Share

Bab 6

Author: Rieyukha
last update publish date: 2025-01-31 08:07:57

Selesai makan malam, Flora tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia memilih duduk di taman, menikmati dinginnya malam yang terasa semakin menusuk setelah hujan deras mengguyur sore tadi.

Di bawah langit gelap yang dihiasi bintang-bintang samar, pikirannya melayang pada mimpi-mimpi yang belakangan ini kerap menghampirinya. Mimpi-mimpi itu terasa begitu nyata, seperti pintu yang membuka kenangan masa lalunya. Dan yang paling mengganggunya, di setiap mimpi itu selalu ada Birru—sosok yang kini menjadi bagian dari hidupnya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.

Flora menarik napas panjang. Ia bertanya-tanya, apakah dirinya mulai merindukan Birru yang dulu? Birru yang lembut, penuh perhatian, dan selalu menjaga dirinya layaknya seorang kakak? Ia tahu pasti perasaannya pada Birru tak pernah lebih dari sekadar kasih sayang seorang adik kepada kakaknya. Bukti nyatanya, ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Riki, pria yang ditemuinya di hari pertama masuk sekolah.

Namun kini, semuanya berubah. Sikap Birru yang dingin dan penuh sinisme terhadapnya membuat hatinya terluka. Perlakuan Birru seolah menyalahkannya atas pernikahan dadakan yang tiba-tiba mempertemukan mereka sebagai suami istri. Padahal, ia sama sekali tidak tahu-menahu soal perjodohan itu.

"Kenapa kamu malah duduk di sini sendirian, Flo?"

Suara Violet tiba-tiba memecah keheningan malam. Flora tersenyum kecut pada kakak iparnya itu, lalu bergeser, memberi ruang untuk Violet duduk di sebelahnya.

"Dia masih sering ketus sama kamu?" tanya Violet, meskipun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

Flora hanya mengangguk pelan tanpa kata. Hanya kepada Violet, ia bisa menjadi dirinya sendiri—rapuh dan terluka. Di depan orang lain, ia selalu berusaha tegar. Tapi malam ini, semuanya runtuh. Violet merangkulnya dengan hangat, mencoba menyampaikan kekuatan tanpa kata.

Perlahan, Flora mulai menangis dalam pelukan Violet. Tangisnya pecah, seolah ingin meluapkan semua rasa sakit yang ia pendam selama ini. Violet hanya diam, terus mengelus punggungnya dengan lembut, berharap pelukan itu bisa sedikit mengobati luka di hati Flora.

Namun tanpa mereka sadari, di ujung pintu taman yang remang-remang, Birru berdiri diam. Pandangannya terpaku pada Flora yang menangis dalam pelukan Violet. Ada sesuatu yang menghantam dadanya—rasa sesak dan tidak nyaman yang ia sendiri tak bisa pahami.

Ia membenci pernikahan ini. Ia membenci segala hal yang berhubungan dengannya, termasuk Flora. Gadis yang dulu ia sayangi sebagai adik, kini menjadi istrinya. Perubahan status itu membuat segalanya terasa salah. Semua kasih sayangnya seolah terkubur oleh rasa kesal dan keterpaksaan. Tapi malam ini, melihat Flora menangis seperti itu, sesuatu di hatinya terasa retak. Namun ia terlalu bingung untuk memahami apa artinya.

*

Setelah memastikan Lia sudah tertidur di kamarnya, Flora kembali ke kamarnya sendiri. Ia tidak mau mertuanya itu melihat wajahnya penuh dengan sisa kesedihan. Flora membuka pintu perlahan, berusaha tak menimbulkan suara. Di dalam, Birru sudah ada di atas kasur, bersandar pada kepala ranjang dengan sebuah buku di tangannya. Itu kebiasaan Birru sebelum tidur—membaca meskipun hanya sebentar.

Birru sama sekali tidak menoleh atau melirik ke arah Flora, namun ia tahu siapa yang baru saja masuk. Kehadirannya sudah cukup dikenali tanpa harus melihat.

Flora berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang sembab. Bekas air mata membuat wajahnya terasa lengket, dan ia butuh waktu untuk meredakan kesedihan yang masih terasa mengganjal di dadanya. Setelah itu, ia menuju walk-in closet untuk berganti piyama.

