Home / Romansa / Mendadak Miskin / Lina si Tubuh Gempal

Share

Lina si Tubuh Gempal

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2022-04-16 12:08:53

Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap makan siangnya dengan tenang tanpa ada lawan untuk diajak bicara. Pandangannya fokus melihat ke arah bawah gedung yang menampilkan jalanan padat ibu kota dibawah sengatan surya.

Suara decitan kursi membuat Rafa menoleh, pemuda yang mengenakan seragam biru sama sepertinya tengah tersenyum canggung. "Maaf pak, boleh saya duduk disini? Semua bangku sudah penuh," ujarnya dengan sopan.

Rafa menoleh kebelakang dan menyapu pandangan di sekeliling. Memang kantin tengah begitu ramai pengunjung. Hanya ada beberapa kursi kosong yang berada di antara staf dan karyawan kantor. Tentu membuat pemuda itu sungkan untuk sekedar duduk makan berdampingan dengan mereka. Rafa kembali menatap pemuda yang masih berdiri menunggu ijinnya. "Duduk saja," ujar Rafa mempersilahkan. "Jangan lagi panggil saya 'pak', karena saya sudah bukan pemimpin perusahaan. Panggil saja saya mas atau kak."

Pemuda tersebut mendaratkan bokongnya dengan tersenyum lega dan mulai menyantap makan siangnya dengan sangat lahap.

"Siapa namamu?" tanya Rafa membuka perbincangan.

Pemuda tersebut tersedak lalu terbatuk dan memukul pelan dadanya ketika menenggak segelas air putih. "Maaf pak... eh mas, nama saya Dika." Wajah dan tubuhnya terlihat menegang.

"Kenapa wajahmu terlihat begitu tegang? Sudah saya bilang bahwa saya tidak lagi menjadi pemimpin perusahaan. Profesi saya sekarang sama sepertimu, menjadi cleaning service."

"Maaf mas, itu karena saya sudah terbiasa," ujarnya dengan menggaruk tengkuk.

"Berapa umurmu? Wajahmu terlihat masih muda. Oh ya, sambil dimakan, nanti keburu jam makanmu habis."

Setelah patuh menyuap nasi dengan lauk ke dalam mulutnya, Dika menjawab, "19 tahun, mas."

"Tidak kuliah?"

"Gak mas. Ibu saya sakit-sakitan, jadi mau tak mau saya harus banting tulang untuk membiayai perawatan rumah sakitnya."

"Sakit apa?"

"Kan-"

Belum sempat Dika menjawab, seorang Supervisor datang mendekati keduanya. "Woi! Kalau udah selesai, jangan enak-enakan ngobrol! Terutama kau, Rafa! Jabatanmu sudah turun, jadi jangan lagi merasa seperti pemimpin di perusahaan." Keangkuhan jelas terlihat di wajah pria bernama Bari ketika melihat Rafa.

"Maaf pak, beri saya waktu untuk menghabiskan makan siang saya. Sayang kalau tidak dihabiskan," ujar Dika.

"Oke. Saya beri kamu waktu 5 menit lagi, dan kau, Rafa! Ikut saya keruangan."

***

"Nih tugasmu untuk esok," ujar Bari menyerahkan selembar kertas ketika sudah berada di ruangannya dengan Rafa.

Kening Rafa mengerut ketika matanya teliti membaca tugas-tugas yang harus di kerjakannya. "Loh, mengapa tugas saya jadi bersih-bersih wc?"

Tawa Bari menggelegar ke seluruh ruangan. "Cleaning service emang kerjanya kayak gitu, kenapa? Kau kira kerjaanmu duduk santai sambil ngetik di komputer?"sindir Bari.

"Bukankah tadi pagi kerjaan saya hanya mengepel ruangan staf dan karyawan?"

"Itu harusnya di lakukan oleh Office Boy. Apa yang kau lakukan tadi itu karena perintah pak Xavier."

"Xavier?"

"Huss, mulai sekarang biasakan panggil dia dengan sebutan 'pak'. Jabatan dia lebih tinggi darimu, tau! Harusnya kau merasa beruntung, pak Xavier menganggapmu masih belum terbiasa. Jadi beliau ingin kau mengerjakan yang ringan sebelum mengerjakan hal-hal yang berat."

