LOGINWajah Revan yang tadinya pucat karena takut kehilangan, seketika berubah menjadi sumringah luar biasa. Kebahagiaan itu meluap-luap hingga ia tidak sanggup hanya duduk diam. Revan langsung berdiri dari kasur, menarik Vera ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di leher istrinya, menghirup aroma tubuh Vera yang menenangkan."Ya Tuhan, Ver! Ini beneran? Kamu nggak lagi bercanda buat ngetes aku kan?" tanya Revan lagi sembari melepaskan pelukannya sebentar hanya untuk menangkup wajah Vera dengan kedua tangannya.Vera tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca melihat binar bahagia di mata Revan yang begitu murni. "Iya, Van. Aku serius. Sudah enam minggu."Revan kembali memeluk Vera, kali ini lebih lembut, seolah ia baru saja menyadari bahwa ada nyawa rapuh yang sedang bersemayam di perut istrinya. Ia menciumi dahi, pipi, dan tangan Vera berkali-kali tanpa henti. Semua rasa lelah, rasa bersalah, dan ketegangan yang ia rasakan selama bebe
Suasana kamar tidur utama sore itu terasa begitu tenang. Sinar matahari yang mulai meredup menyelinap melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang di atas ranjang. Setelah momen makan bersama yang cukup manis dan menghangatkan hati, Revan merasa sedikit lebih tenang. Ia duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengecek tabletnya, meninjau perkembangan proyek terbaru yang sempat terbengkalai karena fokusnya terbagi untuk urusan rumah tangga.Tak lama, Vera duduk di sampingnya, namun pikirannya tidak sedang berada di ruangan itu. Ia meremas ujung pakaiannya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Kata-kata Wilona terus bergema di kepalanya: “Cepat atau lambat dia pasti tahu.”"Revan," panggil Vera dengan suara yang begitu pelan dan penuh keraguan.Revan seketika mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Ia melihat gurat kegelisahan di wajah istrinya. Dengan sigap, ia meletakkan tabletnya di atas meja nakas dan memutar posisi tubuhnya menghadap Vera."Iya,
Setelah kepergian Wilona, keheningan di apartemen itu terasa berbeda. Tidak lagi mencekam seperti hari-hari sebelumnya, melainkan lebih tenang dan kontemplatif. Vera berdiri diam di balkon, membiarkan angin sepoi-seperti mengacak rambutnya, sementara kata-kata Wilona terus berputar di kepalanya. Sahabatnya itu benar, membenci Revan mungkin terasa memuaskan untuk ego sesaat, namun ada nyawa lain yang kini bergantung pada kedamaian hatinya.Dia akan jadi seorang Ibu, memaafkan akan jauh lebih baik.Vera menghela napas berat, mencoba mengusir sisa-sisa rasa sesak yang masih bersarang di dadanya. ‘Gimana Sayang? Kamu mau maafin papa kamu hem ?’’ tanya Vera mengusap perut nya datar.‘Maafin Mama ya kalau Mama egois,’‘Benar kata sahabat Mama, papa kamu berhak tahu keberadaan kamu.’‘Baiklah, mala mini, kita kasih kejutan ke papa kamu ya?’Ia menatap langit Jakarta yang mulai berubah jingga, menyadari bahwa menghukum Revan dengan kediaman hanya akan membuat suasana semakin beracun bagi
Beberapa hari telah berlalu sejak badai besar menghantam apartemen itu. Suasana di dalam rumah yang biasanya penuh dengan obrolan ringan kini berubah menjadi sunyi yang canggung, namun ada sesuatu yang berbeda dari sisi Revan. Sejak konfrontasi soal foto di Surabaya itu, sikap Revan benar-benar berubah drastis. Ia seolah tersentak dari tidurnya dan menyadari bahwa ia hampir saja kehilangan poros hidupnya.Revan tidak lagi menjadi pria yang gila kerja hingga lupa waktu. Kini, jadwal harian pria itu sangat teratur dan bisa ditebak. Ia baru akan berangkat ke kantor pada pukul sembilan pagi, setelah memastikan Vera sudah bangun dan mendapatkan sarapan yang layak, meskipun ia harus memesannya dari restoran karena ia masih trauma dengan kejadian *steak* tempo hari. Dan tepat pukul tiga sore, sosoknya sudah kembali muncul di depan pintu apartemen. Tidak ada lagi lembur, tidak ada lagi pertemuan di luar jam kantor, dan tidak ada lagi alasan "terjebak badai".Di kantor pun, Revan melaku