Saat pintu tertutup, Birru perlahan mengangkat kepalanya dari buku yang sedang ia baca. Matanya terarah pada pintu, tatapannya kosong dan penuh keraguan. Namun, ketika Flora membuka pintu kembali, suara halus dari engsel pintu membuatnya buru-buru menunduk, kembali memfokuskan diri pada halaman buku di tangannya.

Flora berjalan mendekat dan menyibak selimut di atas kasur. Ia masuk ke dalamnya, lalu duduk sejenak, seperti ingin mengatur posisi tidur. Namun ketika ia mulai menggeser tubuh untuk berbaring, suara Birru tiba-tiba memecah keheningan.

“Besok mau ke mana?” tanyanya tanpa mengangkat pandangan dari bukunya.

Flora berhenti bergerak, menoleh dengan dahi berkerut bingung. “Maksudnya?” suaranya terdengar pelan dan serak, sisa tangis tadi masih terasa jelas.

Birru akhirnya menatap Flora sekilas. Wajah sembab gadis itu terlihat jelas di bawah lampu kamar, tapi ia segera memalingkan pandangan lagi. “Katanya mau jalan-jalan,” ucapnya singkat, nadanya datar.

“Oh.” Flora mengangguk kecil, tapi tak menunjukkan minat untuk melanjutkan percakapan. “Nggak usah dipikirin, gue mau di rumah aja. Tidur seharian.” Nada suaranya terdengar cuek, dan ia segera berbaring, membelakangi Birru, bersiap memejamkan mata.

Ia mendengar Birru mendesah pelan, kesal. “Lu mau bikin gue disalahin sama Bunda karena nggak ngajak lu jalan-jalan?” Nada sinis itu membuat Flora memejamkan matanya lebih kuat, mencoba mengabaikan.

Setelah menarik napas dalam, ia menjawab tanpa mengubah posisi. “Terserah lu aja kalau gitu. Gue ikut aja ke mana pun lu mau pergi.” Suaranya datar, tanpa emosi, seperti menyuruh Birru menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Terserah?” ujar Birru, suaranya terdengar datar. “Mau gue bawa ke kuburan sekalian?” Entah kenapa, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tanpa berpikir.

Flora, yang awalnya membelakanginya, tiba-tiba berbalik. Tatapan matanya tajam menembus Birru, seolah mencari makna di balik ucapannya. Birru, yang masih duduk bersandar dengan santai, segera menyadari gerakan itu. Pandangannya beralih pada Flora, mencoba membaca pikiran gadis itu, menebak-nebak apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“Lu mau ngajak gue mati? Atau lu mau gue mati?”

Suara Flora dingin, nyaris tanpa emosi, tapi justru itulah yang membuat kalimatnya terasa menusuk. Tatapan seriusnya membuat Birru terdiam. Wajahnya yang tadi terlihat cuek langsung berubah suram. Kata-kata itu menghantam kesadarannya—apa yang barusan dia ucapkan begitu salah.

Namun, alih-alih menjawab, Birru hanya terdiam. Kata-kata seolah terjebak di tenggorokannya, tidak mampu melawan keheningan yang mendadak terasa berat. Melihat itu, Flora menghela napas pelan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia kembali memunggungi Birru, meninggalkannya dengan rasa bersalah yang membebaninya dalam keheningan malam itu.

“Gue udah booking kamar di resort, dua malam,” ucap Birru akhirnya, suaranya terdengar tenang, tapi ada sedikit nada ragu. “Senin kan tanggal merah.”

Ia menoleh, berharap setidaknya ada reaksi kecil dari Flora. Tapi gadis itu tetap diam, tidak bergeming sedikit pun. Wajahnya tetap menghadap ke sisi lain, matanya terpejam seperti mencoba melarikan diri dari percakapan.

“Rekomendasi dari Mbak Violet,” tambah Birru, mencoba membuat pernyataannya terdengar lebih ringan. Ia berharap menyebut nama itu akan memancing sedikit ketertarikan, seolah rencana ini bukan sepenuhnya ide dia.

Namun Flora masih sama. Diam. Dingin. Tubuhnya tak bergerak, posisinya tetap membelakangi Birru seolah kehadiran pria itu tak berarti apa-apa.

Birru mengembuskan napas panjang, memalingkan pandangannya ke arah langit-langit. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Pikirannya berkecamuk, tapi tak ada satu pun yang berhasil ia jadikan kata-kata.

Mungkin Flora memang sengaja bersikap seperti ini. Atau, mungkin ia benar-benar sudah tidak peduli.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 87

    Flora melangkah masuk setelah mendapat izin dari Riki. Ruangan itu cukup luas dan tenang. Dinding kaca di sisi kanan membiarkan cahaya siang masuk, sementara meja kerja Riki berada di sudut ruangan dengan beberapa dokumen tertata rapi di atasnya. “Silakan duduk, Flo." Riki menunjuk sofa panjang di sisi ruangan. Flora mengangguk singkat. Ia berjalan ke sofa dan duduk dengan posisi tegak. Tangannya secara refleks bertumpu di atas perutnya yang kini mulai terlihat jelas. Riki masih berdiri di dekat meja kerjanya. Beberapa detik kemudian, ia justru meninggalkan kursinya dan memilih duduk di single sofa yang letaknya tidak jauh dari Flora. Tatapannya sempat jatuh ke perut Flora. Hanya sesaat. Namun cukup untuk membuat Flora menyadarinya. Hari itu Flora mengenakan dress kerja yang sederhana dan elegan. Potongannya menyesuaikan tubuhnya yang sedang hamil, membuat perubahan pada bentuk tubuhnya semakin terlihat. Riki mengalihkan pandangan. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Flo

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 86

    Begitu sampai di ruangannya, Flora menutup pintu perlahan. Ia meletakkan laptop dan beberapa dokumen di atas meja, lalu duduk di kursinya. Tubuhnya terasa begitu lelah. Bukan hanya karena rapat yang berlangsung hampir dua jam, tetapi juga karena semalaman ia nyaris tidak tidur. Pikirannya terlalu penuh. Tentang Birru. Tentang kondisi Lia. Tentang Riki dan tentang percakapan yang belum sempat ia selesaikan dengan suaminya. Flora mengambil ponselnya. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menekan nama Birru dan melakukan panggilan video.Tidak lama kemudian, panggilan tersambung. Wajah Birru muncul di layar. Flora langsung terdiam. Wajah suaminya terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu, dan ada bayangan kelelahan yang jelas terlihat di bawah matanya. “Mas...” panggil Flora lirih. Birru tersenyum tipis. “Sudah sampai kantor?” Flora mengangguk. “Iya.” “Kamu sudah sarapan?” Flora t

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 85

    Malam itu Flora hampir tidak tidur. Setelah pulang bersama kedua orang tuanya, tubuhnya memang berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Setiap kali mencoba memejamkan mata, wajah Birru kembali muncul di benaknya. Tatapan datar suaminya ketika mendengar nama Riki. Percakapan yang terputus dan kalimat Birru sebelum ia kembali masuk ke ruang perawatan. Kita bahas nanti, ya. Entah mengapa, dua kata terakhir itu justru membuat Flora semakin gelisah. Pagi harinya, ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar, Flora sudah terbangun. Matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pusing. Ponselnya yang berada di samping bantal bergetar. Satu pesan masuk dari Birru. Mas Birru: Mas sudah sarapan. Flora menatap pesan itu cukup lama. Hanya kalimat sederhana, namun entah mengapa, justru semakin membuat pikirannya ke mana-mana. Tidak ada panggilan sayang seperti biasanya. Tidak ada pertanyaan apakah ia sudah sarapan. Tidak ada pesan panjang yang biasan

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 84

    Malam itu, ruang keluarga terasa begitu sunyi. Cahaya lembut dari layar televisi menjadi satu-satunya penerangan, membias di wajah Flora dan Birru yang duduk berdampingan di sofa.Flora bersandar nyaman di pangkuan Birru. Kepalanya terbaring di paha sang suami, sementara satu tangan Birru masih berada di perutnya, mengusapnya perlahan dengan gerakan yang nyaris tak disadari.Televisi menyala, tetapi perhatian Birru sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju ke sana. Ada ketenangan yang selalu ia rasakan setiap kali Flora berada di dekatnya. Malam yang sederhana seperti ini seharusnya cukup untuk membuatnya merasa bahagia.Namun, ketenangan itu perlahan terusik.“Mas...” panggil Flora pelan.Birru menunduk, menatap istrinya. “Hm?”“Aku mau kasih tau sesuatu.”Nada suara Flora membuat Birru sedikit mengernyit. Ia masih menatap layar televisi, tetapi telinganya kini sepenuhnya tertuju kepada istrinya.“Iya. Apa?”Flora menghela napas panjang. “Sebenarnya nggak penting, sih...”Birru terkekeh ke

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 83

    Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 82

    Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status