Xavier sialan! Apa ini pertunjukan drama yang ingin kau tunjukkan?

Rafa baru menyadari selagi dia mengepel ruangan tadi, banyak para staf dan karyawan yang mencaci bahkan meludah di lantai ataupun sengaja mondar-mandir untuk mengotori lantai.

Dasar kekanak-kanakan!

***

"Apa kau sudah mengetahui semuanya?" tanya Rafa saat sudah berada di rumah mungilnya dengan Liam yang duduk di sofa.

"Tahu apa?"

"Soal Pevita yang selingkuh dengan Xavier," ujar Rafa.

Liam tertawa. "Aku sudah pernah memberitahumu, tapi kau tak percaya."

Rafa memukul meja dengan keras. "Sialan."

"Kudengar, Xavier tadi menyuruh Bari untuk menugaskanmu bersih-bersih dalam ruangan?" tanya Liam sembari menyesap kopi hitam yang dibuatnya sendiri di dapur Rafa.

"Ya." Senyum menyeringai tercetak jelas di wajah Rafa. "Akan aku lihat seberapa menariknya drama yang akan dia perlihatkan padaku."

Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. "Mas ganteng, aku tahu kalau kau ada di dalam. Jadi lebih baik keluar secepatnya, sebelum saya suruh suami saya untuk membangunkan warga untuk mengusirmu!" teriakan tersebut jelas dari suara Lina.

"Siapa?" tanya Liam pada Rafa.

Rafa terlihat memijit pelipisnya yang berkedut. "Ini yang ingin aku bicarakan sebenarnya, aku ingin pindah rumah. Aku tak tahan mempunyai tetangga seperti genderuwo sepertinya."

Liam tertawa serta menggelengkan kepalanya. "Biar aku yang menghadapinya."

Pintu terbuka. Menampilkan wajah Lina yang semula bersungut-sungut, kini bibirnya menganga menatap ketampanan luar biasa dari Liam. Pria bernetra hitam gelap tersebut seolah mampu menenggelamkan jiwa Lina kesepian.

Kening Liam mengernyit. Dia menjentikkan jari di depan mata Lina yang tak berkedip. "Pardon?"

Lina mengerjapkan matanya "Ah, maaf. Saya kira saya sedang melihat malaikat," ujar Lina dengan senyum menggoda ala dirinya.

"Ah, bisa saja ibu ini. Oh iya, ada keperluan apa ya malam-malam datang ke rumah saudara saya?" tanya Liam dengan ramah.

"Kenalkan dulu, nama saya Karlina. Panggil saja Lina." Lina mengulurkan tangannya yang segera dijabat oleh Liam. "Kedatangan saya disini, hanya ingin meminta fotokopi ktp sama kk milik mamas ganteng. Saudara anda," jelas Lina. Sesekali matanya mengerling, seperti apa yang sudah ia lakukan pada Rafa sebelumnya.

"Oh, baik. Ibu Lina tunggu disini sebentar. Saya ambilkan fotokopinya, ya."

"Kok panggilnya bu? Ya panggil mbak aja."

Liam tertawa kecil, menampilkan kedua lesung pipinya. Membuat Lina semakin salah tingkah di hadapannya.

Beberapa menit kemudian, Liam kembali dengan membawa lembaran fotokopi kk dan ktp milik Rafa.

"Makasih ya mas, saya pamit dulu. Besok saya akan kesini lagi njenguk mas ganteng sama mas malaikat," ujarnya dengan mengedipkan mata sebelah.

Rafa menghampiri Liam setelah menengok kepergian Lina dari balik jendela. "Kau suka?" tanya Rafa.

Kening Liam mengerut. "Sama siapa?"

"Itu, si makhluk gempal."

Liam tertawa dengan terbahak-bahak, lalu mengusap air mata yang muncul di ekor matanya. "kenapa kau berpikir begitu?"

"Karena ku lihat, kau tersenyum terus ketika berbicara dengannya," jelas Rafa dengan raut wajah yang serius.

