Mag-log in"Ingat, Birru! Tujuan lu ngajak Flora itu buat bikin dia senang, bukan malah bikin dia tambah stres!" suara Violet terdengar tegas, matanya menatap serius ke arah adiknya.
Birru hanya diam, memilih untuk menyelesaikan sarapannya tanpa banyak bicara. Sementara itu, dari kejauhan, ia bisa melihat Flora dan Bundanya sudah menunggu di depan rumah, tampak bersiap-siap. "Lu dengar gue ngomong nggak sih!?" suara Violet meninggi, merasa diabaikan. Ia pun reflek meraih pergelangan tangan Birru, memegangnya erat. "Dengar, Mbak!" sahut Birru akhirnya, dengan nada menahan kesal. "Flora nggak tau apa-apa, Birru! Semua ini murni keinginan Bunda. Jadi, jangan pernah salahin Flora atas keputusan yang lu buat sendiri!" tegas Violet sambil melepaskan genggamannya. Mendengar itu, Birru menoleh tajam ke arah kakaknya, seolah tak terima. Matanya menyiratkan perasaan terpojok, namun mulutnya tetap melontarkan balasan sinis. "Sejak kapan gue punya pilihan, Mbak?" tanya Birru dengan nada penuh amarah terpendam. "Lu punya pilihan, Birru! Bunda nggak pernah maksa lu buat nikahin Flora. Tapi lu sendiri yang milih untuk ngebahagiain Bunda dibanding diri lu sendiri. Lu harus bertanggung jawab atas pilihan lu! Jangan malah melampiaskannya ke Flora!" balas Violet tak kalah keras, matanya menyala penuh kemarahan. Ia benar-benar geram dengan sikap Birru. Birru hanya terdiam, rahangnya mengeras, mencoba menahan perasaan yang mulai menghimpit dadanya. Ia tahu, setiap kata yang diucapkan Violet ada benarnya. Tapi menerima kenyataan itu tak semudah yang dikira. * Dalam perjalanan menuju tujuan tempat mereka berlibur, Birru tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di tepi pantai yang memperlihatkan hamparan laut luas. Flora duduk diam di kursinya, bingung dengan tindakan Birru. Ia tidak tahu apa yang ingin pria itu lakukan, dan ia juga tidak berniat bertanya. “Ayo turun,” ucap Birru, suaranya terdengar lembut. Flora mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan nada bicara Birru yang seperti itu ketika mereka hanya berdua saja. Flora merasa serba salah. Apakah kelembutan itu hanya kepura-puraan, ataukah Birru yang sekarang adalah sosok yang dulu ia kenal? Meski ragu, Flora tetap turun dari mobil dan mengikuti langkah Birru yang berjalan menuju sebuah lapak jagung bakar di tepi jalan. Setelah memesan, Birru memilih tempat duduk di sebuah gazebo kecil yang menghadap langsung ke laut. Flora, dengan langkah pelan dan hati yang penuh keraguan, memilih duduk di ujung gazebo, punggungnya menghadap ke arah Birru. Ia menatap lepas ke arah laut, berusaha mencari ketenangan di tengah kebingungannya. “Duduk di sini, Flo,” ucap Birru lagi, kali ini dengan nada yang sama lembutnya. Flora menoleh, menatap wajah pria itu dengan sorot mata penuh pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Birru tiba-tiba bersikap seperti ini? Namun, seperti biasanya, Birru hanya menanggapinya dengan wajah datar, tanpa penjelasan. Ia tampak tak ingin repot-repot menjawab pertanyaan yang tergantung di benak Flora. Dengan sedikit enggan, Flora akhirnya beranjak dan pindah duduk di samping Birru. Namun, sikapnya tetap dingin. Ia memilih mengeluarkan ponselnya, sibuk menjelajahi layar tanpa tujuan yang jelas. Lebih baik begini, pikir Flora, daripada hanya diam atau mendengar Birru berbicara—khawatir pria itu akan kembali menyebalkan seperti biasanya. “Coba nikmati pemandangan di depan, Flo,” ujar Birru tiba-tiba. Nada suaranya lembut, hampir seperti dirinya yang dulu. Flora mengangkat wajahnya dari ponsel dan menoleh. Pandangannya tertuju pada Birru