat dia geram adalah ucapan Xavier barusan. Memanas-manasi para karyawan agar ikut benci kepadanya. Sungguh kekanak-kanakan!

"Maksud anda apa, pak Xavier?" tanya salah satu karyawan.

"Bukankah dia dulu sering memarahi kalian? Inilah saatnya kalian untuk balas dendam. Lampiaskan segala emosi kepadanya. Kini dia sudah bukan apa-apa, jadi jangan takut!"

Para karyawan yang mendengar saling bertatapan, lalu diantara mereka mulai membicarakan keburukan Rafa di masa lalu. Sedang Xavier menatap Rafa dengan tersenyum penuh kemenangan. Dia berjalan mendekati Rafa sambil berbisik, "Inilah balasan karena sudah main-main denganku, Anjing! Aku benar-benar menantikan sebuah pertunjukan hebat nantinya." Seringaian muncul di bibir Xavier.

Rafa hanya menatap datar ke arah Xavier. Tak berniat untuk membalas ataupun ikut terpancing amarah. Yang masih dirasakannya kali ini adalah keterkejutan karena melihat sifat Xavier yang berbanding terbalik sebelum dia berpura-pura menjadi miskin.

20 menit berlalu semenjak pemberitahuan Liam. Rafa terlihat menyeka bulit keringat ketika mengepel di salah satu ruang milik staf. Meskipun dirinya rutin olahraga, tapi apa yang dilakukannya saat ini tentu hal yang berbeda. Tak pernah ia sangka dalam hidupnya akan memegang alat pel serta alat tempur lainnya untuk membersihkan ruangan. Saking fokusnya ia melarutkan diri dalam pekerjaan barunya, tak sadar bahwa kotoran yang baru saja di pel nya ternyata terdapat jejak sepatu kotor yang baru. Dia menghela napanya ketika mendengar seorang staf wanita bersuara, "Oops, maaf." Suara cekikikannya membuat Rafa jijik.

Dengan santai staf wanita tersebut kembali melenggang mondar-mandir melewati ruang yang tengah dibersihkan oleh Rafa. "Maaf, nona. Bisakah tinggalkan ruang ini sebentar? Saya akan membersihkan ruangan hanya dalam waktu 10 menit. Jadi, bersabarlah di luar sebentar."

Wanita itu menoleh, menatap Rafa dengan matanya melotot. "Kurang ajar! Kamu tuh cuma cleaning servis! Jangan sok-sokan ngatur-ngatur saya, ya!" ujarnya dengan membentak.

Rafa hanya mengelus dadanya sebentar. Mencoba menahan amarahnya agar tak keluar. Entah mengapa dia ingin terus menahan sabar, padahal bisa saja dia berhenti bersandiwara dan menghukum semua karyawan dan staf yang telah menghina. Tapi instingnya terus berkata, bahwa dia harus meneruskan sandiwaranya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Miskin   41. Pevita memohon kembali

    Usai mengakhiri pidatonya, Rafa turun dari podium. Di sampingnya, Liam dan Dika berjalan mengawal.​Namun, saat Rafa baru saja melewati pintu kaca otomatis menuju area lobi luar, langkahnya mendadak terhenti saat melihat wajah yang amat ia kenali.​"Rafa?! Sedang apa kamu di sini?"​Seorang wanita dengan gaun merah mencolok dan kacamata hitam besar melangkah masuk dengan gaya menantang. Sudah lama Rafa tidak melihat Pevita. Wanita masih terlihat angkuh, berjalan meliuk dengan tas bermerek di lengannya, serta melempar pandangan jijik dari ujung kaki hingga ujung kepala Rafa.​"Coba lihat... penampilanmu sok rapi begitu," cibir Pevita seraya bersedekap dada, terkekeh geli. "Kenapa? Kamu dipecat dari petugas cleaning service sampai harus pinjam jas murahan begitu buat melamar pekerjaan lain?"​Liam yang berdiri di belakang Rafa mengepalkan tangannya, hendak maju. Namun, Rafa menahannya dengan mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar sahabatnya tetap tenang.​"Ada keperluan apa kamu k

  • Mendadak Miskin   40. Kembalinya Rafa

    Dika menatap Xavier lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tenang. "Saya di sini bukan untuk mengacau, Pak Xavier. Saya cuma membukakan pintu untuk pimpinan tertinggi yang sebenarnya."​Sebelum Xavier sempat memaki lagi, Rafa melangkah masuk ke dalam ruangan.​Keheningan seketika mencengkeram seluruh isi ruangan. Beberapa komisaris spontan berdiri dari kursi mereka dengan mata membelalak tak percaya.​Xavier membeku di tempatnya, wajahnya memucat saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam nan mengintimidasi milik Rafa.​Rafa?!" gagap Xavier, suaranya bergetar. "Kenapa... kenapa kamu—"​"Kenapa saya ada di sini dengan jas ini, Xavier?" potong Rafa dengan suara dingin. Ia berjalan santai menuju ujung meja, tepat bertatap muka dengan Xavier.​Rafa melempar map kulit di tangannya hingga mendarat keras di hadapan Xavier.​"Permainan penyamaranku sudah selesai," bisik Rafa tajam, membuat napas Xavier tercekat seketika. "Dan hari ini, riwayatmu di perusahaan ini resmi berakhir."