"Apa kalau tersenyum itu sudah pasti tandanya suka? Aku hanya beramah tamah saja."

"Hey, Liam. Mengakulah, semuanya terlihat jelas di wajahmu ketika melihatnya."

"A-apa? Aku tidak-"

Rafa memotong kalimat Liam. "Sst, sudah cukup. Aku mengerti. Aku akan merahasiakannya."

Liam tak terima. Dia ingin menjelaskannya pada Rafa yang sudah berjalan menuju ke kamar. "Hei, Rafa! Bukan begitu."

"Sudahlah." Tangan Rafa melambai pada Liam tanpa menoleh ke arahnya. Dalam hatinya dia tertawa puas, merasa berhasil sedikit membalas drama yang diperbuat Liam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Miskin   41. Pevita memohon kembali

    Usai mengakhiri pidatonya, Rafa turun dari podium. Di sampingnya, Liam dan Dika berjalan mengawal.​Namun, saat Rafa baru saja melewati pintu kaca otomatis menuju area lobi luar, langkahnya mendadak terhenti saat melihat wajah yang amat ia kenali.​"Rafa?! Sedang apa kamu di sini?"​Seorang wanita dengan gaun merah mencolok dan kacamata hitam besar melangkah masuk dengan gaya menantang. Sudah lama Rafa tidak melihat Pevita. Wanita masih terlihat angkuh, berjalan meliuk dengan tas bermerek di lengannya, serta melempar pandangan jijik dari ujung kaki hingga ujung kepala Rafa.​"Coba lihat... penampilanmu sok rapi begitu," cibir Pevita seraya bersedekap dada, terkekeh geli. "Kenapa? Kamu dipecat dari petugas cleaning service sampai harus pinjam jas murahan begitu buat melamar pekerjaan lain?"​Liam yang berdiri di belakang Rafa mengepalkan tangannya, hendak maju. Namun, Rafa menahannya dengan mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar sahabatnya tetap tenang.​"Ada keperluan apa kamu k

  • Mendadak Miskin   40. Kembalinya Rafa

    Dika menatap Xavier lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tenang. "Saya di sini bukan untuk mengacau, Pak Xavier. Saya cuma membukakan pintu untuk pimpinan tertinggi yang sebenarnya."​Sebelum Xavier sempat memaki lagi, Rafa melangkah masuk ke dalam ruangan.​Keheningan seketika mencengkeram seluruh isi ruangan. Beberapa komisaris spontan berdiri dari kursi mereka dengan mata membelalak tak percaya.​Xavier membeku di tempatnya, wajahnya memucat saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam nan mengintimidasi milik Rafa.​Rafa?!" gagap Xavier, suaranya bergetar. "Kenapa... kenapa kamu—"​"Kenapa saya ada di sini dengan jas ini, Xavier?" potong Rafa dengan suara dingin. Ia berjalan santai menuju ujung meja, tepat bertatap muka dengan Xavier.​Rafa melempar map kulit di tangannya hingga mendarat keras di hadapan Xavier.​"Permainan penyamaranku sudah selesai," bisik Rafa tajam, membuat napas Xavier tercekat seketika. "Dan hari ini, riwayatmu di perusahaan ini resmi berakhir."

  • Mendadak Miskin   39. Saudara kandung

    "Kita ini saudara, Dika. Kamu adalah adik kandungku."​Usai kalimat itu terucap, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Dika terpaku di atas sofa. Matanya menatap Rafa tanpa berkedip, sementara jemarinya yang memegang ponsel tampak membeku. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.​Rafa mengamati perubahan raut wajah adiknya dengan dada berdebar cemas. Penyesalan mendadak menyusup ke benak Rafa. Ia tahu betul luka masa lalu yang ditinggalkan ayah mereka. Ayahnya telah menorehkan luka dalam, mengkhianati dan menelantarkan Dika serta ibunya selama bertahun-tahun. Rafa takut... jika rasa benci Dika pada sosok ayah mereka kini berimbas pada dirinya.​"Dika... aku tahu... Papa kita udah bikin luka yang terlalu besar buat kamu dan ibu kamu. Aku paham kalau kamu marah besar sama aku. Kalau kamu benci sama aku karena garis keturunan ini, aku terima, Dika. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas nama Papa—"​Tiba-tiba, sudut bibir Dika terangkat. Keheningan seketika pecah saat Dika terkekeh

