LOGIN"Kita ini saudara, Dika. Kamu adalah adik kandungku."Usai kalimat itu terucap, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Dika terpaku di atas sofa. Matanya menatap Rafa tanpa berkedip, sementara jemarinya yang memegang ponsel tampak membeku. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.Rafa mengamati perubahan raut wajah adiknya dengan dada berdebar cemas. Penyesalan mendadak menyusup ke benak Rafa. Ia tahu betul luka masa lalu yang ditinggalkan ayah mereka. Ayahnya telah menorehkan luka dalam, mengkhianati dan menelantarkan Dika serta ibunya selama bertahun-tahun. Rafa takut... jika rasa benci Dika pada sosok ayah mereka kini berimbas pada dirinya."Dika... aku tahu... Papa kita udah bikin luka yang terlalu besar buat kamu dan ibu kamu. Aku paham kalau kamu marah besar sama aku. Kalau kamu benci sama aku karena garis keturunan ini, aku terima, Dika. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas nama Papa—"Tiba-tiba, sudut bibir Dika terangkat. Keheningan seketika pecah saat Dika terkekeh
Sore kembali datang, Rafa Mengamati wajah lelap Rafi di pangkuan Dewi, lalu mendekatkan tubuhnya dan mengusap pipi mungil anak itu dengan penuh rasa kasih."Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Dewi," bisiknya, tatapannya beralih menatap Dewi. "Aku tahu perjuangan kamu sendirian membesarkan Rafi nggak mudah. Mulai hari ini, kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi."Dewi menyunggingkan senyum tipis. "Aku juga gak nyangka kalau aku bisa bertahan sejauh ini. Aku pernah berpikir untuk memberi Rafi pada orang lain, untung saja Budhe melarang."Rafa tertegun mendengarnya. Ia semakin menyesal karena tak berada di sisi Dewi lebih awal. Ia malah sibuk mengatasi pernikahannya pada Pevita yang tak tahu diuntung itu.Dewi kemudian menatal Rafa dengan mata berkaca-kaca. "Sejujurnya, saat kamu datang, aku sangat marah karena kamu datang terlambat.""Dewi... aku... aku minta maaf..."Dewi tersenyum tipis. "Sekarang aku udah memaafkanmu, Rafa. Bagaimanapun, aku harus menekan egoku demi
Dua hari berlalu dengan cepat. Sabtu pagi yang menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Rafi akhirnya datang. Sejak subuh, bocah empat tahun itu sudah sibuk menyiapkan tas ransel kecilnya, tak sabar untuk pergi bersama ayahnya.Rafa datang menjemput tepat pukul tujuh pagi menggunakan motornya. Saat pintu rumah dibuka, Rafi langsung menghambur keluar dan memeluk kaki Rafa erat-erat."Om Rafa! Ayo berangkat sekarang! Rafi udah siap!" seru Rafi bersemangat dengan topi kecil yang ia pakai.Dewi keluar menyusul sambil menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Ia mengenakan pakaian sederhana, berupa blus kasual dan celana bahan panjang, namun senyum manis yang terukir di wajahnya membuat Rafa sempat terpana sejenak."Rafi dari tadi subuh udah bangunin aku. Katanya takut ditinggal," ujar Dewi terkekeh pelan."Nggak mungkin Om tinggalkan Pangeran Kecil," sahut Rafa seraya mengacak rambut Rafi. Ia lalu menatap Dewi dengan lembut. "
Tak lama dari itu, terdengar ketukan pelan di pintu kontrakan Rafa yang setengah terbuka."Om Rafa...!"Rafa dan Dika serentak menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Rafi yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus, memegang ujung kaos yang dikenakan Dewi, yang berdiri tepat di belakangnya. Di tangan kiri Dewi, ada sebuah wadah plastik berisi kue balok."Lho, Rafi? Dewi?" Rafa terkejut, bergegas berdiri melangkah ke pintu. "Kok malam-malam ke sini?"Dewi tersenyum tipis. "Tadi Budhe bikin kue balok keju, Rafi ngerengek mau kasih ke kamu sekalian antar kue. Katanya takut kamu belum makan malam.""Iya, Om Rafa! Rafi mau antar kue!" seru Rafi dengan semangat. Namun, tatapan mata bulat anak empat tahun itu mendadak beralih melintasi tubuh Rafa, tertuju pada Dika yang sedang duduk di sofa.Rafi mengerutkan keningnya, melangkah maju seraya menunjuk Dika dengan polos."Om Rafa... itu siapa?" Mata Rafi mengedar ke sekeliling ruangan. "Kok ada kardus banya
Keesokan harinya, Rafa kembali bekerja. Ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum kembali ke kursi CEO miliknya nanti.Saat berjalan menyusuri koridor menuju ruangan cleanin, matanya menangkap Dika yang sudah siap dengan membawa alat tempurnya. Rafa tersenyum tipis. Ia merasa senang saat melihat adiknya itu sudah kembali bekerja dan terlihat sehat.Namun, senyum Rafa perlahan memudar saat ia melangkah semakin dekat. Dika tampak melamun, berjalan melewatinya. Wajah anak muda itu terlihat sangat lesu, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya.Rafa langsung berbalik dan menepuk pelan bahunya. "Dika. Kok melamun? Gimana keadaanmu? Udah mendingan?"Dika sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah Rafa. "Eh... Mas Rafa. Udah... udah lumayan kok," jawabnya pelan, mengulas senyum tipis.Rafa memicingkan mata. Ia bisa merasakan ada raut kecemasan dan kebingungan di wajah Dika."Kamu kelihatan banyak pikiran, Dika," ujar Rafa. "Ada masalah? Coba cerita ke aku ada
Rafa berdiri perlahan, menyejajarkan tinggi badannya dengan Dewi. Ia tersenyum tipis, matanya menatap dalam-dalam ke manik mata Dewi."Itu udah menjadi kewajibanku, Dewi," bisiknya. "Aku adalah ayahnya, dan itu udah seharusnya kulakukan dari dulu."Kalimat itu meluncur begitu jujur. Tatapan lekat Rafa seolah menembus langsung ke dalam hati Dewi, membuat napas wanita itu tertahan sejenak"Om Rafa!" seru Rafi membuyarkan momen intens itu. "Om Rafa... tadi kata Om Rafa, Om Rafa mau masak makan malam buat aku sama mama? Aku udah lapar banget nih mau makan masakan Om Rafa!" rengek bocah empat tahun itu sambil menarik-narik ujung kemeja Rafa.Rafa terkekeh pelan. Ia segera merengkuh bahu Rafi dan mengusap kepalanya."Pasti dong, Pangeran Kecil. Janji harus ditepati," sahutnya seraya melirik Dewi yang tersenyum simpul. "Sesuai janji, malam ini Om Rafa yang bakal jadi koki buat Rafi dan Mama.""Horeee! Makan masakan Om Rafa!" jerit Rafi gembira seraya melompat-lompat kecil di atas karp
Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil
Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak
Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.
Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke







