로그인Di dalam mobil, Flora langsung membuka buku pemberian Ranu. Ia begitu antusias ingin tahu apakah isi buku itu benar-benar bisa membantu memahami dan menyembuhkan apa yang selama ini ia rasakan. Jari-jarinya membolak-balik halaman dengan semangat, seolah ia telah menemukan pelarian kecil dari kekacauan hidupnya.
Birru, yang duduk di kursi kemudi, sesekali melirik Flora melalui sudut matanya. Tatapan sinis terpancar jelas dari wajahnya. Diam-diam, ia merasa terganggu dengan cara Flora memegang buku itu, seolah buku itu lebih penting dari apa pun. “Lu harus jaga diri, Flo. Gue nggak suka lu sok akrab sama orang lain,” ucap Birru tiba-tiba, suaranya dingin dan penuh tekanan, meski matanya tetap fokus pada jalan di depannya. Flora mengangkat kepalanya, menatap Birru dengan ekspresi campuran antara bingung dan marah. “Gue nggak sok akrab sama Mas Ranu,” jawabnya ketus. “Lagian, dia sepupu lu. Kalau dia sepupu lu, berarti dia juga keluarga gue sekarang.” Nada suaranya tegas, tapi hatinya mulai terasa panas. Dengan kesal, Flora menutup bukunya, kehilangan semangat membaca. Sikap Birru berhasil merusak mood-nya. “Dia tetap orang lain dalam hubungan kita,” Birru membalas, nada dinginnya tidak berkurang. Ada tekanan dalam suaranya yang terasa menyesakkan. “Hubungan?” Flora mengulang kata itu dengan nada mengejek sambil mengangkat kedua tangannya, seolah mengutip sesuatu yang absurd. “Maksud lu status suami istri itu?” Birru tidak menjawab. Matanya tetap fokus ke jalanan, tapi rahangnya mengeras. Ia tidak ingin mengakui apa yang ia rasakan—rasa tidak sukanya melihat kedekatan Flora dengan Ranu. “Lu istri gue, Flo. Bisa nggak lu nurut aja?” suara Birru meninggi, nada tuntutannya semakin jelas. Flora terkekeh sinis, tapi bukan karena senang. Dadanya terasa semakin sesak. “Istri?” ucapnya dengan nada tajam. “Lu bahkan nggak pernah memperlakukan gue seperti istri! Yang lu lakukan cuma ngatur-ngatur hidup gue! Lu sadar nggak sih?” Kata-kata itu keluar seperti ledakan yang tak lagi bisa ditahan. Flora merasa sesak, marah, dan lelah sekaligus. Birru melirik Flora sekilas, tapi tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Flora menusuk dalam, karena itulah kenyataannya. Di balik wajah dinginnya, ia tahu ada sesuatu yang salah, tapi egonya terlalu besar untuk mengakuinya. Keheningan menyelimuti mobil. Hanya suara deru mesin dan roda yang berputar mengiringi ketegangan di antara mereka. Flora kembali mengalihkan pandangannya ke jendela, mencoba menenangkan diri, sementara Birru terus mengemudi tanpa satu kata pun, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Flora menarik napas dalam, mencoba menguasai emosinya. Ia harus tetap terlihat tenang, bahkan bahagia, setidaknya di depan Lia. Wanita itu tak perlu tahu betapa sesungguhnya Flora merasa terjebak dalam keadaan yang ironis. Menjadi istri dari Albirru Aryodipto, sesuatu yang tampak membahagiakan di mata semua orang, terutama Lia, namun justru menyiksa batinnya. Birru, yang duduk di samping Flora sepanjang perjalanan pulang, tahu betul kebiasaan istrinya ini. Tapi, seperti biasa, ia memilih untuk diam dan pura-pura tidak peduli. "Udah makan, sayang?" tanya Lia dengan senyum hangat saat melihat Flora memasuki rumah. "Udah, Bun," jawab Flora sambil tersenyum, meski itu hanya kebohongan kecil. Ia melirik Birru, berharap pria itu tak mengomentarinya. Namun Birru justru tersenyum tipis, memasang ekspresi lembut yang hanya