yang sedang menatap lurus ke arah laut lepas di depan mereka. Ia tidak tahu harus merespons seperti apa. Ada kebingungan yang menggelayut di pikirannya, mencoba memahami perubahan sikap Birru yang terasa aneh. Mengapa pria itu tiba-tiba menjadi begitu lembut? “Flo…” panggil Birru lirih, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam. Suaranya membuat Flora menghentikan gerak tangannya di ponsel. Ia mengerutkan kening, merasa bingung tapi memilih diam, menunggu apa yang akan dikatakan Birru. Ada sesuatu yang tampak ingin ia sampaikan, sesuatu yang mungkin penting. Mulut Birru sedikit terbuka, tampak seperti hendak mengatakan sesuatu. Tapi, sebelum kata-kata itu keluar, suara lain memecah keheningan di antara mereka. “Birru?” seorang wanita memandang Birru dengan ekspresi penuh keterkejutan. Birru dan Flora secara bersamaan menoleh ke arah suara itu. Di hadapan mereka, berdiri seorang wanita yang tampak ragu namun penuh keyakinan dalam menyapa. Ekspresi Birru berubah, terlihat jelas keterkejutannya. Sedangkan Flora, meski sama terkejutnya, dengan cepat memasang wajah datar. Ia mencoba terlihat biasa saja, berusaha menyembunyikan gelombang kecil yang muncul di dadanya. Ia tidak ingin terlihat terganggu oleh kehadiran wanita itu. Namun, Flora tahu siapa wanita itu. Sosok yang pernah dilihatnya di rumah. Mantan kekasih Birru… atau mungkin, masih kekasihnya? "Maaf, aku kira kamu tadi sendiri," ucap wanita itu dengan senyum yang terlihat sopan, namun tatapannya pada Flora mengisyaratkan sesuatu yang berbeda—sungkan, tapi jelas dibuat-buat. Birru menoleh ke arah Flora dengan wajah yang jelas-jelas bingung. Sorot matanya memancarkan rasa bersalah, seolah mencari cara untuk menjelaskan situasi yang tiba-tiba menjadi rumit. Namun, sebelum ia sempat bicara, wanita itu kembali membuka mulut. "Aku nggak sengaja lihat mobil kamu terparkir di depan, jadi kupikir nggak ada salahnya mampir dan menyapa. Tapi..." Matanya melirik Flora dengan cepat sebelum kembali tersenyum hangat pada Birru. Flora, yang sudah cukup kesal dengan situasi ini, tak lagi berniat memendam ketidaknyamanannya. Ia mendengus pelan lalu berkata santai, namun tegas. "Kalau ada yang mau disampaikan, langsung aja. Kenapa harus ngelirik gue kayak gitu?" tanyanya cuek, tatapannya tajam. Flora sudah merasa cukup dikontrol oleh Birru—ia tak punya toleransi untuk wanita ini mencoba melakukan hal yang sama padanya. Wanita itu tampak terkejut mendengar respons Flora yang blak-blakan. Namun, ia dengan cepat menguasai diri, memasang kembali wajah lembutnya yang penuh senyum ramah. "Oh, bukan apa-apa kok," jawabnya dengan nada manis yang dipaksakan. Ia melirik Flora lagi sebelum bertanya dengan ragu. "Hmm... aku panggil kamu apa, ya?" Flora menarik napas panjang. Ia tahu pasti bahwa wanita itu tidak mungkin tidak mengetahui namanya. Kepura-puraan itu terlalu mencolok. Alih-alih menjawab dengan cara biasa, Flora memutuskan untuk meluruskan semuanya—dengan sangat jelas. "Lu bisa panggil gue 'Istri Birru,' 'Cintanya Birru,' atau 'Ibu dari anak-anaknya Birru,' atau..." ucap Flora tegas, memastikan setiap kata mengena. Seketika, wajah wanita itu berubah masam. Senyum hangatnya sirna, digantikan ekspresi tak nyaman yang bahkan tak mampu ia sembunyikan. Di sebelahnya, Birru hanya bisa menatap Flora dengan ekspresi campur aduk—antara terkejut dan tak tahu harus berkata apa. "Aku permisi," ucap wanita itu dengan nada lembut, meski jelas raut kecewa terpancar di wajahnya. Tanpa menunggu respons, ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Birru dan Flora. Melihat