  • Mendadak Miskin   39. Saudara kandung

    "Kita ini saudara, Dika. Kamu adalah adik kandungku."​Usai kalimat itu terucap, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Dika terpaku di atas sofa. Matanya menatap Rafa tanpa berkedip, sementara jemarinya yang memegang ponsel tampak membeku. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.​Rafa mengamati perubahan raut wajah adiknya dengan dada berdebar cemas. Penyesalan mendadak menyusup ke benak Rafa. Ia tahu betul luka masa lalu yang ditinggalkan ayah mereka. Ayahnya telah menorehkan luka dalam, mengkhianati dan menelantarkan Dika serta ibunya selama bertahun-tahun. Rafa takut... jika rasa benci Dika pada sosok ayah mereka kini berimbas pada dirinya.​"Dika... aku tahu... Papa kita udah bikin luka yang terlalu besar buat kamu dan ibu kamu. Aku paham kalau kamu marah besar sama aku. Kalau kamu benci sama aku karena garis keturunan ini, aku terima, Dika. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas nama Papa—"​Tiba-tiba, sudut bibir Dika terangkat. Keheningan seketika pecah saat Dika terkekeh

  • Mendadak Miskin   38. Pernyataan jujur dengan Dika

    Sore kembali datang, Rafa Mengamati wajah lelap Rafi di pangkuan Dewi, lalu mendekatkan tubuhnya dan mengusap pipi mungil anak itu dengan penuh rasa kasih.​"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Dewi," bisiknya, tatapannya beralih menatap Dewi. "Aku tahu perjuangan kamu sendirian membesarkan Rafi nggak mudah. Mulai hari ini, kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi."​Dewi menyunggingkan senyum tipis. "Aku juga gak nyangka kalau aku bisa bertahan sejauh ini. Aku pernah berpikir untuk memberi Rafi pada orang lain, untung saja Budhe melarang."Rafa tertegun mendengarnya. Ia semakin menyesal karena tak berada di sisi Dewi lebih awal. Ia malah sibuk mengatasi pernikahannya pada Pevita yang tak tahu diuntung itu.Dewi kemudian menatal Rafa dengan mata berkaca-kaca. "Sejujurnya, saat kamu datang, aku sangat marah karena kamu datang terlambat.""Dewi... aku... aku minta maaf..."Dewi tersenyum tipis. "Sekarang aku udah memaafkanmu, Rafa. Bagaimanapun, aku harus menekan egoku demi

  • Mendadak Miskin   37. Pernyatan Dewi

    Dua hari berlalu dengan cepat. Sabtu pagi yang menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Rafi akhirnya datang. Sejak subuh, bocah empat tahun itu sudah sibuk menyiapkan tas ransel kecilnya, tak sabar untuk pergi bersama ayahnya.​Rafa datang menjemput tepat pukul tujuh pagi menggunakan motornya. Saat pintu rumah dibuka, Rafi langsung menghambur keluar dan memeluk kaki Rafa erat-erat.​"Om Rafa! Ayo berangkat sekarang! Rafi udah siap!" seru Rafi bersemangat dengan topi kecil yang ia pakai.​Dewi keluar menyusul sambil menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Ia mengenakan pakaian sederhana, berupa blus kasual dan celana bahan panjang, namun senyum manis yang terukir di wajahnya membuat Rafa sempat terpana sejenak.​"Rafi dari tadi subuh udah bangunin aku. Katanya takut ditinggal," ujar Dewi terkekeh pelan.​"Nggak mungkin Om tinggalkan Pangeran Kecil," sahut Rafa seraya mengacak rambut Rafi. Ia lalu menatap Dewi dengan lembut. "

  • Mendadak Miskin   36. Kepingan puzzle yang lengkap

    Tak lama dari itu, terdengar ketukan pelan di pintu kontrakan Rafa yang setengah terbuka.​"Om Rafa...!"​Rafa dan Dika serentak menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Rafi yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus, memegang ujung kaos yang dikenakan Dewi, yang berdiri tepat di belakangnya. Di tangan kiri Dewi, ada sebuah wadah plastik berisi kue balok.​"Lho, Rafi? Dewi?" Rafa terkejut, bergegas berdiri melangkah ke pintu. "Kok malam-malam ke sini?"​Dewi tersenyum tipis. "Tadi Budhe bikin kue balok keju, Rafi ngerengek mau kasih ke kamu sekalian antar kue. Katanya takut kamu belum makan malam."​"Iya, Om Rafa! Rafi mau antar kue!" seru Rafi dengan semangat. Namun, tatapan mata bulat anak empat tahun itu mendadak beralih melintasi tubuh Rafa, tertuju pada Dika yang sedang duduk di sofa.​Rafi mengerutkan keningnya, melangkah maju seraya menunjuk Dika dengan polos.​"Om Rafa... itu siapa?" Mata Rafi mengedar ke sekeliling ruangan. "Kok ada kardus banya

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

  • Mendadak Miskin   Lina si Tubuh Gempal

    Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

  • Mendadak Miskin   Ide Gila

    Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status