LOGINVera menghela napas pelan. Ia menunduk sejenak sebelum kembali bersuara, mencoba terdengar biasa meski jemarinya saling bertaut gelisah.
“Kamu mandi duluan aja…”Revan tidak langsung bergerak. Ia menatap Vera beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu yang tak diucapkan.“Gak usah. Kamu duluan aja. Kamu pasti lebih capek. Enakan berendam air hangat,” katanya akhirnya, nada suaranya tenang.Namun Vera tetap menggeleng. “Gapapa, kamu duluan aja, Van. Beneran… aku masih harusJam dinding di ruang kerja menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit ketika Revan akhirnya menyandarkan punggungnya di kursi. Hari itu terasa panjang, dipenuhi rapat dan pembahasan yang tak ada habisnya. Ia mengusap wajahnya sekilas, lalu meraih jas yang tadi sempat ia lepas.“Van, mau pulang?” Suara itu membuat Revan menoleh. Di depannya, wanita yang sejak siang tadi menemaninya bekerja masih berdiri dengan map di tangan. Penampilannya rapi, profesional sekretaris baru yang baru beberapa hari mulai bekerja.“Iya,” jawab Revan singkat sambil merapikan jam tangannya. “Ingat besok datang lebih awal. Siapkan proposal yang tadi.”Wanita itu langsung mengangguk sigap. “Oke.”Ia sempat ragu sejenak, seperti menimbang sesuatu, sebelum akhirnya kembali membuka suara.“Oh ya… emm itu, boleh gak aku numpang hari ini? Mobilku masih di bengkel.”Revan yang sudah berdiri tidak terlihat berpikir panjang. “Oh ya udah, ayo.”Jawaban santainya justru membuat seseorang di sudut ruangan hampir ters
Deg.Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk membuat Vera terdiam.Sekretaris… baru?Pikirannya langsung kembali pada pemandangan beberapa menit lalu wanita itu, cara mereka tertawa, suasana yang terasa begitu santai.Sesuatu di dalam dadanya terasa mengencang.“Oh…” balas Vera akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mengangguk kecil, berusaha terlihat biasa saja. “Ya udah… aku pulang dulu.”“Loh, gak jadi mau ketemu Pak Revan?” tanya Jordi, nadanya masih menyimpan kebingungan. Ia jelas melihat sendiri bagaimana Vera datang dengan langkah terburu-buru, seolah ada sesuatu yang penting. Namun kini, wanita itu justru berbalik arah begitu saja.Vera berhenti sebentar, tapi tidak benar-benar menoleh. Ia hanya memalingkan wajah sedikit, cukup untuk menjawab tanpa harus memperlihatkan seluruh ekspresinya.“Gak deh… aku langsung pulang aja.” Jawabannya terdengar ringan. Seolah dibuat-buat agar tidak menimbulkan pertanyaan lebih lanjut.“Tapi—” Jordi menggantungkan kalimatnya. Keningnya b
Perasaan Vera masih bergemuruh saat ia melangkah keluar dari rumah itu. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, melainkan karena terlalu banyak emosi yang ia tahan dalam waktu bersamaan. Kata-kata ayahnya masih terngiang jelas di kepalanya, begitu juga bisikan kejam Jenny yang seolah menancap dan sulit dicabut.Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh saat ia masuk ke dalam mobil. Tanpa menoleh ke siapa pun, ia langsung duduk dan bersandar, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.“Ke kantor aja, Pak…” ucapnya singkat.Supir hanya mengangguk pelan, memahami dari nada suara Vera bahwa hari ini bukan waktu yang tepat untuk banyak bertanya.Sepanjang perjalanan, Vera memilih diam. Pandangannya tertuju ke luar jendela, tapi pikirannya jauh melayang. Ia tidak benar-benar melihat apa pun. Semua yang terjadi beberapa menit lalu terus berputar di kepalanya, mengaduk perasaan hingga sulit dibedakan mana marah, mana kecewa.Ia hanya butuh satu hal. Tempat untuk bernapas. Dan entah kenap
‘’Vera, jangan begitu Sayang. Kamu tetap anak Papa dan Mama,’’ ucap Sari menenangkan putrinya.‘’Anak ? Sejak kapan Ma ?’’ tanya Vera, ‘’Vera pikir, setelah menikah, kalian bisa berubah sama Vera. Tapi ternyata, pernikahan Vera justru malah kalian manfaatin,”Brakkk!Sapto menggebrak meja makan di depan nya. Matanya menatap tajam ke arah Vera. Tapi Vera tak gentar,d ia justru membalas tatapan tajam itu.‘’Sepertinya Vera harus pulang sekarang. Teriamkasih Ma atas undangan nya!’’ ucap Vera, dia mengambil tas nya dan langsung berjalan pulang.‘’Vera, sayang denger dulu penjelasan Mama Nak, Vera. Jangan pulang dulu, ‘’ Sari menahan tangan vera.‘’Biarkan saja dia pergi, anak durhaka sepertinya tidak pantas lama lama disini!’’ ucap Sapto dingin.Sekali lagi. Vera tersneyum getir. Dia menatap ayahnya penuh kekecawaan. Saat itu juga, Vera benar benar memutuskan untuk pergi.Tapi, saat langkah Vera sudah hampir mencapai pintu ketika suara langkah cepat terdengar dari belakang.“Vera!” Jenny
Beberapa detik setelah kalimat itu terucap, suasana di ruang tamu terasa berubah.Jenny masih berdiri di tempatnya, senyum di wajahnya perlahan memudar. Tatapannya menajam, mencoba mencari celah sesuatu untuk membalik keadaan seperti biasanya.Namun Vera tidak memberinya kesempatan. Ia melangkah melewati Jenny begitu saja, tanpa menoleh lagi.“Ver!” panggil sebuah suara dari arah dalam.Ibunya muncul dari dapur dengan wajah berbinar. Tangannya masih memegang sendok, tanda ia benar-benar sedang memasak.“Ya ampun, akhirnya kamu datang juga!” ucapnya senang, langsung mendekat dan memeluk Vera hangat.Vera membalas pelukan itu, sedikit lebih lama dari biasanya. Ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul. Tapi tak bisa di pungkiri, jauh di sudut hatinya masih tersimpan rasa sakit.“Iya, Ma…” jawabnya pelan.Ibunya menatap wajah Vera, mengamati sebentar.“Kamu capek ya?” tanyanya lembut.“Enggak kok.” Namun matanya tidak bisa sepenuhnya berbohong.“Ya sudah, sana cuci tangan dulu. Mama udah masa
Pagi hari kembali berjalan seperti biasa.Cahaya matahari masuk melalui jendela apartemen, menerangi ruang makan yang kini terasa lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya. Aroma makanan sederhana menguar dari dapur Vera berdiri di sana dengan pakaian santainya, rambut diikat asal, sibuk menyiapkan sarapan.Sementara di sisi lain, Revan sudah rapi dengan setelan kerja. Jasnya terpasang sempurna, jam tangan melingkar di pergelangan tangannya siap menghadapi hari yang sibuk.Ia melangkah mendekat ke meja makan, menarik kursi, lalu duduk.“Hari ini mau ke mana?” tanyanya sambil menuangkan air ke dalam gelas.Vera yang baru saja selesai menata piring langsung menghembuskan napas panjang.“Gak tahu…” jawabnya lemas. Ia duduk di kursi, lalu merebahkan kepalanya di atas meja makan. “Aku bosen banget kalau gak kerja begini, sumpah.”Nada suaranya terdengar jujur. Ia terbiasa sibuk. Terbiasa bergerak. Dan sekarang… diam seperti ini justru terasa menyiksa.Revan menatapnya sekilas.“Ke rumah
Seperginya Evelyn, pintu ruang perawatan itu tertutup pelan. Suara kecil itu terasa seperti garis batas memisahkan masa lalu dan masa kini.Ruangan mendadak sangat hening. Cahaya lampu putih menerangi wajah pucat anak itu, sementara di sudut ruangan, dua orang dewasa berdiri saling berhadapan denga
“Sepertinya aku harus ke rumah Pak Yudha sekarang.” “Sayang! Ini udah malem!” Evelyn langsung menegur, nada suaranya naik satu tingkat. Ada kesal, ada lelah, dan ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keberatan. Sejak dulu, dalam hatinya, ia selalu merasa Dirga t
“Bisa gak, gak usah bahas om-om?” kata Wilona sambil memanyunkan bibir. Nada suaranya terdengar kesal, tapi pipinya justru terasa hangat. Ia memalingkan wajah, berusaha menutup reaksi yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan.Vera menyeringai usil. “Tapi dia ganteng loh, Wil.”“Ganteng?” Wilona memb
Drrtt… Drrtt… Drrtt…Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar tanpa henti. Getaran kecil itu terasa seperti mengetuk kesabaran Revan yang sejak pagi sudah terkuras oleh pekerjaan. Tumpukan berkas masih menggunung di depannya, proposal yang harus ia pelajari belum juga selesai, sementara emai