"Maaf, Ver. Kejadiannya gak seperti yang kamu bayangkan," Revan memulai dengan suara gemetar. "Kemarin di Surabaya, aku sudah memesan dua kamar yang berbeda. Aku di kamar 1204 dan Febby di 1206.’’‘’Benar-benar beda kamar. Tapi, tengah malam dia ketuk pintu kamarku dengan panik. Katanya ada orang asing yang mau masuk ke kamarnya, dia merasa ada yang mencoba membobol pintunya. Dia ketakutan setengah mati, Ver.""Jadi bener kalian tidur bareng?" gumam Vera getir. Suaranya nyaris hilang, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa. Ia merasa dunia seolah berhenti berputar. Apa yang ia lihat di foto itu ternyata dikonfirmasi langsung oleh mulut suaminya sendiri."Ver, dengerin aku dulu!" kata Revan panik saat melihat air mata mulai menggenang di pelupuk mata Vera. "Aku memang izinin dia masuk ke kamarku karena rasa kemanusiaan, karena aku pikir dia rekan kerjaku yang sedang dalam bahaya. Tapi aku suruh dia tidur di sofa! Sungguh, aku beneran nyuruh dia di sofa dan a
Dalam hitungan detik, mesin pencari itu menyuguhkan ribuan artikel. Revan mengerutkan kening, membaca judul-judul yang muncul dengan serius, seolah-olah ia sedang membedah laporan audit tahunan perusahaan.“10 Cara Ampuh Luluhkan Hati Istri,” tulis salah satu artikel. *Jangan Pakai Logika, Pakai Perasaan.’’ Ada juga poin yang menekankan pentingnya physical touch dan mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.Revan membaca satu per satu poin di sebuah artikel blog yang cukup populer. Di sana tertulis: “Langkah pertama: Akui kesalahan tanpa pembelaan. Langkah kedua: Berikan perhatian kecil yang menunjukkan Anda peduli. Langkah ketiga: Jangan paksa dia bicara, tapi biarkan dia tahu Anda selalu ada.”Revan terdiam sejenak, merenungkan saran-saran tersebut. Ia menyadari satu hal: tadi ia terlalu banyak membela diri soal daging basi dan masalah di Surabaya. Ia terlalu menggunakan logika, padahal Vera mungkin hanya butuh ditenangkan.Ia meletakkan ponselnya kembali. Inilah saatnya memprak
Rumah sakit itu terasa begitu dingin. Bau antiseptik menusuk hidung, lorong-lorong panjang dipenuhi langkah kaki yang tergesa. Olla hampir berlari, Andika menggenggam tangannya agar tidak terjatuh. Begitu sampai di meja informasi IGD, Andika menyebut nama putranya dengan suara bergetar. “Yudha P
Pagi harinya, cahaya matahari menyelinap lembut melalui celah tirai kamar. Udara masih dingin, namun hangat oleh kehadiran dua hati yang saling menguatkan.EuughhhWilona terbangun perlahan. Matanya masih sedikit berat ketika ia mendapati Yudha sudah berdiri di depan cermin, rapi denga
‘’Maksudnya?’’‘’Hubungan kakak dan Om Yudha,”Evelyn tertawa kecil. “Ya diperjuangin lah. Hidup itu gak selalu sesuai rencana, tapi selama kita pegang orang yang tepat, semuanya bisa dilalui.”Wilona menelan ludah.Orang yang tepat.Apakah Yudha adalah orang yang tepat?Atau ia hanya kapal yang ta
‘’Baiklah, biarkan saja, kamu bisa pergi,. Nanti uangnya akan ku tranfers!’’‘’Baik Nona, terimakasih!’’ Panggilan itu berakhir dengan cepat setelah Evelyn menyuruhnya pulang. Namun, ponsel di tangannya kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.Yudha tidak ke kantor.Lalu… di







