Share

Lamaran yang Kukuh

Author: Ranum Aksara
last update publish date: 2025-12-16 10:54:56

Chacha mematung di ambang pintu. 

“Maaf?” respons gadis itu, tidak percaya dengan pendengarannya.

Tidak ada nada yang memperlihatkan sebuah keraguan dalam gaya bicara Albirru. 

“Dokter bersedia?”

“Ustaz mengajak saya menikah?” tanya Chacha, memastikan. “Atas dasar apa? Kita bahkan tidak kenal sebelumnya.”

Chacha mencoba logis. Ia tak habis pikir dengan ajakan Birru. 

Namun,  sesaat kemudian ia baru ingat tentang berita menggemparkan jagad sosial media yang dilihatnya beberapa waktu lalu.

“Ustaz sedang mencari orang untuk menutupi skandal Ustaz?” tembak Chacha kemudian. “Saya lihat beritanya. Daripada mencoba kabur, lebih baik Ustaz tanggung jawab.”

Birru menghela napas. Tatapannya tampak tajam saat menatap Chacha, membuat gadis itu diam-diam menahan napas.

“Dokter percaya?”

Chacha terdiam sejenak. “Saya cenderung bersimpati sebagai sesama perempuan,” aku Chacha pada akhirnya. “Mohon maaf jika saya salah.”

Hening sejenak.

“Saya tidak mengenal perempuan itu,” ujar Birru.

Chacha memainkan tangannya di kantong snell. Meski ia belum sepenuhnya percaya, tapi ia merasa terlalu berpikiran pendek dan cepat menghakimi.

“Anda tidak perlu menjelaskan sedetail itu, Ustaz.”

Albirru mengangguk. “Bagaimana dengan ajakan saja?”

Sepasang mata Chacha melebar. “Huh?”

Kenapa justru kembali ke sana!? Rutuk Chacha dalam hati.

Gadis itu buru-buru menguasai dirinya. “Jangan main-main,” tukasnya. “Kita baru saja bertemu. Tidak kenal satu sama lain!”

“Kita bisa saling mengenal setelah menikah nanti.”

Chacha menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir.

“Sepertinya kepala Anda terbentur cukup keras.” Akhirnya, gadis itu berkata. “Saya sarankan untuk periksa lebih detail di rumah sakit besar setelah ini.”

Usai mengatakan itu, Chacha berbalik dan melangkah pergi.

“Bagaimana jika kita pernah bertemu sebelumnya?”

Chacha berhenti berjalan dan menatap Birru. “Maksud Ustaz?”

Namun, sebelum mendapatkan jawaban, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari luar.

“Dokter! Mana dokternya? Tolong istri saya, Dok!”

Gegas, Chacha keluar–

–dan menemukan mantan kekasihnya sedang memapah seorang wanita yang tampak tengah kesulitan berjalan.

“Chacha?” seru pria itu, Fahri, dengan nada tidak percaya. “Sekarang kamu di sini!?”

***

“Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Bukannya katanya kamu lulusan terbaik? Kenapa justru praktek di pinggir kota begini?”

Chacha mengabaikan celoteh Fahri yang mengusiknya dengan mencoba fokus membalut luka di kaki pasien di hadapan. Seorang wanita muda–istri Fahri.

Meski sudah lewat beberapa tahun, suara Fahri saat memutuskan hubungan dengannya itu masih saja terngiang.

Sosok imam yang menurutnya sangat sempurna, seketika berubah menjadi hakim yang kejam ketika menemukan fakta mengejutkan tentang Chacha.

“Kamu pikir aku masih mau punya istri yang nggak jelas siapa ayahnya? Kamu itu lahir dari perbuatan zina!”

Itulah yang diucapkan Fahri di sore yang suram itu.

“Kamu mungkin menuruti permintaanku, khas istri taat. Tapi, coba kamu pikir. Gimana keturunan kita akan menjadi anak yang sholih dan sholihah kalau ibunya saja lahir dari hasil zina. Lalau neneknya–”

“Sudah selesai?”

Mungkin karena Chacha sempat melamun, pasiennya kemudian bertanya. Otomatis menyadarkan Chacha.

Gadis itu mendongak dan tersenyum. “Sudah. Hindari menumpukan badan ke kaki yang terkilir ya.”

“Benar? Sudah beres?” Fahri kembali bertanya, meski sejak tadi tidak mendapatkan respons dari Chacha. “Jangan karena Sofia istriku, kamu sembarangan menanganinya ya, Cha.”

“Silakan minta pendapat ke klinik lain apabila Anda ragu, Pak Fahri.” Chacha membalas datar.

Fahri mendengus. “Hujan begini, kami bisa ke mana lagi?”