Flora yang tahu itu palsu. "Tapi aku masih lapar. Ayo kita makan lagi," katanya santai sambil merangkul bahu Flora dengan gerakan yang tampak mesra di mata Lia, tapi terasa penuh kepura-puraan bagi Flora. Mereka pun menuju ruang makan. Lia hanya tersenyum melihat keduanya, seolah yakin pernikahan mereka berjalan sempurna. Saat makan, Birru selesai lebih dulu. Ia bangkit dengan tenang, lalu berjalan menuju ruang tamu setelah salah satu ART memberi tahu bahwa ada tamu menunggunya. Flora tetap di meja makan, berusaha menyelesaikan makanannya dengan perlahan, meski rasa makanannya sedari tadi tak ia nikmati. Namun, saat hendak kembali ke kamarnya, langkahnya terhenti. Di ruang tamu, ia melihat Birru duduk bersama seorang wanita. Wanita itu menggenggam tangan Birru dengan erat, wajahnya basah oleh air mata. Flora hanya berdiri di kejauhan, membeku sejenak. Matanya menatap pemandangan itu dengan rasa yang ia tidak bisa artikan, yang jelas ia tidak menyukainya. Birru, yang menyadari kehadiran Flora, sempat melirik ke arahnya. Namun dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya, berpura-pura bahwa Flora tidak ada di sana. Flora menarik napas dalam, memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Ia melangkah perlahan, mencoba menghilang dari situasi yang membuat dadanya terasa semakin sesak karena statusnya sebagai istri terasa semakin tidak dihargai. Wanita itu pun tampaknya tidak menyadari kehadiran Flora, atau mungkin memang tidak peduli. Mungkin ia tidak tahu siapa Flora sebenarnya, atau lebih buruk, mungkin ia tidak menganggap Flora cukup penting untuk diperhatikan. Di balik senyumnya yang selalu ia tampilkan, Flora tahu, hatinya semakin retak. Namun, ia tetap melangkah, karena seperti biasa, kepura-puraan ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya terlihat 'baik-baik saja.' Hujan di luar semakin deras, tetesannya menggema lembut di kaca jendela, menciptakan suasana dingin yang merayap hingga ke sudut kamar. Di dalam, Flora merasa keheningan itu menambah beban di dadanya. Ia berjalan menuju kamar mandi, mengisi bathtub dengan air panas hingga uap tipis memenuhi ruangan. Aroma sabun mawar yang dituangkannya—lebih dari setengah botol—menguar, menciptakan busa melimpah yang menutupi permukaan air. Flora berharap ritual kecil ini bisa meredakan kepenatan tubuh dan pikirannya. Saat menatap busa yang mengembang, pikirannya melayang. 'Dia pasti lagi sama pacarnya sekarang,' pikirnya dengan getir. Bayangan wanita di ruang tamu tadi melintas lagi di benaknya. Flora yakin, wanita itu adalah seseorang yang terpaksa Birru tinggalkan karena pernikahan mereka—seseorang yang mungkin masih menguasai hatinya. Dengan napas berat, Flora akhirnya masuk ke dalam bathtub. Hangatnya air menyentuh kulitnya, perlahan-lahan membawa rasa nyaman. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam sedikit lebih dalam di antara busa. Sejenak, ia mencoba melupakan segalanya. Hingga tanpa disadari, tubuhnya yang lelah dan pikirannya yang kalut menyerah pada rasa kantuk. Flora tertidur, membiarkan suara hujan di luar menjadi pengiring mimpinya. Namun, beberapa saat kemudian, suara langkah kaki menghentikan keheningan di kamar mandi. Birru berdiri di depan pintu yang setengah terbuka, bersandar dengan ekspresi datar. “Mau berapa lama lu di dalam sana?” tanyanya dengan nada malas, matanya menatap Flora yang tampak diam di dalam bathtub. Tidak ada jawaban. Birru