kepergian wanita itu, Birru panik. Tanpa pikir panjang, ia segera turun dari gazebo dan mengejar wanita tersebut, sama sekali tak memedulikan keberadaan Flora yang masih di tempatnya. Flora hanya menatap punggung Birru yang menjauh dengan tatapan dingin. Ia tidak terkejut, tapi hatinya terasa panas. Birru begitu leluasa mengejar wanita yang ia cintai, sementara Flora sendiri terus-menerus terkekang dan dijauhkan dari apa pun yang menjadi keinginannya. Menghela napas panjang, Flora memutuskan untuk pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti ketika seorang penjual jagung bakar tiba, membawa pesanan yang sebelumnya dipesan Birru. "Udah dibayar belum, Bu?" tanya Flora santai, menatap penjual itu dengan wajah tenang. Wanita paruh baya itu menggeleng. "Belum, Neng," jawabnya singkat. "Berapa?" tanya Flora lagi sambil membuka dompetnya tanpa ragu. Setelah membayar jagung bakar itu, Flora melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh ke arah Birru atau wanita yang ia kejar tadi. Ia sengaja membiarkan nampan berisi pesanan itu tergeletak begitu saja di gazebo—sebagai pengingat kecil untuk Birru, siapa yang sebenarnya ia abaikan. Lebih dari setengah jam, Flora mondar-mandir di pinggir jalan yang mengarah ke laut. Sesekali, ia duduk di bebatuan di pinggiran jalan, terkadang bersandar pada pohon kelapa yang menjulang. Matanya beberapa kali melirik ke arah kejadian di kejauhan—Birru dan wanita itu. Meski jaraknya cukup jauh, apa yang mereka lakukan masih jelas terlihat. Kini, wanita itu ada dalam dekapan Birru. Pemandangan itu membuat tubuh Flora terasa panas, seperti bara api menyala di dalam dirinya. Dengan cepat, ia membuang muka, berusaha mengalihkan perhatian, lalu kembali duduk di bebatuan, mencoba menenangkan hatinya yang terusik. Ia mengambil ponselnya, berpikir untuk menghubungi seseorang. Seandainya ia punya tempat untuk mencurahkan semua perasaan ini, pasti ia sudah melakukannya sekarang. Namun, ia tahu, Adel dan Dara bukan pilihan. Masalah ini terlalu rumit untuk diceritakan pada mereka. Lamunannya terinterupsi oleh suara ketus yang begitu familiar. "Apa-apaan lu ngomong kayak gitu!?" Suara Birru menggelegar, tajam, menudingnya tanpa ragu. Flora mendongak kaget. Birru sudah berdiri di sampingnya dengan wajah penuh amarah. Tapi Flora tidak tertekan sedikit pun. Dengan tenang, ia bangkit berdiri, menghadapi pria itu. "Kenapa? Memang gue istri lu, kan?" Flora menyeringai sinis. Ia menatap Birru tajam, lalu menirukan ucapan Birru beberapa waktu lalu dengan nada penuh tekanan. "Jangan terlalu akrab sama orang lain. Lu suami gue!" Birru terdiam. Ucapan Flora bagai tamparan keras yang menghantam dirinya sendiri. Ia bingung harus menjawab apa. "Dia bukan orang lain, Flo. Dia—" "Siapa?" potong Flora tajam. Tatapannya penuh tantangan. "Pacar lu? Kekasih hati yang lu harap ada di posisi gue sekarang?" Birru mengatupkan rahangnya. Ia berusaha menahan napas dan amarahnya. Apa yang Flora katakan memang benar, tapi ia tak mampu mengakuinya. Flora mendengus pelan. Ia tidak membutuhkan jawaban Birru, karena diamnya sudah cukup menjelaskan segalanya. "Kalau lu mau gue jaga sikap sama pacar lu, jangan pernah sekalipun lu ikut campur urusan gue," ucap Flora dingin, namun sarat emosi. Ia melanjutkan dengan nada penuh ancaman, "Atau gue pastikan dia bakal terus nangis kayak tadi, atau lu bakal kehilangan dia." Tangannya menunjuk ke arah di mana Birru dan wanita itu tadi berpelukan, seolah bayangan itu masih ada di sana, menyisakan jejak luka di hati Flora. ***Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.
Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia
Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Aluna memikirkannya selama beberapa hari, menimbang bukan hanya perasaannya sendiri, tetapi juga masa depan yang akan ia jalani jika ia memilih tetap melangkah. Ia tidak takut pada masa lalu Riki. Ia hanya takut pada masa lalu yang belum selesai. Mereka bertemu di sebuah kafe sore itu. Bukan tempat romantis, bukan juga tempat asing. Tempat netral, seperti keputusan yang akan ia sampaikan. “Aku tidak ingin membatalkan apa pun,” kata Aluna tenang setelah percakapan pembuka yang singkat. “Aku hanya ingin menundanya.” Riki menatapnya lama. “Menunda?” “Aku ingin kamu benar-benar berpikir dulu sebelum menikah denganku.” Nada suaranya stabil. Tidak ada tuduhan. “Aku tidak mau kita menikah lalu suatu hari kamu sadar ada sesuatu yang belum pernah kamu tutup dengan benar. Aku tidak mau rumah tangga kita nanti jadi tempat kamu mencari jawaban dari masa lalu.” Riki terdiam. Kata-kata itu tidak menyakitkan, tetapi menoho
Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu. Setelah menonton film, mereka memilih duduk di sudut yang biasa mereka tempati—tempat yang sudah terlalu sering menjadi saksi percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana pernikahan. Hujan turun tipis di luar kaca, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aluna tidak terlihat gelisah. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap kosong terlalu lama. Ia hanya makan perlahan, sesekali menanggapi komentar Riki tentang film tadi. Namun di sela percakapan yang terdengar normal itu, ia mulai menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti seseorang yang menyusun potongan puzzle tanpa terburu-buru. “Kamu pindah ke luar negeri setelah tahun pertama kuliah, kan?” tanyanya ringan, seolah hanya memastikan kronologi. Riki mengangguk. “Iya. Akhir semester dua.” “Berarti waktu ospek dan awal-awal kuliah kamu masih di sini.” “Iya.” Aluna tersenyum tipis. “Aku sempat lihat foto-foto lama kamu. Ramai
Malamnya, Aluna membuka kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Riki, tapi untuk mencari sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Nama itu masih ada di daftar pencarian lama. Flora. Akun media sosialnya tidak terlalu aktif. Foto-foto sederhana. Beberapa unggahan lama bersama teman-teman kuliah. Tidak ada Riki di sana. Tidak pernah ada. Namun sesuatu menarik perhatian Aluna. Tab tagged photos. Ia menekannya, dan di sanalah potongan-potongan masa lalu itu masih tersimpan. Foto-foto lama. Masa SMA. Awal kuliah. Masa ospek. Flora berdiri berdampingan dengan Riki. Terlalu dekat untuk sekadar teman. Bahu bersentuhan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang terlalu akrab. Foto kelompok, memang. Tapi selalu berdampingan. Selalu. Aluna memperbesar satu foto. Tahun pertama kuliah. Ia mengingat cerita Riki—bahwa setelah tahun pertama itu ia pindah ke luar negeri. Bahwa hubungan mereka selesai di sana. Selesai sebelum aku datang. Begitu yang ia pahami selama ini.
Siang itu restoran tidak terlalu ramai. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul lembut di lantai marmer. Suasananya tenang, cukup privat untuk percakapan panjang. Aluna duduk berhadapan dengan kakaknya, Alya. Tangannya memegang sendok, tapi ia tidak benar-benar makan. “Kamu yang ngajak ketemu,” kata Alya lembut. “Tapi dari tadi malah diam.” Aluna menghela napas. “Aku cuma… bingung mulai dari mana.” Alya menunggu, tidak mendesak. Aluna memang datang untuk bercerita tentang Riki. Tentang perubahan kecil yang terasa besar. Tentang jarak yang tidak kasatmata tapi makin nyata. Namun sebelum ia sempat membuka suara—pintu restoran terbuka. Aluna refleks menoleh dan dunia seakan berhenti sebentar. Flora. Ia mengenali wajah itu, bukan karena pernah diperkenalkan. Tapi karena malam di restoran bersama Riki, dan karena pencarian singkat yang ia lakukan beberapa hari lalu. Perempuan itu masuk dengan langkah ringan.