  • Mendadak Miskin   38. Pernyataan jujur dengan Dika

    Sore kembali datang, Rafa Mengamati wajah lelap Rafi di pangkuan Dewi, lalu mendekatkan tubuhnya dan mengusap pipi mungil anak itu dengan penuh rasa kasih.​"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Dewi," bisiknya, tatapannya beralih menatap Dewi. "Aku tahu perjuangan kamu sendirian membesarkan Rafi nggak mudah. Mulai hari ini, kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi."​Dewi menyunggingkan senyum tipis. "Aku juga gak nyangka kalau aku bisa bertahan sejauh ini. Aku pernah berpikir untuk memberi Rafi pada orang lain, untung saja Budhe melarang."Rafa tertegun mendengarnya. Ia semakin menyesal karena tak berada di sisi Dewi lebih awal. Ia malah sibuk mengatasi pernikahannya pada Pevita yang tak tahu diuntung itu.Dewi kemudian menatal Rafa dengan mata berkaca-kaca. "Sejujurnya, saat kamu datang, aku sangat marah karena kamu datang terlambat.""Dewi... aku... aku minta maaf..."Dewi tersenyum tipis. "Sekarang aku udah memaafkanmu, Rafa. Bagaimanapun, aku harus menekan egoku demi

  • Mendadak Miskin   37. Pernyatan Dewi

    Dua hari berlalu dengan cepat. Sabtu pagi yang menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Rafi akhirnya datang. Sejak subuh, bocah empat tahun itu sudah sibuk menyiapkan tas ransel kecilnya, tak sabar untuk pergi bersama ayahnya.​Rafa datang menjemput tepat pukul tujuh pagi menggunakan motornya. Saat pintu rumah dibuka, Rafi langsung menghambur keluar dan memeluk kaki Rafa erat-erat.​"Om Rafa! Ayo berangkat sekarang! Rafi udah siap!" seru Rafi bersemangat dengan topi kecil yang ia pakai.​Dewi keluar menyusul sambil menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Ia mengenakan pakaian sederhana, berupa blus kasual dan celana bahan panjang, namun senyum manis yang terukir di wajahnya membuat Rafa sempat terpana sejenak.​"Rafi dari tadi subuh udah bangunin aku. Katanya takut ditinggal," ujar Dewi terkekeh pelan.​"Nggak mungkin Om tinggalkan Pangeran Kecil," sahut Rafa seraya mengacak rambut Rafi. Ia lalu menatap Dewi dengan lembut. "

  • Mendadak Miskin   36. Kepingan puzzle yang lengkap

    Tak lama dari itu, terdengar ketukan pelan di pintu kontrakan Rafa yang setengah terbuka.​"Om Rafa...!"​Rafa dan Dika serentak menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Rafi yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus, memegang ujung kaos yang dikenakan Dewi, yang berdiri tepat di belakangnya. Di tangan kiri Dewi, ada sebuah wadah plastik berisi kue balok.​"Lho, Rafi? Dewi?" Rafa terkejut, bergegas berdiri melangkah ke pintu. "Kok malam-malam ke sini?"​Dewi tersenyum tipis. "Tadi Budhe bikin kue balok keju, Rafi ngerengek mau kasih ke kamu sekalian antar kue. Katanya takut kamu belum makan malam."​"Iya, Om Rafa! Rafi mau antar kue!" seru Rafi dengan semangat. Namun, tatapan mata bulat anak empat tahun itu mendadak beralih melintasi tubuh Rafa, tertuju pada Dika yang sedang duduk di sofa.​Rafi mengerutkan keningnya, melangkah maju seraya menunjuk Dika dengan polos.​"Om Rafa... itu siapa?" Mata Rafi mengedar ke sekeliling ruangan. "Kok ada kardus banya

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

  • Mendadak Miskin   Ide Gila

    Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status