mengernyitkan alis, merasa aneh dengan keheningan itu. Ia melangkah masuk, mendekat ke arah bathtub. “Flo,” panggilnya lagi, kali ini lebih serius. Namun tidak ada respons. * "Flo, jangan terlalu ke pinggir," suara tegas Desi, sang Mama, kembali terdengar. Perhatian Desi tertuju pada putrinya yang berdiri di tepi danau, memandangi sesuatu dengan penuh rasa ingin tahu. "Cuma mau lihat bunga teratai, Ma," jawab Flora kecil tanpa menoleh. Matanya terpaku pada bunga teratai yang mengapung indah di permukaan air, membuatnya semakin penasaran. Ia ingin menyentuh kelopaknya, merasakan teksturnya. Flora mulai mencari-cari sesuatu di sekitar yang bisa ia gunakan untuk menarik bunga itu ke tepi. Tiba-tiba ia menemukan sebatang ranting cukup panjang. Dengan semangat, Flora berlari untuk mengambilnya. "Flo, mau ke mana?" tanya Desi, curiga dengan gerak-gerik putrinya yang terlihat terlalu sibuk. Namun Flora hanya diam, pura-pura tidak mendengar. Desi, yang mulai kehilangan fokus pada Flora, kembali duduk di atas tikar piknik. "Mending kamu di sini dulu aja, sayang. Mas Birru dan Mbak Violet sebentar lagi sampai, lho," katanya, mencoba mengalihkan perhatian Flora. "Iya, Ma," jawab Flora singkat. Tapi bukannya mendekat, ia malah kembali ke tepi danau. Ranting di tangannya digerakkan perlahan, mencoba menggapai bunga teratai yang terapung semakin dekat. Sementara itu, Desi yang melihat Lia dan keluarganya datang langsung bangkit untuk menyambut mereka. Kesempatan ini Flora manfaatkan untuk melanjutkan usahanya. Ia berdiri di pinggir danau, hati-hati namun tak sabar, mendorong ranting itu dengan gerakan kecil tapi penuh semangat. Dari kejauhan, Birru yang baru tiba langsung menyadari sesuatu. Ia tidak melihat Flora di antara mereka. Matanya menajam, hingga akhirnya ia melihat gadis kecil itu berdiri di ujung danau, terlalu dekat dengan tepi air. Awalnya, senyum simpul terukir di wajah Birru. Namun, hanya sekejap, senyumnya lenyap, tergantikan oleh kepanikan ketika langkah kecil Flora tergelincir. "Flo!" Teriakan Birru memecah suasana piknik yang tenang. Ia berlari secepat mungkin menuju tepi danau. Flora sudah terjatuh, air menciprat ke segala arah. Teriakan itu menarik perhatian semua orang. Desi dan Lia terkejut, menoleh ke arah danau dengan ekspresi penuh kecemasan. Tanpa ragu, Birru melepaskan sepatunya dan melompat ke dalam air. Ia berenang dengan sigap menuju Flora yang tampak panik, tubuh kecilnya berusaha menggapai-gapai ke permukaan. Air danau terasa dingin, tapi itu bukan hal yang dipikirkan Birru. Yang ada di benaknya hanyalah menyelamatkan Flora. Dengan cepat, ia meraih tangan gadis kecil itu dan membawanya ke permukaan. "Mas Birru!" lirih Flora saat akhirnya ia bisa bernapas lagi. Suaranya lemah, tapi penuh rasa lega. Birru memeluk Flora erat, memastikan ia aman di pelukannya. "Aku di sini, Flo. Kamu aman sekarang," ucap Birru pelan, tapi penuh ketegasan, sebelum membawanya ke tepi danau di mana Desi dan Lia sudah menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran. Flora yang basah kuyup hanya bisa memandang Birru dengan mata berkaca-kaca. Di balik ketakutannya, ada rasa hangat yang perlahan menyusup ke dalam hatinya—perasaan aman karena Birru sudah berada disampingnya. * Birru berjongkok di tepi bathtub, ia mulai merasa ada yang tidak beres. Birru menatap Flora yang terbaring di sana dengan mata terpejam. Ada kekhawatiran yang tak bisa ia abaikan. Perlahan, ia