Itu benar. Dari cerita pasiennya, Chacha mengetahui bahwa mobil mereka mogok di sekitar sini saat sedang berjalan-jalan. Saat mencari bantuan, istri Fahri terlepeset–dan Fahri sangat khawatir karena Sofia sedang hamil muda.

Syukurlah saat Chacha cek, tidak ada masalah berarti kecuali kaki perempuan itu.

“Bagaimana kabarmu, Cha?” Fahri kembali membuka topik ketika Chacha sedang membereskan peralatan yang tadi ia gunakan. “Sudah menikah? Belum ya?”

Pria itu langsung mengambil kesimpulan.

“Yah, memang tidak ada pria waras yang mau menikahi perempuan sepertimu.”

“Pak Fahri, jika nggak punya sesuatu yang baik untuk dikatakan, lebih baik diam.” Chacha menukas. Ia tidak ingin orang lain mendengar ucapan menyakitkan itu, apalagi Albirru yang ada di bilik sebelah.

Pun, ia tidak perlu diingatkan kembali mengenai statusnya.

“Lho, memang aku salah apa? Ini aku sedang beramah tamah denganmu. Menanyakan kabar!” Fahri bersikukuh. “Oh, atau kamu masih dendam padaku karena membatalkan pernikahan kita sebelumnya? Kan aku sudah jelaskan alasannya, Cha. Apa kata teman-temanku nanti kalau tahu kamu adalah anak haram–”

Sreeek!

Tirai bilik tiba-tiba terbuka, kasar. Menampilkan wajah Zayn Albirru yang tengah menatap Fahri dengan tatapan dingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak dipinang Ustaz Idaman   Tidak Ada yang Sebaik dia

    Bab 109Detik itu juga, Birru menghentikan pekerjaannya. Tanpa berpikir dua kali, ia segera melesat meraih kunci mobil.“Bang, gue anterin.’‘Nggak perlu, Assalamu’alaikum.’Ia menyetir seperti orang kesetanan. Terus menyalip beberapa kendaraan yang nyaris membahayakan dirinya sendiri. Ia sigap menginjak rem, tangannya mencengkeram kemudi erat-erat.Ketika suara klakson melengking, gegara dia menyalip mobil lain dan dari arah berlawanan ada motor juga. Saat itulah dia sadar untuk tidak boleh panik. Jika terjadi sesuatu dalam perjalanan, justru ia tidak akan bisa melakukan apapun untuk istrinya.Berkali-kali Birru istighfar sambil menarik napas dalam-dalam. Sampai dirinya benar-benar tenang. Laju kendaraanya mulai stabil sampai di rumah sakit.Sampai di rumah sakit pusat, lelaki itu berjalan cepat menuju IGD. Ia langsung menemukan Rofiq dan Doni.“Gus, katanya dokter Chacha nggak apa-apa kok. Udah sempat siuman tadi, tapi dokter minta istirahat karena tubuhnya sangat lemah.”Birru s

  • Mendadak dipinang Ustaz Idaman   Chacha Masuk Rumah Sakit

    Bab 108Chacha masih banyak diam, ia sibuk dengan drakor di mobil. Begitu juga sepanjang acara berlangsung. Mulutnya tidak berhenti mengunyah buah stroberi dan melon yang Birru bawakan. Ia tahu istrinya akan mengeluh mual nanti, jadi sengaja menyiapkan buah-buahan untuk bahan camilan. Rasa segar dan asam dari buah itu sedikit meredakan mualnya. Anehnya kali ini biarpun Chacha tidak terlalu menyimak acara, tapi dia enjoy saja sampai acara hampir selesai. Ia bisa marathon drakor sampai hampir tamat, demi menghilangkan pikiran buruk perihal kehamilan itu.“Masih belum kemalaman kalau mau mampir, kamu pengin kemana?” tawar Birru sembari mengusap kepala istrinya. Acara baru saja selesai, dia tidak tenang sejak tadi meninggalkan Chacha di ruang tunggu, tetapi kekhawatiran itu lenyap setelah melihat sendiri istrinya dengan tenang masih melotot pada tabletnya.“Beli yoghurt, kamu beli nggak tadi pagi?”“Nggak. Ya udah abis ini kita mampir beli sama apa lagi? Kita pake mobil berdua aja