menyentuh bahu Flora dengan lembut namun cukup tegas. "Flo," panggilnya, suaranya rendah namun penuh tekanan. Tidak ada respons. Birru mengerutkan dahi, kini mengguncang bahunya sedikit lebih keras. "Flora!" Tiba-tiba, Flora tersentak bangun, matanya terbuka lebar, napasnya terkejut. Namun gerakannya yang mendadak membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik, ia tergelincir, tubuhnya terendam hingga kepalanya masuk ke dalam air. "Flora!" Birru langsung bereaksi, tanpa berpikir dua kali ia masuk ke dalam bathtub. Tangannya dengan sigap meraih Flora yang panik, menarik tubuhnya ke permukaan. Flora terbatuk-batuk, menghirup udara dengan napas terengah-engah. Matanya membulat penuh kepanikan, air menetes dari wajah dan rambutnya. "Mas Birru!" panggilnya dengan suara bergetar, cemas bercampur lega saat ia sadar Birru memegangnya erat. "Gue di sini, Flo. Lu aman sekarang." ujar Birru, matanya menatap Flora tajam tapi penuh ketenangan. Tangannya masih memegang bahu Flora dengan kokoh, memastikan gadis itu tidak tergelincir lagi. Namun panggilan yang sudah lama tidak ia dengar dari mulut Flora itu, kini mengusik hatinya. Flora mengatur napasnya, dadanya naik turun dengan cepat. Hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar bunyi tetesan air yang jatuh dari tubuh mereka ke permukaan bathtub. Ingatan itu datang tanpa permisi. Sosok kecil dirinya di tepi danau, terjatuh dalam air yang dingin. Suara Birru yang memanggil namanya dengan panik, langkahnya yang tergesa-gesa, dan tangan yang menyelamatkannya dari tenggelam. Ia masih ingat betul bagaimana Birru menatapnya saat itu, sorot mata yang penuh dengan kelegaan dan teguran lembut. Ucapan Birru tadi—kalimat yang sama, dengan nada dan kehangatan serupa—mengusik hatinya. 'Mas Birru!' lirih Flora saat akhirnya ia bisa bernapas lagi. Suaranya lemah, tapi penuh rasa lega. Birru memeluk Flora erat, memastikan ia aman di pelukannya. 'Aku di sini, Flo. Kamu aman sekarang,' ucap Birru pelan, tapi penuh ketegasan. Flora tersadar dari lamunannya, matanya tertuju pada Birru yang masih berada di sampingnya. Jarak mereka terlalu dekat, bahkan tangan Birru masih memegang bahu telanjangnya. Sentuhan itu seolah menyadarkannya akan sesuatu—bukan hanya tentang situasi sekarang, tetapi tentang rasa rindu pada sosok Birru yang dulu. Namun, kesadarannya yang tiba-tiba itu juga disusul oleh kepanikan. Flora menjerit kecil, refleks menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangan. Wajahnya memerah, campuran antara malu dan bingung. Melihat Flora kembali sadar sepenuhnya, Birru hanya menghela napas santai. Ia berdiri, keluar dari bathtub tanpa tergesa-gesa, seolah situasi itu bukan hal yang besar baginya. Tidak ada tanda canggung atau risih di wajahnya, hanya ketenangan khas Birru. "Buruan! Gue juga mau bersih-bersih," ucapnya singkat, nadanya datar, seperti biasa. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar dari kamar mandi, meninggalkan Flora yang masih duduk di bathtub dengan perasaan yang campur aduk. Flora memandangi pintu yang tertutup, napasnya perlahan stabil, tetapi jantungnya tetap berdebar. Di balik sikap Birru yang terkesan dingin dan acuh, ada sesuatu yang ia rasakan. Bukan hanya tentang kehadirannya, tetapi juga bayangan akan sosok Birru yang dulu—sosok yang perlahan mulai ia rindukan tanpa ia sadari. "Mas Birru..." lirihnya. ***Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.
Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia
Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Aluna memikirkannya selama beberapa hari, menimbang bukan hanya perasaannya sendiri, tetapi juga masa depan yang akan ia jalani jika ia memilih tetap melangkah. Ia tidak takut pada masa lalu Riki. Ia hanya takut pada masa lalu yang belum selesai. Mereka bertemu di sebuah kafe sore itu. Bukan tempat romantis, bukan juga tempat asing. Tempat netral, seperti keputusan yang akan ia sampaikan. “Aku tidak ingin membatalkan apa pun,” kata Aluna tenang setelah percakapan pembuka yang singkat. “Aku hanya ingin menundanya.” Riki menatapnya lama. “Menunda?” “Aku ingin kamu benar-benar berpikir dulu sebelum menikah denganku.” Nada suaranya stabil. Tidak ada tuduhan. “Aku tidak mau kita menikah lalu suatu hari kamu sadar ada sesuatu yang belum pernah kamu tutup dengan benar. Aku tidak mau rumah tangga kita nanti jadi tempat kamu mencari jawaban dari masa lalu.” Riki terdiam. Kata-kata itu tidak menyakitkan, tetapi menoho
Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu. Setelah menonton film, mereka memilih duduk di sudut yang biasa mereka tempati—tempat yang sudah terlalu sering menjadi saksi percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana pernikahan. Hujan turun tipis di luar kaca, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aluna tidak terlihat gelisah. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap kosong terlalu lama. Ia hanya makan perlahan, sesekali menanggapi komentar Riki tentang film tadi. Namun di sela percakapan yang terdengar normal itu, ia mulai menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti seseorang yang menyusun potongan puzzle tanpa terburu-buru. “Kamu pindah ke luar negeri setelah tahun pertama kuliah, kan?” tanyanya ringan, seolah hanya memastikan kronologi. Riki mengangguk. “Iya. Akhir semester dua.” “Berarti waktu ospek dan awal-awal kuliah kamu masih di sini.” “Iya.” Aluna tersenyum tipis. “Aku sempat lihat foto-foto lama kamu. Ramai
Malamnya, Aluna membuka kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Riki, tapi untuk mencari sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Nama itu masih ada di daftar pencarian lama. Flora. Akun media sosialnya tidak terlalu aktif. Foto-foto sederhana. Beberapa unggahan lama bersama teman-teman kuliah. Tidak ada Riki di sana. Tidak pernah ada. Namun sesuatu menarik perhatian Aluna. Tab tagged photos. Ia menekannya, dan di sanalah potongan-potongan masa lalu itu masih tersimpan. Foto-foto lama. Masa SMA. Awal kuliah. Masa ospek. Flora berdiri berdampingan dengan Riki. Terlalu dekat untuk sekadar teman. Bahu bersentuhan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang terlalu akrab. Foto kelompok, memang. Tapi selalu berdampingan. Selalu. Aluna memperbesar satu foto. Tahun pertama kuliah. Ia mengingat cerita Riki—bahwa setelah tahun pertama itu ia pindah ke luar negeri. Bahwa hubungan mereka selesai di sana. Selesai sebelum aku datang. Begitu yang ia pahami selama ini.
Siang itu restoran tidak terlalu ramai. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul lembut di lantai marmer. Suasananya tenang, cukup privat untuk percakapan panjang. Aluna duduk berhadapan dengan kakaknya, Alya. Tangannya memegang sendok, tapi ia tidak benar-benar makan. “Kamu yang ngajak ketemu,” kata Alya lembut. “Tapi dari tadi malah diam.” Aluna menghela napas. “Aku cuma… bingung mulai dari mana.” Alya menunggu, tidak mendesak. Aluna memang datang untuk bercerita tentang Riki. Tentang perubahan kecil yang terasa besar. Tentang jarak yang tidak kasatmata tapi makin nyata. Namun sebelum ia sempat membuka suara—pintu restoran terbuka. Aluna refleks menoleh dan dunia seakan berhenti sebentar. Flora. Ia mengenali wajah itu, bukan karena pernah diperkenalkan. Tapi karena malam di restoran bersama Riki, dan karena pencarian singkat yang ia lakukan beberapa hari lalu. Perempuan itu masuk dengan langkah ringan.