  • Mendadak dipinang Ustaz Idaman   Butuh Pengalihan

    Bab 107Sangat menyakitkan untuk Birru melihat Chacha menangis. Dia tidak mau lagi melihat air mata kembali luruh dari kelopak matanya, tetapi semua yang dilakukannya malah berkebalikan. Lelaki itu terduduk di samping Chacha, mengusap wajah kasar sambil mendengkus. Ia tidak pernah seputus asa ini seumur hidupnya. Dia merasa kehabisan akal untuk mencari solusi masalah kali ini, secara tidak langsung dia lah penyebabnya lagi.Chacha menggulung diri di dalam selimut hingga cukup lama. Sampai ia lelah menangis dan tertidur sendiri. Birru tahu, perempuan itu butuh jeda sejenak agar bisa menata ulang pikirannya.Daripada mengganggu Chacha atau memaksanya untuk bernegosiasi, Birru lebih memilih untuk membereskan belanjaan dan mulai memasak saja. Kebetulan dia membeli udang segar cukup banyak, Chacha pasti akan senang nanti ketika bangun tidur melihat udang asam manis favoritnya.Chacha bisa tenang melakukan hubungan intim di antara mereka karena Birru sebelumnya sudah setuju untuk menggu

  • Mendadak dipinang Ustaz Idaman   Tidak Mau Hamil!

    Bab 106Birru yang baru saja meminjam motor Chacha untuk berbelanja di supermarket sedang berjalan dari garasi. Sesampainya di dalam rumah ia meletakan dua kantung belanja besar di atas meja dapur.Samar-samar dia mendengar suara isakan dari lantai atas. Instingnya langsung siaga. Dengan sigap ia meninggalkan belanjaan dan berjalan cepat menuju kamar.Ditemukannya Chacha meringkuk di atas ranjang. Hari ini harusnya jadwal mereka belanja bulanan, tetapi Chacha mendadak pusing lagi jadi Birru yang belanja sendiri.“Sayang, kenapa?” tanya Birru lembut, berusaha agar tidak panik melihat istrinya menangis sendirian. Padahal baru kemarin dia berjanji tidak akan membuat dia menangis lag.Chacha menoleh, “Mas…?”“Kenapa? Hmm.”Chacha tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Membayangkan harus memberitahu bahwa dirinya mungkin hamil membuat kecemasannya makin parah. Ketika memberikan daftar belanjaan pada Birru tadi pagi Chacha menuliskan pembalut, tetapi setelah mengeceknya di kamar stok pembal

  • Mendadak dipinang Ustaz Idaman   Pengakuan

    Bab 105Mereka terus berjalan melewati nisan-nisan yang berbaris rapi di sana. hingga akhrinya langkah Birru berhenti tepat di depan sebuah nisan yang bersih bertuliskan ‘Aisha Khoerunisa’Birru melepas genggaman tangannya untuk meletakan buket mawar yang ia bawa. Perlahan ia menundukan badannya, duduk di tepian makam Aisha dengan hati-hati. Mengusap nisan itu lalu menghela napas untuk kesekian kalinya.Terlihat Birru menengadahkan tangannya, memanjatkan doa hingga beberapa menit. Lalu ia kembali mengusap nisan Aisha.“Aisha, maaf kita nggak sempet mengenal lebih jauh dan maaf aku nggak bisa menjalankan amanah orangtua kamu untuk menjaga kamu. Maaf juga, karena waktu itu aku terlalu kebawa emosi dan nggak mau dengerin penjelasan kamu. Tapi, aku udah maafin kamu. Kita bertemu baik-baik, seharusnya berpisah juga baik-baik.” Birru menjeda untuk meraih tangan Chacha.“Dan, terima kasih berkat kamu aku jadi bertemu perempuan hebat yang sekarang jadi istri aku.”Chacha balas menggenggam t

  • Mendadak dipinang Ustaz Idaman   Ziarah ke Makam Aisha

    Bab 104“Mas, kamu mau aku maafin kamu?” Chacha mendongak menanti jawaban suaminya. Sengaja ia memancing demikian, ingin melihat bagaimana reaksi Birru. Dari tadi ia sudah berusaha memancingnya untuk bicara jujur tentang Aisha, tetapi sepertinya Birru belum cukup mempunyai keberanian untuk itu.Sebagai istrinya, Chacha juga tidak ingin Birru merasa malu atau mungkin harga dirinya sedikit terluka jika membahas bagaimana cerita masa lalu yang pengkhianatan dan kecewanya masih membekas hingga saat ini.“Gimana kamu mau maafin aku?”“Malam ini tidur peluk aku semalaman, terus besok kita ke makamnya Aisha,” kata Chacha cepat.Birru tersentak, ia melepas dekapannya untuk menatap kedua mata istrinya lekat-lekat.“M- makam??”“Iyaa. Kita minta maaf sama Aisha bareng-bareng di sana. Yaa? Kamu lepasin rasa bersalah dalam dari kamu ini secara langsung. Aku temenin, yaa?”Percayalah, Chacha bisa berujar dengan begitu lancar dengan mata yang berkaca-kaca menahan laju air matanya. Ia tidak sekuat i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status